
"Mas, Denis siapa?" tanya Dara ingin tahu.
"Dia... dia itulah." Jawab Yoan tidak jelas.
"Itu apa?" masih penasaran.
"Sayang, sudahlah tidak perlu kita bahas lagi ya." Yoan menganggukkan kepala.
"Denis selingkuhan Maudy. Makanya pernikahan Mas Yoan kala itu batal, apa karena itu?" Dara jadi menerka-nerka.
"Dara, kita jangan menggibah ya." Yoan tidak mau menceritakan soal perselingkuhan Maudy kala itu.
Mata Dara memandangi Yoan yang begitu berat bercerita padanya. Mungkin karena terlalu sakit yang dirasakannya.
"Baiklah. Kita sekarang mau ke mana ini, Mas?" tanya Dara mengalihkan topik. Ia akan mengerti suaminya.
"Ke rumah Maudy. Ayo!" Yoan pun mengandeng Dara.
Yoan dan Dara keluar sambil bergandengan tangan.
"Pa, Ma, kami keluar sebentar ya." Pamit Yoan pada Papa dan Mamanya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Mama sambil melirik tangan yang saling bergandengan.
"Kencanlah, Ma. Mama seperti tidak pernah muda saja." Papa yang menjawab. Wajar saja, Yoan dan Dara masih pengantin baru, maunya menghabiskan waktu berdua saja.
Yoan dan Dara jadi tertawa malu.
"Pa, Ma, kami pergi sebentar. Mama mau titip apa biar nanti sekalian pulang dibeli?" tanya Dara. Mungkin mertuanya ingin makan sesuatu.
"Hmm... makan apa ya enaknya, Pa?" tanya Mama pada suaminya.
"Bandrek."
"Itu bukan makanan, Papa!" Mama kesal, Papa malah menjawab bandrek.
Mama mulai berpikir makanan apa yang enak.
"Terserah kalian saja. Yang penting enak dan kenyang." Ucap Papa kemudian. Istrinya terlalu banyak berpikir, waktu banyak terbuang.
"Baiklah, kami pergi!" Yoan pun berpamitan.
"Pa, mereka terus gandengan kayak mau menyeberang saja ya." Ucap Mama tersenyum geli setelah keduanya berlalu.
Papa bangkit dan mengulurkan tangan pada istrinya.
"Mama mau gandengan juga?" tanya Papa.
Mama tersenyum dan meraih tangan suaminya.
"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Mama senyum-senyum. Suaminya tumben romantis.
"Menyeberang, Ma."
"Papa!!!"
\=\=\=\=\=\=
Wajah Maudy ditekuk, saat melihat 2 orang tamu yang datang. Yang satu terpancar kebahagiaan dan yang satu lagi... Maudy sangat malas melihatnya.
Kedua orang tua Maudy pun ada di ruang tamu tersebut. Mereka juga kelihatan bingung. Yoan mengajak istrinya.
"Maaf Om dan Tante. Kedatangan kami mengganggu waktu istirahat kalian." Yoan berbasa basi sejenak.
"Yoan, ada apa kamu kemari? Kamu pasti merindukanku ya?!" ucap Maudy dengan mode pedenya.
__ADS_1
Dara mengangkat alisnya melihat mantan dari suaminya itu.
"Saya ingin bicara dengan Maudy. Ada hal yang harus saya perjelas!" ucap Yoan dengan raut wajah serius.
Tak lama, Dara bersama orang tua Maudy berada di ruang tv. Sementara Yoan dan Maudy di ruang tamu.
Yoan tadi menyuruh Dara untuk tetap tinggal dan mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi Dara memilih menjauh. Membiarkan saja Yoan menyelesaikan masalahnya.
Bagi Dara yang penting Yoan sudah jujur dan terbuka padanya. Dan mengajaknya ke rumah Maudy. Jadi ia bisa mengawasi Yoan. Mana tahu Maudy berniat menggoda suaminya, ia siap begelut dengan wanita itu.
"Adik imut ini siapa namanya?" tanya Dara menirukan suara bocah. Ia mengelus kepala bocah kecil itu.
"Jeri Tante." Novia menjawab.
"Jeri sudah mamam?" tanya Dara kembali. Ia bersikap baik pada bocah itu, meski mamanya menyebalkan. Tapikan Jerikan tidak tahu apa-apa.
Sementara di ruang tamu.
"Yoan, ada apa? Kamu pasti mau melihat Jeri, anakmu kan?!" tebak Maudy dengan mengembangkan senyumannya.
"Anakku? Jelas-jelas kamu tahu Jeri itu anaknya Denis!" Yoan mempertegas perkataannya.
"Yoan, pelankan suaramu!" bisik Maudy sambil melihat ke ruang tv. Dara sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.
'Sok akrab!' dumel Maudy dalam hati.
"Kamu sudah tahu kalau orang tuamu ke rumahku dan memintaku melakukan tes DNA?" tanya Yoan kembali dengan sorot mata setajam silet.
"Tahu." Maudy mengangguk. Papa dan Mamanya sudah mengatakannya. Jadi ya sudah lakukan saja.
"Apa perempuan ja-lang itu tahu soal tes DNA itu?" tanya Maudy kemudian. Jika Yoan sudah memberitahu, mana mungkin Dara mau ikut ke rumahnya. Paling istrinya itu duduk di pojokkan, karena merasa marah dan kecewa dengan sikap suaminya.
Meskipun bisa dibuktikan, tapi paling tidak butuh beberapa hari. Dan pasti ada pertengkaran yang besar.
"Jaga ucapanmu!" Seru Yoan kesal. Istri tercintanya dikatakan seperti itu.
"Merebut? Sebaiknya kamu pikirkan kembali ucapanmu itu!" Yoan menghembuskan nafas kasar, rasanya ingin saja ia membentak wanita satu ini.
"Kamu sangat tahu, melakukan tes DNA itu percuma saja. Karena seharusnya Denis yang melakukannya, bukan aku!" Yoan kembali ke topik utama.
"Maudy, katakan pada kedua orang tuamu yang sejujurnya." Timpal Yoan kembali dengan memaksa.
"Yoan mana janjimu?" tanya Maudy.
Yoan mengkerutkan dahinya. Janji apa lagi?
"Kamu bilang akan menerima anakku. Akan menerima anakku seperti anakmu sendiri." Maudy mengingatkan janji masa lalu mereka.
"Maudy!!!" Yoan menaikkan intonasi suaranya. Ubun-ubunnya terasa panas.
Nada tinggi Yoan mengalihkan Dara dan orang tua Maudy yang sedang mengobrol. Mereka melihat Yoan yang berwajah tidak bersahabat, sedang Maudy wajah mewek minta dikasihani.
"Mana Yoan? Kamu penipu! Kamu pembohong!" Maudy mengusap air matanya.
"Astaga, Maudy!!!" Yoan tidak habis pikir.
"Dengar Maudy. Itu dulu, aku menerimamu, tapi... kamu yang meninggalkanku!!! Itu dulu! Itu dulu! Itu dulu!" Yoan merasakan kembali sakit, saat ia seperti orang bodoh menunggu Maudy di aula pernikahan itu. Padahal ia sudah ikhlas menerima apa adanya Maudy. Karena cintanya.
"A-aku menyesal Yoan. Aku berjanji akan beru-"
"Itu sudah tidak berlaku lagi, Maudy!!!" tegas Yoan bangkit dari duduknya.
"Jika kamu tidak mau mengatakan pada mereka. Baiklah, aku akan ceritakan semua." Yoan melangkah akan ke ruang tv.
Maudy bangkit dan mengejarnya. Ia menarik tangan Yoan. Yoan tidak bisa menceritakan perselingkuhannya begitu saja. Papa dan Mamanya pasti akan memarahinya habis-habisan.
__ADS_1
Yoan menepis tangan Maudy dengan kasar. Ia harus mengatakan pada kedua orang tua Maudy. Agar mereka tidak menuduhnya dan agar memperjelas status Jeri.
Orang tua Maudy tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mencari Denis. Bila perlu, Yoan rela untuk membantu mereka. Asalkan Maudy tidak menganggu hidupnya lagi.
"Yoan, jangan!!! Jangan beritahu mereka!!!" Maudy kembali akan menahan tangan Yoan. Tapi kembali ditepis.
Dara dan kedua orang tua Maudy tampak bingung. Yoan menghampiri mereka.
"Om dan Tante, ada yang mau Maudy katakan!" Yoan melihat Maudy dan mengisyaratkan untuk mengatakannya sendiri.
Kedua orang tua Maudy menatap putrinya. Apa Maudy mau mengatakan siapa ayah dari Jeri?
Maudy malah melihat Dara. Ia akan membuat Dara meragukan Yoan.
"Pa, Ma... Yoan bilang dia-" Maudy menjeda perkataannya dan melihat ke arah Yoan.
"Yoan akan bertanggung jawab pada Jeri dan akan menikahiku. Lalu menceraikan wanita ini!" ucap Maudy dengan cepat sambil menunjuk Dara. Ia harus merusak kepercayaan Dara pada Yoan.
"Astaga!!!" Yoan mengusap wajahnya. Maudy malah mengatakan hal omong kosong dan bukannya kejujuran.
Dara sendiri merasa aneh. Maudy mengatakan hal itu, sedang Yoan berekspresi tidak tenang. Maudy pasti sengaja mengatakan itu, agar ia meragu.
"Om dan Tante, sebenarnya Jeri itu anak Denis." Ucap Yoan. Dari pada Maudy terus menuduhnya. Ia akan katakan saja. Toh, bukan dengan orang lain. Ia mengatakan langsung dengan kedua orang tua Maudy.
"Tidak!!!" Maudy melotot tajam. Yoan malah mengatakan itu.
"Denis? Siapa Denis?" tanya Agus pada Yoan. Sudut matanya melirik putrinya. Sepertinya Maudy pernah bermain api di belakang Yoan.
"Denis, temanku. Mereka berselingkuh di belakangku. Aku mengetahuinya 2 bulan sebelum pernikahan-"
"Stop Yoan!!! Stop!!!" pekik Maudy yang merasa tidak bisa membela diri lagi.
"Mereka-" Yoan merasakan gemuruh di hatinya. Berkali-kali ia menghembuskan nafas dengan kencang. Saat itu ia benar-benar bodoh.
"Mereka..."
"Tidak Yoan!!!" Maudy menggeleng.
"Maudy hamil saat..."
"Yoan hentikan!!!" Maudy tidak mau Yoan meneruskannya lagi.
Yoan melihat ke samping saat merasakan tangan Dara mengelus punggungnya. Sentuhan itu membuatnya sangat nyaman.
Dara menggelengkan kepala. Agar Yoan tidak perlu memberitahukannya lagi. Apa yang sudah dikatakan Yoan, orang tua Maudy pasti sudah mengerti.
"Om dan Tante. Silahkan cari Denis dan lakukan tes DNA." Ucap Yoan sambil menggenggam tangan Dara.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Kami permisi. Ayo sayang!" Yoan pun menggandeng Dara.
"Permisi Om, Tante." Dara menundukkan kepala sejenak sebagai isyarat berpamitan.
"Yoan!!! Kamu penipu!!! Aku membencimu!!! Kamu bilang mencintaiku!!!" Maudy memaki Yoan yang sudah pergi dan tidak menghiraukannya lagi.
"Maudy!!!" Papa menaikkan suaranya.
Maudy menoleh dengan takut-takut dan...
Plak...
Plak...
Tangan besar itu pun melayang di kedua pipinya.
.
__ADS_1
.
.