KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 52 - NIAT BAIK


__ADS_3

"Bun, saya pulang dulu. Hari ternyata sudah malam!" ucap Yoan berpamitan setelah mengantar Dara pulang.


"Iya, hati-hati di jalan. Terima kasih banyak untuk buah tangannya. Lain kali jangan repot-repot."


"Tidak repot kok, Bun!" sanggah Yoan.


Dara melirik meja ruang tamu yang penuh dengan buah tangan. Pria itu sengaja berhenti di banyak toko untuk membeli makanan itu.


"Bunda, saya permisi pulang." Yoan menyalami Bundanya Dara dengan sopan. "Kirim salam sama Ayah juga!"


Bunda mengangguk. Suaminya tadi pergi ke pengajian.


"Bun, Dara antar ke depan bentar."


Bunda mengangguk sambil tersenyum.


Dara mengantar Yoan sampai depan rumahnya itu, pria itu memarkirkan mobil di sana.


"Ra, cium boleh?" tanya Yoan santai.


"Apa?" pekik Dara mendengar pertanyaan pria itu.


"Jangan bicara keras seperti itu. Aku cuma tanya, boleh atau tidak aku cium kamu? Nanti kalau aku langsung nyosor, kamu marah!"


Mata Dara hampir keluar memelototi pria itu.


"Aku hanya bertanya. Jangan pasang ekspresi seperti itu!" tawa Yoan melihat tatapan membunuh tersebut.


"Tidak boleh!" jawab Dara.


"Terus kapan bolehnya?" Yoan malah bertanya.


"Pulanglah sana!" usir Dara segera. Jika diladeni nggak siap-siap.


"Dara- Dara!" Yoan mengacak gemas rambut wanita itu.


"Sa-sana pulang!" ucap Dara gugup, ia mendorong pria itu agar segera masuk mobil. Pria itu mengacak-acak rambutnya, tapi membuat hatinya tak karuan.


"Iya-iya, sayang. Aku pulang, kamu jangan terlalu merindukanku. Besok kita jumpa lagi!"


Dara pun meniup poni rambutnya. Pria itu sangat menyebalkan.


Yoan melajukan mobil sambil melambaikan tangan. Ia sengaja membuka kaca mobilnya.


"Sayang, i love you!"


Dara yang kesal langsung berjalan kembali masuk rumah.


\=\=\=\=\=\=


Hari minggu tiba, Yoan membawa kedua orang tuanya ke rumah Dara. Mereka di sambut hangat oleh Ayah dan Bunda.


"Bun, Dara mana?" tanya Yoan setelah mereka duduk.


"Di dapur. Lagi buat-"


"Saya permisi."


"..minum." Sambung Bunda melihat Yoan berjalan menuju dapur.


'Anak ini!' Mama mendumel. Putranya nyelonong saja.


"Haha... maaf kan Yoan, Bu." Mama merasa tidak enak hati.


"Haha... tidak apa. Anggap saja rumah sendiri." Ucap Bunda sambil tertawa.


Sementara Yoan menuju dapur. Ia melihat Dara sedang membuat minum.

__ADS_1


"Sayang..."


"Astaga!!!" Dara kaget dan hampir menokok kepala Yoan dengan sendok.


"Ini aku!" Yoan menahan tangan Dara yang repleks.


Deg


Deg


Deg


Hati Yoan berdebar kembali. Dara sangat cantik. Wanita itu menggerai rambutnya.


"Cantik!" puji Yoan dengan tatapan memuja pada wanita di hadapannya.


Dara yang mendadak malu, kembali mengaduk teh. Lalu ia memegang nampan.


"Aku saja." Yoan mengambil ahli.


"Ta-tapi-"


"Kamu bawa yang lain saja!"


Dara mengangguk dan membawa nampan yang satu lagi berisi kue.


"Ayo, mereka sudah menunggu."


Yoan membawa nampan ke ruang tamu. Ia meletakkan minuman di meja.


"Silahkan diminum. Jangan sungkan!" ucap Yoan dengan senyum mengembang, seolah ia adalah pemilik rumah.


Ayah menggeleng, calon menantunya itu sangat caper. Kalau Bunda hanya senyum saja. Sementara Papa dan Mama menggelengkan kepala, putranya itu memang sok akrab.


"Sebelumnya kami meminta maaf, jika kedatangan kami terlalu mendadak. Adapun maksud kedatangan kami kemari, untuk membicarakan kelangsungan hubungan anak-anak kita." Papa memulai pembicaraan tersebut.


"Kami ingin menyampaikan niat baik, dengan melamar Dara untuk Yoan, putra kami." Sambung Papa kembali langsung ke intinya saja.


"Kami menerima niat baik dari keluarga Bapak dan Ibu." Ayah tersenyum lalu melihat putrinya yang menunduk.


"Tapi, kita pastikan kembali. Apakah Yoan benar-benar serius ingin menikah dengan Dara?" tanya Ayah menatap pria itu dengan tatapan serius.


"Saya serius ingin menikah dengan Dara!" tegas Yoan kembali dengan tiada keraguan.


"Bagaimana Nak, apa kamu mau menikah dengan Yoan?" tanya Ayah yang kini menatap putrinya. Semua harus dipastikan kembali, agar tidak ada keterpaksaan.


Dara menatap sang Ayah dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin menikah, tapi ketakutan ditinggalkan di hari pernikahan membuatnya sedikit ragu.


"Dara..." Bunda memegang tangan putrinya.


Yoan melihat Dara yang belum menjawab. Hatinya mulai tidak tenang. Mungkin ia mau ditolak lagi.


Mata Dara melihat ke arah Yoan. Ia menatap pria itu sejenak.


"Aku mau. Aku mau menikah dengannya." Jawab Dara mengangguk yakin. Ia menghempas keraguan yang sempat singgah.


"Pa, kayaknya Dara masih trauma!" Bisik Mama pada sang suami. Pasti masih ada ketakutan yang menghantui.


Yoan bernafas lega mendengar itu. Dara tidak menolaknya. Wanita itu pandai mengguncang perasaannya.


"Jadi... karena baik Yoan maupun Dara sudah sama-sama bersedia. Alangkah baiknya niat baik..." Ucap Papa bermusyawarah menentukan hari baik meresmikan keduanya.


Mereka pun membahas rencana tersebut. Pembicaraan mengalir hangat.


'Sabar Yoan!!! Sebulan itu hanya sebentar!!!' batin Yoan mencoba menerima.


Pembicaraan para orang tua tadi, menetapkan pernikahan akan diadakan pada bulan depan. Semuanya harus dipersiapkan secara matang dan tidak terburu-buru.

__ADS_1


Setelah selesai dengan permbahasan serius itu, Ayah dan Bunda mempersilahkan kedua orang tua Yoan untuk makan malam bersama. Mereka sudah mempersiapkan sajian untuk calon besannya.


"Silahkan Pak, Bu dinikmati hidangan sederhana kami!" Bunda mempersilahkan calon besannya.


"Terima kasih banyak, Bu. Kami jadi merepotkan!" Mama menanggapi.


"Tidak kok. Kitakan akan jadi keluarga." Ucap Bunda kembali.


Mama mengambilkan Papa piring berisi makanan. Begitu juga Bunda yang menyajikan suaminya. Dan Yoan...


Pria itu memegang piring kosong dan melihat Dara yang malah bingung.


"Sayang, aku diambilkan juga dong!" ucap Yoan pada calon istrinya.


Wajah Dara memerah, pria itu bisa mengatakan hal tersebut di depan orang tua mereka.


Walaupun mereka hanya tersenyum, tapi membuat Dara jadi malu.


"Ambilkan nasi calon suamimu." Ucap Bunda menyenggol lengan Dara.


"Yoan memang manja. Tapi nggak apa ya, Dara. Hitung-hitung latihan jadi istri." Ucap Mama begitu sangat senang.


"Jadi nanti tidak canggung lagi!" Bundanya juga ikut menimpali.


Dengan menunduk malu, Dara terpaksa mengambilkan Yoan nasi berserta lauknya.


"Terima kasih, istriku!" Yoan mengucapkan dengan senyum mengambang lebar.


Keempat pasang mata itu melihat ke arahnya. Yoan menyadari pasti perkataannya yang salah.


"Mak-maksudku, calon istri. Terima kasih calon istriku!" Yoan membenarkan perkataannya.


Makan malam pun telah selesai. Orang tua Yoan pamit pulang. Hari sudah makin malam.


"Kami permisi pulang, Pak, Bu. Terima kasih telah menyambut dan menyajikan hidangan yang sangat lezat." Papa berbasa basi sejenak.


"Kami mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dalam penyambutan Bapak dan Ibu." Ayah juga berbasa basi.


Para orang tua pun saling bersalaman. Yoan menyalami calon mertuanya. Begitupun Dara.


"Semoga pernikahan kalian nanti berjalan lancar." Harap Papa saat Dara menyalaminya.


Papa ingin kali ini Yoan benar-benar menikah. Jika sampai ada hambatan, sudah dipastikan putranya akan patah hati dan bersemedi kembali. Lalu ia akan batal pensiun.


Pak Dana mengelus kepala Dara pelan. Ia meyakini jika Dara, tidak akan kabur di hari pernikahan itu.


Dara juga menyalami Mama. Dan Ibu Yumi memeluknya.


"Dara... kamu jangan takut lagi ya. Percayalah pernikahan kalian nanti akan berjalan lancar." Ucap Mama yang mengerti membaca ekspresi Dara.


"Iya, Ma." Dara mengangguk pelan.


"Percayalah Yoan tidak akan kabur dari pernikahan kalian. Jika Yoan begitu, akan Mama kuliti dia!" bisik Mama pelan.


Dara jadi tertawa. Ibu Yumi ada-ada saja.


"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Yoan penasaran. Mama dan Dara malah bisik-bisik tetangga.


"Mau tahu saja kamu!!!" jawab Mama.


"Pasti kalian membicarakan tentang ketampananku, kan. Babang Yoan memang tampan dari dalam kandungan!"


"Astaga!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2