KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 66 - TINGGALKAN DARA


__ADS_3

"Jadi, Dara yang mau kamu jodohkan dengan Malik itu. Dara yang akan menikah dengan Yoan?" tanya Pak Dana memastikan kada adiknya. Setelah melihat surat undangan yang tadi diberikan Dara pada tante Lydia. Sama dengan undangan yang Yoan bawa.


"Benar, Bang. Dara itu-" Lydia menghembuskan nafasnya. "Yoan itu ternyata akan menikah dengan Dara, calon menantu impianku."


"Ma, sudahlah." Om Leo menenangkan istrinya yang sangat kecewa.


"Yoan, kamu kenal sama Dara di mana?" tanya Lydia berusaha mengingat kembali. Malik saat itu menemui Dara membawa sepupunya.


"Di-" Yoan bingung sendiri mau mengatakan kenal dengan Dara di mana. Wanita itu selalu menolak di ajak berkenalan. Bahkan selalu kabur ketika melihatnya.


"Di mana?" tanya Tante Lydia kembali. "Sebelum atau sesudah kamu menemani Malik menemui Dara?"


"Sesudah. Kami satu pesawat, saat aku mau pulang kemari." Jelas Yoan mengingat, saat itu ia meminta El untuk bertukar tempat duduk. Karena ingin Dara duduk di sampingnya.


Yoan yakin saat di pesawat itu adalah awal mulanya. Ia sudah tertarik pada Dara saat itu.


"Kan... Bang Dana, Kak Yumi... Yoan ini penikung! Ia menikung Malik dan merebut Dara darinya!" tuduh Lydia menatap Yoan tajam.


"Pe-penikung? Aku bukan penikung!!! Malik memang sudah dari awal menolak dijodohkan dengan Dara, Tan" Yoan membela diri. Ia tidak terima dikatakan penikung. Penikung itu kalau mereka ada status. Ini kan tidak ada sama sekali.


"Ma-" Leo mengisyaratkan dengan gelengan kepala. Untuk tidak meneruskan lagi. Bagaimana pun pernikahan akan segera direncanakan. Berarti baik dari Yoan maupun Dara, sama-sama bersedia untuk menikah.


"Awalnya memang iya kalau Malik menolak. Tapi sekarang Malik bersedia, Yoan!" Lydia kembali menegaskan. "Ia setuju menikah dengan Dara."


"Tidak Tante. Malik tidak pernah setuju. Dia tidak pernah mau dijodohkan dengan Dara." Itu yang Yoan tahu.


Saat masih tinggal di luar kota. Malik selalu menemuinya. Dan ujung-ujungnya curhat tentang Dara. Bahkan Malik sampai marah-marah dan menyumpahi wanita itu.


"Tidak, Yoan!!! Malik setuju dijodohkan dengan Dara." Lydia tidak mau mengalah.


"Tidak, Tante!!!" Yoan tetap tegas pada perkataannya.


"Mau!"


"Tidak!"


"Mau!"


"Tidak!"


Keduanya malah saling berdebat. Lydia tidak mau Yoan menikah dengan Dara. Ia sangat tidak rela.

__ADS_1


"Ma, sudahlah. Yang menikahi Dara kan Yoan. Yoan itu bagian dari keluarga kita juga. Dara kan tidak menjadi menantu orang lain." Bujuk Leo menenangkan istrinya. Mereka tetap bisa bertemu dengan Dara. Dara akan jadi bagian dari keluarga besar mereka.


"Tidak bisa!" Mata Lydia mulai berkaca-kaca.


'Drama dimulai!' Yoan melihat tantenya. Ia tahu tante Lydia akan merengek panjang. Wanita paruh baya itu adik papanya yang paling bontot.


"Yoan... kamu jangan menikah dengan Dara. Biar saja Malik yang menikahinya." Bujuk Lydia perlahan melembutkan suaranya.


"Tante bisa berikan apapun yang kamu mau. Kamu tinggalkan Dara ya. Lagian kalian juga baru kenal, jadi tidak akan ada masalah." Sambung Lydia kembali membujuk. Perasaan Yoan dan Dara pasti belum terlalu kuat.


"Tidak bisa, Tante!" sanggah Yoan sangat geram. Meninggalkan Dara, itu sangat tidak mungkin.


"Aku sangat mencintai Dara. Aku akan tetap menikah dengannya!" tegas Yoan dengan wajah merah padam. Dara sudah menjadi pilihan dan keputusannya.


"Tidak bi-"


"Lydia, tidak bisa seperti itu!" Yumi mulai bicara. "Yoan akan menikahi Dara. Mereka saling mencintai."


"Tapi kak, Yoan itu menikung Dara dari Malik." Lydia tetap pada perkataannya.


"Menikung bagaimana? awalnya kan Malik yang tidak mau dijodohkan dengan Dara. Jadi bukan salah Yoan mendekati Dara!" Yumi membela sang putra, sesuai dengan cerita yang tadi mereka dengar.


Lydia jadi diam. Benar memang Malik menolak, tapikan sekarang menerima.


"Dek... hentikan!!!" sela pak Dana dengan suara naik satu oktaf. Pria paruh baya itu menatap adiknya.


Hal itu membuat Lydia jadi menundukkan kepala.


"Bang, aku-"


"Jangan bahas lagi!" sela pak Dana kembali.


"Yoan, tukang tikung!!!" ucap Lydia lalu bangkit dan berlalu pergi.


"Bang, kak... Maafkan Lydia." Leo merasa tidak enak hati dengan abang dan kakak iparnya. Sikap istrinya yang kekanakkan seperti itu.


"Yoan maafkan tantemu, ya. Om sangat mendukung kamu sama Dara. Jaga dia baik-baik. Dara itu sangat baik sekali." Leo menepuk pundak Yoan pelan. Ia sadar Yoan pasti kesal pada istrinya.


"Baik, om!" Yoan mengangguk mengerti. Tante Lydia sangat menyukai Dara, pasti karena sikap wanita itu.


"Om, mau bujuk tantemu dulu ya!" Leo pun menyusul istrinya yang tadi sudah merajuk pergi. Ia harus menasehati istrinya untuk menerima kenyataan ini dan mengikhlaskan Dara untuk Yoan.

__ADS_1


Walaupun Yoan tidak menikah dengan Dara. Dara juga belum tentu mau menikahi Malik.


"Sudah tidak apa-apa!" Mama mengelus pundak Yoan.


"Pa, Ma... aku ke atas ya." Pamit Yoan, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Pa... Papa bilangi itu si Lydia. Kasihan Yoan kalau batal nikah lagi!" Mama tidak mau putranya kembali bersedih dan frustasi seperti saat itu.


"Iya, nanti Papa nasehati dia. Lydia itu masih shock saja. Nanti ia pasti terima juga!" Papa mengangguk pelan. Ia mengerti sifat adiknya itu.


\=\=\=\=\=\=


Sampai kamar, Yoan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar kesal. Tante Lydia itu seenaknya saja memintanya untuk meninggalkan Dara, wanita yang begitu sangat dicintainya.


"Aku mau mandi!" Yoan pun berjalan ke kamar mandi. Ia akan mendinginkan pikirannya.


Tak lama Yoan sudah selesai mandi. Ia membaringkan diri di tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya.


'Besok kami terakhir bertemu!'


Setelah besok. Mereka akan dipingit dan tidak boleh bertemu, sampai hari H pernikahan.


Ada rasa tidak tenang di hati Yoan. Ia takut tante Lydia merengek pada papanya. Dam memintanya untuk memberikan Dara pada Malik.


Yoan menggelengkan kepala. Ia tidak akan melakukan itu. Saat itu ia yang meminta izin restu kedua orang tua Dara, untuk menikahi putrinya. Bahkan Yoan sudah membawa kedua orang tuanya untuk menunjukkan keseriusannya pada Dara.


Apa yang akan dikatakan keluarga Dara nanti, jika Dara berganti pengantin?


Dara itu bukan barang yang dioper sana oper sini.


Yoan berharap kedua orang tuanya bisa membujuk tante Lydia. Jangan sampai tantenya itu jadi penghalang pernikahan mereka.


'Dia sedang apa ya?' Yoan merindukan wanitanya.


Yoan bangkit dan meraih ponsel. Ingin menghubungi Dara, tapi pasti Dara tidak akan mengangkat panggilannya. Wanita itu cukup pemalu, tapi menggemaskan baginya.


Senyum Yoan makin mengembang. Mengingat wajah wanitanya yang selalu merah merona saat bersamanya.


'Pasti Dara sedang love love sama aku!'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2