KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 97 - KETAKUTAN DARA


__ADS_3

"... Jadi mungkin Mas, dia marah denganku. Tak lama aku masuk setelah mengepel teras, kaca jendela pecah." Dara menceritakan semua pada Yoan. Tentang Maudy yang datang dan berniat merebut suaminya. Mungkin juga pelaku pelempar jendela itu Maudy.


'Maudy!!!' Yoan meremas tangannya. Ia geram dengan wanita itu.


"Sudah... kamu jangan khawatir lagi. Polisi akan segera menangkap pelaku itu." Yoan menenangkan Dara, lalu meminum teh yang dibuatkan istrinya.


"Sebentar ya." Yoan meraih ponsel. Ia masih mencurigai Roni, mungkin saja Maudy dan Roni bersekongkol.


"Halo El!"


...


"Kamu lihat apa Roni ada di kantor?"


...


Dara masih melihat Yoan yang menelepon. Kenapa malah mencari Roni? Apa ada hubungannya?


"Pak Roni sedang rapat dengan timnya, Pak." El memberitahu. Ia melihat dari depan pintu ruangan rapat.


"Dari kapan?" Yoan masih mencurigai pria itu.


"Selesai makan siang hingga sekarang, Pak."


"Baiklah!" Yoan menutup panggilannya. Roni tidak ikut terlibat di sini.


Kaca jendela mereka pecah di jam 2. Sedangkan Roni masih berada di kantor.


"Mas..." Panggil Dara bingung.


"Nggak apa. Aku pikir tadi Roni ikut terlibat. Sudah kamu tenang saja. Jangan takut lagi!" Yoan mengelus kepala Dara. Dari tadi ekspresi wajah istrinya tidak berubah-ubah. Ketakutan saja.


\=\=\=\=\=\=


"Mas, mau ke mana?" tanya Dara yang melihat suaminya bangkit dari duduknya.


"Aku mau mandi, sayang."


"Ikut, Mas. Aku juga belum mandi." Ucap Dara yang tidak ingin Yoan jauh darinya.


"Oh ok... Baiklah." Wajah Yoan jadi cerah.


"Mas, kunci pintu dulu." Ucap Dara mengingatkan Yoan untuk mengunci pintu.


Yoan mengangguk dan berjalan ke ruang tamu. Dara tetap ikut sambil memeluk lengan suaminya.


"Mas, periksa jendela juga. Sudah dikunci belum." Dara masih memberitahu. Ia tidak berani menguncinya sendiri.


Yoan mengangguk dan menuruti permintaan istrinya.


"Mas, pintu belakang kayaknya belum dikuncilah."


Yoan menuju pintu belakang dan ternyata sudah dikunci.


"Sudah." Ucap Yoan melirik istrinya. Dara masih saja ketakutan.


Tak lama mereka selesai mandi. Mereka hanya mandi biasa saja. Yoan tidak melakukan hal lain, karena selama mandi Dara selalu bertanya.


"Mas, tadi pintu belakang sudah dikunci?"


"Jendela depan sudah belum ya, Mas?


"Pintu depan?"


"Mas, jendela dapur?"


Padahal mereka tadi sudah sama-sama keliling rumah untuk mengeceknya.


"Mas, aku belum masak." Ucap Dara sambil menyisir rambut. "Kita pesan saja ya."


Yoan tampak berpikir. "Tidak usah. Kita keluar cari makan saja."


"Ta-tapi, Mas." Dara takut. Mungkin saja pelaku di luar sudah menunggu.


"Ya!" kepala Yoan mengangguk-angguk dan Dara jadi ikut mengangguk, meskipun tidak yakin.


Malam itu mereka sudah bersiap untuk pergi.


"Mas, tadi pintunya sudah dikunci belum?" tanya Dara memastikan ketika Yoan masuk mobil.


Yoan melihat sang istri. Dara sangat parnoan sekali sekarang.

__ADS_1


"Sudah, sayang. Sudah berapa kali kamu mengingatkannya!" Yoan menepuk kepala Dara dengan lembut.


"Sudah ya. Jangan khawatir lagi!"


Dara pun mengangguk.


Tak lama mereka berada di sebuah kafe. Yoan tercengang melihat Dara makan dengan lahap. Pipi Dara sampai menggembung penuh makanan.


"Mas, boleh tambah?" tanya Dara. Karena dilanda ketakutan, energinya jadi terkuras. Ia kelaparan.


Yoan mengangguk dan Dara pun memesan lagi.


"Sayang, makan kamu kenapa banyak sekali? apa kamu sudah hamil?" tanya Yoan. Nafsu makan Dara meningkat, mungkin berbagi dengan bayinya.


Dara jadi tersedak. Dan dengan cepat Yoan menyodorkan air minum.


"Belum, Mas." Ucap Dara. Ia tidak merasakan perubahan pada tubuhnya.


"Besok kita cek ke dokter? Aku akan temani!" saran Yoan. Ia juga ingin tahu bagaimana kabarnya buah cinta mereka. Apa sudah mengembang atau masih menggumpal?


"Nanti saja deh, Mas." Dara menunduk malu, tapi mulutnya masih juga mengunyah.


"Ya sudah... Jangan terlalu kamu pikirkan!" Yoan tersenyum seraya mencubit pipi Dara yang menggemaskan itu.


Dara jadi tersenyum.


Ponsel Yoan berdering, ia pun menjawabnya.


"... baiklah, kami akan ke sana!"


"A-ada apa, Mas?" tanya Dara setelah Yoan mengakhiri panggilan.


"Polisi sudah tahu pelakunya."


"Si-siapa, Mas?" tanya Dara yang wajahnya kembali pucat.


"Nanti kita akan tahu juga."


\=\=\=\=\=\=


'Maudy!' batin Dara melihat rekaman cctv yang telah ditemukan pihak kepolisian.


"Ini semua informasi yang kami dapatkan." Polisi memberikan informasi tersebut.


Tak lama Yoan dan Dara keluar dari kantor polisi. Yoan sudah menarik laporannya. Karena ini masalah pribadi, ia akan menemui Maudy dan memperingatkan orang tua Maudy.


"Mas, nanti kalau mau ketemu Maudy. Aku ikut ya!" Dara merasa tidak enak membiarkan Yoan dan Maudy berduaan. Mereka pernah memiliki rasa, jika rasa itu bersemi kembali. Ribetlah urusannya.


"Kamu tenang saja. Aku bukan bicara dengan Maudy saja, tapi dengan kedua orang tuanya juga." Yoan menenangkan hati istrinya.


Dara mengangguk lemah, meski hatinya masih tidak mengizinkan itu.


"Ayo, kita pulang!" Yoan menggandeng Dara menuju tempat parkir mobil.


Mobil Yoan tak lama sampai di rumah. Begitu melihat Yoan turun, Dara pun segera turun.


Dara pun berlari menghampiri Yoan dan memeluk lengannya. Hal itu membuat Yoan jadi meliriknya. Masih saja ada ketakutan istrinya itu.


Tangan Dara terus memeluk lengan Yoan, sambil mengingatkan pintu dan jendela sudah terkunci. Saat Yoan mengecek, Dara tetap di samping Yoan. Seolah mereka tidak mau terpisahkan. Padahal...


Dara masih takut. Mungkin jika Maudy mengajak gelut one by one, ia akan meladeninya. Tapi ini... Maudy main belakang. Dara takut Maudy tiba-tiba saja muncul dan menghabisinya. Ia kan tidak punya persiapan.


Seperti tadi siang saja, sepertinya Maudy sengaja mau melemparnya dengan batu. Tapi, syukurnya Dara sudah masuk rumah. Jika tidak, apa tidak bocor kepalanya?


Yoan mengeratkan pelukannya pada Dara yang sudah tertidur di sampingnya.


'Sepertinya sementara ini kami harus tinggal tempat Mama!' Yoan menyadari istrinya masih ketakutan. Walau sudah tahu siapa pelakunya, tapi wajah cemas itu terlihat jelas.


"Mas, mau ke mana?" tanya Dara membuka mata. Ia menyadari pergerakan suaminya.


"Kamu belum tidur?" tanya Yoan bingung. Biasanya istrinya sudah terlelap saja. Bahkan membangunkannya sangat sulit.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar ya." Yoan pun bangkit dan melihat istrinya ikut bangkit.


"Kamu tidur saja!"


"Tidak, Mas. Aku ikut ke kamar mandi." Ucap Dara.


"Sayang..." Yoan menggelengkan kepalanya. Istrinya benar-benar masih ketakutan.


Yoan akan masuk kekamar mandi, tapi pintunya ditahan Dara.

__ADS_1


"Sayang, tunggu sebentar di luar ya." Bujuk Yoan.


"Buka saja pintunya, Mas. Aku nggak lihat kok!" Dara membuang pandangannya. Ia takut saat Yoan menutup pintu, ada kejadian lagi.


"Sayang..." Yoan melihat Dara dengan serius.


"Mas..." Wajah Dara pun memelas.


Yoan mengalah, istrinya memakai jurus mata berkaca-kaca.


"Kamu jangan lihat!"ucap Yoan mengingatkan.


"Nggak kok!" Dara mengalihkan pandangannya lalu melihat ke arah Yoan kembali.


"Sayang, jangan lihat!" Yoan merasa sedikit malu dilihat istrinya.


"Kenapa malu, Mas? Aku sudah sering melihatnya kok!" ucap Dara lalu kembali membuang pandangannya. Ia malu karena telah menggoda suaminya itu.


"Dara!!!"


\=\=\=\=\=\=


"Mas Yoan!!!" Dara tersentak dari tidurnya. Ia melihat tidak ada Yoan di sampingnya.


Dara pun keluar kamar mencari suaminya.


"Mas Yoan!"


"Mas Yoan!"


"Mas Yoan!"


Tapi tidak ada sahutan dari suaminya.


"Mas Yoan ke mana?" Dara sudah mencari di seluruh dalam rumahnya. Dan tidak menemukan suaminya.


Pikiran Dara mulai kalut, ia mengintip tidak ada mobil suaminya berada di bagasi.


Dara masuk ke kamar dan meraih ponsel. Ia akan menelepon Yoan.


Tangan Dara yang gemetaran membuat ponsel yang dipegangnya jadi terjatuh. Dara menenangkan hatinya, lalu perlahan meraih ponselnya kembali.


Suara deringan ponsel Yoan terdengar di sekitarnya. Dara menemukan ponsel suaminya di bawah bantal. Yoan tidak membawa ponselnya. Apa suaminya diculik?


Dara mendengar suara kunci pintu. Dan tak lama terdengar suara pintu terbuka.


Dara bangkit dan keluar. Tapi langkahnya terhenti. Mungkin saja itu bukan suaminya. Itu orang lain yang masuk.


Suara berisik kini berada di dapur. Dara memberanikan diri membuka pintu kamar dengan pelan. Ia lalu mengintip.


Wajahnya jadi sendu melihat orang itu, ia pun segera berlari ke arah dapur.


"Mas Yoan!!!"


Yoan kaget Dara datang dan memeluk dirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Yoan yang mendengar suara tangisan Dara.


"Mas Yoan, ke mana?" tanya Dara. "Aku takut Mas, aku takut!"


"Sayang, tadi aku beli sarapan. Kamu mau makan apa?" bujuk Yoan mengelus punggung istrinya. Dara masih saja dihantui ketakutan.


Dara melihat banyaknya bungkusan di atas meja. Yoan membeli banyak sarapan.


"Kamu cuci muka dulu. Setelah itu kita sarapan." Ajak Yoan yang mengantar Dara sampai depan kamar mandi.


Dara masuk dan mencuci mukanya. Ia tidak mau menutup pintu.


Setelah cuci muka, Dara pun sarapan bersama suaminya.


"Oh iya, Mas nggak ke kantor?" tanya Dara melihat jam dinding sudah pukul 8 pagi.


"Aku libur." Jawab Yoan. Ia tidak bisa meninggalkan Dara. Tadi malam saja, setiap kali ia bergerak Dara langsung terbangun. Menjelang pagi, baru istrinya bisa tidur nyenyak.


"Sayang, untuk sementara kita menginap di rumah Mama ya." Saran Yoan. Ia tidak tenang meninggalkan Dara selama ia berada di kantor.


Dara mengangguk. Ia memang takut berada sendirian di rumah.


"Ya sudah, habiskan makanan ini. Setelah itu kita beres-beres!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2