
'Dasar pria kurang ajar!!!' Maki Dara dalam hati saat keluar dari kafe tersebut.
Dara berjalan sambil mengusap air mata yang terus berlinang. Ia sangat sakit hati dengan perkataan Rehan tersebut.
Berjalan menyusuri pertokoan, tanpa peduli tatapan bertanya orang-orang yang melihatnya. Wajah sedih Dara sudah bersimbah air mata.
'Ayah... Bunda...!' Dara menutup wajah dengan kedua tangan. Isak tangisan mulai terdengar pelan.
Dara pun meringkuk di bawah sebuah pohon di pinggir jalan. Ia sudah tidak sanggup untuk melangkah lagi.
"Dara."
Sebuah tangan kekar mengusap kepalanya. Begitu lembut membuat suara tangisan itu semakin kencang.
"Tenanglah, Dara. Tenang ya." Yoan yang juga ikut berjongkok mencoba menenangkan wanita itu.
Perlahan tangan kekar itu terulur memeluk tubuh mungil yang sedang meringkuk tersebut. Mengusap kepala dan menenangkan tangisannya.
"Sudah jangan menangis lagi!" Yoan merasa kasihan, tangisan yang begitu menyedihkan itu makin kencang.
Ucapan pria itu di kafe tadi sudah sangat keterlaluan. Dara pasti sangat malu.
"Sudah tenanglah. Tidak apa-apa!" Timpal Yoan kembali sambil menkecup kepala Dara.
Orang-orang sekitar melihat mereka. Tapi, Yoan tidak peduli. Wanita itu sedang sedih dan ia harus menenangkannya.
"Sayang, tenanglah. Jika kamu mau aku bisa mencampakkannya ke laut." Ucap Yoan sangat kesal. Pria berwajah standart itu berani membuat Dara-nya menangis sesedih ini.
'Sa-sa-sayang?!' Mendengar kata sayang membuat Dara sadar dan membuka matanya.
Dada tegap, tubuh wangi, tangan kekar sedang memeluknya.
'Siapa dia?'
Dara yang tadi begitu sangat sedih, tidak menyadari semuanya. Ia merasa sangat nyaman, dalam dekapan yang hangat diiringi detakan kencang yang bertalu-talu. Sejenak ia melupakan masalahnya.
"Si-siapa anda?" Tanya Dara sambil mendorong dada pria yang memeluknya. Ia bangkit dan memelototi pria yang mencari kesempatan untuk menyentuhnya.
"Tenanglan. Aku-" Yoan berusaha menjelaskan.
"Dasar pria hidung belang!" Tuduh Dara segera. "Berani-berani menyentuhku!"
"Bu-bukan. A-aku i-itu-" Yoan tampak bingung akan mengatakan apa. Dara sudah menuduhnya sembarangan. Ia bukan pria hidung belang tapi pria berhidung mancung.
"Berani anda maju selangkah, aku akan berteriak. Biar orang-orang menghajarmu!" Ancam Dara saat melihat Yoan akan mendekatinya. Ia tidak mengenal pria itu. Pasti pria itu orang jahat yang mau mencari kesempatan padanya.
Pria itu tak jadi melangkah. "Dara, aku-"
"Taksi!!!" Dara segera menyetop taksi yang melintas. Ia segera masuk begitu taksi berhenti.
"Dara... Aku ingin bicara de-" Yoan berusaha menjelaskan.
"Tolong jalan, Pak. Dia orang jahat yang mesum." Ucap Dara pada supir taksi.
Pak supir mengangguk dan segera tancap gas. Taksi pun berlalu meninggalkan Yoan.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak." Ucap Dara pada supir taksi. Setelah membayar tarif, ia segera masuk rumah dan langsung menuju kamarnya.
"Dara, sudah pulang?" Bunda bingung, putrinya hanya mengangguk lemah dan langsung menuju kamarnya. Wajah Dara juga seperti habis menangis.
"Dara, kamu kenapa?" Tanya Bunda cemas. Dara sudah menutup dirinya dengan selimut.
"Dara ngantuk, Bun." Jawabnya dari dalam selimut. Ia tidak ingin Bunda melihat air matanya.
"Makan dulu ya baru tidur." Bujuk Bunda.
"Nanti saja, Bun. Dara mau tidur sebentar." Ucap Dara dengan nada mulai bergetar.
Bunda tidak mau memaksa dan segera keluar dari kamar putrinya. Ia akan bertanya nanti saja.
Saat sore menjelang, Bunda masuk kembali ke kamar Dara. Dan melihat putrinya masih bergumul dalam selimut.
"Dara, bangun nak." Bunda menyingkap selimut dari wajah anaknya.
Wajah pucat dan tampak begitu sedih. Bunda mengarahkan tangan ke dahi Dara.
"Astaga!!! Dara, kamu demam nak! Bangun, kamu harus minum obat." Paksa Bundanya.
"Dara nggak apa. Nanti juga sembuh, Bun." Ucap Dara lirih sambil mengusap air mata yang masih berlinang.
"Kamu harus makan, minum obat setelah itu baru istirahat lagi." Ucap Bundanya.
"Bunda..." Rengek Dara melihat Bundanya yang sudah berlalu keluar kamar.
Tak lama Bunda membawa nampan berisi makanan, minuman dan obat.
Dara menggeleng. "Nggak lapar Dara, Bun."
"Biar Bunda suapi saja. Sakit itu jangan dipelihara. Buka mulutnya cepat." Paksa Bunda. Dara kalau sakit payah makan. Harus dipaksa.
Dara menggeleng.
"Dara, kamu harus makan atau Bunda marah sama kamu?"
Dengan terpaksa Dara membuka mulutnya. "Bun, biar Dara makan sendiri saja."
"Sudah, Bunda suapi saja biar cepat." Ucap Bunda. Jika Dara makan sendiri, terlalu lama. Makanannya akan diaduk-aduk saja.
Suapan demi suapan Bunda berikan pada Dara. Tak butuh waktu lama, makanan Dara telah habis tak bersisa.
Dara mencemberutkan wajahnya. Bunda terus memaksa menyuapinya, meski ia sudah mengatakan kenyang dan tidak mau makan lagi. Tapi ia tetap harus membuka mulut. Takut melihat mata melotot Bunda yang akan keluar.
"Ini minum obatnya." Setelah makan, Bunda memberikan obat.
Dara menenggak obat tersebut.
"Sudah, tidur lagi." Bunda membantu sang putri berbaring kembali. Merasakan dahi Dara yang tidak sepanas tadi.
"Sebentar lagi anak Bunda sembuh." Ucap Bunda menyelimuti Dara.
"Bunda, terima kasih." Ucap Dara mewek. Kalau sudah sakit, memang mudah menangis.
__ADS_1
"Tidurlah, nak." Bunda mengangguk sambil mengusap kepala Dara.
\=\=\=\=\=\=
"Ayah pulang." Ucap Ayah saat masuk rumah. "Dara mana, Bun? Ayah beli martabak kesukaannya."
"Di kamar. Dara demam."
Mendengar itu, Ayah meletakkan bungkusan martabak di meja dan segera berlari menuju kamar Dara.
"Dara..." Ucap Ayah melihat putrinya yang berwajah pucat terbaring di tempat tidur. Ia sangat khawatir dan cemas.
"Bun, sudah bawa ke dokter?" Tanya ayah. Tangannya memegang dahi Dara yang masih hangat.
"Sudah turun panasnya, Yah. Tadi sudah makan dan minum obat." Bunda menjelaskan.
Suara Ayah dan Bunda membuat Dara terbangun. "A-ayah..."
"Kita ke dokter saja ya, nak?" Ayah tidak mau melihat putrinya sakit.
Dara menggeleng. "Dara sudah sembuh, Ayah." Ia tidak mau ke rumah sakit. Takut disuntik.
"Ayah beli martabak. Kamu mau martabak?" Tanya Ayah menatap sedih putrinya.
"Mau yah!" Ucap Dara senang.
Tak lama, Dara melahap martabak coklat keju kesukaannya. Karena lahapnya makan, coklat itu bercelemotan di mulutnya.
"Anak Ayah jorok." Ayah menggeleng kepala melihat putrinya makan seperti bocah. Perlahan ia membersihkan mulut Dara dengan kain lap.
"Ayah nggak makan?" Tanya Dara.
"Tadi sudah." Jawab Ayah mengalah.
Dara tidak percaya. Setengah kotak martabak sudah berada dalam perutnya. Karena sangat terlalu menikmati martabak tersebut, Dara lupa jika ia melahap martabak seorang diri.
"Ayah makan juga." Dara mengambil sepotong dan menyuapkan pada Ayahnya.
"Kamu juga makan lagi." Ayah menerima suapan dari putrinya.
"Dara sudah kenyang. Ayo, Ayah habiskan lagi."
Bunda masuk ke kamar dan menggelengkan kepala melihat interaksi Ayah dan anak tersebut. Mereka saling menertawai mulut yang bercelemotan coklat.
'Syukurlah... Dara sudah sembuh!'
.
.
.
.
.
__ADS_1
.