
'Kenapa belum pergi?!' Batin Dara setelah membuka pintu besi swalayan. Ia melihat masih ada mobil Yoan yang terparkir di depan.
"Hmm... ada apa ini kak?" ledek Eli menyenggol lengan Dara.
Dara tersadar dari lamunannya dan masuk kembali ke dalam swalayan. Ia tidak mengubris pertanyaan Eli.
Dara menuju area kasir, menghitung sejumlah uang untuk kembalian.
Pandangan Dara teralih pada seorang pria yang masuk ke swalayan. Dara terdiam sesaat melihatnya.
Yoan tersenyum tipis. "Ini untuk kamu dan temanmu!" Ia meletakkan bungkusan di atas meja.
"Ti-tidak usah! Aku tadi sudah-"
Dara yang akan menolak mendadak terdiam saat tangan pria itu menyeka keringat di dahinya.
"Kalau lelah istirahat sebentar!"
"A-aku tidak apa kok!" sanggah Dara kemudian. Ia menjauhkan tangan Yoan dari keningnya.
Yoan pun melihat arlojinya, ia harus segera ke kantor.
"Aku harus ke kantor. Nanti sore aku jemput kamu." ucap Yoan.
"Ti-tidak usah-"
"Aku pergi ya." Sela Yoan sambil mengelus kepala Dara dengan lembut.
Perlakuan Yoan membuat Dara terdiam sejenak. Dara merasa pria itu terlalu lembut.
"Nanti sore aku akan datang lagi kemari. Kamu jangan terlalu rindu padaku ya!" Ledek Yoan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dara segera menunjukkan wajah anehnya. Pria itu terlalu kepedean jadi orang.
Yoan tersenyum melihat ekspresi Dara itu. Lalu ia pun keluar dari swalayan tersebut. Ia harus bergegas pergi ke kantor.
Dari seberang jalan, seorang pria melihat Yoan keluar dari swalayan dan menuju mobilnya.
Pria itu meremas setir mobil saat mobil Yoan sempat-sempatnya mengklakson sebelum melaju pergi.
'Apa mereka memang punya hubungan?!'
Roni pun kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Ia tidak jadi menemui Dara, karena melihat Yoan sudah ada di sana. Ia sangat penasaran Selama ini ia tidak tahu bahwa Dara dekat dengan atasannya.
Sementara di swalayan, Dara menoleh mendengar klakson mobil. Ia melihat mobil Yoan yang sudah melaju pergi.
'Huft... Akhirnya pergi juga!' Dara sedikit bernafas lega.
"Kak Dara!!!"
"Astaga, Eli!!!" Dara sangat kaget, Eli mengejutkannya saja. Tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya.
"Hayo... pasti lagi mikirin ayang bebkan? kan nanti sore si abang sudah janji mau menjemput!" Ledek Eli. Dara sepertinya sedang dekat pria itu.
__ADS_1
"Bebep bebep dari hongkong." Dengus Dara.
"Jauh kali dari hongkong. Dari hati kak Dara yang terdalam!!!"
"Apaan sih Eli?!" Dara menepuk pundak temannya. "Ini makanlah!"
"Nggak mau. Dia kan ngasih buat kakak!" Tolak Eli cepat. Pria itu membelikan makanan khusus untuk Dara.
"Tadi katanya, kasih satu samamu-"
"Baiklah. Bilang terima kasih sama dia ya kak." Eli mengambil jatahnya.
"Kak, kalian sudah jadian ya?" tanya Eli penasaran.
"Jadian apaan sih?!" Wajah Dara mendadak memerah. Eli sudah menebak sembarangan.
"Aku setuju kak sama dia! semoga kalian berjodoh!!!" harap Eli sambil berlari ke belakang.
"Eli!!!"
"Kak... aku makan dulu yah!"
\=\=\=\=\=\=
Yoan berjalan memasuki lobi perusahaan dengan wajah bahagia. Senyumnya merekah lebar. Dara sudah tidak lagi keras kepala. Walaupun masih sedikit menolaknya, Yoan akan memaklumi. Namanya wanita, malu-malu meong gitu.
Yoan menuju ruang rapat. Pagi ini ia akan rapat dengan para karyawannya.
Rapat berlangsung cukup santai dan tidak menegangkan. Pasalnya Yoan tidak menunjukkan wajah yang membuat aura di ruangan itu terasa mencekam.
'Kalau aku menikah dengannya, aku bisa meledak!' Batin Yoan kembali. Sekali diberi senyuman manis Dara saja, ia sudah seperti ini. Bagaimana lagi jika melihat Dara tersenyum setiap hari?
'Kenapa pak Yoan? senyum-senyum begitu?! Apa dia salah minum obat?!' El menyadari ekspresi atasannya tersebut.
Yoan kembali fokus pada rapat. Jika ia terus memikirkan Dara, waktu terasa begitu lambat. Jadi ia harus melakukan hal lain, agar waktu cepat berlalu. Dan semakin cepat ia bertemu Dara lagi.
Roni melihat ke arah Yoan. Ia merasa kesal melihat pria itu yang terus mengumbar senyuman.
Tak lama kini giliran Roni yang mempresentasikan kinerjanya.
'Sepertinya aku pernah melihatnya?!' Yoan mencoba menyingat di mana ia pernah melihat pria itu.
'Oh!!! teman Dara!' Yoan mengangguk. Ia ingat pada seorang pria yang dihindari Dara. Tapi, pria itu juga yang membuat Dara terdesak , lalu mengklaim dirinya sebagai calon suami.
'Apa aku harus berterima kasih padanya? tapi tunggu dulu... apa hubungan mereka sebenarnya?'
Yoan mendadak penasaran, ia pun menyuruh El mendekat padanya.
'Saya mau lihat profilnya!" ucap Yoan pelan menunjuk Roni dengan matanya.
El mengangguk mengerti. Dari tabletnya ia menunjukkan profil karyawan pada Yoan.
Yoan mengangguk pelan. Ternyata Roni termasuk karyawan lama. Memulai bergabung di perusahaan sebagai staff terendah di cabang luar kota. Lalu perlahan mulai menanjak naik karirnya.
__ADS_1
"El... cari tahu tentang pria ini!" pinta Yoan pada sang asisten.
"Pak Roni mantan calon pengantin nona Dara, Pak."
"Apa???" Yoan langsung bangkit mendengar informasi tersebut.
'Astaga, pak Yoan!!!' El menggeleng. Atasannya itu memang tidak membaca seluruh informasi yang diberikannya saat itu. Yoan hanya membaca setengah-setengah.
Ruangan mendadak hening, mendengar suara pria itu yang sangat menyeramkan.
"Rapat selesai!!!" Yoan mengakhiri rapat begitu saja. Hal itu membuat orang-orang yang berada di ruangan itu, jadi bingung dan bertanya-tanya.
Yoan segera keluar dari ruangan rapat. Moodnya mendadak berubah. Ia jadi kesal. Bagaimana bisa ada pria yang telah menyakiti wanitanya bekerja di perusahaannya?
'Apa aku pecat saja dia?!' Yoan meremas tangannya.
Yoan berjalan keluar kantor. Ia menuju parkiran. Setelah naik ke mobil, ia melepas jas dan dasinya yang membuatnya agak sesak.
Mobil melaju sampai di depan swalayan. Yoan melihat ke dalam swalayan. Ia tidak melihat Dara.
Pria itu memilih masuk ke dalam.
"Kak-"
Yoan meletakkan jari di mulutnya, agar Eli diam dan tidak memanggil Dara.
"Dara... di mana?" tanya Yoan pelan seperti berbisik.
"Di rak belakang, Bang."
"Terima kasih!"
"Sukses ya, Bang!" Eli menyemangati Yoan.
Pria itu mengangguk pelan. Ia berjalan menuju rak belakang. Ia melihat Dara yang sedang sibuk menyusun mie dalam cup. Dara juga berdiri di bangku, karena tidak sampai menyusun barang di rak paling atas.
Perlahan Yoan memelankan langkahnya. Ia berjalan mendatangi Dara.
Yoan tersenyum. Wanitanya memang sangat fokus, bahkan tak menyadari kalau ia sudah berada di sampingnya.
Tangan Yoan meraih mie dalam cup di rak.
"Akh...!!!" Dara menjerit, ia melihat tiba-tiba ada tangan terulur di sampingnya.
Dara kaget bukan main, hal itu membuatnya mendadak tidak seimbang. Ia terjatuh dari kursi. Dan dengan cepat Yoan menangkap Dara. Ia tidak akan membiarkan Dara terjatuh.
"Kak Dara!!!" Eli yang mendengar teriakan itu berlari ke belakang. Dan ia melihat kedua orang itu.
"Wow!!!"
.
.
__ADS_1
.