KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 94 - KELAKUAN RONI


__ADS_3

"Mau apa kamu kemari?" tanya Yoan dengan sorot mata tajam. Roni sudah ada saja di depan pintu rumahnya.


seingat Yoan, tidak ada yang tahu pasal kepindahan mereka. Hanya kedua orang tuanya dan kedua orang tua Dara. Dan El juga yang tahu.


Tapi, kenapa Roni bisa tahu di mana mereka tinggal?


Apa El yang memberitahu Roni?


Sepertinya tidak mungkin. Asistennya itu irit bicara dan bisa menjaga rahasia.


Roni bisa tahu rumahnya, pasti sudah membuntutinya. Yoan sangat yakin sekali itu.


"Jangan ngegas dong, Pak!" Roni tersenyum mengejek. "Saya datang kemari untuk bertamu loh."


"Saya tidak menerima tamu." Jelas Yoan langsung menolak.


"Tidak masalah! Saya memang bukan tamu anda. Saya tamunya Dara." Ucap Roni melebarkan senyumannya.


"Dara yang mengundang saya kemari!" ucap Roni mengarang bebas.


"Apa kamu bilang?" Yoan tidak senang mendengar apa yang dikatakan Roni. Mana mungkin Dara mengundangnya. Untuk apa?


"Jangan bawa-bawa istriku!" Yoan yang geram mencekam kerah kemeja Roni.


"Mas, siapa yang-" Dara tiba di ruang tamu. Dan melihat suaminya dan Roni.


"Maafkan saya, pak." Ucap Roni ketika melihat Dara. "Saya sudah ikhlas anda dengan Dara, jadi anda tidak perlu seperti ini terhadap saya."


Yoan menatap sinis. Roni sengaja memancing emosinya. Ia pun melepaskan cengkeram tangannya.


"Dara, suami kamu pemarah ya!" Ucap Roni sambil membenarkan kerah pakaiannya.


"Mas Yoan, tidak apa?" tanya Dara melihat suaminya.Ia tidak memperdulikan ucapan Roni. Jika pun Yoan marah pasti karena ada sebabnya.


Wajah Roni mulai kesal. Seharusnya Dara mengkhawatirkannya. Karena suaminya telah melakukan kekerasan padanya. Malah dia diacuhkan.


Yoan menggeleng, seolah mengatakan aku baik-baik saja.


"Kamu ada perlu apa kemari?" tanya Dara yang sekarang melihat Roni.


"Aku ada urusan dengan pak Yoan. Biasa tentang urusan pekerjaan. Tapi, suamimu ini malah salah paham. Ia sangat tidak bisa profesional. Seharusnya tidak mencampur urusan pekerjaan dengan masalah pribadi!" Ucap Roni dengan tersenyum tipis.


Yoan berusaha menahan emosinya. Roni sedang membolak-balikkan kata. Membuatnya seakan pria pemarah yang kekanak-kanakan.


"Sayang, kamu masuk saja, tunggu di kamar. Karyawanku ini akan membahas pekerjaan." Ucap Yoan dengan mata melirik ke Roni. Membahas pekerjaan, jadi tidak perlu ada istrinya di sini.


"Baik, Mas." Dara mengangguk. Yoan menkecup kedua pipi Dara di depan pria itu.


Mata Roni terasa perih melihat pemandangan yang membuat ubun-ubunnya memanas. Yoan sengaja melakukan hal itu. Yoan tidak peduli akan perasaannya.


"Silahkan, apa yang mau anda bahas soal pekerjaan?" tanya Yoan setelah Dara pergi.


Roni masih melihat Dara yang sudah pergi dari ruang tamu. Ia datang ke rumah ini untuk bertemu Dara. Bukan bertemu pria menyebalkan ini.


"Sepertinya kurang baik saya langsung membicarakannya dengan anda. Saya masih ada atasan lagi, kurang sopan jika saya melangkahi mereka." Alasan Roni dengan tersenyum sinis. Ia memutar-mutar perkataannya.


Yoan menghembuskan nafas dengan kasar. Lagi-lagi Roni hanya membuat-buat alasan.


'Aku harus mencampakkannya segera!' batin Yoan kesalnya minta ampun. Ia dibola-bola pria kurang ajar itu.


"Memang seharusnya begitu. Anda terlihat sangat tidak menghargai mereka." Balas Yoan mengikuti alasan pria itu.


"Kalau begitu saya permisi, Pak. Sampaikan salam saya pada mantanku, hah... maksud saya ibu Dara." Roni sengaja mengejek Yoan. Mengingatkan kembali bahwa Dara itu adalah mantannya.


"Silahkan pergi!" tunjuk Yoan pada pintu rumah.


Roni tersenyum sambil menaikkan alisnya. Lalu ia pun segera pergi.


'Lihat saja Yoan! Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang!'


\=\=\=\=\=\=


"Mas Yoan!" Dara segera menghampiri suaminya yang sudah menutup pintu. Wajah Yoan terlihat sangat kesal dan menakutkan.


Dara tadi bersembunyi di balik tembok. Ia mendengar pembicaraan mereka. Roni sengaja memanas-manasi suaminya.

__ADS_1


"Mas Yoan!" Dara pun memilih memeluk Yoan dan mengelus pundaknya. Berharap bisa menurunkan emosi suaminya.


"Sayang, aku tidak apa!" Yoan membalas pelukan Dara. Dipeluk istrinya membuat perasaannya jadi tenang dan sangat nyaman.


"Kamu kenapa tidak di kamar?" tanya Yoan menatap wajah cantik yang menentramkan hatinya.


"I-itu... Ma-maaf, Mas." Dara jadi merasa bersalah. Ia tidak menuruti ucapan suaminya. Dan malah mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu nguping ya!" Yoan menyentil kening Dara dengan pelan.


"Sedikit, Mas!" Dara melebarkan senyumannya sambil memegang keningnya yang kena sentilan.


"Ya sudahlah. Aku haus sayang." Yoan kembali merangkul Dara.


"Mas mau minum apa?"


"Yang segar-segar!"


Tak lama, Yoan sudah melahap habis bubur buatan Dara. Ia juga sudah menenggak kopi susu dingin. Terasa sangat nikmat.


"Terima kasih, sayang." Yoan menkecup kening Dara. Pergi ke kantor, pulang dari kantor. Perutnya selalu kenyang.


"Mas, mengenai perkataan Roni. Tidak usah Mas Yoan pikirkan ya." Ucap Dara membahas tentang masa lalunya.


"Aku dan dia sudah selesai. Bahkan bertahun-tahun yang lalu, sebelum kita bertemu." Dara meyakinkan Yoan. Ia takut Roni mengatakan hal lain pada suaminya dan Yoan percaya.


Yoan mengangguk mengerti.


"Aku nggak mau Roni menjadi duri dalam rumah tangga kita. Dia salah satu karyawannya, Mas. Saranku, kembalikan saja dia ke kantor cabang." Dara dibawa orang tuanya pindah ke kota ini, untuk menghindari kenangan ataupun Roni di kota kelahirannya.


Dan kini melihat Roni berada di kota yang sama dengannya, membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia merasakan mantannya masih membayangi rumah tangga mereka. Padahal Dara sudah mengikhlaskan semua yang telah terjadi di masa lalu.


"Kamu mau dia balik lagi ke sana?" tanya Yoan memastikan.


Anggukan kepala Dara menjadi jawaban, jika istrinya tidak menyukai pria itu lagi.


"Memindahkannya ke sana, apa aku tidak dianggap kekanak-kanakkan?" Yoan tidak mau imagenya rusak dan tercemar oleh pria itu.


"Sepertinya tidak, Mas. Mas Yoan pindahkan dan naikkan jabatannya lebih tinggi."


"Bagaimana kinerja Roni, Mas?" tanya Dara ingin tahu.


"Bagus sih. Dia termasuk karyawan teladan." Yoan mengakui itu.


Dara mengangguk dan mengerti. Memang seperti itulah Roni. Saat bekerja, ia sangat rajin dan juga disiplin.


"Jadikan saja itu alasannya, Mas." Saran Dara kembali.


"Baiklah!" Yoan mengelus kepala Dara. Ia akan menuruti istrinya itu.


Dara mengangguk senang. Yoan tidak memecatnya. Jika dipecat akan membuat Roni makin membenci mereka.


Lagian Roni juga sudah mengabdi bertahun-tahun di perusahaan itu. Biarkan saja dia kembali ke kota itu. Dengan begitu mereka akan berdamai dengan masa lalu.


"Oh iya, sayang. Ada satu lagi masalah kita." Yoan harus memberitahukan kabar itu.


"A-apa itu, Mas?" tanya Dara dengan raut wajah bingung.


"Maudy."


"Maudy kenapa?"


"Tadi pagi ia menemuiku lagi. Ia mau memberikanku makanan, tapi aku sudah tolak." Jelas Yoan cepat sebelum istrinya bisa salah paham.


Dara masih melihat Yoan. Sepertinya ada lagi yang mau dikatakan.


"Benar dugaanku selama ini. Maudy datang untuk kembali lagi padaku."


Dara terdiam mendengar itu. Maudy menemui Yoan dan mengatakan ingin kembali?


Apa wanita itu tidak tahu bahwa Yoan sudah menikah?


"Apa Maudy tahu jika Mas Yoan sudah menikah?" tanya Dara. Karena katanya maudy berada di luar negeri, mungkin tidak tahu jika Yoan telah menikah.


"Dia sudah tahu!"

__ADS_1


Nafas Dara terasa bergemuruh. Sudah tahu mantannya telah menikah, kenapa masih meminta kembali juga?


'Apa dia mau jadi pelakor?' batin Dara yang mulai tidak nyaman.


Calon pengantin pria pernah direbut sahabat berkedok pelakor saat akan menikah, membuat pernikahan Dara dengan Roni batal. Dan sekarang mantan dari Yoan berniat kembali pada suaminya?


'Aku harus bagaimana?' Dara mulai merasa takut. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi wanita-wanita perebut seperti mereka.


"Sayang..." Yoan menghapus air mata Dara yang sudah berlinang saja.


"Apa Mas Yoan akan kembali padanya?" tanya Dara memastikan. Suaminya ini adalah target wanita bernama Maudy itu. Jadi ia harus tahu pilihan Yoan. Memilihnya atau wanita itu?


Yoan menatap yakin. "Aku akan tetap bersamamu!"


"Mas, bohong?" Dara masih tidak percaya. Ketakutan masih mengintainya.


"Tidak sayang. Aku akan tetap bersamamu!" Yoan meyakinkan Dara.


"Kamu harus percaya padaku!" sorot mata Yoan menjelaskan semuanya. Ia juga menggenggam tangan Dara.


Dara akhirnya mengangguk percaya. Ia bisa sedikit tersenyum lega.


"Sayang... Peluk lagi!" Yoan membawa Dara duduk di pangkuannya. Ia kembali memeluk tubuh mungil itu. Tubuh yang membuatnya menggila setiap malam.


\=\=\=\=\=\=


"Maudy, di mana mobil?" tanya papa saat sarapan. Dari semalam ia tidak melihat mobil itu berada di bagasi.


'Astaga!!!' Maudy baru ingat. Mobilnya ada di kantor Yoan, ia semalam pulang malah naik taksi.


"I-itu Pa, se-semalam mogok, jadi aku bawa ke bengkel. Kata montirnya hari ini baru bisa diambil." Maudy mengarang alasan yang masuk akal.


Sang Papa mengangkat alisnya. Ia tidak percaya pada putrinya.


"Suruh saja pak Ahmad yang mengambil-"


"Tidak usah, Pa. Biar aku saja yang ambil." Maudy menyela dengan cepat. "Ma, titip Jeri lagi ya."


Tak lama, Maudy berjalan kaki menuju tempat mobilnya terparkir. Ia melihat sekitar, lupa di mana meletakkannya.


Tin...


'Astaga!!!' batin Maudy menjerit. Jantungnya berdetak tidak stabil.


Maudy pun berjalan menepi, ia berada di tengah jalan. Wajar jika diklakson.


Tin


Tin


Tin


Sudah di pinggir masih diklakson juga, Maudy membalikkan tubuhnya. Ia ingin melihat siapa pengemudi yang sedang menggodanya.


"Hai..." Sapa Roni membuka kaca jendela mobilnya.


"Kamu lagi!" Maudy membuang wajahnya kesal. "Aku sudah bilang, kamu bukan tipeku. Jadi jangan mengejarku!"


Roni tertawa aneh. Wanita itu memang terlalu pede sekali. Mengejarnya? Ia sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu.


"Mau apa kamu kemari lagi? Jumpai pak Yoan? Nggak malu nanti digeret security lagi?" ledek Roni sambil menggelengkan kepala.


"Siapa yang digeret?" Maudy memelototi pria sok tahu dan menyebalkan itu.


"Aku tahu di mana alamat rumah Yoan dan istrinya sekarang tinggal." Roni mengangkat alisnya.


Maudy jadi menatap pria itu. Bertanya-tanya pria ini siapa dan kenapa bisa tahu Yoan tinggal di mana?


"Mau aku beri tahu tidak?!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2