
Dara kembali berjalan masuk ke rumah, setelah mobil Yoan pergi. Ia melihat Ayah yang tersenyum.
"Ayah..." Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia jadi sedikit merasa canggung.
"Menurut Ayah, Yoan baik dan sangat serius!" ucap Ayah mengelus kepala Dara.
"Kalau dia nanti seperti Roni bagaimana, Yah?" Dara masih merasa takut.
"Tidak, nak. Yang Ayah lihat mereka sangat berbeda. Yoan sepertinya bisa dipercaya!" Ayah menganggukkan kepala meyakinkan putrinya yang masih dihantui masa lalu.
Walau tadi sempat memasang wajah seram, Ayah yakin dengan Yoan. Pria muda itu tidak main-main dengan putrinya. Berbeda saat Roni meminta izinnya kala itu, ia sedikit ragu pada Roni. Tapi... karena Roni pilihan putrinya, ia mencoba menerima.
"Ayah... Ayo, kita makan. Dara sudah lapar!"
Ayah mengangguk dan mengunci pintu. Lalu mereka berjalan ke dapur.
"Ini baksonya, sudah Dara panaskan!" Dara meletakkan mangkuk berisi bakso untuk kedua orang tuanya.
"Bunda, ini dimakan!" ucap Dara malu. Bundanya dari tadi terus tersenyum padanya.
"Dara sayang, Bunda sangat setuju kamu dengan Yoan. Dia baik dan juga sopan anaknya. Semoga niat baik ini, dipermudah dan tidak ada masalah nantinya!" harap Bunda. Ia tidak ingin Dara kecewa lagi.
"Do-doakan saja, Bun!" ucap Dara lalu menyuapkan bakso ke mulutnya sendiri. Ia jadi makin gugup dan malu.
Setelah selesai makan, Dara berada di kamarnya. Ia berbaring sambil melihat pesan yang dikirim Yoan padanya.
Si Aneh: sayang, tidur yang nyenyak
Si Aneh: mimpikan aku
Si Aneh: sayang, terima kasih telah menerimaku
Si Aneh: aku tidak akan mengecewakanmu
Si Aneh: jika itu terjadi, kamu bisa menuntutku
Si Aneh: Dara... Percayalah padaku, pada hatiku
Si Aneh: aku mencintaimu
Dara membaca pesan demi pesan. Pesan dari Yoan yang menurutnya sedikit lebay.
Wanita itu tampak berpikir, dia bingung mau membalas apa.
'Biarkan saja!!!'
Kebiasaan Dara lagi, hanya membaca pesan tanpa membalasnya. Kini, Dara memilih tidur. Waktu sudah menunjukkan angka 11 lewat, hari sudah tengah malam.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
"Pagi Pak Dana... Pagi Ibu Yumi!" sapa Yoan dengan wajah sangat bahagia. Ia bergabung di ruang makan.
Karena hari ini Dara masuk siang, Yoan sarapan seperti biasa. Sebenarnya Yoan ingin ke rumah Dara, tapi mana mungkin pagi-pagi bertamu.
"Yoan, coba kamu lihat ini!" Mama menyodorkan ponselnya.
"Astaga Mama!" Yoan menggeleng melihat ponsel Mamanya. Lagi-lagi foto seorang wanita.
"Bagaimana menurut kamu? cantikkan? Namanya putri!" ucap Mama menjelaskan wanita dalam layar ponsel tersebut.
"Ma..." Yoan menggeleng pelan. Ia bosan dengan perjodohan.
"Nanti malam, dia akan ke rumah kita. Mama sengaja mengundangnya untuk makan malam!" jelas Mama kembali. Putranya sangat sulit jika disuruh menemui wanita-wanita itu, jadi lebih baik dipertemukan langsung dan Yoan tidak bisa menghindar lagi.
"Mama... Tolong stop menjodohkan aku!" pinta Yoan sedikit kesal.
"Kamu harus menikah, baru Mama akan berhenti menjodohkanmu!" ucap Mama merasa tidak bersalah. Ia melakukan semua itu, agar putranya segera memiliki pendamping hidup.
"Papa, Mama..." ucap Yoan bergantian melihat orang tuanya. Ia perlu mengatakan sesuatu.
"Apa? Kamu mau menolak lagi? sekali ini nurut sama Mama. Kayak si Malik itu." Mama tahu, Yoan akan beralasan dan kembali menolak wanita-wanita pilihannya.
"Ma, biarkan Yoan bicara!" ujar sang suami. Istrinya ini selalu saja menyela sang putra.
"Begini... minggu ini, lamarkan Dara untukku!" ucap Yoan berharap.
"Iya. Aku mau Papa dan Mama, lamarkan Dara untukku. Aku sudah meminta izin kedua orang tuanya. Dan mereka ingin bertemu dengan Papa dan Mama, untuk membicarakannya!" jelas Yoan kembali. Menikah harus melibatkan dua keluarga. Baik keluarganya maupun keluarga Dara. Jadi harus mengikuti prosesnya.
"Ayo... kita lamar Dara sekarang juga. Papa bersiap-siaplah!" ucap Mama dengan semangat. Ia harus bergerak cepat.
"Mama, tenanglah!" Papa benar-benar ampun dengan istrinya yang super heboh.
"Ma!!! Hari minggu loh. Bukan sekarang!" Yoan menggeleng, Mamanya sepertinya sangat tidak sabaran.
Padahal Yoan juga ingin cepat saja, tapi calon mertuanya bilang hari minggu. Jadi dia harus menurut.
"Sekarang saja, jadi-"
"Ma, sabar ya!" Sela Papa sambil menganggukkan kepala pada sang istri, yang kini sudah berwajah cemberut.
"Besok malam, aku akan membawa Dara kemari. Aku akan memperkenalkan pada Papa dan Mama." Jelas Yoan akan rencananya.
Wajah yang tadi cemberut mendadak tersenyum melebar.
"Kalau begitu kamu ceritakan sedikit tentang Dara." Mama ingin tahu tentang calon menantunya itu. Wanita seperti apa yang bisa meluluhkan anaknya yang sangat keras kepala.
__ADS_1
"Dara..." Yoan mengingat wajah wanitanya.
"Dara itu baik, cantik dan dia juga sedikit jutek, Ma." Ucap Yoan sambil tertawa mengingat betapa pemarahnya Dara kala itu.
"Terus..." Mama masih ingin tahu.
Papa menggeleng melihat istrinya yang sangat penasaran. "Ma, besokkan Yoan akan membawanya kemari. Jadi besok saja Mama lihat langsung orangnya."
"Nggak usah besoklah. Nanti malam saja kamu ajak dia kemari!" Saran Mama.
"Nggak bisa, Ma. Dara hari ini kerja, dia masuk shift siang." ucap Yoan memberitahu jadwal Dara.
"Suruh dia berhenti bekerja saja!!! Dia akan menjadi istrimu, untuk apa bekerja lagi!" jelas Mama.
Yoan menghela nafas. "Ma, nanti kalau dia sudah sah jadi istriku. Baru aku tidak akan izinkan dia bekerja lagi. Tapi, kalau sekarang..." Pria itu menggelengkan kepala, sambil membayangkan tanduk Dara yang mendadak keluar.
Jika Yoan menyuruh Dara berhenti bekerja, sudah dipastikan wanita itu akan merasa tidak nyaman. Dara bisa saja kembali jutek padanya.
"Pa, Ma... Dara itu sama sepertiku." ucap Yoan kembali.
Papa dan Mama melihat Yoan dengan serius. Sama seperti apa?
"Dara hampir saja menikah. Di hari pernikahan, calon suaminya meninggalkan-nya!" Yoan merasa harus memberitahukan hal penting tersebut kepada kedua orang tuanya. Agar mereka mengerti akan kondisi calon istrinya itu.
"Dara pernah batal menikah 7 tahun yang lalu. Ia..." Yoan menceritakan semua tentang Dara. Sesuai dengan informasi yang didapatnya. Bahkan sampai frustasinya wanita itu hingga berniat bunuh diri.
'Kasihan sekali!' Batin Mama merasa sedih.
Mama jadi ingat Yoan kala itu. Saat pernikahan putranya batal. Yoan bahkan pergi keluar kota untuk menenangkan diri. Yoan saja yang seorang pria, bisa sefrustasi itu. Apalagi Dara yang seorang wanita? Ia tidak dapat membayangkan bagaimana frustasinya wanita itu.
"Yoan, kamu seriuskan sama Dara?" tanya Mama memastikan.
"Aku serius. Aku sangat sangat serius!!!" Yoan menegaskan kembali. Ia memang bersungguh-sungguh.
"Mama nggak mau kamu hanya membalas dendam, karena Maudy pernah menyakitimu dan kamu balaskan pada wanita lain!"
"Tidak, Ma. Aku sudah mengikhlaskan masa lalu. Sekarang masa depanku bersama Dara."
Mama mengangguk setuju.
"Yoan... Dara kan masuk siang, berarti pagi ini dia di rumah. Kamu ke rumahnya sekarang, jemput dan bawa dia kemari!" Pinta Mama.
"Mama..."
"Mama mau ketemu sama calon menantu, Yoan!"
.
__ADS_1
.
.