KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 30 - ALASANNYA


__ADS_3

"Dara..."


"Ka-kamu." Dara menghembuskan nafas melihat orang yang memanggilnya.


"Kamu... kok bisa ada di sini? Apa kamu tinggal di daerah ini?" tanya Roni melihat Dara. Wanita itu memakai baju tidur yang terbungkus jaket. Pasti rumah Dara tak berada jauh dari sini.


'Kenapa jumpa dia lagi sih?' Dara mendumel kesal.


"Banyak yang bilang warung bakso itu sangat enak. Jadi aku datang ingin mencobanya. Ternyata dekat rumah kamu ya." Basa basi Roni sambil menunjuk warung bakso.


"Oh." Begitulah jawaban Dara.


"Dara, kebetulan kamu di sini. Temani aku ke sana yuk. Aku traktir kamu makan bakso. Kamu kan sangat suka bakso!" Tawar Roni sekaligus ingin mengobrol panjang dengan wanita berwajah dingin itu.


"Tidak usah." Jawab Dara tegas. "Aku harus pergi."


Dara pergi meninggalkan Roni di pinggir jalan. Ia menyeberang untuk membeli titipan sang ayah.


'Dia masih marah padaku!' Roni menatap wanita yang sudah berlalu pergi.


Tak berapa lama, Roni melihat Dara menyeberang jalan dengan membawa bungkusan. Ia pun segera menghampirinya.


"Dara, a-aku minta maaf. Tolong maafkan aku." Ucap Roni memegang tangan wanita itu.


"Minta maaf? Emang punya salah ya?" tanya Dara menjauhkan tangannya. Ia berusaha tenang, meski sejujurnya ingin sekali menjambak pria itu.


Dara berusaha untuk terlihat biasa saja. Jika ia memaki dan meluapkan kemarahannya untuk tujuh tahun yang lalu. Sudah pasti dia akan kalah telak dan Roni pun berpikir jika ia masih sakit hati dan belum bisa move on. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan.


"A-aku sa-salah untuk hari itu." Ucap Roni gugup. "Aku akui aku salah karena meninggalkanmu di hari pernikahan kita. Dan memilih bersama Ratu. Aku minta maaf padamu Dara. Tolong maafkan aku. Saat itu aku tidak memikirkan apapun bahkan perasaanmu. Aku-"


Dara menaikkan tangannya. Ia tidak ingin mendengar alasan pria itu. 7 tahun waktu sudah berlalu, untuk apa lagi menjelaskan dan membahas hari itu lagi? Bukankah itu seperti menggores luka lama.


"Salah?" tanya Dara dengan wajah seolah bingung. "Tidak ada yang salah. Apa yang kamu lakukan saat itu adalah pilihan, bukan kesalahan. Jadi, kurasa tidak perlu meminta maaf." Ucap Dara tegas diikuti senyuman tipis.


"Ini sudah malam. Aku permisi." Timpal Dara kembali lalu berlalu pergi.


Roni tidak tahu harus berkata apa. Dara sudah berubah 180%. Wanita itu sekarang tampak sangat tenang tapi menghanyutkan.


Pria itu memijat pelipisnya. Ia ingin meminta maaf dengan tulus. Dan perlahan memulai hubungan baik dengan sang mantan. Tapi ternyata tak semudah yang dipikirkannya.


Sementara Dara berjalan dengan cepat kembali ke rumahnya. Ia berjalan sambil mengusap air matanya. Ia bukanlah wanita yang kuat, ia hanya wanita yang sok kuat.


Maaf?


Roni baru meminta maaf sekarang?


7 tahun telah berlalu, apa gunanya permintaan maaf itu?


Pria itu meninggalkan Dara tanpa penjelasan apapun. Dan kini, Roni ingin menjelaskan semuanya. Kenapa, kenapa, kenapa? itu seharusnya ia dengarkan saat itu. Bukan di saat ia sudah mengikhlaskan semuanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Yoan membuka kedua matanya. Ternyata hari sudah pagi. Tadi malam ia langsung tidur, karena tidak bisa menelepon Dara lagi.


'Coba lagi!' Yoan menelepon kembali. Mungkin saja tadi malam jaringan ponsel yang sedang bermasalah.


Dan...


Pria itu menghembuskan nafasnya kesal. Nomor ponselnya memang sudah diblokir wanita itu.


Yoan jadi bertanya-tanya. Dara sudah membangun tembok yang menjulang tinggi padanya. Apa mungkin wanita itu sudah menikah? Makanya Dara menjaga jarak darinya.


'El!!! Apa kau mencari informasi hoaks?!!'


Yoan pun menghubungi El. Ia butuh penjelasan.


"El... Dara itu sudah menikah atau belum?" tanya Yoan begitu panggilan tersambung.


"Dara?" El yang baru bangun mencoba mencerna ucapan pria itu. "Oh... wanita itu, Pak. Dia belum menikah."


"Terus kenapa dia menolakku?" tanya Yoan kembali.


El menautkan alisnya. Atasannya ditolak dan malah bertanya kenapa padanya. Bukannya seharusnya Yoan bertanya pada orang yang bersangkutan.


"Mu-mungkin anda bukan tipenya, Pak." Jawab El memberikan kemungkinan.


Wajah tampan.


Tubuh proposinal, otot juga lumayan besar.


Perutnya kotak 6.


kaya raya. Bahkan kekayaannya diprediksi tidak akan habis sampai 7 turunan, tekongan dan tanjakan.


Yoan merasa tidak ada hal dari dirinya yang membuat wanita bisa menolaknya. Tapi... wanita bernama Dara itu sudah menolaknya mentah-mentah.


"Kirimkan informasi yang jelas tentangnya. Sekarang!!!" pinta Yoan lalu menutup panggilannya.


El menghembuskan nafas panjang saat atasannya itu mengakhiri panggilannya.


"Makanya kalau orang lagi ngomong itu didengar!!!" Ucap El kesal. Ia lalu menekan-nekan layar ponsel, untuk mengirimkan apa yang diminta Yoan.


Tak lama


Ting


Satu pesan masuk. Yoan segera membacanya. Ia fokus membaca satu persatu semua informasi yang dikirim El.


'Batal menikah?!'

__ADS_1


Nafas Yoan bergemuruh membaca informasi tersebut. Apa yang terjadi pada Dara, sama seperti apa yang terjadi padanya. Sama-sama ditinggalkan di hari pernikahan.


"Aku mohon datanglah sekarang, Maudy." Mohon Yoan dengan nada bergetar.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa!" jawab wanita dari seberang sana sambil menangis.


"Aku mohon Maudy. Aku akan menerimanya. Kita bisa lupakan semuanya."


"Tidak bisa. Aku tidak bisa seperti itu! Itu membuatku menjadi orang jahat..."


"Aku tidak akan mengungkit itu. Kita akan kubur bersama masa lalu. Maudy, Aku mencintaimu. Tolong, jangan batalkan pernikahan ini!!!"


"Maafkan aku, Yoan. Maafkan aku, Yoan!"


"Aku akan menunggumu di sini. Aku akan menunggumu sampai kamu datang!!!"


"Tidak, Yoan. Jangan tunggu aku lagi! Aku tidak akan datang. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku bukan wanita terbaik untukmu. Aku hanya-"


"Aku akan tetap menikah denganmu. Aku akan menunggumu di sini!" Ucap Yoan lalu mengakhiri panggilannya.


Pria itu meremas tangannya, sambil menahan gemuruh di hatinya. Ia sangat berharap Maudy akan datang.


Detik...


Menit...


Jam... Telah berlalu.


Yoan duduk terdiam di pelaminan seorang diri. Menatap ruang aula dengan tatapan yang kosong. Tak ada orang di sana. Para tamu sudah di minta pulang, ketika sampai di depan pintu. Karena sudah tidak ada waktu untuk mengabarkan pembatalan.


Pria itu menatap arloji di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hari telah berganti beberapa detik yang lalu.


Yoan berdiri dan meraih foto prewedingnya. Lalu pria itu menghancurkan foto tersebut, mencampakkan lalu menginjak-injaknya, sambil berteriak meluapkan emosinya.


Setelah puas, Yoan mengusap air matanya. Lalu pergi meninggalkan aula tersebut.


Nafas Yoan naik turun kembali mengingat hari itu. Hari yang paling menyakitkan baginya.


Dia dan Dara ternyata sama-sama mempunyai masa lalu yang kelam. Sama-sama ditinggalkan di hari pernikahannya.


Mungkin itulah yang membuat Dara menolaknya. Wanita itu masih trauma dengan masa lalunya.


'Dara... sabar ya! Semua itu sudah berlalu!!!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2