KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 90 - BERTEMU MAUDY


__ADS_3

"Sayang, aku pergi dulu ya." Yoan menkecup lama kening Dara. Setelah istrinya mencium tangannya.


"Oh iya, sayang. Nanti ada pekerja yang datang untuk bersih-bersih." Yoan memberitahu.


"Loh, biar aku saja Mas." Dara tidak masalah membersihkan rumah. Lagian dia juga tidak ke mana-mana.


"Tidak usah. Kamu khusus memasak untuk aku saja." Jelas Yoan. Ia sengaja memakai pekerja rumah, agar istrinya tidak kelelahan.


"Mas..."


"Sudah, aku berangkat dulu." Yoan mengelus kepala wanita yang sudah mencemberutkan wajahnya.


"Oh iya ini. Aku sudah membuat bekal makan siang. Nanti Mas Yoan makan saat jam makan siang. Jangan sampai telat makan. Aku nggak mau Mas Yoanku sakit." Dara mewanti-wanti suaminya.


Yoan tersenyum menerima tas bekal tersebut. "Terima kasih, sayangku!"


Pria itu sangat bahagia. Ia akan memakan bekal itu saat siang menjelang.


Dara melambaikan tangan, mengiringi mobil suaminya yang perlahan melaju mulai menjauh dari rumah mereka.


'Masak apa ya enaknya?' Dara memikirkan apa yang akan dimasaknya untuk makan malam bersama suami tercintanya.


\=\=\=\=\=\=


Yoan berjalan menuju lift sambil menenteng tas bekal. Ia tidak mempedulikan tatapan para karyawan yang senyum-senyum melihatnya.


Setelah sampai ruangan, Yoan melihat isi dalam tas bekalnya. Ia pun membuka, karena penasaran dengan makan siang yang disiapkan istri tercintanya.


'Sayang!!!' Yoan terpaku melihat isinya.


Dara membawakannya menu 4 sehat 5 sempurna. Bekal makanan berisi nasi, lauk dan sayurnya. Ada juga susu. Yoan meminum susu itu, memastikan susu tersebut. Apa susu dalam kemasan atau susu dalam pakaian?


'Astaga Yoan!!!' Yoan meruntuki pikirannya yang sudah menjelajah.


Selain itu, Dara juga menambahkan pisang. Makan siangnya benar-benar paket komplit. Menu sehat dan bergizi.


Wajah Yoan sumringah. Dara, istrinya itu benar-benar sangat perhatian dan sangat menyayanginya.


Tok


"Masuk." Jawab Yoan meski ketukan baru sekali terdengar.


"Pak, 30 menit lagi kita akan bertemu klien di luar kantor." El memberitahu. Ia melihat Yoan yang senyum-senyum pada bekal di atas meja.


"Jam berapa kita selesai?" tanya Yoan. Apa sampai jam makan siang?


"Kemungkinan sampai jam makan siang, Pak." Ucap El memprediksi.


"Baiklah." Yoan membereskan bekal dan memasukkan kembali ke dalam tas.


"Ayo, jalan." Ucap Yoan sambil kembali membawa tas bekal tersebut.


El melihat bawaan Yoan. Pria itu membawa bekal.


"Istriku membuatkanku makan siang." Yoan menjawab tatapan El.


"Istri anda pasti sangat menyayangi anda, Pak." Timpal El sambil tersenyum.


"Jelas dong, El."


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


'Kenapa dia datang lagi?' batin resepsionis saat melihat seorang wanita.


"Aku-"


"Maaf, mbak. Pak Yoannya sedang berada di luar kantor." Sela resepsionis seperti paham saja apa yang akan dikatakan wanita itu.


"Ke mana dia?" tanya Maudy tidak senang.


"Pak Yoan sedang meeting di luar." Jawabnya.


"Suruh dia cepat kembali!" pinta Maudy dengan gaya angkuhnya.


Resepsionis itu melihat Maudy dengan wajah aneh. Siapa wanita yang sok memerintah ini? Istrinya pak Yoan, bukan wanita ini. Istrinya pak Yoan malah lebih sopan.


"Silahkan menunggu saja, mbak." Tunjuk resepsionis pada kursi yang tersedia. Ia tidak berhak membiarkan orang yang tidak dikenal sembarangan masuk ke area dalam perusahaan itu.


"Aku akan menunggu di ruangannya saja!" pinta Maudy.


"Maaf, mbak." Resepsionis itu tetap pada perkataannya. Ia bekerja di perusahaan ini, jadi harus patuh pada aturannya.


"Kau!!!" Maudy menunjuk resepsionis dengan wajah tidak senang.


"Lihat saja kau nanti. Akan ku adukan pada Yoan. Kau akan dipecat!" ancam Maudy yang sangat kesal.


"Maaf, mbak. Saya hanya menjalankan tugas. Anda dapat menunggu pak Yoan di sana." Tunjuknya pada kursi-kursi yang tersedia.


"Tapi, jika anda tetap bersikeras masuk. Saya akan meminta security untuk menggeret anda keluar!" balas resepsionis yang kesal. Ia hanya bekerja sesuai aturan, malah wanita itu mengancam akan memecatnya.


"Kau-"


"Pak secu-" resepsionis akan memanggil security.


"Awas kau!" Maudy menyela sambil menunjuk resepsionis tersebut. Ia pun berjalan menjauh dari meja tersebut.


Setelah menunggu cukup lama, mata Maudy tertuju pada seorang pria yang masuk beriringan.


'Yoan!' batin Maudy bahagia.


Tanpa banyak berpikir, Maudy berlari menghampiri pria yang sedang berbicara serius dengan orang yang di sampingnya.


"Yoan!" Maudy pun memeluk pria itu.


Yoan yang sedang bicara serius dengan El, sangat kaget ada wanita yang tiba-tiba memeluknya.


'Bukan istriku!' Yoan merasa yang memeluknya bukan Dara. Pelukannya sangat berbeda.


Yoan pun mendorong wanita itu hingga hampir terjungkal ke lantai. Ia tidak suka ada yang berani memeluknya seperti itu. Bisa menjadi fitnah dan masalah baginya.


"Yoan!!!" pekik Maudy yang kaget pria itu mendorongnya seperti itu.


"Maudy..."


\=\=\=\=\=\=


"Yoan, apa kabarmu?" tanya Maudy. Ia sekarang berada di ruangan pria itu.


"Baik. Seperti yang kamu lihat." Jawab Yoan terlihat biasa saja.


Maudy merasa kesal. Sikap Yoan sekarang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Seharusnya Yoan memeluknya dan mengungkapkan kerinduan yang mendalam.


Dua tahun lebih waktu berlalu. Ternyata banyak yang berubah pada diri sang mantan. Bukan hanya sikap Yoan, bahkan Maudy menyadari sorot mata mantannya itu saat melihatnya.

__ADS_1


Sorot mata itu sama seperti saat Yoan melihat orang lain. Tidak seperti dulu, Yoan selalu melihatnya dengan mata kagum penuh cinta.


Yoan melihat Maudy sejenak. Wanita itu terlihat baik-baik saja. Pasti Maudy bahagia setelah meninggalkannya.


Yoan menghempas pikiran itu. Untuk apa juga ia kembali mengingat masa lalu.


"Ada apa mencariku?" tanya Yoan langsung ke intinya. Maudy menemuinya di kantor, mungkin ada yang mau dikatakannya.


"Aku ingin bertemu denganmu. Su-sudah lama kita tidak bertemu." Maudy merasa sedikit gugup. Ia tidak mengharapkan kecanggungan seperti ini.


Yoan diam saja.


"Yoan, a-aku ingin meminta maaf sama kamu. Atas apa yang telah-"


"Aku telah memaafkanmu!" potong Yoan segera. Ia telah memaafkan Maudy.


Ya, saat ia mulai mengejar Dara. Di saat itu juga Yoan mulai berdamai dengan masa lalunya. Ia mengikhlaskan masa lalunya. Karena saat bersama Dara, Yoan tidak mau dihantui masa lalu.


"Be-benarkah?" Maudy memastikan kembali. Yoan memaafkannya, ucapan itu seperti angin segar baginya.


"Iya. Aku sudah memaafkanmu." Tegas Yoan kembali sambil menganggukkan kepala. Dara pasti tidak akan masalah, jika ia memaafkan mantannya itu.


"Terima kasih, Yoan." Maudy akan memeluk pria itu dan dengan cepat Yoan menghadangnya.


"Tolong jaga perilaku kamu!" Yoan mengingatkan. "Aku, pria yang sudah beristri."


Yoan mengingatkan statusnya sekarang. Ia sudah menikah dan ada hati yang harus selalu dijaga.


"Ma-maafkan aku." Ucap Maudy sedikit kesal. Yoan mulai menjaga jarak darinya. Bahkan mengingatkan statusnya.


Apa Yoan sengaja mau membuatnya cemburu?


"Yoan, kamu sekarang tinggal di mana? Aku ingin berkenalan dengan istrimu." Maudy mengalihkan topik. Ia mencari celah lain untuk masuk kembali ke kehidupan Yoan.


"Tidak perlu!" tolak Yoan tegas.


"Ke-kenapa? Aku ingin berteman dengan istrimu." Ucap Maudy memberi alasan. Ia merasa kesal, Yoan mentah-mentah menolaknya.


"Dia tidak butuh teman. Aku saja cukup menjadi temannya. Teman hidupnya." Jawab Yoan mempertegas.


Maudy dan Dara berteman?


Yoan mencium bau-bau masalah akan muncul di pernikahan mereka, jika Dara berteman dengan mantannya. Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi.


"Yoan, kamu terlalu menekang istrimu itu. Wanita juga butuh teman, selain suaminya." Maudy memberitahu. Yoan sepertinya tidak mau memberinya celah, untuk masuk ke kehidupan mereka.


"Aku harus kembali bekerja. Kamu pulanglah!" ucap Yoan bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya.


Yoan merasa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Dia sudah memaafkan Maudy juga. Jadi wanita itu tidak perlu merasa bersalah padanya.


"Yoan..." panggil Maudy kembali. Ia merasa obrolan mereka terlalu singkat.


"Maaf, aku harus kembali bekerja." Ucap Yoan dengan wajah serius.


"Baiklah, aku pergi!" Maudy pun keluar dari ruangan itu membawa kekecewaannya. Pria itu sudah membangun tembok yang begitu tinggi.


'Yoan, lihat saja!!! Kamu pasti akan kembali padaku!!!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2