KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 62 - DARA NATASHA


__ADS_3

"Tante Lydia, Om Leo... kapan sampai?" basa basi Yoan menutupi keterkejutannya. Ia menyalami kedua paruh baya itu, lalu ikut bergabung dengan mereka.


"Yoan, kok mendadak menikahnya awal bulan depan? Kalian kenalnya di mana?" tanya Tante Lydia ingin tahu. Tadi mamanya Yoan sudah bercerita tentang putranya. Bisa dibilang sepertinya hubungan Yoan dengan calon istrinya yang sekarang tidak terlalu lama.


"Iya Tante. Namanya juga sudah cocok dan yakin." Jelas Yoan sambil tersenyum tipis.


"Yoan ini, maunya cepat-cepat saja Lyd. Masa yang kami datang ke rumah calon istrinya, besoknya dia minta langsung dinikahkan." Cibir Ibu Yumi melihat sang putra.


"Mungkin si Yoan takut ada yang menikung nantinya, kak!" timpal Lydia yang membuat semua yang berada di sana jadi tertawa.


"Tadi siapa nama calon istrinya Yoan?" tanya Om Leo.


"Dara-" Yumi menjawab.


"Namanya sama dengan yang mau kami jodohkan dengan Malik!" timpal Lydia memotong perkataan Yumi.


"Kok bisa sama seperti itu ya?!" Ibu Yumi ikut menimpali.


"Mungkin karena Yoan dan Malikkan sangat dekat. Jadi nama istri mereka pun sama!" Lydia masih berpikir wajar. Nama Dara sangat banyak.


"Haha... Asalkan jangan nama Dara orang yang sama ya!" celutuk pak Dana masih dengan senyumnya.


"Nggaklah, Bang. Pasti bedalah!" Lydia menggeleng, ia tidak percaya kemungkinan seperti itu. Mana mungkin Dara calon menantunya yang akan menikah dengan Yoan.


Yoan bergelut dengan pikirannya. Bagaimana tanggapan tante Lydia, jika calon istrinya adalah Dara yang akan mereka jodohkan dengan Malik.


'Kasih tahu sekarang atau tidak?!' Yoan bingung sendiri jadinya.


Tante Lydia itu orangnya cukup pemaksa. Terus kalau tantenya itu memohon padanya, untuk melepaskan Dara demi Malik. Bagaimana nasibnya?


Bagaimana perasaannya pada Dara?


Bagaimana dia bisa melihat Dara bersanding dengan sepupunya itu?


Yoan menggeleng pelan. Tidak bisa seperti itu. Ia dan Dara akan menikah sebentar lagi. Calon istrinya itu, bukanlah bola yang dioper sana sini. Dara itu adalah calon istrinya. Wanita yang secara tulus dan sadar akan dinikahinya.


"Kak Yumi, bagaimana kalau kita adakan resepsi pernikahan ganda." Saran Lydia.


Mendengar itu Yoan jadi tersedak. Resepsi ganda? Bagaimana bisa?


"Benar juga ya. Jadi lebih irit dan capeknya sekalian!" Bu Yumi ikut menimpali, ia melirik putranya yang berwajah seakan tidak terima.


"Yoan, tantemu cuma becanda loh!" ucap Leo pada ponakannya. Istrinya itu banyak becanda saja.

__ADS_1


"Haha..." Yoan jadi tertawa dengan terpaksa.


"Iya loh, Yoan. Tante cuma becanda." Tawa Lydia kembali. "Rencananya besok kami mau menemui Dara, lalu menemui orang tuanya. Setelah itu menikahkan Malik di KUA saja dulu. Baru nanti dibuat resepsi besar-besaran!" jelas tante Lydia akan rencana bahagianya.


Tante Lydia dengan bahagia menjelaskan tentang rencana mereka. Yoan ingin saja mengatakan sejujurnya, tapi begitu sangat sulit. Mengatakan hal sebenarnya pada tante Lydia yang berwajah bahagia itu. Bagaikan mendorong tante Lydia yang sedang berada di atas awan, ke jurang yang terdalam.


Yoan tidak akan mengatakannya sekarang. Ia akan mengatakan saat semua sudah tenang saja.


Pandangan mereka tertuju pada pria yang baru datang.


"Tante Yumi, Om Dana... apa kabar?" tanya Malik berbasa basi, seraya menyalami kedua orang tua Yoan.


"Kami baik. Malik makin tampan ya." puji bu Yumi.


Malik hanya tersenyum. Ia lalu melihat Yoan yang wajahnya tampak banyak pikiran.


"Yo, katanya kau mau menikah ya?"


\=\=\=\=\=\=


"Aku pusing lihat papa dan mamaku, terus-terusan mendesakku untuk menikah dengan si Dara-Dara itu." Curhat Malik di dalam kamar Yoan. Mereka duduk di sofa yang berada di kamar itu.


"Kau tolak saja atau kenalkan kekasihmu pada orang tuamu!" timpal Yoan memberi nasehat.


Malik menggeleng cepat. "Mereka segera menolaknya mentah-mentah. Mengatakan kalau wanita bernama Dara Dara itu, pilihan yang sangat sesuai."


Yoan diam melihat Malik yang terus-terusan menghela nafas. Ia mengerti jika Malik sudah berusaha menolak, tapi orang tua Malik yang terlalu ngebet pada Dara.


"Aku yakin pelet si Dara itu sudah level internasional!" tuduh Malik sangat yakin. Dara memakai begituan.


"Maksudnya?" Yoan menautkan alisnya. Pelet level internasional itu seperti apa?


"Biasanya pelet-pelet itu tak mempan jika sudah menyeberang lautan. Ini, lihatlah masih berlaku!" Malik kelihatan sedikit geram.


"Sepertinya pelet itu tak bisa terpisahkan jarak dan waktu. Sudah melewati benua bahkan samudera, peletnya tetap mujarab. Wah, wah, wah, wah!!!" Malik bertepuk tangan sambil menggeleng kepalanya. Dara itu sangat luar biasa. Bersemedi di mana wanita itu.


"Tidak mungkin seperti itu!" Yoan dengan cepat menyanggah. Ia yakin calon istrinya itu tidak ada memakai ilmu seperti itu. Hanya fitnah yang tak bermoral.


"Sudah pasti. Si Dara itu pasti menghalalkan segala cara. Cobalah kau pikir, Yo. Dia itu cuma kasir minimarket, ia pasti menginginkan menikah dengan pria kaya raya." Tuduh Malik kembali tanpa ampun. Dara itu hanya ingin merubah nasibnya.


"Tutup mulutmu!!!" ucap Yoan tidak senang. Calon istrinya dianggap wanita matre.


Bagi Yoan, Dara tidak seperti itu. Mendekati Dara saja, ia berkali-kali ditolak, ditolak dan ditolak.

__ADS_1


"Aku bicara fakta! Awalnya peletnya kena papa dan mamaku, karena mereka keseringan bertemu dengannya. Nanti lama-lama peletnya kena di aku. Dan aku jadi ngebet sama dia. Amit amitlah. Jangan sampai begitu!" Jelas Malik dengan sedikit merinding memegangi tengkuknya.


"Kau terlalu percaya hal seperti itu. Mana mungkin! Jangan menuduh orang sembarangan!" Yoan meninggikan nada bicaranya. Malik makin lama mulutnya asal bicara.


"Kenapa kau yang marah?!" Malik merasa aneh, melihat sepupunya itu yang tampak tidak senang.


"Aku tidak marah!!! kau terlalu kejam menuduhnya seperti itu. Belum tentu si Dara itu mau denganmu! Bisa saja dia sudah bertunangan atau menikah mungkin." Jelas Yoan pada kemungkinan yang terjadi.


Malik itu merasa semua wanita mau dengannya. Padahal saat mereka bertemu saja, mereka berdebat hebat. Dara juga tidak suka dengan Malik.


"Bagus!!! Itu yang sangat ku harapkan!" Malik merasa bagus, jika memang seperti itu.


"Aku yakin dia sudah diikat pria lain!" tegas Yoan kembali.


"Amin. Amin. Amin!!!" Malik mengaminkan. Dengan begitu, orang tuanya tidak akan ngebet menjodohkannya lagi.


"Dara Natasha." Sebut Yoan.


Malik melihat Yoan bingung. Siapa itu?


"Aku akan menikah dengannya!" Yoan memberitahu Malik.


"Pantaslah, kau marah. Nama calon istrimu Dara juga!" Malik mulai mengerti. Pantaslah Yoan tidak senang.


"Aku akan menikah dengan Dara. Wanita yang mau tante Lydia jodohkan denganmu!"


"Maksudmu? Kau menikah dengan Dara si pelet-"


Pletak


Yoan menokokkan remot ke kepala Malik.


"Jaga ucapanmu. Dia calon istriku!" Tegas Yoan.


"Kau akan menikah dengannya?" tanya Malik memastikan. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang didengarnya.


Yoan mengangguk. "Iya, aku akan menikah dengan Dara. Wanita yang akan dijodohkan denganmu." Pria itu jujur pada Malik.


"Wah!" Malik tersenyum lebar. "Ada apa ini? Bagaimana bisa?"


"Hmm..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2