KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 38 - RATU PEMARAH


__ADS_3

"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Yoan melihat buku menu. Ia membawa Dara ke sebuah restauran mewah.


"Aku tidak lapar!!!" jawab Dara masih kesal. Pria itu selalu mengancamnya untuk menuruti perkataannya. Tah kenapa dia tadi mengklaim pria ini sebagai calon suaminya, untuk lepas dari Roni. Dan kini ia malah masuk ke kandang singa.


"Ya sudah kalau nggak lapar. Kamu mau minum apa?" tawar Yoan kembali.


"Aku tidak lapar atau pun haus."


"Oh, kamu puasa." Yoan mengangguk. "Saya pesan hidangan spesial di sini 2 porsi."


"Sudah aku bilang, aku tidak mau makan! jangan pesan untukku!!!" ucap Dara kesal.


"Siapa yang pesan untukmu? Aku biasa makan 2 porsi." Yoan menggeleng melihat Dara. "Mbak, bawakan saja pesanan spesialnya."


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap pelayan restauran itu ramah.


Yoan meraih ponselnya yang bergetar. Ternyata mamanya menelepon. Pasti Mamanya akan memarahinya karena tidak jadi menemui wanita itu.


Pria itu pun mengirim pesan, lalu menonaktifkan ponselnya.


"Itu pasti istri anda yang menelepon?" tebak Dara.


"Kamu sok tahu. Aku belum menikah."


"Kekasih anda-"


"Bukan. Aku ini jomblo, tapi sekarang sudah tidak lagi!" ucap Yoan sambil menyanggahkan dagunya, menatap wanita di hadapannya.


"Anda jangan terlalu berharap. Aku terpaksa. Ter...pak...sa!!!" eja Dara mengingatkan pria itu.


Yoan malah tertawa-tawa melihat wajah Dara yang begitu kesal padanya.


Dara yang melihat pria itu yang malah tertawa menanggapinya, jadi membuang pandangannya. Pria itu memang aneh, bisanya tertawa padahal tidak ada yang lucu.


"Sayang, ganti panggilan kamu itu. Anda, anda, anda... kita itu jadi seperti atasan dan bawahan." Yoan merasa mereka terlalu formal.


"Kamu boleh memanggil aku dengan Yoan, sayang, cinta, honey, bunny, sweety, kesayangan, cintaku, bebep-"


"Stop!!!" Dara merasa telinganya geli dengan panggilan seperti itu.


"Atau kamu panggil aku... si Tampan!"


Dara menggeleng melihat Yoan. Ia pun mengambil ponselnya. Lebih baik melihat ponsel dari pada meladeni pria aneh itu.


"Dara, kenapa kamu blokir nomorku?" tanya Yoan ingin tahu.


Wanita itu diam saja dan malah fokus pada ponselnya. Mengabaikan Yoan.


"Sayang, aku lagi ngomong sama aku!" Yoan meraih ponsel Dara. Hal itu membuat Dara kesal.


"Kembalikan ponselku!"


"Tunggu dulu!" Yoan pun mengotak atik ponsel Dara. Ia membuka blokir-an di nomornya.

__ADS_1


"Cepat kembalikan!!! Anda itu sangat tidak sopan!!!" ucap Dara kesal. Gemuruh nafasnya jelas terdengar naik turun.


"Iya ini, aku kembalikan Ratu pemarah!" ledek Yoan mengembalikan ponsel Dara.


Dara dengan cepat menyimpan ke dalam tasnya.


Glek


Dara menelan salivanya saat makanan terhidang di atas meja. Tampak sangat lezat dan aromanya menggugah selera.


Mata Dara melirik Yoan yang tersenyum. Pria itu pasti memperhatikannya.


"Kamu nggak mau makan?" tanya Yoan kembali. Setelah pesanannya sudah terhidang di atas meja.


"Nggak!!! Aku sudah kenyang." Jelas Dara membuang pandangannya dari hidangan lezat tersebut.


"Oh ya sudah. Aku makan ya." Yoan pun akan melahap hidangan yang tersaji ini seorang diri. Lagi-lagi ia ditolak.


Kruk...


Yoan yang akan menyendokkan makanan ke dalam mulut, terdiam sesaat mendengar suara itu. Ia melihat ke arah Dara.


"Apa?" tanya Dara sinis.


Kruk...


Kruk...


Kruk...


Yoan berusaha untuk tidak tertawa. Wajah Dara sudah merah padam sekarang, wanita itu pasti sangat malu. Jadi ia tidak mau meledeknya. Bisa-bisa wanita itu marah dan makin tidak senang padanya.


"Ini!" Yoan meletakkan piring ke dekat Dara. Lalu ia melanjutkan makannya.


Dara melirik Yoan yang sedang makan. Pria itu terlihat biasa saja. Ia pun mengisi piring tersebut. Dan akan makan sedikit. Dari pada perutnya nanti bunyi lagi. Akan lebih memalukan.


Yoan melirik Dara yang sedang makan. Ia tersenyum tipis. Saat Dara akan melihat ke arahnya, Yoan pun menundukkan pandangannya kembali.


Tak lama, mereka berada di dalam mobil yang melaju sedang.


Dara merasa aneh, pria itu tidak bertanya padanya di mana alamat rumahnya. Tapi malah tahu arah ke rumahnya.


"Kenapa anda tahu rumahku?" tanya Dara dengan sorot mata serius. Apa pria ini adalah penguntit.


"Aku bukan hanya tahu di mana rumahmu. Semua tentangmu aku tahu. Hanya..." Yoan menjeda ucapannya. Ia melihat Dara sesaat, lalu fokus lagi pada jalanan.


"Hanya apa?" tanya Dara jadi penasaran. Pria itu kalau bicara setengah-setengah. Pakai jeda segala.


"Hanya perasaamu yang aku tidak tahu!"


Dara memutar bola matanya dengan malas.


"Berhenti di sini!" pinta Dara.

__ADS_1


"Ini bukan rumah kamu."


"Aku bilang berhenti!" Dara menaikkan intonasi suaranya.


"Iya-iya." Yoan mengalah. Dara mau marah terus padanya. Memang Ratu pemarahlah.


"Buka pintunya!" ucap Dara. Pintu mobil masih terkunci.


"Aku tidak bisa menurunkanmu di pinggir jalan. Aku harus mengantarmu sampai rumah. Bila perlu sampai bertemu calon mer...tu...a." Jelas Yoan.


Lagi dan lagi tatapan mata Dara sangat tajam padanya.


"Baiklah! Nanti aku telepon, kamu angkat ya. Aku kirim pesan juga tidak dibalas. Jangan acuhkan aku lagi!"


Dara tidak menjawab. Ia memilih diam.


"Dara... Aku memintamu untuk menjadi kekasihku bukan tanpa alasan. Aku sangat menyukaimu, jadi tolong beri aku satu kesempatan." Yoan mengatakan maksud hatinya agar Dara mengerti. Tapi, wanita itu masih membuang pandangannya. Tah apa yang Dara lihat di luar itu.


'Aku sangat menyukaimu? dasar tukang gombal!!! Dia kira aku luluh gitu!' Dara mendumel dalam hati. Semua pria memang seperti itu, bicara begitu sangat manis. Lalu menyakiti hati.


"Sudahlah... Kamu langsung istirahat ya. Jangan begadang!" Yoan mengelus kepala Dara. Ia akan tetap berusaha, sampai Dara luluh padanya.


"Aku sudah bilang jangan menyentuhku!" Dara melihat ke arah Yoan, saat tangan pria itu memegang kepalanya.


Yoan melupakan sesuatu. Ia mengelus kepala Dara, agar wanita itu tahu kalau ia menyayanginya.


"Ka-kamu harus jelas dong! Di bagian mana aku tidak boleh menyentuhmu? Lagian tadi aku bukan menyentuh, tapi mengelus kepalamu!" ucap Yoan beralasan. Ia tidak mau hubungan yang baru terjalin ini, berakhir begitu saja. Sudahlah terjalin dengan memaksa dan mengancam Dara.


"Semuanya!!! Anda tidak boleh menyentuh bagian apapun dariku. Jadi sekarang semua sudah berakhir!" ucap Dara bernafas lega. Yoan telah melanggar syarat.


"Dara... Kenapa kamu begitu keras kepala?!" Yoan menarik Dara dalam pelukannya. Wanita itu tidak mau memberinya sedikit pun kesempatan.


"Lepaskan aku!!!" Dara menggeliat, pria itu malah memeluknya. Padahal ia sudah mengatakan untuk tidak menyentuhnya.


"Aku tidak pernah berbohong pada perasaanku. Aku menginginkanmu, Dara. Jadi tolong jangan tolak aku terus!!!" Yoan makin mengeratkan pelukannya.


Dara merasa aneh. Hati pria itu berdebar-debar sekarang. Debarannya bahkan terdengar sangat jelas.


"Tolong lepaskan aku!"


"Tidak!!!"


"Aku tidak bisa bernafas!!!" Dara merasa pengap dalam pelukan erat itu.


Mendengar itu Yoan langsung melepas pelukannya. "Maafkan aku, Dara. Tolong maafkan aku. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku sangat serius. Tapi maaf, aku malah menyakitimu." Yoan merasa bersalah. Ia terlalu menginginkan Dara di sisinya.


'Apa dia benar-benar serius padaku?!' Dara menatap pria itu. Menatap mata yang begitu sangat tulus.


"Baiklah. Tapi hanya seminggu." Dara akan memberi kesempatan pada Yoan.


"Yes! Yes!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2