KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 93 - RASA CINTA


__ADS_3

Yoan menatap tajam pria yang tersenyum menyebalkan itu. Melihatnya ingin saja ia mendaratkan satu bogeman mentah.


"Apa itu jangan-jangan selingkuhan anda, Pak?" tanya Roni menaikkan alisnya.


"Jaga ucapan anda." Yoan masih dengan tatapan. Ia berusaha untuk tenang.


"Kalau bukan selingkuhan. Hmm... Apa mungkin wanita dari masa lalu anda hadir kembali?" tebak Roni kembali sambil melirik sekilas Maudy yang dipaksa security untuk keluar.


Roni berpikiran wanita itu adalah mantan Yoan. Soalnya perempuan itu memanggil-manggil, tapi Yoan tidak menanggapi.


"Lebih baik anda urus saja pekerjaan anda! Anda berada di kantor ini untuk bekerjakan?!" tegas Yoan kembali. Lalu kembali melangkah kaki. Ia merasa tidak memiliki urusan dengan pria itu.


Yoan kesal, masih melihat Roni berkeliaran di kantor. Mau memecatnya, hal itu sedikit kekanak-kanakan. Ia tidak bisa mencampur urusan pekerjaan dan pribadi. Ditambah lagi, Roni sudah mengabdi cukup lama di perusahaan itu.


Roni tersenyum sinis melihat Yoan yang sudah berlalu pergi.


'Dara-Dara... kenapalah kamu mau menikah dengan pria yang belum tuntas dengan masa lalunya? Itu hanya akan menyakitimu saja!' Roni menghela nafas kasar, merasa kasihan dengan keputusan Dara yang salah dalam memilih suami.


\=\=\=\=\=\=


"Hei..." sapa Roni menepuk pundak seorang wanita yang berwajah kesal. Bagaimana tidak kesal, wanita itu tadi digeret paksa oleh security.


Maudy menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya.


"Aku tidak berminat denganmu. Kamu bukan tipeku!" ucap Maudy sambil membuang pandangannya.


Roni tersedak mendengar ucapan Maudy. Wanita itu terlalu kepedean. Ia sama sekali tidak berniat untuk berkenalan.


"Sepertinya kamu salah tanggap. Aku juga tidak berminat padamu." Roni menggelengkan kepala.


"Terus ada apa kamu menepuk pundakku?" tanya Maudy dengan wajah malas. Pria itu terlalu berbasa basi jika mau berkenalan dengannya.


"Aku lihat tadi kamu berbicara dengan pak Yoan. Ada apa?" tanya Roni langsung ke intinya saja. Dari pada wanita ini kepedean lagi.


Maudy memicingkan matanya, ia pun melihat pria itu dari atas hingga atas lagi.


Dilihati seperti itu membuat Roni jadi tidak nyaman.


"Kamu siapa?" balik Maudy bertanya. Ia merasa pria itu terlalu ingin tahu dan ikut campur urusan orang lain.


"Aku-" Roni tidak jadi mengatakan siapa dirinya. "Kamu siapa?"


Maudy mendengus, pria itu malah balik bertanya.


"Aku tidak punya waktu untuk mendengar basa basimu itu." Ucap Maudy lalu menyetop taksi. Ia pun segera naik dan meninggalkan pria aneh yang mengajaknya berkenalan.


'Astaga!!!' Roni menghembuskan nafasnya dengan kasar. Wanita itu membuatnya kesal. Sudah kepedean, sombong lagi.


\=\=\=\=\=\=


"Kamu masak apa, sayang?" tanya Yoan yang sedang bervideo call-an dengan sang istri. Ia melihat Dara yang sibuk di dapur.


"Ini, Mas. Aku lagi buat bubur." Ucap Dara memberitahu. Ia meletakkan ponsel di atas meja. Jadi sang suami bisa melihatnya memasak.


"Bubur apa?"


"Bubur mutiara, Mas." Jawab Dara sambil mencicipi buburnya. Rasanya sudah manis atau belum.


"Bu-bubur mutiara?" tanya Yoan bingung. Perlahan ia membayangkan mutiara ada di dalam bubur. Wah... wah... wah... bagaimana rasanya?"


"Iya, Mas. Bubur mutiara, pasti Mas Yoanku akan menyukainya."


"Bagaimana sih bubur mutiara itu?" tanya Yoan kembali. Menunggu sampai pulang ke rumah itu masih lama lagi, ia sudah sangat penasaran. Apa Dara memasak perhiasan mutiara pemberiannya?

__ADS_1


Apa bisa dimakan?


"Ini, Mas..." Dara meraih ponsel dan menunjukkan bubur mutiara yang berada di dalam panci.


"Mana mutiaranya?" tanya Yoan sambil mengulum senyum.


"Ini, Mas. Bulat, kecil-kecil, seperti mutiara." Dara memberitahu dengan serius.


"Oh iya-iya!" Yoan mengangguk mengerti. Kirain mutiara asli, ternyata mutiara-mutiaraan. Ada-ada saja sih nama makanannya.


"Mas Yoan, sudah makan?" tanya Dara.


Yoan mengangguk pelan. "Sudah sayang."


"Porsinya kebanyakan atau kurang, Mas?" tanya Dara kembali. Selama ini ia hanya menerka-nerka.


"Sudah pas, sayang. Porsinya sangat pas. Tidak terlalu kenyang dan tidak membuat lapar."


Dara mengangguk senang. "Ya sudah, Mas Yoan lanjut lagi ya. Aku mau mandi dulu. Agak gerah ini."


Kepala Yoan menggeleng. "Kamu mandinya nanti saja. Kita mandi bareng saat aku pulang."


"Mas Yoan!!!" wajah Dara mulai memerah. Mereka nanti bukan hanya mandi biasa, tapi jadi mandi plus-plus.


"Ayolah, Ra..." melas Yoan yang melihat Dara malah menggeleng.


"Dah Mas Yoan. I love you." Dara memberikan kecupan lewat udara, lalu ia mengakhiri obrolan.


Yoan mendengus. Dara sudah mengakhiri obrolan. Padahal pembahasan mereka masih berlangsung. Istrinya memang malu-malu meong.


Tak lama saat jam kantor berakhir. Yoan bergegas keluar dari ruangannya. Ia harus cepat pulang. Hatinya begitu merindukan istrinya. Ingin memeluk Dara erat-erat.


Yoan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan sore yang mulai macet. Ia memutar musik agar tidak terlalu bosan.


'Oh, rumahnya arah sini!' batin seorang pria yang mengikuti mobil Yoan saat mulai memasuki komplek perumahan.


Tok


Tok


Tok


"Sayang... aku pulang!" ucap Yoan sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Krek...


"Mas Yoan!" Dara tersenyum bahagia melihat pria yang dirindukannya datang. Ia menyalami suaminya itu.


Yoan segera menutup pintu rumah. Lalu...


"Mas, aku merindukanmu!" Dara memeluk suaminya untuk melepaskan kerinduannya.


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang!" balas Yoan memeluk Dara dengan erat.


Mereka berpelukan sangat erat. Seolah sudah berpisah bertahun-tahun lamanya. Padahal mereka berpisah dalam hitungan jam saja.


"Mas, ayo minum teh." Ajak Dara dengan wajah masih bersembunyi di dada tegap itu.


"Sebentar lagi. Aku masih merindukanmu!" Yoan masih dengan posisinya. Memeluk Dara dengan erat. Tangannya seolah enggan untuk digerakkan.


Dara tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia merasakan perasaan Yoan yang begitu dalam padanya. Cinta Yoan padanya terasa begitu besar.


Air mata Dara jatuh berlinang. Ia terharu dengan sikap Yoan padanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa menangis?" tanya Yoan bingung. Ia melonggarkan pelukannya. Rasa rindunya telah terobati.


"Ti-tidak apa, Mas." Geleng Dara cepat.


"Apa aku terlalu kuat memelukmu?" Yoan jadi takut. Karena sangking senangnya memeluk istrinya, ia tidak menyadari pelukannya mungkin terlalu kuat dan Dara jadi tidak bisa bernafas.


Dara menggeleng. Yoan pun menghapus air mata itu. Ia lalu merangkup wajah Dara dengan kedua tangannya.


Yoan mulai mendaratkan satu kecupan di bibir seksi dan menggoda itu.


Dara merasakan kecupan-kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman. Terasa begitu lembut dan mendebarkan hati. Wanita itu terbuai sesaat.


"Aku mencintaimu, Dara." Ungkap Yoan menatap Dara dengan tatapan lembut dan sangat dalam.


"A-aku mencintaimu, Mas Yoan." Balas Dara kembali. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya lagi. Ia jatuh cinta dengan pria aneh itu. Ya, pria aneh yang mengajaknya menikah di pinggir jalan.


"Mas, ayo!!! Aku sudah buat bubur." Ucap Dara dengan manja dan memeluk lengan Yoan.


Yoan mengangguk dan menggendong Dara. Ia membawa Dara menuju dapur.


"Mas, turunkan aku." Pinta Dara. Yoan malah mendudukkannya di meja makan.


Pria itu menyatukan kening mereka. Dara dapat melihat wajah tampan suaminya. Yoan benar-benar sangat tampan.


Dan kembali Dara merasakan sentuhan basah di bibirnya. Suaminya kembali menjelajah bibirnya.


Tok


Tok


Tok


"Mas-Mas, a-ada tamu!" ucap Dara menjauhkan wajah suaminya.


"Biarkan saja!" Yoan akan kembali melanjutkan penjelajahannya.


Tok


Tok


Tok


"Mas Yoan, ada tamu loh." Ucap Dara kembali. "Aku mau buka pintu."


"Sudah biar aku saja!" Yoan sedikit kesal. Ada saja yang mengganggu kesenangannya.


"Nanti malam ya, Mas." Ucap Dara sambil mengkedipkan matanya. Ia sengaja menggoda Yoan. Biasanya ia yang selalu digoda pria itu.


"Aku akan buka pintu." Yoan menkecup bibir istrinya sejenak.


Tok


Tok


Tok


'Siapa sih yang datang?' batin Yoan. Tamunya sangat tidak sabaran sekali.


Yoan berjalan menuju ruang tamu. Ia pun membuka pintu rumah. Dan...


"Selamat sore, Pak Yoan!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2