KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 80 - OLAH RAGA MALAM


__ADS_3

Dara berjalan pelan saat Yoan menggandengnya menuju kamar hotel. Ia sudah bisa membayangkan tubuhnya yang akan tepar kembali. Suaminya pasti tidak akan memberinya ampun.


"Sayang, tangan kamu kenapa dingin?" tanya Yoan saat mereka telah masuk ke kamar. Tangan istrinya sangat dingin dan wajahnya juga sedikit pucat.


"Hah?" Dara malah bingung. Ia tersadar dari lamunannya.


Yoan menggeleng kepala. Dan menarik Dara dalam pelukannya.


"Mas Yoan!!!" pekik Dara, pria itu sudah menggendongnya dan meletakkan di tempat tidur.


"Mas..." Dara menggelengkan kepala pelan. Ia sudah tidak punya tenaga untuk melayani suaminya itu.


"Aku menginginkanmu, sayang!" Yoan sudah menahan hasratnya dari tadi malam.


Dara hanya dapat memejamkan matanya. Pria itu mulai melucuti pakaiannya. Ia sudah pasrah, akan habis hari ini. Mau menolak, ia takut Yoan kecewa.


Wanita itu merasa aneh, saat Yoan malah menyelimutinya. Ia pun membuka matanya.


"Maaf ya, sayangku." Yoan menkecup kening Dara. "Kamu pakai kembali pakaianmu!"


Wajah Dara jadi bingung, suaminya menyuruhnya memakai pakaian. Padahal tadi Yoan sangat bergairah dan akan menggempurnya kembali.


Dara pun memakai pakaiannya. Dari pada Yoan berubah pikiran.


Yoan merasa bersalah pada Dara. Ia terlalu memaksa istrinya. Ia tadi melihat area inti itu lecet dan memerah. Dara pasti sangat kesakitan.


'Sepertinya aku harus libur beberapa hari!'


\=\=\=\=\=\=


"Ayo, sayang." Yoan meraih koper Dara. Ia menggeret kopernya dan koper istrinya. Mereka akan check out dari hotel.


"Mas, biar aku bawa saja." Dara ingin membantu.


"Tidak usah, Ra." Yoan menggeleng.


Mereka berjalan ke parkiran. Yoan mengangkat koper ke dalam bagasi. Lalu ia membukakan pintu untuk sang istri.


"Terima kasih, Mas." Dara mengulumkan senyum. Yoan sangat perhatian sekali.


Tak lama mereka sampai di rumah orang tua Dara. Bunda senyum melihat putrinya. Senyum Dara terus merekah.


"Bun, kami izin menginap sehari lagi di sini." Yoan meminta izin.


"Iya, tidak apa. Bunda sangat senang." Bunda mengelus kepala Dara.


"Setelah dari sini, kami akan menginap di rumah Mas Yoan beberapa hari Bun. Setelah itu baru pindah ke rumah yang akan kami tempati." Jelas Dara sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan.


Bunda mengangguk. Meski merasa sedih berpisah dari Dara, karena Dara harus ikut suaminya. Tapi, Bunda harus berlapang dada dan ikhlas. Dara pasti akan sering mengunjunginya.


Malam menjelang, Dara tersenyum senang. Ia menatap wajah Yoan yang telah terpejam. Suaminya tidak mengempurnya malam ini.


"Sayang, tidurlah. Jangan terus menatapku, aku tahu aku sangat tampan." Yoan berucap pede dan mengeratkan pelukannya.


"Aku akan libur beberapa hari, sampai kamu sembuh." Ucap Yoan dengan mata masih terpejam.


"Sembuh? aku tidak sakit, Mas." Dara merasa aneh. Ia memegang dahinya sendiri. Suhu tubuhnya normal-normal saja.


"Itu kamu yang sakit." Bisik Yoan di telinga. Ia masih senyum dalam pejamnya.

__ADS_1


"Mas Yoan!!! Ihhh!" Dara menutup wajahnya. Ia mendadak sangat malu. Pria itu sudah melihat semuanya. Ia sudah tidak punya privasi lagi.


"Sudah tidurlah. Kalau kamu tidak tidur, aku akan melakukan-"


"Aku tidur, Mas." Dara segera memejamkan mata.


Esok harinya Yoan dan Dara pamitan pada Ayah dan Bunda. Mereka akan tinggal di rumah orang tua Yoan, sebelum pindah ke rumah baru mereka.


Ayah memeluk Dara erat. Rumah akan terasa sepi tanpa putrinya itu. Setelah memeluk Dara, ia juga memeluk Yoan. Menantu yang sudah mengambil alih tanggung jawabnya pada Dara.


"Tolong, jaga Dara." Pinta Ayah dengan wajah sendu.


Yoan pun mengangguk pelan. Ia akan menjaga istrinya dengan jiwa dan raganya.


Tak lama, mereka sampai di kediaman orang tua Yoan.


"Selamat datang, putriku." Sambut Ibu Yumi dengan senyum merekah. Ia senang melihat Dara kembali.


"Mama, apa kabar?" tanya Dara sambil bercipika cipiki.


"Mama selalu sehat. Kamu sehat kan, nak? Yoan tidak buat kamu teparkan?" tanya Mama melirik Yoan yang malah cengengesan.


Dara jadi tertawa sumbang. Ia bingung mau menjawab apa. Pertanyaan Mama membuatnya jadi malu dan kikuk.


"Oh iya. Apa cucu Mama sudah ada di sini?" tanya Ibu Yumi kembali mengelus perut menantunya.


Dara bertambah malu. Mama bertanya hal itu.


"Lagi proses. Mama sabar saja. Adonannya belum jadi, tapi akan segera mengembang." Jelas Yoan dengan semangat.


Mama makin mengembangkan senyumannya. Cucunya sedang berproses. Rasanya tidak sabar mendengar suara tangisan bayi di rumah ini.


Mama mengangguk.


Yoan menggandeng Dara menuju kamarnya.


"Ma, kami permisi." Dara berpamitan pada Mama.


'Yoan Yoan...' Mama senyum-senyum melihat dua sejoli itu.


Di dalam kamar, Dara takjub akan kamar pria itu. Sangat luas dan besar. Main sepak bola pun bisa di kamar ini.


"Sayang, nanti malam kita olahraga ya." Ajak Yoan. Ia merindukan tubuh istrinya. Dara pasti sudah sembuh.


"Olahraga?" tanya Dara.


"Iya, kita akan olahraga malam." Jawab Yoan santai.


"Di mana, mas? Apa Gym nya dekat sini?" tanya Dara.


Yoan mengangguk cepat. Ia ingin tertawa saja, Dara benar-benar tidak mengerti maksudnya.


"Ok, Mas." Dara bersemangat. Ia sudah lama tidak berolahraga.


Malam itu Dara makan malam dengan keluarga Yoan. Ada tante Lydia, Om Leo dan juga Malik.


Ibu Yumi mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu tante Lydia juga mengambilkan untuk suaminya. Dan Dara mengikuti mereka.


Sepanjang Dara mengambilkan makanan, Yoan menyanggahkan dagunya.

__ADS_1


"Mas, silahkan." Ucap Dara penuh senyuman.


"Terima kasih, sayang." Jawab Yoan penuh cinta.


Para orang tua yang berada di ruangan itu hanya menggeleng, melihat aura kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta.


Tapi tidak begitu dengan Malik. Ia merasakan aura yang aneh.


'Pasti peletnya lagi bekerja!'


Setelah makan, Dara masuk kamar dan bersiap-siap untuk olahraga. Ia memakai training lengkap dengan sepatu olahraga.


'Mas Yoan mana? Katanya mau olahraga?!' Batin Dara tak melihat suaminya berada di kamar.


Dara pun menuruni tangga, ia melihat suaminya sedang di ruang tamu. Mereka sedang mengobrol-ngobrol.


"Kamu mau ke mana, nak?" tanya Mama bingung. Dara berpakaian seperti akan berolahraga.


"Dara mau olahraga, Ma. Mas Yoan ajak Dara olahraga malam." Ucap Dara sesuai dengan apa yang Yoan katakan tadi siang.


Lydia dan Leo menahan senyum. Dara sangat polos sekali.


"Mas, kok belum siap-siap? nanti tempat Gymnya tutup." Dara mengingatkan. Hari sudah semakin malam.


'Astaga!!!' Batin Yoan tidak habis pikir. Dara benar-benar berpikir mereka akan olahraga ke sana.


"Sayang, kita olahraganya nggak ke sana." Ucap Yoan.


Papa dan Mama menggelengkan kepala. Putranya sedang mengerjai menantu mereka.


"Jadi?" tanya Dara bingung.


"Di rumah saja. Kita olah raga malamnya di rumah saja." Yoan mengkedipkan sebelah matanya.


"Tepatnya... di kamar." Sambung Yoan dengan senyum genitnya.


Olahraga malam...


Olahraga malam...


Olahraga malam...


Dara mulai meloading perkataan suaminya. Olahraga malam yang dimaksud suaminya olahraga itu...


"Mas Yoan!!!" Dara sangat malu. Ia pun berlari kembali ke kamar sambil menutup wajahnya. Suaminya benar-benar mengerjainya. Ia pun tadi malah polos-polos saja menanggapi perkataan suaminya.


"Pa, Ma, Om dan Tante... aku ke kamar dulu ya." Pamit Yoan akan mengejar istrinya.


"Sukses ya, olahraga malamnya!" ledek Papa sambil tertawa-tawa.


"Papa, mereka sangat lucu ya!"


Ke empat paruh baya itu tertawa-tawa melihat pengantin baru tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2