KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 59 - MAS YOAN


__ADS_3

"Enak?" tanya Yoan melihat Dara yang sedang melahap makanan.


"Ini sangat enak!" Dara mengangguk pelan.


Kunyahan Dara terhenti sejenak, tatkala pria itu mengelap mulutnya.


"Kamu makan saja berselemak!"


"A-aku bisa bersihkan sendiri!" Dara mengambil tisu yang dipegang Yoan, dan mengelap mulutnya sendiri.


Setelah selesai makan. Yoan masih duduk di samping Dara. Ia ingin mengobrol panjang dengan wanita itu. Melepas kerinduannya.


"Oh iya sayang, tadi di lobi kamu kenal dengan mereka?" tanya Yoan memulai obrolan. Ia tahu Roni adalah mantan calon pengantin Dara. Tapi, apa mau Dara mengatakan padanya.


"Iya aku kenal." Jawab Dara. "Aku kan pernah bekerja di sini!"


"Apa?" Yoan amat terkejut. Ia meraih ponsel dan melihat informasi yang pernah El berikan.


'Yoan!!!' Yoan membatin. Ia memang tidak membaca semua informasi itu. Padahal semua tentang Dara ada di sana.


"Aku berhenti dari sini, sekitar 2 tahunan yang lalu, kalau nggak salah." Dara mencoba mengingatnya.


"Dan pria yang tadi itu Roni. Dia..." Dara menatap Yoan. Cerita atau tidak dengannya.


Yoan melihat Dara dan menunggu apa yang mau dikatakannya.


"Dia hampir menikah denganku." Dara memberitahu. Mereka harus terbuka. "Dia... mantan calon pengantin pria."


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Yoan menatap Dara.


"Hmm... biasa saja sih." Jawab Dara tersenyum tipis.


"Jika kamu masih sakit hati dengannya. Aku bisa memecatnya dan membuat perusahaan manapun tidak akan menerimanya." Ucap Yoan meyakinkan. Hal seperti itu sangat mudah dilakukannya.


"Untuk apa? Lagian semua sudah berlalu. Jika melakukan hal seperti itu, bukankah berarti aku masih dihantui masa lalu. Jadi biarkan saja dia." Dara tak ingin membalas rasa sakitnya.


"Baiklah. Kalau dia menganggumu, beritahu aku." Yoan menggenggam tangan Dara erat.


"Oh iya sayang, aku ada rapat. Kamu tunggu sebentar ya." Sambung Yoan kembali. Ia tidak mungkin mencancel rapat itu secara mendadak.


"Ya sudah sana. Pergilah. Aku akan menunggu di sini."


"Aku sebentar saja. Kalau kamu bosan kamu berkeliling saja. Mungkin ada teman yang ingin kamu temui." Saran Yoan.


"Memang boleh aku berkeliling?" tanya Dara memastikan.


"Kenapa tidak boleh? Kamu boleh berkeliling, tapi ingat tidak boleh pulang. Kita akan pulang bersama." Ucap Yoan mengingatkan.


Dara mengangguk. "Iya. Sudah sana pergi, Mas."


"Apa?" Yoan mendengar Dara memanggilnya Mas.


"A-apa?" tanya Dara gugup. Ia tanpa sadar mengucapkannya.


"Kamu panggil aku apa tadi?"


"Ti-tidak ada."


"Ayolah sayang, jangan malu-malu. Aku ingin mendengarnya." Pinta Yoan.

__ADS_1


"Nggak mau."


"Ayolah, sayang." Yoan yang geram mencubit pipi Dara.


"Sakit loh, Mas." Dara memegangi pipinya yang merah.


"Katakan sekali lagi." Yoan akan mencubit pipi Dara kembali.


"Mas." Dari pada dicubit lagi.


"Lagi..."


"Mas."


"Lagi..."


"Mas Yoan!!!" Dara membuang wajahnya. Ia jadi malu. Pria itu memaksanya untuk mengatakan itu.


Cup


Satu kecupan, Yoan daratkan di pipi kanan Dara. Ia sangat bahagia. Mas Yoan... panggilan yang sangat spesial.


Sentuhan lembut itu, membuat Dara jadi melihat ke arah pria itu.


Cup


Dan lagi, satu kecupan mendarat di pipi kiri.


"A-aku pergi." Yoan pun segera keluar ruangannya. Begitu di luar ruangannya, ia menghela nafas panjang. Mendadak ia menjadi kikuk dengan wanita itu.


Di dalam ruangan, Dara masih terdiam sambil memegangi pipinya. Yoan berani menkecup kedua pipinya. Pria itu pandai sekali mencari kesempatan.


\=\=\=\=\=\=


Bosan di dalam, Dara keluar dari ruangan Yoan. Ia menuju lantai tempat kerjanya dulu. Tapi sepertinya sudah banyak yang berubah di sana.


Terlihat beberapa karyawan melihatnya lalu berbisik-bisik. Tak tahulah apa yang sedang dibisikkan.


Dara meraih ponsel, ia akan menelepon Eka saja.


"Ka..." ucap Dara begitu panggilan terhubung.


"Iya kak. Tumben nelepon aku. Kangen ya!" Ledek Eka.


"Kau masih kerja nih?" tanya Dara.


"Masihlah. Mau makan apa anakku nanti?!" Eka menjawab Dara.


"Anak kucingmu." ejek Dara.


"Hehe..."


"Kau bekerja di lantai berapa, ka?" tanya Dara kembali.


"Kenapa?" Eka jadi bingung.


"Katakan saja kau bekerja di lantai berapa?"


"5."

__ADS_1


"Ok. Dah."


Dara mengakhiri panggilan. Ia pun berjalan menuju lift. Ia akan menuju lantai 5.


Sampai di lantai 5, Dara melihat sekitarnya.


"Eka!!!" Panggil Dara.


"Kak... kak-kak Dara!" Eka yang berada di meja kerjanya terlihat kaget melihat Dara berada di sana.


"Kak Dara kenapa bisa ada di sini? apa kakak kembali bekerja di sini lagi?" tanya Eka dengan wajah bingung. Jika bukan karyawan, mana bisa masuk ke perusahaan ini.


"Tidak. Aku tidak bekerja!"


"Jadi... kenapa kak di sini?" Eka melihat rekan-rekan kerja lainnya yang berbisik-bisik. Seperti sedang membicarakan mereka.


"Dara!!!" panggil Bu Upik dengan nada yang sangat lembut. "Dara... kamu kenapa berkeliling sendirian? biar saya temani ya?" menawarkan diri.


Dara mengangkat alisnya, wanita tua itu mendadak begitu lembut padanya.


Sama dengan Dara, Eka pun merasa aneh dengan Bu Upik. Apa karena sudah lama tidak bertemu Dara, Bu Upik jadi berubah baik.


"Kamu mau minum apa? Mari ke ruangan saya saja!" ajak Bu Upik ramah. Sifatnya sangat berubah total. Tidak seperti beberapa saat yang lalu.


"Tidak u-"


"Kamu pasti capek ya. Biar saya pijatin." Bu Upik memegang bahu Dara.


"Tolong tangannya Bu." Dara merasa risih. Ia menjauh dari wanita itu.


"Dara... kamu jangan marah sama saya ya. Jangan dendam sama saya juga ya." Ucap Bu Upik kembali.


"Ma-marah?" tanya Dara bingung.


"Saya minta maaf sama kamu, atas sikap saya yang tidak baik. Jangan kamu pecat saya ya." Mohon Bu Upik. Ia benar-benar tak ingin kerja kerasnya di perusahaan ini, berakhir begitu saja.


"Pecat? bagaimana bisa saya memecat anda?" Dara merasa aneh. Mau memecat orang? Memangnya apa jabatan dirinya?


Eka yang melihat itu juga makin bingung. Bu Upik sepertinya sangat takut sekali dengan Dara sekarang.


"Dara... tolong jangan kamu minta pada pak Yoa n untuk memecat saya. Anak saya masih sangat kecil." Mohon Bu Upik pada Dara sambil berbisik. Memecatnya adalah hal yang sangat mudah bagi pria itu.


Dara mulai mengerti. Bu Upik ternyata takut dipecat. Bu Upik takut jika ia masih dendam dan meminta Yoan memecat wanita gempal itu.


"Hmm... nanti deh aku bicarakan dengan Mas Yoan dulu." Dara sengaja mulai menakutinya. Bu Upik harus diberi sedikit pelajaran. Biar tidak semena-mena karena sudah atasan. Agar Bu Upik juga tahu. Ada atasan-atasan yang lainnya.


'Mas Yoan?' Eka bertambah bingung. Siapa Mas Yoan? Kenapa Bu Upik takut Dara mengadu pada Mas Yoan?


Eka tampak mulai berpikir. Mas Yoan siapa yang sedang mereka bahas.


"Dara... Tolong maafkan saya ya! Kita lupakan masa lalu dan buka lembaran baru."


"Nanti aku pikir-pikir dulu ya, Bu..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2