
"A-apa yang anda lakukan?" tanya Dara dengan nafas yang masih bergemuruh karena terkejut.
"Menolongmu. Aku tidak mau kamu jatuh di lantai, lebih baik jatuh di hatiku saja!" jawab Yoan yang masih memegang Dara.
"Hah maaf, sepertinya aku mengganggu!" ledek Eli melihat Yoan menggendong Dara.
"Tu-turunkan aku!!!" Dara meminta diturunkan, ia malu dengan Eli. Bisa saja temanya itu memikirkan hal yang lain.
"Pelan-pelan, sayang!" ucap Yoan dengan lembut. Ia perlahan menurunkan wanita yang sudah menggeliat.
'Dasar kak Dara. Malu-malu!' Eli yakin, Dara masih malu mengatakan hubungan mereka. Ia pun pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa anda di sini?" tanya Dara sambil mengutipi barang-barang yang berserak.
"Apalagi... karena aku merindukanmu!" jawab Yoan sambil membantu Dara.
Mendengar jawaban Yoan, Dara menatap dengan tajam. Pria itu sedang menggombalinya.
"Sudah, biarkan saja. Biar aku saja!" Dara meraih barang yang dipegang Yoan. Ia kembali naik ke bangku, untuk menyusun mie cup yang berantakan di rak atas.
"Biar aku bantu!" Yoan menarik tangan Dara. Membuat wanita itu turun dari bangku.
"Aku mau kerja!" Dara kesal, pria itu mengganggunya saja.
Yoan menyusun mie cup tersebut dengan mudah dan tanpa naik ke bangku, karena tubuhnya yang tinggi.
"Sudah?" tanya Yoan setelah selesai menyusun. "Ini mau dipajang juga?" tunjuknya pada kardus lain. Ia ingin membantu Dara, agar cepat selesai.
"Ini pekerjaanku!!! Lebih baik anda pergi!" Dara menghembuskan nafas kesal.
Yoan menggeleng, ia tidak ingin pergi. Ia ingin membantu Dara. Ia tidak pernah bekerja di swalayan, ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Mata Dara menatap Yoan tidak senang. Hal itu membuat Yoan mengerti.
"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan membantu." Ucap Yoan memilih berdiri saja. Ia akan melihat Dara.
"Lebih baik anda pergi saja!" Dara kesal. Pria itu sekarang seperti sedang mengawasinya bekerja.
"Aku mau beli minum kok!" ucap Yoan lalu berjalan menuju chiller. Ia bingung melihat banyaknya minuman terpajang di sana.
"Sayang, menurut kamu sekarang aku minum yang mana?" tanya Yoan.
Dara diam tidak menjawab. Ia melanjutkan mendisplay barang. Jika terus meladeni pria itu. Ia tidak akan selesai-selesai.
Tak lama, Dara sudah selesai mendisplay semua barang dalam kardus. Ia pun mengangkat kardus-kardus kosong itu ke belakang. Lalu mencuci tangannya.
Dara kembali ke depan. Ia berjalan ke area kasir. Melihat layar tv. Tidak ada pria itu di swalayan, tapi mobilnya masih terparkir.
"Ciye... Yang kecarian!!!" Eli meledek Dara.
Dara segera membuang pandangan dari layar tv tersebut. Ia tidak mencari pria itu.
"Si Abang bilang keluar sebentar." Ucap Eli memberitahu.
"Kak, kapan kalian menikah?" tanya Eli kemudian.
"Apa?" Dara menaikkan intonasi suaranya, mendengar pertanyaan Eli.
__ADS_1
"Karena lapar makanya kak Dara budek!" ejek Eli yang melihat Dara sok terkejut.
Dara akan menokok kepala Eli dengan pena. Tapi tidak jadi.
"Kak, si abang jelas sangat mencintaimu. Terlihat dari tatapan matanya yang dalam saat melihatmu. Senyumnya yang merekah-"
"Sejak kapan kau jadi ahli membaca ekspresi wajah orang?!" Dara menggeleng. Eli terlalu banyak berbicara yang tidak penting.
"Aku serius loh kak! Kakak jangan jutek-jutek. Nanti cepat tua loh!"
"Memang aku sudah tua!" jawab Dara cepat. "Sudah sana, kau makan!"
"Iya-iya!"
\=\=\=\=\=\=
"Ini untuk kalian!" Yoan meletakkan 2 nasi kotak di atas meja kasir.
Dara dan Eli melihat nasi kotak tersebut. Mereka tadi sudah bergantian makan dengan bekal yang mereka bawa masing-masing.
"Kami sudah makan!" jawab Dara.
"Loh? Kapan?" tanya Yoan. Ia baru pergi sebentar.
"Ya sudah, nanti kalau lapar lagi. Makan saja!" Yoan mencoba mengerti. Ia tadi tidak bertanya dahulu.
"Kami sudah banyak ma-"
"Terima kasih ya, Bang. Akan aku dan kak Dara makan nanti!" sela Eli yang merasa tidak enak. Pria itu sudah membawakan makanan, masa ditolak begitu saja.
Dara menyenggol lengan Eli. Menatap temannya itu, seolah bertanya kenapa diterima?
Dara diam membuang wajahnya. Ia kesal melihat Yoan di tempatnya bekerja.
"Jam 4." Eli menjawab karena Dara diam saja.
"Aku akan menunggumu!" ucap Yoan mengerti. Dara mungkin merasa terganggu karena ia berada di sini. Ia akan kembali menunggu di mobilnya saja. Menunggu sambil tidur sesaat.
Dara dan Eli kembali lagi pada pekerjaan mereka. Eli sibuk jadi kasir. Dan Dara sibuk mengisi rak yang kosong.
Tak lama Dara melihat jam tangannya. Sebentar lagi shift pagi berakhir. Ia pun sibuk membersihkan swalayan. Ia mengambil sapu dan akan menyapu teras swalayan.
'Dia masih menunggu!' Batin Dara melihat Yoan di dalam mobil. Pria itu sedang tertidur dengan kaca mobil terbuka.
'Apa dia tidak bekerja?' Batin Dara kembali. Tadi pagi pria itu mengatakan akan pergi ke kantor. Tapi kenapa kembali lagi ke sini.
Dara keluar dari swalayan, ia sudah selesai bekerja. Ia melihat Yoan yang masih tidur.
Wanita itu akan melangkah pergi. Ia akan pulang sendiri. Tapi langkahnya berhenti dan menoleh ke belakang. Dengan menghela nafas, Dara kembali masuk ke swalayan.
Tuk...
Tuk...
Tuk...
Dara mengetuk kaca mobil, membuat Yoan terbangun.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang. Maaf, aku ketiduran." Yoan membenarkan posisi duduknya. "Naiklah!"
Dara pun naik ke mobil Yoan. Ia sebenarnya tadi ingin pulang saja, tapi melihat Yoan sampai tertidur menunggunya. Membuatnya merasa tidak enak.
"Kita jalan!" Yoan merenggangkan tubuhnya.
"Ini minumlah!" Dara memberikan kopi dingin botol.
"Terima kasih, sayang!" ucap Yoan menerima pemberian Dara. Ia pun segera menenggak kopi tersebut hingga habis.
"Bisa tidak jangan memanggilku seperti itu?" Dara merasa aneh dipanggil begitu.
"Tidak bisa! Aku suka memanggil kamu sayang." Yoan tersenyum mengatakannya.
"Kamu mau ke mana?"
"Pulang!"
Yoan melihat ke arah Dara. Ia sudah menunggu lama, lalu mereka pulang begitu saja.
"Kita makan dulu ya!" ajak Yoan.
"Aku mau pulang. Ya sudah, aku akan naik ojek saja." Dara akan membuka pintu.
"Baiklah!!!" Yoan menahan tangan Dara. Membuat wanita itu tidak jadi turun.
Yoan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia menuruti wanita itu untuk pulang. Pria itu mengerti, pasti Dara kecapekan dengan pekerjaannya tadi.
"Sudah sampai!" ucap Yoan setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan. Dara tidak mau diantar sampai rumah, jadi berhenti di simpang gang.
Dara membuka sabuk pengaman sambil melirik pria itu. Selama perjalanan mereka hanya diam saja. Sepertinya pria itu sedikit kesal padanya.
"Aku pulang. Te-terima kasih telah mengantarku." Ucap Dara gugup dan akan turun dari mobil.
Yoan menahan tangan Dara dan menggenggamnya. Meski wanita itu berusaha untuk lepas.
"Tolong lepas tanganku!" pinta Dara.
Bukannya melepaskan tangan Dara, pria itu malah menarik Dara dalam pelukannya.
"Sayang, ayo kita menikah!"
"Bicara apa anda? Lepaskan aku!" Dara mendorong dada pria itu, tapi pelukan Yoan terlalu kuat.
"Aku janji tidak akan menyakitimu. Aku akan mencintai kamu sampai akhir hayatku." Ungkap Yoan. Ia harus bergerak cepat. Mantan pengantin Dara kala itu, mungkin kini ingin kembali pada Dara. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Pelukan Yoan yang erat mulai melonggar. Dara merasakan tangan kekar itu mengelus kepalanya.
"Hati-hati ya." Yoan melepaskan pelukannya. Perasaannya sedikit tenang setelah memeluk Dara.
"A-a-aku pulang!" ucap Dara gugup, lalu segera turun dari mobil Yoan.
Setelah turun, Dara berlari kecil menuju rumahnya.
.
.
__ADS_1
.