
Di pagi yang cerah. Yoan telah bersiap. Ia tidak memakai pakaian kantor, memakai pakaian santai. Rencananya hari ini ia akan ke rumah Dara. Lalu mereka akan pergi seharian.
Setelah dirasa penampilannya sudah ok. Yoan pun keluar kamar dan menuju meja makan. Ia akan sarapan sebelum pergi.
Mata Yoan mencari seseorang di meja makan tersebut. Tante Lydia tidak ada di sana.
"Yoan, ayo sarapan!" ajak Om Leo yang menyadari tatapan ponakannya.
"Iya, Om." Jawab Yoan dan duduk di samping Malik.
"Aku sudah jelaskan sama Mama. Kau tenang saja." Bisik Malik. Ia sudah menjelaskan pada Mamanya, jika ia tidak mau dijodohkan dengan Dara. Ia seolah setuju hanya karena ingin meledek Yoan saja. Dan itu yang membuat mamanya makin kesal padanya.
Yoan mengangguk pelan.
"Ini sarapan kamu." Ucap Mama menyodorkan piring berisi makanan.
"Terima kasih, Ibu Yumi." Yoan tersenyum sambil mengambil piring.
Mama mendengus dipanggil seperti itu, lalu ia menambahkan secentong nasi goreng ke piring Yoan.
"Ma, ini kebanyakan!" Porsi Yoan terlalu banyak.
"Habiskan saja." Pinta Mama tak ingin Yoan mengurangi nasi dalam piringnya.
"Papa..." Yoan melihat ke arah papanya.
"Sudah habiskan saja." Itu ucap Papanya.
"Tapi, Pa... perutku bisa terkejut." Tiba-tiba makan lebih dari porsi biasanya.
"Laki-laki harus makan banyak, biar kuat!" Leo ikut menimpali sambil tersenyum-senyum.
"Benar, Yo. Kau harus makan banyak, biar kuat nanti setelah menikah." Ledek Malik.
"Kau harus punya tenaga extra untuk ah uh ah uh dengan istrimu!" Bisik Malik dengan wajah mengejek.
Tok
Yoan yang kesal dengan perkataan Malik, mendaratkan sendok ke kepala sepupunya itu.
Malik memegangi kepalanya yang sudah kena tokok Yoan. Padahal apa yang dikatakannya benar.
Setelah selesai sarapan, Yoan pun berpamitan pergi. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan pagi dengan diiringi musik.
'Aku merindukannya!'
\=\=\=\=\=\=
Dara bangun pagi-pagi dan membersihkan rumah. Ia menyapu lalu mengepel rumah, agar bersih dan kinclong.
Setelah membereskan rumah, ia ke dapur untuk membantu Bunda.
"Kamu sama Yoan bagaimana?" tanya Bunda ingin tahu. Mungkin putrinya sedang bertengkar atau bagaimana.
"Hah?" Dara yang sedang memotong sayur melihat Bundanya dengan wajah bingung.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Bunda kembali.
Dara baru mengerti. Mungkin Bundanya menganggap seperti itu, karena semalam Yoan mengantar bungkusan ole-ole. Dan ia langsung masuk ke kamar mandi, tanpa menemui Yoan.
__ADS_1
"Ti-tidak, Bun." Dara menggeleng. Mereka memang tidak bertengkar.
"Jadi?" Bunda masih kepo ingin tahu. Ia tidak mau ada masalah kecil akan berdampak pada pernikahan nantinya. Jika Dara ada masalah, putrinya bisa bercerita dan ia sebagai ibu akan menasehatinya.
"Ka-kami baik-baik saja, Bun." Dara menyakinkan. Tidak mungkin ia mengatakan perihal ciuman itu yang membuatnya malu.
"Ya sudah. Kalau ada apa-apa cerita sama Bunda ya."
"Baik, Bun." Dara pun tersenyum.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat kedua wanita itu saling melihat.
"Siapa yang datang?" tanya Bunda, pagi-pagi sudah datang tamu.
'Apa dia yang datang?' batin Dara bertanya.
"Da-Dara buka pintu dulu."
Dara berjalan menuju ruang tamu. Ia menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebelum membuka pintu.
"Pagi, cintaku..." Sapa Yoan dengan senyuman lebar bak sedang iklan pasta gigi.
"A-ada apa kemari?" tanya Dara.
Bukannya membalas sapaan Yoan, Dara malah bertanya seperti itu. Seolah kedatangan dirinya tidak diharapkan.
Deg
Kata-kata yang diucapkan Yoan membuat hati Dara berdebar. Kata-kata Yoan seperti mengandung listrik.
"Dara... siapa yang datang?" tanya Bunda dari dapur.
"Saya Yoan, Bun." Jawab Yoan dengan semangat.
"Masuk Yoan..."
"Baik, Bun." Yoan mengkedipkan matanya, lalu berjalan masuk ke dalam. Meninggalkan Dara yang masih di depan pintu.
"Sayang..." Yoan kembali menghampiri Dara. Ia menggenggam tangan calon istrinya yang sedang melamun. Lalu menutup pintu rumah.
"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Bunda." Sapa Yoan dengan ramah.
"Pagi. Kamu sudah sarapan?" tanya Bunda tersenyum melihat pasangan itu bergandengan tangan, seperti mau menyeberang saja.
"Sudah, Bun." Jawab Yoan masih santai.
Mata Ayah melihat datar ke arah tangan mereka.
'Semoga pria ini yang terbaik untuk Dara.' Ayah berharap seperti itu.
Dara pernah merasakan hancur, sehancur-hancurnya. Sebagai Ayah, ia ingin Dara bertemu dengan pria yang baik dan bertanggung jawab.
Melihat Yoan, sikapnya, tatapan matanya saat melihat Dara. Membuat Ayah dapat merasakan, jika pria itu benar-benar serius dan tulus mencintai putrinya.
__ADS_1
Semoga pernikahan mereka berjalan lancar dan kehidupan rumah tangga mereka bahagia selalu. Begitulah harapan ayah.
"Lepas tanganku." Bisik Dara mencoba melepaskan tangannya. Ia menyadari tatapan ayahnya yang ke arah tangan mereka.
"Hah... Maaf sayang." Yoan pun melepaskan tangan Dara. Ia tidak sadar bergenggaman tangan di rumah Dara.
"Ayo, duduk nak Yoan." Ajak Bunda mencairkan suasana yang sedikit canggung.
"Dara, buatkan teh untuk Yoan." Pinta Bunda. Dara pun mengangguk.
"Bunda, tidak usah repot-repot." Yoan berbasa basi.
Dara membuatkan teh, sambil matanya melirik ke meja makan. Calon suaminya tampak gugup bicara dengan Ayahnya. Tapi mereka terus mengobrol panjang.
"Jadi Yoan, setelah menikah kalian akan tinggal di mana?" tanya Ayah ingin tahu. Walau nanti setelah menikah, Dara menjadi tanggung jawab Yoan. Tapi ia tetap harus memastikan, jika calon menantunya itu memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk putrinya.
"Saya izin dengan Ayah untuk membawa Dara, ke rumah yang sudah saya persiapkan." Jelas Yoan sekaligus meminta izin.
"Di mana?"
"Sekitar 10 menit dari sini ya. Ayah dan Bunda boleh sering-sering datang ke rumah." Jelas Yoan kembali. Ia sengaja membeli rumah tidak terlalu jauh ke rumah orang tua Yoan dan juga ke rumah orang tua Dara.
"Pasti kami akan sering-sering ke sana." Ucap Bunda menimpali.
"Oh iya, Yah. Saya minta izin hari ini ingin membawa Dara pergi sebentar." Yoan mengutarakan maksudnya.
"Ke mana?" tanya Ayah segera.
"Ke-ke pantai, Yah." Jawab Yoan.
"Tidak boleh." Ucap Ayah. Ke pantai cukup jauh. Calon pengantin tidak boleh berpergian jauh-jauh.
Yoan diam dan tak berani menjawab.
"Sudah kalian di rumah saja." Saran Ayah kembali. Di rumah aman. Ada juga Bunda yang akan mengawasi mereka.
"Ba-baik ya." Yoan menjawab walaupun sedikit kecewa.
Dara membawakan teh, ia memberikan pada Yoan.
"Terima kasih." Ucap Yoan. Mendadak hatinya jadi senang. Dara begitu perhatian padanya.
Yoan meminum tehnya.
"Tehnya manis seperti kamu dan juga hangat, seperti kamu yang menghangatkan hatiku." Ucap Yoan menatap Dara. Lalu tak lama melirik kedua orang tua Dara. Ia meruntuki diri yang lupa pada sekitar saat bersama wanitanya.
Ayah menggeleng melihat Yoan yang bisanya menggombali putrinya di depan dirinya. Untungnya mereka akan segera menikah, jadi Ayah akan bersikap wajar. Jika tidak, mungkin ayah akan memberi pelajaran pada penggombal tersebut.
Bunda hanya bisa tersenyum. Ia wajar saja. Orang yang sedang jatuh cinta, kadang lupa sekitar dan kondisi terkini.
Dara menepuk jidatnya. Pria itu membuatnya jadi malu.
'Dasar tukang gombal!!!'
.
.
.
__ADS_1