
"Ma, titip Jeri sebentar." Ucap Maudy yang tampak sibuk. Ia menyiapkan bekal makanan yang tadi sudah dimasaknya.
Niatnya, ia akan membawakan bekal makanan itu untuk Yoan. Ia akan menarik perhatian pria itu. Di mulai dari perutnya, mengingat Yoan itu sangat suka makan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mama dengan wajah bingung. Hari masih pagi dan Maudy sudah mau pergi saja.
"Sebentar saja, Ma." Maudy tersenyum tipis. Lalu ia pamitan pada Mamanya.
Maudy bergegas berlari menuju bagasi. Ia harus segera keluar dari rumah itu, Sebelum sang papa datang dan bertanya macam-macam lagi padanya.
Mobil melaju sedang membelah jalanan pagi. Maudy mengemudikan mobilnya sendiri. Ia tidak mau memakai supir. Bisa-bisa kedua orang tuanya bertanya ia pergi ke mana pada pak supir dan bisa berabe urusannya nanti.
'Pasti Yoan akan suka masakanku!' batin Maudy sangat yakin.
Kini ia sudah berada di lobi kantor. Ia tidak mau dekat ke meja resepsionis. Malas bertemu dengan resepsionis yang menurutnya sombong itu.
Maudy berencana akan menunggu Yoan datang. Yoan pasti akan berjalan melewatinya.
'Wanita itu lagi? Siapanya pak Yoan ya? masa berselingkuh terang-terangan begini?!' batin resepsionis merasa aneh. Atasannya baru menikah, masa tega mengkhianati istrinya.
'Yoan!' Maudy berlari kecil menghampiri pria yang baru masuk tersebut.
Yoan tampak sangat tampan dan gagah. Pria itu tampak bersinar dan aura bahagis jelas terpancar di wajahnya.
"Hai Yoan!" sapa Maudy menghadang langkah pria tinggi tersebut.
"Maudy?" Yoan jadi heran melihat Maudy yang sudah berada di kantornya saja pagi-pagi begitu. Apa wanita itu sudah menjadi salah satu karyawan di sini?
"Kamu baru datang ya?" tanya Maudy dengan senyum lebar. Pesona pria itu benar-benar sangat meresahkan.
"Hah... Iya." Jawab Yoan sekenanya. "Aku permisi!" Yoan akan menjaga jarak.
Melihat Yoan mau pergi begitu saja, Maudy pun segera menahannya. Ia memegang tangan Yoan.
"Ada apa?" tanya Yoan setelah menarik tangannya menjauh dari Maudy. Ia tidak suka disentuh wanita lain. Cukup istrinya saja yang menyentuh dirinya luar dan dalam.
"A-aku membuatkan sarapan untukmu, Yoan." Maudy menunjukkan bawaannya. "Kamu pasti suka."
"Aku sudah sarapan di rumah." Ucap Yoan kembali. Istri tercinta tidak membiarkannya keluar rumah sebelum sarapan.
"Kalau begitu untuk makan siang kamu saja." Saran Maudy kembali. Ia tidak boleh mundur begitu saja. Yoan menolaknya secara terang-terangan.
Yoan menghembuskan nafas kasar, ia pun menunjukkan tas bekal bawaannya.
__ADS_1
"Istriku sudah membuatkan makan siangku. Kamu tidak perlu repot-repot."
Maudy kesal, istrinya Yoan sok perhatian sekali. Apa sih yang dibuatkan? Palingan juga mie instan.
"Aku membuatkan makanan spesial untukmu, Yoan. Makanan favorit kamu dulu." Ucap Maudy kembali agar Yoan lebih memilih makan siang buatannya. Dari pada makanan tidak jelas rasanya itu.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya." Tolak Yoan cepat. Mau Maudy membuatkan makanan spesial, tidak akan mempengaruhinya.
Dara, istri tercintanya pagi-pagi sudah menyempatkan membuatkan sarapan dan makan siang untuknya. Apa yang istrinya masak bukan hanya spesial, tapi begitu sangat sangat spesial. Karena Dara membuatkannya pakai perasaan. Ada tambahan racikan cinta dan kasih dalam masakannya.
"Aku membuatkan sesuai dengan selera kamu dulu, Yoan. Masakan istrimu pasti tidak sesuai dengan seleramu. Dia tidak tahu apa yang kamu suka atau tidak suka." Maudy terus memaksa agar Yoan menerima pemberiannya. Dan membuang bekal dari istrinya.
"Apa yang istriku masak, aku akan sangat suka!" Tegas Yoan kembali. Ia melirik para karyawan yang mulai memperhatikan mereka.
"Aku harus bekerja. Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi!" jelas Yoan dengan sorot mata tajamnya. Ia tidak suka, Maudy bersikap begini.
Sebagai pria, ia paham Maudy sedang mencari perhatiannya. Sekarang ia adalah pria yang sudah beristri. Jika ia terlalu lama berbicara dengan wanita selain istrinya, itu tidak baik dan bisa menjadi gosip.
Dara pernah bekerja di perusahaan ini. Sedikit banyak istrinya mengenal karyawan di sini dan karyawan di sini juga ada yang mengenal bahkan dekat dengan istrinya. Jika mereka menyampaikan pada istrinya, bahwa ia bicara dengan wanita lain. Padahal hanya sekali bicara, tapi mungkin gosipnya akan berbeda. Bisa ribet urusannya.
Yoan menggeleng kepala. Ia tidak mau istrinya sampai berpikiran, jika komitmennya hanya ucapan yang manis di bibir saja.
"Yo-Yoan." Maudy memegang tangan Yoan. Pria itu terus menolaknya. Jika begini, tak ada kemajuan. Mereka tidak akan kembali seperti dulu lagi.
"Yoan, tolong maafkan aku!" Ucap Maudy dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Aku sudah memaafkanmu." Balas Yoan. Ia sudah memaafkan, tak ada yang diperlu dipermasalahkan lagi.
"Yoan... aku menyesal. Aku sangat menyesal." Air mata Maudy jatuh membasahi pipi. Ia paham kelemahan pria itu. Yoan tidak bisa melihatnya menangis.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi kamu tidak perlu merasa menyesal, Maudy! Tidak ada masalah lagi!" Yoan mengusap wajahnya, Maudy bisa-bisanya memakai jurus air mata kesedihan.
"Yoan... aku ingin kembali padamu..." Ucap Maudy akan niatnya.
Yoan menatap Maudy dengan tatapan tidak senang. Maudy ingin kembali?
Semudah itu Maudy berucap ingin kembali padanya?
Apa hatinya seperti telapak tangan? Begitu mudah dibolak-balik begitu saja?
"Yoan, aku ingin kembali padamu! Aku janji tidak akan meninggalkanmu!!!" Maudy memegangi tangan Yoan. Wanita itu menangis sambil menyesali keputusannya kala itu.
Maudy salah mengambil keputusan dan lebih memilih meninggalkan Yoan dengan begitu kejam di hari pernikahan mereka.
__ADS_1
"Aku salah, Yoan. Aku memang salah!" isak Maudy dengan air mata yang terus berlinang.
"Maudy!!! tolong jaga sikapmu!!!" Yoan menaikkan suaranya. Ia menepis tangan Maudy dengan kasar.
Maudy sampai terkejut dengan sikap Yoan sekarang. Pria yang lembut dan penuh perhatian kala itu, bisa berbuat kasar padanya.
Suara tinggi Yoan juga membuat tatapan para karyawan, menuju ke arah mereka.
"Pergilah dari sini! Jangan pernah menemuiku lagi!" Yoan menurunkan nada bicaranya.
"Aku akan menganggap, kamu tidak pernah mengatakan apapun. Semua sudah selesai. Jangan berpikir untuk kembali padaku lagi!" Jelas Yoan dengan tegas. Niat Maudy sudah terlihat dan ini merupakan ancaman bagi rumah tangganya.
"Tapi, Yoan. Aku masih sangat mencintaimu. Aku sadar, jika yang aku cintai itu kamu! Hanya kamu!!!" Maudy masih tidak mau menyerah. Hatinya tidak rela melepaskan Yoan untuk wanita lain.
Yoan mendengus mendengar kata cinta. Maudy mengatakan cinta? Ucapan itu terasa menjijikkan terdengar di telinganya.
"Pergilah!!! Jangan sampai security menggeretmu!" Yoan benar-benar sudah muak.
Maudy mengusap air matanya melihat tatapan pria itu sekarang. Tatapan Yoan kini beragam padanya. Marah, kesal, tidak suka, sinis. Tapi, tidak ada sedikitpun tatapan penuh cinta padanya lagi.
Yoan telah melupakannya...
Wanita bernama Dara itu yang telah membuat Yoan berpaling...
"Yoan!!!"
"Yoan!!!"
"Yoan!!!"
Yoan melangkahkan kaki, ia tidak peduli Maudy memanggil-manggilnya. Ia sudah tidak punya waktu untuk meladeni wanita itu.
Pria itu memberi isyarat pada security untuk mengusir wanita itu.
Langkah kaki Yoan terhenti saat melihat seorang pria tersenyum sinis berpapasan dengannya.
"Wah... wah... wah... ada apa ini Pak Yoan?!"
.
.
.
__ADS_1