KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
First kiss?


__ADS_3

Amel turun dari bus dengan kecewa. Ia berharap bisa bertemu dengan cowok yang tempo hari. Cowok yang


bahkan tidak ia ketahui siapa namanya itu entah bagaimana membuatnya merasa nyaman. Dia perhatian dan tidak sok ganteng. Tidak seperti Angga, batin Amel muram.


“Apa aku berangkat kepagian?” gumannya seraya memasuki pintu gerbang sekolah.


“Hei, Amel!”


Amel tertegun saat seorang anak perempuan menyapanya. Ia tahu anak itu adalah anak kelas C. Namun selama hampir tiga tahun sekolah ia yakin tidak pernah mengenalnya.


“Halo, Amel!” seorang siswa lain yang tidak dikenalnya kembali menyapanya.


Sambil membalas sapaan dengan ragu, Amel menyipitkan matanya. Ada yang aneh.


Amel menggeleng. “Benar-benar ada yang aneh,” gumannya. Ia menoleh ke sekeliling dan melihat beberapa anak berbisik-bisik sambil mencuri-curi pandang kearahnya.


“Amel!!”


Amel berbalik dan menemukan Natasha tengah berlari kencang kearahnya. Jepit rambut dan kaus kakinya yang


berwarna merah jambu membuat gadis itu tampak es krim strawberry.


“Wah… aku belum pernah melihatnya lari sekencang itu.”


Natasha berhenti tepat didepan Amel dengan nafas memburu.


“Setan mana yang sedang mengejarmu?” celetuk Amel.


“Aku yang sedang mengejarmu,” Natasha berusaha menata nafasnya. “Kau berkencan dengan Angga?”


“Heh?!” Amel melongo.


“Jangan bengong. Iya apa tidak?”


“Tentu saja tidak. Kau gila?”


“Kata anak-anak kemarin kau menolaknya di kantin tapi kemudian Angga menyusulmu ke perpus. Apa kalian…. apa kau…. jadian dengannya?”


Perasaan Amel mendadak terasa tidak enak, “Ya, dia menyusulku ke perpus. Tapi aku menyuruhnya pergi dan tidak ada yang terjadi. Siapa yang memberitahumu?”


“Ada kok.”


“Sumber infonya darimana?” tanya Amel gusar.


Natasha benar-benar muram, “Dari Angga sendiri.”


Amel berkedip. “Kau serius?”


“Iya, dia bikin story yang isinya sekarang ia kencan denganmu. Story sudah di screenshoot oleh banyak anak dan bertebaran di semua chat room sekolah kok. Hapemu dimana?” Masalahnya Amel nyaris tidak sempat lihat hape setiap pagi. Ia sudah cukup sibuk dengan rutinitas paginya hingga ia jarang lihat hape di pagi hari bahkan terkadang ia lupa membawanya.


“Jadi karena itu semua orang jadi aneh hari ini. Sebenarnya aku yang pikun atau dia yang sinting?” geram Amel.


Sudah jelas-jelas dibilang tidak, dan sekarang malah menyebarkan isu kalau mereka bersama? Apa dipikirnya dia hanya main-main saja saat mengatakan tidak?


Anak itu benar-benar harus diberi pelajaran.


Kemudian, tanpa menghiraukan panggilan Natasha, Amel berlari ke kelas XII-B dimana Angga berada. Ia menemukan Angga tengah tertawa-tawa dengan seorang teman lelakinya disudut ruangan. Dengan pasti ia masuk kedalam kelas yang seumur-umur belum pernah dimasukinya itu.

__ADS_1


Ia menyambar sebuah buku besar di meja guru dan menghampiri Angga.


“Angga!”


Angga menoleh dan … pluk!


Tanpa ragu Amel menimpuk kepala cowok itu.


“Auw! Hei! Apa-apaan sih?!”


Amel melemparkan buku itu ke sebuah bangku dan berkacak pinggang. Matanya berkilat-kilat penuh amarah.


“Apa kau tidak bisa mendengar kata tidak?”


Angga mengerjap kaget, “Jangan melotot begitu. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”


“Tidak? Lalu kenapa kau bilang keanak-anak kalau kita berkencan?!”


Wajah Angga tampak semakin bingung. “Apa? Aku … bilang apa?”


“Kau bikin story dan bilang kalau kau telah jadian denganku. Kapan aku jadian denganmu? Mimpi saja tidak


bakalan!”


“Jangan nyolot. Ngomong yang jelas. Aku benar-benar tidak mengerti. Story apaan?”


“Kau masih tidak ngaku? Aku tidak menyangka disamping egomu yang selangit itu kau ternyata hanya seorang


pengecut.”


“Story apaan?!” sergah Angga kehilangan kesabaran.


First date with Amel, guys!!


“Apa ini?”


Amel merebut ponsel itu dari tangan Angga dan ikut membacanya. Mukanya yang sudah merah karena marah semakin membara.


“Aku... aku tidak nulis itu, Mel. Sungguh.”


“Ini nomor hapemu,” tukas Amel.


“Yah, itu benar. Tapi…”


“Tapi bukan kau yang nulis?” tukas Amel  dingin. “Kau pikir aku akan percaya?”


“Angga!!!” terdengar seruan seorang cewek dari luar. Mereka sama-sama menoleh. Dalam hitungan detik, Felisha, gadis cantik itu muncul dipintu dengan raut wajah memerah. “Kau harus menjelaskan …”


Felisha terpaku saat menyadari Amel sedang berada disana dan sedang berbicara dengan Angga! Angga adalah miliknya, titik. Ia tidak akan membiarkan cewek lain memilikinya. Felisha menghampiri Amel dengan marah. “Kau… kau dasar *****.”


*****? Amel hanya bisa melongo.


Seumur-umur ia belum pernah sekalipun yang namanya pacaran dan sekarang dipanggil *****?


“Demi yang begini ini kau mau meninggalkan aku?” Felisha melanjutkan amarahnya pada Angga.


Amel hendak protes namun dengan tidak terduga disaat yang sama Angga menarik dirinya dan sedetik kemudian nafas Amel berhenti. Angga memegang kedua bahunya dan mengecup tepat dibibirnya. Cup!

__ADS_1


Dunia Amel serasa berputar layaknya sebuah pusaran angin sebelum terjun bebas ketempat tak terbatas.


Suara terkesiap, sorak-sorai dan suitan bersahutan dari teman-teman sekelas Angga yang membuat Amel kembali menginjakkan kaki dibumi. Dengan kuat ia mendorong Angga. Bingung, malu dan shock, dengan spontan  Amel mengangkat  telapak tangannya dan melayang ke pipi Angga. Namun dengan sigap cowok itu menangkapnya tepat sebelum telapak tangan itu mencapai sasarannya. Ia menatap Amel dengan tatapan tak terbaca, tanpa kata.


Bertambah marah, Amel mengibaskan tangan Angga dan dengan jijik mengelap bibirnya dengan punggung tangannya sebelum berbalik. Tidak semudah itu ia terlepas dari tragedi memalukan itu. Felisha berdiri tepat dihadapannya. Amel masih terlalu sibuk dengan perasaan kalutnya hingga ia sama sekali tidak siap ketika tangan Felisha melayak dan mendarat tepat dipipinya.


Plak!


Amel dan semua penghuni kelas memekik terkejut. Rasa pedih mendera pipi Amel.


“Kenapa kau menamparku?” desis Amel.


Sebelah tangan Felisha yang lain kembali melayang kepipinya. Kali ini Amel berusaha menangkap tangan Felisha. Namun seseorang melakukan itu untuknya.


Angga.


“Cukup, Fel,” kata Angga.


"Apanya yang cukup?" Felisha mendorong Angga sekuat tenaga dan kembali berusaha menjambak rambut Amel.


Namun kali ini Amel berhasil menangkap tangan Felisha. “Hentikan atau aku akan balas menamparmu,”


katanya rendah. “Aku bukan sainganmu. Aku tidak tertarik padanya dan aku bersumpah tak akan pernah. Kau puas?”


“Cewek murah sepertimu …”


Dengan cepat Amel memutar pergelangan tangan Felisha sedemikian rupa hingga gadis itu menjerit kesakitan.


“Jaga bicaramu.”


“Perek.”


Tidak akan pernah ada yang mengira Amel, yang kutu buku dan lugu itu akan memiliki jurus jitu untuk


mengalahkan lawan. Tiba-tiba saja tubuh Amel memutar pergelangan tangan Felisha hingga gadis itu berputar dan dua detik kemudian kedua tangannya tertahan dibelakang tubuhnya. Seperti saat seorang polisi memborgol tahanannya. Kemudian, dengan sekuat tenaga Amel mendorong gadis itu hingga terhuyung dan terjatuh menimpa bangku.


Felisha menjerit kesakitan. Beberapa gadis yang diketahui sering bersama Felisha berusaha membantunya berdiri.


Dengan wajah kaku Amel masih berdiri ditempatnya dengan kedua tangan terkepal.


“Bubar-bubar! Ada apa ini?!”


Pak Bagus, guru Matematika berdiri didepan pintu. “Felisha? Mulutmu berdarah?”


Dengan dibantu temannya Felisha berdiri. Wajahnya sepucat kapas. “Dia… dia memukul saya, pak.”


Amel melotot. “Kau yang memulai.”


“Amel. Apa yang kau lakukan disini? Bisa-bisanya kau membuat kekacauan dikelas lain?!”


Amel menatap Felisha dengan marah. Kemudian tanpa berkata apapun ia berbalik menatap Angga sebentar dan


menemukan Angga masih disana menatapnya dengan sorot mata aneh.


“Hei! Tunggu dulu!” seru pak Bagus.“Kamu pikir kau bisa pergi begitu saja setelah berkelahi dikelasku? Kalian


berdua keruang guru. Sekarang!”

__ADS_1


Amel mengeluh.


__ADS_2