KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 96 - TEROR


__ADS_3

"Hei... Hei..." Maudy memanggili pria itu. "Tunggu dulu!"


"Hei... berikan aku alamat rumahnya Yoan." Pinta Maudy menghadang jalan Roni.


"Boleh!" ucap Roni dengan senyum mengembang.


"Mana?" Maudy memintanya.


"Katakan kamu siapanya Yoan?" tanya Roni sambil melipat tangannya.


"Itu bukan urusanmu! Berikan aku alamat rumahnya!" paksa Maudy kembali.


"Aku harus tahu kamu siapa."


"Aku Maudy." Ucap Maudy dengan muka kesal.


Roni masih menatap wanita itu.


"Aku... aku mantannya Yoan." Ucap Maudy terpaksa. Jika pria ini berbohong, ia akan memberi pelajaran.


"Wah... wah... wah... Mantan!" Roni mengangguk-angguk. "Katakan lebih rinci, kamu mantan seperti apa?!"


"Hei... Untuk apa aku mengatakan padamu." Maudy membuang pandangannya.


"Ya sudah kalau tidak mau, aku mau masuk. Bye." Roni melambaikan tangannya.


"Tu-tunggu." Maudy pun menahan tangan Roni.


"Ma-maaf!" Maudy segera melepasnya. Mata pria itu tidak senang tangannya dipegang.


"Aku dan Yoan menjalin kasih selama 5 tahun. Lalu sekitar 2 tahun yang lalu dia melamarku. Dan saat pernikahan kami, aku pergi meninggalkannya." Maudy memberitahukan sedikit tentang cerita hidupnya.


"Oh..." Roni tersenyum geli. Wanita ini sama dengannya. Sama-sama meninggalkan dan pasti sekarang ingin kembali lagi.


"Kenapa kamu senyum begitu?" Maudy sinis melihat wajah menyebalkan itu.


"Jadi apa rencanamu? Yoan sudah menikah loh!" Roni memberitahu, mungkin Maudy tidak tahu perihal kabar itu.


"Aku akan merebut Yoan kembali. Dia milikku selamanya. Aku akan melenyapkan istrinya itu!" Begitulah niat Maudy.


"Hei... jangan berani kamu menyentuhnya!" Roni jadi marah mendengar rencana Maudy. Ia tidak mau Dara terluka sedikit pun.


Maudy berpikir sejenak. "Oh iya-iya. Kamu mantannya ya? Jika Yoan kembali padaku, ya sudah... ambil saja bininya itu."


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Roni penasaran. Wanita itu sepertinya yakin sekali Yoan akan kembali padanya.


Itu bagus, jadi Dara akan kembali padanya lagi. Tapi jika menyakiti Dara, ia tidak akan tinggal diam.


"Sudah tenang saja! bininya akan segera menjadi janda." Maudy senyum-senyum membayangkannya.


"Berikan alamat rumahnya!"


\=\=\=\=\=\=


"Tutup mulutmu!!! Maudy melihat Dara dengan aura permusuhan.


"Yoan menikahimu karena terpaksa. Di hatinya masih ada aku." Jelas Maudy sangat yakin. Yoan masih mencintainya.


"Lebih baik kau segera keluar dari rumahku!" Dara menunjuk arah luar.


"Rumahmu? sebentar lagi ini akan menjadi rumahku!" Maudy tidak mau mengalah.


"Keluar!!!" Dara menaikkan suaranya.


"Ingat satu hal ya. Aku dan Yoan pernah menjalin hubungan selama 5 tahun. Menurutmu apa saja yang sudah terjadi selama itu?" Maudy mengangkat alisnya.


"Yang terjadi, Mas Yoan ditinggalkan olehmu di hari pernikahan." Jawab Dara. Apa lagi yang terjadi jika bukan hal itu.


Maudy diam, Dara sudah tahu perihal dirinya.


"Kenapa diam? Mas Yoan sendiri yang cerita padaku. Semua tentang masa lalunya." Dara tersenyum tipis.


"Mas Yoan itu sangat terbuka. Aku tahu semua tentangnya. Luar dalamnya bukan rahasia lagi." Dara juga mengangkat alisnya berbicara dengan wanita ular itu, ia tidak boleh takut dan terpengaruh.

__ADS_1


Maudy meremas tangannya. Ia jadi kesal. Rivalnya ini selalu bisa menjawab pertanyaannya.


"Mas Yoan pernah bilang. Mantan itu adalah sampah. Kau tahu dong sampah dibuang di mana?" Timpal Dara kembali. Maudy tidak boleh masuk dalam rumah tangga mereka.


"Kau!!!" Maudy benar-benar kesal. "Aku akan merebut milikku kembali!!! Yoan akan kembali padaku!!!" Jelas Maudy dengan penuh penekanan. Ubun-ubunnya terasa panas.


"Oh ya? aku tidak yakin Mas Yoan akan mau mengutip sampah!" balas Dara. Maudy sudah menabuh genderang perang.


"Kau!!! Aku akan-"


"Terserahlah!!! pergilah dari sini!!!" Dara pun mendorong wanita itu keluar dari rumahnya. Lalu begitu Maudy keluar ia pun mengunci pintu.


"Dasar wanita stress!!! Lihat saja, aku akan merebut Yoan darimu!!!" Maudy masih menggedori pintu rumah.


Dara kembali membuka pintu. Dan...


Byur


Air satu gayung Dara siram ke arah wanita itu.


"Biar kau sadar!!!"


"Kau... dasar wanita kurang ajar!" maki Maudy. Dara berani-beraninya menyiram dirinya.


"Pergilah!!! Jangan sampai ku panggil security untuk menggeretmu!" Dara mendengus kesal.


Setelah menyiram Maudy dengan air, Dara kembali masuk rumah dan mengunci pintu.


Satu botol air minum dingin Dara tenggak habis. Ia sedang di depan lemari pendingin untuk menormalkan rasa panas yang masih menjalar.


"Semalam ia menemui Mas Yoan. Sekarang menemuiku di rumah. Dia tahu dari mana alamat rumah kami?" Dara bermonolog sendiri. Maudy benar-benar berniat sekali kembali pada suaminya.


"Sudah jam berapa ini? aku harus masak." Dara membuka lemari pendingin. Untuk melihat apa saja bahan yang masih tersedia.


Wajah Dara ditekuk. Bahan makanannya sudah habis. Ia harus berbelanja. Tapi...


Dara berjalan dan mengintip dari balik gorden. Memastikan Maudy masih ada di depan rumahnya atau sudah pergi.


Dara ingin keluar membeli bahan makanan, tapi tiba-tiba hatinya tidak enak. Pikirannya menjelajah.


Saat di perjalanan, tiba-tiba ada yang sengaja menyenggol sepeda motor tukang ojek yang dinaikinnya. Hal itu membuat abang ojek jadi tidak fokus. Mau mengerem malah menggas, hingga akhirnya motor mereka menabrak pembatas jalan. Dan...


Dara menggeleng takut. Bayangannya terlalu menyeramkan.


"Aku nggak usah masak sajalah." Ucap Dara. Ia takut Maudy berbuat nekat padanya.


\=\=\=\=\=\=


'Dara lagi apa ya?' Yoan penasaran. Ia melihat rekaman cctv yang tersambung ke ponselnya.


Yoan mendengus. Apa yang mau dilihatnya di teras rumah. Seharusnya ia meletakkan cctv di seluruh area rumah. Termasuk di kamar mandi.


Pikiran Yoan menjelajah mengingat saat mereka memadu kasih di kamar mandi. Sentuhan Dara seakan menggelitik di tubuhnya.


Mata Yoan melihat pintu rumah terbuka. Di sana Dara terlihat sedang mengepel lantai. Apa hujan? Tapi cuaca sangat panas.


Setelah mengepel teras, Dara kembali masuk dan teras rumah kembali sepi.


Mata Yoan terbelalak saat melihat kaca jendela rumah pecah. Ada yang melempar dengan batu.


'Ada apa ini?' Yoan segera memutar ulang rekaman. Memastikan apa pelaku terlihat. Tapi ternyata tidak, hanya batu yang melayang.


Yoan pun segera menelepon Dara.


"Sayang..."


"Mas Yoan..." suara Dara terdengar ketakutan. "Ada yang lempar jendela kita!"


"Tenang ya. Kamu jangan keluar! Aku akan segera pulang."


"Mas hati-hati. Aku tidak akan keluar rumah." Ucap Dara yang berada di ruang tv. Ingin mengintip ia tidak berani.


"Iya, sayang. Aku gerak ini." Yoan segera berlari keluar ruangannya.

__ADS_1


"Sayang... sebentar. Aku telepon polisi dulu." Yoan pun mengakhiri panggilan.


Yoan menelepon polisi dan menyampaikan masalahnya. Ia juga menelepon security komplek. Lalu setelah itu kembali menelepon Dara.


"Sayang..."


"Iya, Mas."


"Aku sudah menelepon polisi dan security, mereka sedang menuju ke sana. Kamu jangan keluar, tunggu aku sampai."


"I-iya, Mas." Dara mengangguk patuh.


"Jangan tutup teleponnya. Kita tetap bicara saja." Saran Yoan. Ia dan Dara harus terus terhubung.


"Iya, Mas." Dara mengangguk. Wajah pucat. Ia menerka, apa mungkin Maudy yang melakukannya.


Dara mengusap air matanya. Ia sangat takut. Ia tadi cuma membayangkan jika Maudy melakukan hal buruk. Tapi malah terjadi hal buruk seperti ini.


"Sayang."


"Iya Mas."


"Kamu jangan keluar ya." Yoan masih mewanti-wanti. Mungkin pelaku masih berada di sana.


Yoan menebak mungkin saja itu Roni. Yang sengaja meneror mereka. Roni sudah tahu rumah mereka.


Yoan menepikan mobilnya. Ia telah sampai dan segera turun. Di sana sudah ada polisi dan security.


"Bagaimana, Pak? Saya pemilik rumah. Yang menelepon anda." Ucap Yoan menemui polisi.


Dara yang di dalam rumah mendengar suara berisik di luar pun mengintip.


Dara membuka pintu dan berlari menghampiri suaminya yang sedang berbicara serius dengan polisi.


"Mas Yoan!" Dara memeluk pria itu.


"Sayang, kamu tidak apakan?" tanya Yoan memastikan keadaan istrinya.


"Aku tidak apa!" ucap Dara lega. Suaminya sudah ada di sisinya.


"Maaf Pak, Bu... Kami izin memeriksa ke dalam rumah." Ucap polisi tersebut.


"Silahkan." Yoan mempersilahkan.


"Sudah kamu tenang ya. Ada aku di sini!" Yoan menggenggam tangan Dara dengan erat.


Tak lama, polisi kembali setelah memeriksa rumah mereka..Dan tidak menemukan hal yang mencurigakan.


"Semuanya aman, Pak. Kami akan mencari tahu segera siapa pelakunya." Ucap mereka.


Yoan mengangguk.


"Kami juga akan melihat cctv sekitar rumah ini. Juga cctv di pos security."


"Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak." Yoan menyalami polisi tersebut.


Para polisi dan security pun berjalan ke rumah tetangga kanan, kiri dan depan rumah mereka. Untuk mengecek cctvnya.


"Sayang, sudah tidak apa!" Yoan merasakan tangan istrinya yang dingin. Dara pasti benar-benar ketakutan.


Di jam segini, komplek perumahan memang sangat sepi. Karena masih jam kerja. Jika pun ada yang di rumah, mungkin sedang tidur siang. Jadi tidak ada yang tahu.


"Sudah kamu masuk rumah. Biar aku yang bereskan!"


Dara tidak masuk, ia malah menunggu saja. Melihat Yoan membereskan kaca-kaca itu.


"Mas, tadi... Maudy kemari." Ucap Dara memberitahu. Ia harus menyampaikan kedatangan wanita itu.


"Apa? Maudy?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2