
"Dara... Tolong maafkan aku."
"Dara... Kembalilah padaku!!!"
"Dara... Aku masih mencintaimu."
"Dara..."
"Dara..."
"Dara..."
Setiap hari Roni selalu mendatangi swalayan tempat Dara bekerja. Ia begitu getol menunjukkan ketulusannya.
Dara benar-benar lelah dan muak. Mantan pengantinnya itu selalu datang membawa buah tangan. Baik makanan atau benda. Dan semuanya selalu ditolak Dara.
"Roni!!! Hentikan!!!" ucap Dara kesal. Itu-itu saja yang ia dengar
"Dara... kumohon kembalilah padaku!!!" pinta Roni akan memegang tangan Dara.
"Sudah aku katakan. Aku akan menikah!!!" jawab Dara sambil menjauhkan tangannya.
"Aku tahu kamu bohong. Kamu cuma mengarang cerita saja. Kembalilah padaku, aku janji tidak akan mengecewakan dan menyakitimu lagi!" Roni berucap dengan tulus. Ia ingin Dara kembali ke sisinya lagi.
"Jika kamu tidak pergi dari sini, aku akan melaporkanmu pada polisi!" ancam Dara sambil meraih ponselnya.
"Besok aku akan kemari lagi. Aku akan terus datang sampai kamu mau kembali padaku!"
Setelah mengatakan itu, Roni pun pergi dari swalayan itu.
Dara berjalan menuju chiller. Ia membuka pintu chiller dan berdiri di sana. Mendinginkan gemuruh hatinya.
"Kakak nggak apa?" tanya Eli khawatir. Ia menghampiri Dara yang sedang ngadem di depan chiller.
Dara mengangguk pelan. "Aku tidak apa!"
Eli melihat wajah Dara yang tampak menahan air matanya. Meski ia tidak tahu ada masalah apa, tapi ia bisa menebak, jika Dara punya masa lalu yang kelam dengan pria itu.
Pria itu selalu datang dan meminta untuk kembali. Mungkin Roni itu mantannya Dara. Dara yang sudah terlanjur sakit hati, tak mau kembali padanya lagi.
"Kak, menurutku ya. Kak Dara harus memperkenalkan kekasih kakak sama dia. Jadi dia tidak akan datang lagi. Selama tidak dilihatnya secara langsung, dia akan terus menemui kakak." Ucap Eli pelan. Sedikit menguping pembicaraan Dara dan pria itu tadi, bahwa Dara mengatakan akan menikah. Pasti hanya alasan untuk menghindari pria itu.
Dara tersenyum kecut sambil mengusap rambut Eli. "Maaf ya, Li. Jadi menganggu kerjaan kita!"
Eli mengangguk mengerti. Dara sudah mengusir pria itu. Tapi memang Roninya saja yang ngeyel. Terus-terusan datang. Begitu terobsesinya pria itu untuk kembali pada Dara.
Chiller pun Dara tutup. Gemuruh hatinya sudah mereda. Dan kini wanita itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
'Aku harus mencari pria untuk berpura-pura menjadi calon suamiku?'
\=\=\=\=\=\=
"Bun, Dara pergi sebentar ya." Pamit Dara menyalami Bundanya.
"Mau kemana?" tanya Bunda menatap putrinya. Ia khawatir jika Dara akan pergi dengan mantannya.
"Ketemu Eka, Bun." Jawab Dara.
Bunda masih menatap dengan wajah tidak yakin. "Kamu mau ketemu Roni?"
__ADS_1
Mendengar nama Roni, Dara langsung menggeleng cepat.
"Bunda... Dara mau ketemu sama Eka. Bunda tenang saja, Dara tidak akan kembali pada Roni." Jelas Dara dengan yakin. Bundanya terlihat curiga, jika ia diam-diam masih berhubungan dengan Roni.
"Ya sudah. Bunda percaya sama kamu." Wanita paruh baya itu mengelus kepala Dara dengan lembut.
Tin...
"Dara pergi ya, Bun. Ojeknya sudah datang."
"Hati-hati, nak."
Dara setengah berlari berjalan keluar rumah menghampiri tukang ojek. Ia memakai helm dan naik ke sepeda motor. Lalu sepeda motor itu berlalu pergi.
'Dara!'
Tak jauh dari rumah Dara. Seorang pria memperhatikan wanita yang akan menaiki sepeda motor. Begitu sepeda motor melaju, ia pun melajukan mobilnya mengikutinya.
'Mau ke mana dia?' Batin Roni bertanya.
Pria itu mengikuti Dara dari belakang. Ia sedikit merasa risih melihat penampilan wanita itu.
Dara memakai rok selutut, tapi ketika ia duduk diboncengan sepeda motor itu. Pahanya jadi terekspos.
'Apa dia mau menemui calon suaminya?'
Roni mulai bertanya-tanya. Selama ini ia melihat tidak ada seorang pria pun yang sedang dekat dengan Dara. Wanita itu tidak pernah diantar dan dijemput calon suaminya. Sesibuk apapun, seharusnya calon suami Dara menyempatkan untuk menjemput atau mengantarnya.
Tapi hari ini, Roni merasa khawatir. Jika Dara memang sudah memiliki calon suami. Selama ini mungkin calon suami Dara sedang di luar kota. Dan sekarang baru pulang menemuinya.
Sepeda motor itu berhenti di sebuah kafe. Terlihat Dara turun dan masuk ke kafe tersebut.
Sementara Dara masuk ke dalam kafe dan mencari tempat duduk. Ia duduk di tempat yang kosong.
Pelayan kafe membawakan buku menu.
"Mbak, saya pesan lemon tea saja. Masih mau menunggu teman." Ucap Dara.
Pelayan kafe mengangguk dan mencatat pesanan Dara.
Tak lama pesanan Dara pun tiba.
'Mana si Eka?' Dara meraih ponsel dan akan menelepon Eka. Menanyakan wanita itu sudah sampai di mana.
"Ka, kau di mana?" tanya Dara setelah tersambung.
"Kak Dara. Maaf ya!"
"Kenapa?" tanya Dara.
"Aku tadi sudah mau pergi, Kak. Tapi... saudaraku dari kampung datang. Aku nggak mungkin pergi, kak. Aku-"
"Ya sudah. Aku mengerti." Dara mengangguk pelan.
"Kak Dara nggak marah kan?" tanya Eka tidak enak hati, tak jadi menemui Dara. Pasti Dara sudah sampai lokasi.
"Nggak loh." Dara mengerti. Saudaranya datang dari jauh, masa Eka pergi.
"Kak maaf ya."
__ADS_1
"Ya sudah nggak apa-apa. Besok-besok kita bisa ketemu."
"Iya kak."
"Dah..." Dara pun mengakhiri panggilannya.
Wanita itu meminum lemon teanya. Ia bingung mau ke mana. Atau dia pulang saja.
"Kamu menunggu siapa?" tanya Roni duduk di hadapan Dara.
Wanita itu terkejut melihat Roni. Pria itu ada di sini sekarang. Pasti Roni mengikutinya. Pria itu penguntit.
"Bukan urusanmu!" jawab Dara lalu menghabiskan minumannya.
"Dara... kembalilah padaku!!!"
Lagi dan lagi Roni mengatakan itu.
"Sudah aku katakan. Aku akan menikah!" ucap Dara cepat.
"Kamu mau menikah dengan siapa? Selama ini aku tidak pernah melihat calon suamimu!" ucap Roni.
"Dia sedang di luar kota dan akan pulang sebelum pernikahan kami." Jawab Dara dengan tegas.
Mendengar jawaban Dara, Roni malah tertawa. Dara sekarang sudah pandai berbohong dengan berbagai alasan.
"Dara... kamu coba pikir. Kita dipertemukan lagi, bukan tanpa alasan. Kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, tapi jalannya saja yang terlalu rumit."
Dara terpelongo mendengar ucapan Roni. Pria itu berasumsi sesuka hatinya.
"Maaf. Aku harus pulang." Dara sudah muak mendengar ocehan pria itu. Ia bangkit dan melangkahkan kaki.
Roni ikut bangkit dan menahan tangan Dara. Ia tidak akan menyerah pada Dara.
"Lepaskan aku!!!" Dara menepis tangannya.
"Dara... beri aku kesempatan kedua." Harap Roni dan kembali memegang tangan Dara.
"Aku tidak bisa!!! Aku akan menikah!" Ucap Dara dengan pelan. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian.
"Stop!!! Jangan berbohong lagi, Dara!" Roni mencekam tangan Dara.
"Untuk apa aku bohong?! Aku memang akan-"
"Dara!" panggil seseorang, membuat Dara menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
Dara bingung melihat pria itu. Ia melihat ke arah Roni lalu bergantian melihat pria itu kembali.
"Sayang!!!" ucap Dara menepis tangan Roni lalu menghampiri pria itu. Ia pun memeluk lengannya.
Mata Roni terbelalak melihat seseorang yang Dara panggil dengan sebutan sayang.
"Ini... calon suamiku!"
.
.
.
__ADS_1