
'Tahan Yoan! Tahan Yoan! Tahan Yoan!' Yoan berusaha menahan diri. Tangannya sudah sangat ingin merayapi tubuh Dara. Menyentuh tubuh calon istrinya.
Pikirannya sudah membayangkan sesuatu yang panas dan bergairah.
Dara mendorong dada Yoan pelan, membuat ciuman mereka terlepas. Wanita itu segera menarik nafas. Pria itu membuatnya kekurangan oksigen.
Wajah yang merona, bibir membengkak dan basah. Serta tatapan sendu Dara, membuat jika kelaki-lakiannya bergejolak.
'Sadar Yoan!!! Setelah menikah kau akan mendapatkan lebih dari ini! Sadarlah Yoan, Ayahnya Dara sangat galak!' Yoan berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukan hal di luar batasan.
'Kau mencintai Dara. Hormati dia dengan ikatan pernikahan.' Yoan masih bergelut dengan pikiran-pikirannya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Yoan sambil menepikan rambut Dara.
"Iya, Mas." Dara mengangguk lalu mengalihkan pandangannya. Perasaannya saat ini mulai panas dingin.
"Sebentar ya, aku ke kamar mandi." Ucap Yoan lalu berjalan ke kamar mandi.
Sampai kamar mandi, Yoan segera membasuh wajahnya dengan air. Bukan hanya wajah saja, tapi ia juga mengguyur kepalanya. Agar kepalanya itu bersih dari pikiran yang iya-iya. Bisanya dia memikirkan hal seperti itu, saat status mereka masih belum resmi.
Yoan jadi tersenyum. Pantas saja, calon pengantin harus dipingit sebelum hari pernikahan. Ternyata untuk menghindari hal seperti ini. Agar tidak kebablasan nantinya.
Sementara Dara memegangi dadanya. Debaran hatinya masih bertalu-talu. Pria itu membuatnya melayang sesaat.
Dara membuka lemari es dan tersenyum kecut. Tidak ada apapun di sana. Lemari esnya kosong melompong.
Dara juga membuka lemari makan, mungkin saja ada makanan atau minuman kemasan. Tapi tetap saja, tidak ada apapun di sana. Sepertinya Yoan sengaja tidak mengisinya terlebih dahulu.
"Apa ini?" gumam Dara pelan saat melihat di meja makan. Ada 2 mug lucu.
Satu mug bertuliskan Papa Yoan dan mug satu lagi tertulis Mama Dara.
'Apaan sih dia?!' Dara tidak bisa menahan senyumannya. Meskipun yang dilakukan Yoan sedikit norak, tapi membuat hatinya jadi menghangat.
Pria itu sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Yoan benar-benar sudah siap dan yakin membangun rumah tangga bersamanya.
Dara melihat jam dinding. Sepertinya Yoan sudah cukup lama di kamar mandi.
'Kok lama di kamar mandi? apa dia pingsan?!'
\=\=\=\=\=\=
"Mas, berhenti di sini saja." Ucap Dara menyuruh Yoan memberhentikan mobilnya di persimpangan jalan.
"Sayang, aku antar saja sampai rumah ya." Yoan merasa tidak nyaman, menurunkan Dara di pinggir jalan. Meskipun rumah Dara sudah tidak jauh lagi.
"Sudah tidak apa, Mas. Aku turun di sini saja." Ucap Dara. Wanita itu tidak mau kedua orang tuanya menilai Yoan jadi tidak baik. Karena sudah tidak diperbolehkan untuk bertemu, tapi mereka tetap bertemu diam-diam seperti ini.
"Tapi, sayang..." Yoan merasa harus bertanggung jawab. Ia harus mengantar Dara sampai rumah. Tak peduli kedua orang tua Dara akan marah.
"Aku turun sini saja, Mas. Aku nggak mau nanti Ayah marah." Ucap Dara agar Yoan mengerti.
Kepala Yoan pun mengangguk pelan. Benar yang dikatakan Dara. Kalau marah padanya sih tidak apa-apa. Tapi kalau Dara dimarahi, kasihan juga wanitanya. Padahal ia sendiri yang memaksa menemui Dara.
__ADS_1
"Baiklah. Nanti kita harus sering kirim pesan dan video call-an ya."
Dara mengangguk. "Iya, Mas."
Yoan menarik Dara ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Mereka hanya akan berpisah selama seminggu, tapi bagi Yoan itu pasti seperti bertahun-tahun. Rasanya sangat tidak rela, tapi mau bagaimana lagi.
"Aku mencintaimu, Ra." Ucap Yoan menatap Dara setelah melonggarkan pelukannya.
Dara diam menahan debaran hatinya. Hanya ucapan cinta Yoan, membuatnya selalu berdebar-debar.
Cup
Cup
Dara mendaratkan kecupan di pipi kanan dan kiri Yoan.
"Ha-hati ha-hati, hati-hati di jalan, Mas!" ucap Dara dan segera turun dari mobil.
Bugh
Dara menutup pintu mobil dan berjalan cepat tanpa melihat ke belakang lagi. Ia sangat malu sekali.
"Dara, baru pulang." Ucap tetangga yang sedang merumpi.
"Iya." Jawab Dara singkat.
"Akhirnya Dara menikah juga ya."
"Ada juga yang mau sama kamu ya."
"Wah, beruntung sekali. Walaupun terlambat menikah, tapi dapatnya yang wah ya."
"Resepsi pernikahannya saja di hotel berbintang."
"Benarkah?"
"Apa kau tidak diundang?"
"Diundang. Tapi aku nggak terlalu melihat undangannya..."
Para tetangga mulai menggosip, meski orang yang digosipkan sudah masuk rumah.
'Pagi, siang, sore, malam?' Dara menggeleng melihat tetangga rempongnya. Selalu ada setiap waktu.
"Dara pulang, Bun." Ucapnya saat membuka pintu.
"Kamu tadi ke mana? Kok pulang malam?" tanya Bunda menelisik putrinya. Dara tadi mengatakan hanya keluar sebentar saja.
"Itu tadi kelamaan ngobrol sama Eka, Bun." Bohong Dara. Padahal ia sedang bersama Yoan.
"Dara..." panggil Bunda menatap Dara lembut.
"Ma-maaf, Bun. Ta-tadi Dara ketemu Yoan. Bun-Bunda jangan bilang sama Ayah ya." Dara jadi jujur. Ia tidak bisa berbohong.
__ADS_1
"Da-Dara janji, nggak akan ketemu Yoan lagi sampai acara pernikahan tiba." Ucap Dara dengan wajah memohon.
"Ya sudah." Bunda akan memaklumi. "Kalian pergi ke mana?"
"Yoan tadi mengajak Dara melihat rumah, Bun." Ucap Dara.
"Oh... bagaimana rumahnya, bagus?" tanya Bunda kembali.
Kepala Dara mengangguk pelan. "Dia sudah mempersiapkan semuanya, Bun."
Tangan Bunda terulur mengelus kepala Dara. "Bunda dapat merasakan ketulusan dan keseriusan Yoan sama kamu. Sudah, kamu jangan memikirkan hal lain lagi. Pikirkan saja pernikahan kalian pasti berjalan lancar." Saran Bunda.
"Baik, Bun!" Dara mengangguk kembali. "Bun, Dara ke kamar dulu ya."
Bunda tersenyum sambil mengangguk. Ia melihat putrinya yang masuk ke kamar.
"Bun, Roni melamar Dara..."
"Bun, ajari Dara memasak. Dara mau memasak untuk Roni setiap hari."
"Bun, berat badan Dara nambah nih! Bisa-bisa gaun pengantinnya tidak muat!"
"Bun, bagaimana trik menyenangkan suami. Biar tidak berpaling ke wanita lain?"
"Bun, apa malam pertama itu sakit? Bagaimana rasanya?"
Bunda kembali mengingat saat itu. Saat di mana Dara yang begitu sangat heboh dengan pernikahannya. Bertanya ini dan itu, meminta sarannya.
Tapi kini, Dara tampak sangat tenang. Walaupun begitu Bunda dapat melihat, putrinya yang kadang sangat yakin dan kadang mulai ragu.
'Semoga pernikahan mereka berjalan lancar, agar Dara dapat percaya lagi!' Harap Bunda.
"Bun, Dara mana? sudah pulang?" tanya Ayah yang menghampiri.
"Sudah Yah." Jawab Bunda.
"Ke mana Dara tadi? apa ketemu calon suaminya?" tanya Ayah serius.
"Tidak, Ayah. Dara mengantar undangan ke teman-temannya." Jawab Bunda memberi alasan. Jika mengatakan mereka bertemu, Ayah bisa marah pada Yoan.
Bunda yakin, Dara dan Yoan tadi pasti tidak melakukan hal di luar batasan. Dan mulai besok juga, ia tidak akan membiarkan Dara pergi sendirian lagi.
"Bun, kok Ayah jadi sedih ya. Kalau nanti Dara menikah, ia akan dibawa suaminya. Pasti sepi rumah ini." Ayah jadi galau.
"Nantikan Dara dengan suaminya pasti akan sering datang ke mari."
Ayah berwajah sedih. Putri satu-satunya sebentar lagi akan meninggalkan dirinya.
"Bun, kita coba buat satu lagi ya. Jadi Dara punya adik." Bujuk Ayah menaikkan alisnya. Setelah Dara lahir, Bunda tidak pernah hamil lagi. Meskipun sudah berkonsultasi, tapi kehamilan itu tidak kunjung datang. Sepertinya mereka hanya dianugerahi seorang anak saja.
"Ayah!!!"
.
__ADS_1
.
.