
"Dara, kamu hamil?" tanya Mama yang wajahnya jadi senyum bahagia.
"Ha-hamil?" Dara malah balik bertanya dengan menunjukkan wajah bingung.
"Biasanya tanda kehamilan itu mual-mual. Papa... kita akan punya cucu loh!" Ucap Mama menyenggol lengan suaminya.
"Sayang, kamu hamil?" tanya Yoan seraya mengelus perut Dara.
"Ti-tidak tahu, Mas. Ta-tapi sepertinya hanya masuk angin, karena tadi malam kita pulang kemalaman." Ucap Dara memberi alasan. Ia tidak yakin apa benar ia benar hamil. Jika ternyata tidak, mereka akan kecewa jadinya.
Hoeek
Dara kembali menutup mulutnya. Ia pun berlari ke kamar mandi.
"Pa, Ma... aku lihat Dara dulu." Pamit Yoan langsung berlari mengejar istrinya.
"Sayang..." panggil Yoan mengetuk pintu kamar mandi.
Hanya suara muntah-muntah yang terdengar.
"Sayang, kamu tidak apa?" Yoan jadi cemas dan khawatir. Istrinya muntah-muntah seperti itu.
Tak lama Dara keluar dari kamar mandi sambil mengusap sudut mulutnya, wajahnya juga tampak pucat.
"Kamu tidak apa, Ra?" tanya Yoan yang langsung memegangi istrinya.
Dara menggeleng. "Aku tidak apa, Mas."
Melihat Dara yang lemas, Yoan pun menggendongnya. Membaringkan Dara di tempat tidur.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya?" saran Yoan.
Dara menggeleng. "Mas, aku haus."
Yoan mengangguk dan bangkit. Ia akan mengambil minum di dapur. Saat membuka pintu kamar, ada Mamanya.
"Dara, kamu tidak apa nak? Ini Mama bawakan makanan. Kamu pasti lapar." Mama membawa nampan berisi makanan dan segelas air. Menantunya muntah, pasti perutnya jadi kosong.
"Te-terima kasih, Ma." Ucap Dara lalu meminta Yoan mengambilkan minum.
"Yoan, bawa saja Dara ke rumah sakit. Dan sekalian kalian cek kandungannya." Saran Mama. Ia sangat tidak sabar untuk memastikan cucunya.
"Da-Dara tidak apa, Ma. Besok saja ya." Ucap Dara lemah. Hari ini ia sangat lelah dan ingin istirahat.
Yoan menganggukkan kepala pada Mamanya. Mama pun jadi mengangguk mengerti isyarat putranya.
"Ya, sudah. Jangan lupa nanti dimakan. Kalau kamu mau makan apa, bilang sama Mama. Akan Mama buatkan." Mama akan selalu siap sedia demi cucunya.
Dara tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Terima kasih ya, Ma."
Yoan memijat tangan dan kaki Dara. Ia merasa sedih, istrinya tampak sangat lemah.
"Mas Yoan... Sini." Dara menepuk sampingnya, menyuruh Yoan naik ke tempat tidur.
Yoan pun naik ke tempat tidur. Dan Dara langsung bangun, istrinya duduk di pangkuannya.
"Mas, aku ngantuk." Dara menenggelamkan wajahnya di tubuh tegap itu.
"Kamu masih mual?" Yoan memeluk seraya menepuk pelan punggung Dara.
"Sudah tidak, Mas." Dara merasa mualnya sedikit berkurang. Sekarang ia rasanya sangat nyaman dan damai berada dalam dekapan sang suami.
Yoan menoleh ke arah Dara saat mendengar suara dengkuran halus. Istrinya sudah tertidur saja, padahal tadi mereka masih bicara.
__ADS_1
"Putri tidur telah kembali!" Ledek Yoan. Dara sudah seperti dulu lagi, istrinya sudah tidak parnoan.
Yoan mengelus dan menkecupi kepala istrinya. Ia sangat menyayangi wanita ini.
\=\=\=\=\=\=
Suasana di ruang tamu terasa tegang dan aura terasa panas. Pasalnya papa dan mama dikunjungi tamu.
Yoan menatap datar Maudy dan kedua orang tua Maudy. Ia tidak tahu, mereka mau apa lagi datang ke rumah.
"Saya mewakili keluarga, meminta maaf yang sedalam-dalamnya pada apa yang sudah dilakukan putri kami, Maudy." Ucap Agus memulai pembicaraan. Ia meminta maaf dengan tulus.
Tadinya, Agus mau diam-diam saja dan seolah tidak terjadi apapun. Tapi hatinya merasa sangat tidak tenang dan juga merasa bersalah. Meski dengan menebal-nebalkan muka, ia membawa istri dan putrinya datang ke rumah Yoan.
Mereka harus meminta maaf dan mengakui kesalahan yang telah terjadi. Dengan begitu, mereka tak akan terus dihantui oleh masa lalu dan rasa bersalah.
"Maudy..." Ucap Agus mengisyaratkan putrinya untuk bicara. Maudy harus mengakui kesalahannya.
"I-itu... Om dan Tante, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi. Aku sangat merasa bersalah. Dan untuk Yoan, tolong maafkan aku." Ucap Maudy dengan terpaksa meminta maaf. Ia melakukan itu karena takut dilibas papanya.
Sebenarnya Maudy tidak mau datang untuk meminta maaf. Tapi papa dan mamanya terus memaksa dan memberikan nasehat. Jika ia harus berdamai dengan masa lalu, lalu membuka lembaran baru.
Ya mau tidak mau Maudy jadi menurut. Meski ia kesal melihat ekspresi Yoan sekarang. Pria itu memasang wajah datar, seharusnya kan dia yang memasang wajah begitu. Toh Yoan yang tidak bisa dipercaya. Janjinya hanya manis di mulut saja.
Orang tua Yoan sudah memaafkan dan mengikhlaskan yang telah terjadi. Sekarang yang terpenting bagi mereka Yoan sudah bahagia dan akan makin bahagia jika Dara hamil.
Para orang tua saling bersalaman. Maudy juga menyalami orang tua Yoan. Lalu menyalami Yoan juga.
Setelah berbasa basi sejenak, keluarga Maudy akan berpamitan pulang.
"Kak Yumi, menantu kakak mana?" tanya Novia yang menyadari tidak ada Dara di sekitar mereka.
"Dara lagi istirahat. Biasalah lagi hamil muda, bawaannya lemas." Jawab Yumi memberitahu. Meski belum pasti Dara hamil, tapi ia yakin saja. Mana tahu ucapannya diaminkan.
Dulu Novia dan Yumi sangat akrab. Tapi semenjak putrinya berulah, hubungan mereka jadi renggang. Ia berharap bisa kembali menjalin silaturahmi yang baik lagi ke depannya.
"Iya. Pasti nanti rumah ini sangat ramai." Yumi sudah membayangkan bermain dengan cucunya.
"Anaknya cewek cowok kak?" tanya Novia kembali.
"Belum tahu. Masih baru jadi belum bisa diintip." Ucap Yumi sambil senyum.
"Masih malu cucumu itu, kak." Timpal Novia. Mereka pun jadi tertawa geli.
Pak Dana dan Yoan menggeleng melihat Mamanya. Ibu Yumi benar-benar sangat heboh.
"Ibu Yumi... istri papa, bukan?" bisik Yoan di samping papanya.
"Ibu Yumi... mama kamu, bukan?" balas papa berbisik juga.
Kedua pria itu jadi tersenyum.
\=\=\=\=\=\=
Roni keluar dari ruang atasannya. Ia meremas tanggannya. Ia akan naik jabatan, tapi di luar kota.
Pria itu merasa jika ini sudah direncanakan Yoan padanya. Yoan ingin dia pergi dari hidup Dara.
'Tidak semudah itu!' Roni tersenyum smirk. Ia tidak akan berpindah dari kota ini. Ia akan membuat hidup Yoan dan Dara tidak tenang.
'Apa kabarnya wanita itu? Apa dia sudah berhasil merebut Yoan?' batin Roni sangat penasaran pada si Eneng.
Maudy mengatakan akan membuat Yoan dan Dara berpisah. Apa sudah diproses?
__ADS_1
Senyum di wajah Roni jadi melebar. Seharian ini ia tidak atasan menyebalkannya itu. Mungkin Yoan dan Dara lagi bertengkar hebat.
'Cerai, cerai, cerai!' batin Roni sambil membayangkan pertengkaran keduanya. Ia menjadi juru sorak.
"Selamat sore, Pak Roni." Sapa Ibu Upik menyamperinya.
Roni menggelengkan kepala, ia sungguh risih dengan wanita itu.
"Pak Roni nggak bosan menduda? Saya siap kok merubah status Pak Roni." Ucap Bu Upik dengan nada manja dan terkesan genit.
Roni melihat dengan wajah aneh. "Maaf ya, Bu Upik. Saya sudah punya kekasih. Sebentar lagi saya akan menikah."
Roni mulai mengarang bebas. Dari pada Bu Upik terus mengejarnya, karena ia hanya diam saja. Sekarang mending ia tolak langsung.
"Pak Roni, anda tidak boleh begitu. Saya yang sangat mencintai anda."
"Astaga!!!" Roni pun memilih meninggalkan wanita aneh itu. Rekan-rekan kerjanya malah seperti menertawakannya.
"Pak Roni, saya yang lebih dulu mengenal anda. Bukan dia!!!"
Roni melangkah lebar. Benar-benarlah wanita aneh satu itu, membuat bulu kuduknya merinding.
"Halo, Buk..." Roni menjawab panggilan masuk di ponselnya.
...
"Sudah sampai. Baiklah aku segera ke sana."
...
"Tenang saja, Buk. Sudah jam pulang. Tunggu sebentar ya."
Roni mengakhiri panggilan. Ia pun bergegas ke parkiran.
Roni melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia menuju ke bandara. Ibuknya sudah menunggu di bandara.
"Ibuk, apa kabar?" Roni memeluk sang ibuk. Ia sudah berada di bandara.
"Kamu apa kabar, Nak?" Ibuk Sari mengelus kepala putranya.
"Baik, Buk." Jawabnya. Roni meraih koper sang ibuk.
"Buk, ayo kita pulang. Pasti ibuk capek ya." Roni melihat ibuknya kelelahan.
"Tidak, Ron."
Roni pun membawa ibuknya menuju rumahnya.
"Buk, masih ingat Dara?" tanya Roni. Ibuknya sudah makin tua, mungkin sudah mulai lupa.
"Dara? Wanita yang kamu tinggalkan di hari pernikahan?" Buk Sari memastikan sambil melihat putranya. Ia sangat ingat mantan kekasih Roni itu.
"Iya, Dara." Roni mengangguk mengiyakan.
"Dia juga tinggal di kota ini." Ucap Roni memberitahu ibunya.
Ekspresi Bu Sari mendadak sinis. Ia tidak suka mendengar kabar ini.
"Jangan pernah kamu kembali pada Dara!!!"
.
.
__ADS_1
.