
"Mas Yoan!!!" Dara mencemberutkan wajahnya. Ia baru bangun tidur dan tidak melihat suami di sampingnya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Yoan sudah pergi ke kantor tanpa membangunkannya.
Perut Dara yang semakin lama semakin membesar, membuatnya mudah kecapekkan. Setiap hari ia selalu bangun kesiangan. Joging mereka hanya sekali itu dilakukan.
Dara juga tidak pernah lagi menemani suaminya sarapan. Bahkan mengantarnya sampai depan teras rumah. Tak ada lagi lambaian tangannya saat mengiringi sang suami pergi ke kantor.
Dara berjalan dengan malas menuju kamar mandi. Ia harus membersihkan diri lalu sarapan.
'Anak Mama sayang... maafkan Mamamu ini ya, nak. Kamu lapar ya?!' Dara pun mempercepat gerakannya. Putrinya pasti sudah lapar.
Tak lama kemudian, Dara sarapan. Ia ditemani Mama sarapan. Mama sangat baik melayaninya dan itu membuatnya jadi tidak enak hati.
"Sudah, makan saja. Jangan segan-seganan sama Mama." Ucap Mama saat melihat menantunya itu menundukkan kepala saja.
Dara hamil anak perempuan, sudah dipastikan cucunya nanti sangat manja sekali. Jadi Mama wajar saja bawaan cucunya.
"Iya, Ma." Dara mengangguk pelan.
Seharian ini, Dara berusaha untuk tidak tidur. Meski tubuhnya bawaannya malas dan ingin rebahan saja.
Dara memilih menonton tv, selang 5 menit kemudian. Tv yang menonton Dara. Wanita hamil itu sudah terlelap.
Dara tersentak bangun dam meruntuki dirinya. Lagi-lagi ia tidur begitu saja.
'Aku mau buat sesuatu saja. Untuk Mas Yoanku.'
Dara sudah lama tidak memasak untuk suaminya. Pasti Yoan sangat merindukan masakannya.
Dengan perut buncitnya Dara terlihat sibuk di dapur. Dari lemari pendingin ia mengeluarkan bahan-bahan dan meletakkan di meja.
Dara melakukannya pelan-pelan, ia tidak bisa terlalu menunduk. Perutnya bisa tertekan.
"Dara, kamu ngapain?!!!" tanya Mama yang menghampiri putrinya.
"Da-Dara mau buat bolu, Ma." Jawab Dara gugup, suara Mamanya terlalu melengking dan membuat kaget saja.
"Kalau kamu mau bolu, bilang saja biar Mama buatkan." Mama menuntun Dara untuk duduk di kursi.
"Dara mau buat sendiri."
Mama menggeleng. "Biar Mama saja yang buat. Kamu mau bolu apa? Coklat, keju, pisang?"
"Cucu Mama yang mau membuatkan untuk papanya." Alasan Dara, seolah mengatakan jika ini keinginan putri dalam kandungannya.
Mama jadi diam dan menatap Dara. Menantunya sedang mengidam membuat bolu. Jika tidak diperbolehkan, cucunya bisa ngences.
Dengan terpaksa Mama menuruti, Dara sangat senang dan melanjutkan membuat bolunya.
"Sudah, sudah... biar pekerja rumah saja yang bersihkan." Ucap Mama menuntun Dara untuk duduk. Dara mau membersihkan dapur yang berserakan. Bisa-bisa menantunya kecapekan.
Dara terpaksa menurut. Ia duduk sambil menunggu bolunya yang sudah dipanggang dalam oven.
"Minum ini."
__ADS_1
"Terima kasih, Ma." Ucap Dara saat Mama membawakannya segelas air putih.
Ting
Dara akan berdiri, saat mendengar suara time oven. Tapi Mama menahannya.
Mama tidak membiarkan Dara mengangkat loyang yang panas itu, ia menyuruh pekerja rumah yang melakukannya.
Tak lama, Dara tersenyum saat melihat bolu coklat buatannya. Terlihat sangat enak sekali.
"Mama mau?" tanya Dara. Ia memotong dan meletakkan sepotong di piring.
"Ini, Ma. Enak nih Ma, bolunya masih panas." Dara memberikan sepiring bolu tersebut.
"Papa, mau juga Ma?"
"Papamu sedang berkebun." Ucap Mama sambil melahap bolu tersebut.
"Sebentar ya, Ma. Dara bawa untuk papa." Dara meletakkan sepotong lalu mengambil segelas air dingin.
"Sudah, biar Mama saja. Kamu makan sana." Mama mengambil alih dan membawakan untuk suaminya.
Dara mengangguk. Lalu ia meletakkan di piring-piring dan memberikannya pada pekerja rumah. Lalu ia melahap bolu buatannya sendiri.
Bolu sudah habis. Dara pun mulai mengantuk dan berjalan kembali ke kamarnya.
Wanita itu tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Ia akan tidur sebentar. Ya, sebentar saja.
\=\=\=\=\=\=
"Putri tidur sudah bangun?" tanya Yoan seraya mendaratkan satu kecupan di kening Dara.
"Mas sudah pulang pulang?" tanya sambil melihat jam dinding.
"Astaga!!! sudah jam 6!" Dara pun bangun. Ia baru tidur sebentar saja, tapi kok hari sudah senja saja.
"Mas, aku buatkan teh ya." Ucap Dara akan bangkit. Tapi Yoan menahannya.
"Tidak usah." Tolak Yoan.
"Tapi, Mas. Aku tidak mengantarmu sampai teras, lalu saat pulang aku tidak menyambutmu." Dara berwajah sedih. Ia tadi ingin tidur sebentar, tapi selalu saja terlelapnya terlalu lama.
"Sayang, tidak apa. Sudah tidak usah terlalu kamu pikirkan soal itu. Yang penting kamu harus sehat dan bahagia, agar berpengaruh baik ke bayi kita." Ucap Yoan. Ia mendudukkan diri di belakang Dara, agar istrinya bisa menyandar di dadanya.
"Iya, Mas." Dara mengangguk. Ia tersenyum, Yoan mengelus-elus perutnya.
Yoan mengelus-elus perut Dara sambil menyanggahkan wajah di bahu Dara. Matanya terasa sejuk melihat pemandangan pegunungan. Kedua aset istrinya makin besar dan bulat.
"Oh iya, Mas Yoan tidak mencari perhatian ke wanita lain kan?" tanya Dara serius. Selama hamil, ia yang sangat manja. Jangan sampai suaminya mencari tempat bermanja di luar sama.
"Haha... sayang. Apa yang kamu pikirkan?!" Yoan menggeleng. Ia tidak memerlukan perhatian wanita lain, cukup Dara saja.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu! Apa ini sudah cukup menjadi jawaban?!" Yoan lalu menkecupi leher putih nan mulus itu.
"Mas Yoan, geli." Dara merasa kegelian dengan ulah suaminya.
__ADS_1
"Oh iya, Mas."
"Hmm." Yoan kembali memeluk sambil mengelus perut membucit itu.
"Tadi aku sama Mama buat bolu loh." Cerita Dara tentang kegiatannya. Ia tidak tidur saja seharian.
"Oh iya, enak dong." Ucap Yoan.
"Iya, Mas. Enak!"
"Aku mau mencicipi bolu buatan kamu." Ucap Yoan. Dara pasti membuatkannya penuh cinta.
"Tadi sudah aku bagi-bagi. Jadi sudah habis." Ucap Dara dengan polosnya.
"Habis?" Yoan tidak ditinggalkan sedikitpun.
'Kalau sudah habis ngapain dibilang, Dara?!' Yoan membatin dalam hati. Istrinya membuatnya geram.
"Iya, Mas. Padahal tadi aku buat untuk Mas Yoan. Tapi malah lupa buat tinggalkan sepotong bolunya." Jelas Dara yang benar-benar tidak ingat.
Setelah membagi-bagi dengan yang lain. Dara tadi melahap sendiri bolunya. Hampir setengah loyang sudah masuk ke perutnya.
"Ya, sudah tidak apa." Yoan mengangguk lemah. Walaupun ia ingin mencicipinya, tapi ia tidak mau istrinya kecapekan jika membuatkannya lagi.
"Besok, aku buatkan ya Mas."
"Tidak usah." Tolak Yoan.
"Ya sudah kalau nggak mau." Dara tidak akan memaksa. Suaminya tidak terlalu suka makanan yang manis-manis.
"Kok aku ingin dengar Mas Yoan nyanyi ya."
"Aku tidak bisa bernyanyi." Sanggah Yoan.
"Mas, putri kita mau mendengar suara merdu papanya." Ucap Dara dengan manja.
Yoan terpaksa bangkit dari tempat tidur. Permintaan istrinya saat ngidam ada-ada saja. Bukan hanya makanan, bahkan ngidamnya sampai hiburan.
Tapi tidak tahulah, suara ia bernyanyi itu hiburan atau cobaan?
Saat Yoan mulai bernyanyi di hadapan istrinya, Dara menutup mulutnya. Suara Yoan sungguh terlalu mengganggu gendang telinga.
Tapi anehnya Dara sangat menyukai suara nyanyian suaminya. Bahkan ia sampai tertawa-tawa mendengarnya.
"Papa Yoan, lagi dong nyanyinya!" pinta Dara seraya mengelus perutnya.
Yoan kembali bernyanyi lagi. Putrinya sepertinya terhibur mendengar suaranya itu.
'Demi putriku!!!'
.
.
.
__ADS_1