
"Nak, kamu masih sakit? libur saja hari ini ya." Ucap Bunda melihat putrinya sudah bersiap akan berangkat kerja. Wajah Dara masih agak sedikit pucat.
"Dara sudah sembuh, Bun. Dara pergi." Ia pun menyalami kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya, nak. Kalau nanti masih sakit, izin pulang saja." Saran Ayah yang juga masih merasa khawatir.
Dara mengangguk cepat. Ia pun segera beranjak pergi.
"Yah, sepertinya putri kita kecewa lagilah."
Ayah melihat istrinya dengan ekspresi tidak mengerti.
"Waktu itu Dara pernah bilang, dia lagi dekat dengan seorang pria. Kenalannya saat di luar kota. Katanya pria itu mau datang menyusul Dara ke sini. Tapi... Bunda rasa pria itu membohongi Dara. Semalam saja putri kita pulang ke rumah, wajahnya itu sembab habis menangis." Terka Bunda pada kemungkinan yang dialami putrinya kesayangannya.
Dara dulu selalu bercerita semua pada Bundanya. Tak ada yang ditutupi. Saat pertama kali ia menyukai kakak kelasnya, Roni. Putrinya juga bercerita padanya.
Saat senang atau berantem dengan sang kekasih. Dara pasti akan bercerita dan meminta sarannya. Tapi kini...
Semenjak hari itu. Dara memendam sendiri apa yang dia rasakan. Tak pernah bercerita lagi padanya. Dara jadi tertutup dan sulit membuat Dara untuk mengatakan apa yang dirasakannya.
Jika dipaksa Dara akan mengatakan...
"... Dara tidak apa-apa, Bunda, Ayah..."
"Bun, kita jangan memaksanya lagi. Kasihan Dara." Ayah juga tahu saat itu Dara terpaksa menerima Rehan. Tapi, putrinya malah kecewa dengan pria bermasalah itu.
Bunda mengangguk dengan wajah sendu. "Kita doakan saja. Semoga Dara kita segera bertemu dengan pria yang tepat."
Ayah mengangguk mengiyakan. Dara-nya harus bahagia dengan pria yang tepat.
\=\=\=\=\=
Dara terlihat sangat sibuk dengan teman satu shiftnya. Mereka menyapu lalu mengepel lantai di sebuah swalayan. Setelah itu mengelap kaca dan membersihkan area kasiran.
Setelah area dalam swalayan bersih, barulah mereka membuka pintu besi swalayan. Saling bekerja sama mendorong pintu besi.
"Pagi-pagi sudah olah raga saja kita, kak." Ucap Eli setelah pintu besi terbuka sempurna. Dara hanya tersenyum.
Sudah 2 minggu Dara bekerja di swalayan tersebut. Meski gajinya tidak sebesar saat ia bekerja di minimarket di luar kota. Tapi, Dara menerima dan menjalaninya dengan hati senang. Dari pada dia di rumah dan jadi gibahan tetangga, yang julidnya makin berkembang biak.
Dara memulai pekerjaannya dengan mengisi rak chiller. Ia melihat minuman apa saja yang kosong dan perlu dipenuhkan di chiller tersebut.
Sementara di dalam sebuah mobil, seorang pria menguap panjang. Ia tadi malam terpaksa begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya dan harus tetap masuk kantor lagi di pagi harinya.
"Ngantuknya!!!" Ucapnya mencoba fokus pada jalanan, tapi mata itu sudah mulai redup. Ia pun berhenti di sebuah swalayan untuk membeli kopi. Menghilangkan rasa mengantuknya itu.
Pria itu masuk dan matanya mencari di mana minuman dingin berada. Di depan chiller pria itu mencari kopi. Ia membuka chiller dan mengambilnya.
__ADS_1
"Maaf, mbak. Apa masih ada lagi?" Pria itu menunjukkan botol kopi. Ia ingin membeli 6 pcs tapi hanya ada 2 pcs di rak tersebut.
"Oh.. ada. Sebentar." Dara mencari di tumpukkan kardus minuman yang akan didisplaynya. Ia tidak melihat pria itu.
"Mau berapa, Bang?" Tanya Dara memegang beberapa botol.
"Dara..."
Mendengar namanya disebut, Dara pun melihat ke arah konsumen tersebut.
"Ro-Roni." Dara tampak shock melihat pria di hadapannya saat ini. Pengantin pria yang meninggalkannya 7 tahun yang lalu. Meninggalkannya tanpa penjelasan.
Roni yang tadi begitu mengantuk, mendadak melek. Rasa kantuk itu seakan lenyap darinya. Ia bertemu kembali dengan Dara di kota ini. Dara berada di kota yang sama dengannya.
"Da-Dara, apa ka-ka-kabar?" Tanya Roni jadi gugup. Ia tiba-tiba merasa kikuk dan canggung.
"Baik!" Jawab Dara sambil mengangguk dengan wajah datar, berusaha untuk terlihat biasa saja. Seolah tak ada yang pernah terjadi diantara mereka.
"Kopinya mau berapa botol?" Tanya Dara. Ia harus segera mendisplay minuman dalam kardus-kardus itu.
Roni diam dan masih menatap wanita di hadapannya. 7 tahun sudah berlalu, wanita itu tampak berbeda. Terlihat lebih dewasa dan sangat tenang. Dan yang membuat hatinya kembali berdesir, Dara semakin cantik.
"Aku permisi. Aku mau melanjutkan pekerjaanku." Ucap Dara segera pergi meninggalkannya dan masuk ke ruang khusus karyawan swalayan.
"Da-" Ucap Roni yang melihat Dara pergi. Wanita itu seperti menghindarinya.
Roni mengambil 4 botol kopi yang masih terletak di atas tumpukkan kardus. Lalu menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
"Bang... Bang..."
"Hah iya?" Roni tersadar karena kasir memanggilnya.
"Totalnya tiga puluh ribu, Bang!" Ucap Eli merasa aneh. Dari tadi pria itu terus menatap ke arah pintu.
Roni membayar dan menerima bungkusan. Saat ia akan membuka pintu kaca untuk keluar, ia berbalik ke kasiran lagi.
"Bo-boleh aku minta nomor ponsel Dara?" Roni memberanikan diri meminta pada Eli. Pasti temannya ini punya nomor ponsel Dara.
"Kak Dara?" Eli memastikan kembali.
Roni mengangguk. "Iya Dara."
"Maaf, Bang. Langsung minta sama orangnya saja." Tolak Eli cepat. Dara tidak suka nomor ponselnya diberi ke sembarangan orang.
"Oh. Oh iya.." Roni pun mengangguk mengerti dan segera keluar dari swalayan tersebut.
Sementara Dara mengambil stok barang di gudang sambil mengusap air mata yang terus berjatuhan.
__ADS_1
Sudah 7 tahun berlalu dan ia malah dipertemukan dengan pria itu lagi. Dara merasa sangat sedih dan tertekan.
Seharusnya saat bertemu dengan Roni, di saat ia sudah bahagia dengan kehidupannya. Sudah memiliki pendamping dan mempunyai anak. Tapi...
Roni bisa saja menertawakan kondisinya saat ini. Atau mungkin pria itu merasa kasihan dan prihatin.
Melihat penampilan Roni. Dara yakin mantannya itu pasti hidup bahagia dengan Ratu. Sementara dirinya... hidupnya sangat menyedihkan.
'Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?!'
Dara pun menangis senggugukan tanpa suara. Kakinya gemetaran dan perlahan membuatnya jadi terduduk di lantai. Ia menangis sambil meringkuk.
'Aku harus bagaimana?!'
Setelah merasa cukup menangis, Dara kembali menyusun barang. Ia sudah mencuci muka dan mendempul wajah dengan bedak tipis. Agar jangan terlihat ia wajah sedihnya.
"Kak Dara masih sakit?" Tanya Eli melihat mata Dara yang sembab.
"Hah... sudah sembuh kok." Ucap Dara.
"Kalau masih sakit, kakak pulang saja."
Dara menggeleng. "Aku baik-baik saja."
"Kak Dara... Tadi ada yang minta nomor kakak." Ujar Eli.
Dara menghembus nafasnya pelan. Pasti Roni orangnya. "Kau kasih?"
"Nggak, kak. Ku suruh dia minta langsung sama kakak." Jawab Eli kembali.
"Eli... Kalau nanti pria itu datang lagi, jangan jawab apapun yang ditanyanya." Dara mewanti-wanti teman kerjanya itu.
"Kakak kenal pria tadi?" Eli memicingkan matanya.
"Sudahlah, yang penting tolong jangan beri informasi apapun tentangku." Tegas Dara menatap Eli serius.
"Kenapa, kak?" Eli malah makin penasaran.
"Ingat pesanku saja." Timpal Dara kembali. "Sudahlah, aku mau lanjut kerja."
Eli melihat Dara yang lanjut mendisplay barang.
"Kak Dara, apa pria itu mantan pacarmu?"
"Bukan!!!"
.
__ADS_1
.
.