KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 60 - FITNAH RONI


__ADS_3

"Eka, aku pergi dulu ya. Sampai nanti!" Dara pamitan pada Eka. Ia tidak mau mengganggu temannya yang masih bekerja. Saat ini masih jam kantor.


"Sampai ketemu lagi, Dara. Hati-hati ya!" Bu Upik yang malah menjawab. Ia melambaikan tangan pada Dara.


Dara melihat Bu Upik dengan ekspresi wajah aneh. Beberapa tahun bekerja menjadi bawahan wanita itu, Dara tidak pernah mendengar Bu Upik bicara ramah padanya.


"Kak Dara..." Gumam Eka yang masih dengan kebingungannya. Ia ingin mengobrol dengan Dara, tapi ini masih jam kerja.


"Kenapa dia bisa seberuntung itu?!" Dengus Bu Upik pelan. Ia tidak menyangka, Dara bisa dekat dengan Yoan. Dara pasti sedang berada di atas angin. Ia harus baik-baik dengannya. Agar Dara tidak membalas perkataannya dengan pemecatan.


"Eka... kamu kenal wanita yang tadi?" tanya rekan kerja Eka.


"Kenal. Dia mantan karyawan di sini." Jawab Eka memberitahu. Dara beberapa tahun bekerja di sini.


"Tadi dia datang sama pak Yoan." Yang lain memberitahu.


"Iya benar. Sepertinya wanita tadi kekasihnya pak Yoan." Timpal yang lain mulai menggosop.


"Pak Yoan?" tanya Eka bingung. Yoan itu siapa sih.


"Pak Yoan... Eka!!! Kamu nggak kenal sama pak Yoan?"


"Direktur kita. Namanya pak Yoan. Wanita tadi pacarnya pak Yoan loh!" ucap yang lain.


"Apa?" Eka mulai meloading perkataan mereka. Ternyata Pak Yoan itu Mas Yoan yang tadi Dara bicarakan. Pantas saja Bu Upik sampai berubah total seperti itu. Begitu juga karyawan lain yang berbisik-bisik saat melihat Dara tadi.


'Kak Dara, ngeri seleranya!' Batin Eka sambil tersenyum senang. Dara bisa dekat dengan atasan mereka. Di mana dan bagaimana ceritanya. Ia harus mendengar cerita panjang Dara.


\=\=\=\=\=\=


Mata Roni menatap datar pada pria yang sedang memimpin rapat.


'Apa yang dilihatnya dari Dara?' Roni meremas tangannya.


Pria yang berdiri di depan ini, mudah saja mendapatkan wanita manapun. Yoan itu pria impian banyak wanita. Tapi, kenapa malah memilih wanita seperti Dara?


Memang sih, Roni mengakui jika Dara memang cantik, tapikan Dara sudah tua. Masih banyak wanita yang jauh lebih cantik, seksi, masih muda, fresh dan memiliki karir hebat di luaran sana.


Dara akan kalah telak jika dibandingkan dengan mereka. Apa lagi masalah karir, wanita itu hanyalah seorang karyawan swalayan.


Seorang karyawan swalayan menikah dengan direktur umum perusahaan ini.


Bagi Dara mungkin sebuah keberuntungan, ia seolah seperti seorang cinderella. Menikahi pria tampan dan tajir.


Tapi, bagi keluarga Yoan. Apa bisa menerima kesenjangan sosial dengan wanita itu.

__ADS_1


Roni benar-benar tidak mengerti, kenapa pria seperti Yoan bisa dekat dengan Dara.


'Apa jangan-jangan Dara pakai pelet?!' Roni bergelut dengan pikiran-pikirannya yang mulai tidak bermoral.


Tak lama, rapat telah berakhir, Yoan bergegas keluar ruangan. Ia akan menemui Dara. Wanita itu pasti sudah lama menunggunya.


"Pak Yoan!" Panggil Roni mengejar Yoan yang bergegas keluar.


Mendengar namanya dipanggil, Yoan pun membalikkan badan. Ia melihat pria yang memanggilnya.


"Bisa saya bicara dengan anda sebentar?"


Kini Yoan dan Roni, berada di ruang rapat. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua.


"Apa yang mau anda bicarakan?" tanya Yoan dengan sorot mata serius. Sepertinya Roni akan membahas Dara.


"Saya..." Ucap Roni sambil menghela nafas pelan. "Saya akan berbicara pada anda bukan sebagai bawahan dan atasan. Akan tetapi sebagai seorang pria."


Yoan masih dengan tatapannya. Pria di hadapannya itu akan berbicara sebagai seorang pria.


Pasti tentang Dara. Yoan sangat yakin itu. "Katakan!"


"Apa hubungan anda dengan Dara?" tanya Roni memastikan terlebih dahulu. Mungkin Yoan hanya ingin bermain-main dengan wanita itu.


"Dara adalah mantan saya." Ucap Roni kembali. Yoan harus tahu tentang masa lalu Dara. Tentang kisah Dara dan dirinya.


"Oh..." Jawab Yoan dengan nada terdengar seperti tak ada masalah. Bagi Yoan mantan itu hanya masa lalu.


Roni mulai kesal. Oh, jawaban apa itu?


"Saya mantan calon pengantin prianya. Saat itu saya hampir menikah dengannya." Roni kembali mengungkapan kenyataannya. Yoan pasti tidak tahu tentang itu.


"Hampir!" Yoan mengangguk mengerti. "Saya akan menikahi Dara, awal bulan depan. Saya menikahi Dara bukan hampir, tapi pasti. Saya akan menikah dengannya." Yoan mempertegas keseriusannya. Ia tahu, Roni sedang membuatnya ragu.


"Sebenarnya apa yang mau anda katakan?" tanya Yoan kembali. Roni terlalu berbasa basi.


"Tinggalkan Dara. Wanita itu tidak pantas menjadi istri anda." Jelas Roni dengan wajah tidak senang.


"Tidak pantas bagaimana?"


"Anda bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang lebih-lebih dari Dara. Jadi untuk apa bersama-"


"Diam!" Yoan menyela perkataan Roni dengan nada tinggi. "Jangan menilai calon istriku!!!Anda tidak punya hak."


"Apa anda terkena peletnya? Dara itu tidak ada kelebihan apapun. Seharusnya anda bisa melihat itu. Dia hanya seorang karyawan swalayan. Apa ia mengira dirinya cinderalla?!" Roni menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Sudah ku katakan untuk diam!!!" Yoan mulai panas. Ia tidak terima calon istrinya dituduh seperti itu. Pelet pelet apaan?!


"Seharusnya anda sadar, pak. Wanita seperti apa Dara itu-"


"Tutup mulutmu!!!" Yoan bangkit dan menunjuk pria itu.


"Hah satu lagi. Apa anda tahu, kami berpacaran selama 9 tahun lamanya." Roni melihat Yoan dengan wajah serius.


"Hah... anda juga sudah bisa menebak bukan. Selama 9 tahun apa saja yang sudah kami lalui bersama." Roni mencari alasan lain lagi. Ia harus membuat Yoan tidak jadi menikahi Dara.


Yoan menarik kerah baju Roni. Perkataan pria itu membuat ubun-ubunnya memanas.


"Luar dalamnya... aku sudah tahu semua. Selama menjalin kasih, aku sudah mencicipi semuanya."


Bugh


Yoan yang emosi memberikan bogem mentah pada Roni. Ia sangat tidak suka perkataan pria itu.


"Apa anda akan tetap menikahinya? Menikah dengan barang bekas?" tanya Roni dengan senyuman liciknya. Walau sudut mulutnya berdarah, ia masih bisa tersenyum.


"Kau!!!" Yoan kembali meninju wajah Roni. Perkataan Roni sangat tidak beretika.


"Aku akan tetap menikahinya. Kami akan menikah. Aku mencintainya dan Dara sangat mencintaiku. Ucapanmu itu tidak berlaku!!!" tegas Yoan. Roni hanya memancing emosinya saja, ia tidak harus menanggapinya.


"Anda akan menyesal!" Roni makin kesal. Perkataannya tak berpengaruh pada Yoan.


"Segera serahkan surat pengunduran dirimu!!! Atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!!!" Ancam Yoan dengan tegas. Pria itu harus segera disingkirkan dari Dara.


Yoan berjalan keluar dari ruangan itu. Ia berkali-kali menghembuskan nafasnya. Menetralkan gemuruh emosi yang melanda.


'Beraninya dia menjelekkan calon istriku?!'


Di depan ruangannya, Yoan menghela nafas terlebih dahulu. Ia tidak boleh menunjukkan ekpresi kesalnya di hadapan Dara.


"Sayang..." Panggil Yoan ketika masuk ke ruangannya. Ia tersenyum melihat Dara yang bersandar di sofa.


Yoan menghampiri Dara. Memandangi wajah cantik yang sedang terpejam.


'Aku mencintai kamu, sayang.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2