
Sampai di rumah, Ibuk Sari menatap putranya dengan sorot mata yang serius.
Membahas tentang Dara membuatnya menjadi takut. Apa Roni dan Dara akan kembali bersama lagi?
Sari sama sekali tidak bisa membayangkan, bertemu kedua orang tua Dara lagi. Ia sudah tidak punya muka untuk bertemu mereka.
"Ada apa kamu dengan Dara?" tanya Sari serius. Sebagai ibu ia akan menasehati putranya. Untuk tidak bersama Dara lagi. Menjauh dari Dara.
"Aku ingin kembali padanya, Buk." Roni mengatakan niatnya dengan serius.
Deg
Itu yang ditakutkan Sari.
"Untuk apa lagi, Roni?" tanya Sari tidak mengerti jalan pikiran putranya.
Saat itu Roni akan menikah dengan Dara, tapi Roni sendiri yang malah meninggalkan Dara. Dan sekarang mau kembali bersama?
Sari juga merasa kesal dengan sikap Dara. Sudah disakiti putranya seperti itu, masih juga mau kembali padanya. Cinta terlalu membutakan. Menurutnya Dara benar-benar bodoh.
"Untuk bersama, Buk. Aku masih sangat mencintainya dan aku akan menikahinya."
"Cinta, cinta, cinta!!! Astaga!!!" pekik Sari.
Sari merasa sesak mendengar ucapan putranya. Meski Roni putranya, tapi ucapan Roni sangat terdengar menjijikkan di telinganya.
"Tidak. Jangan kembali pada Dara lagi! Kamu cari saja wanita lain, jangan Dara lagi Roni!" Tolak Sari dengan tegas.
"Ibuk.... aku tahu aku dulu salah. Tapi aku akan memperbaiki kesalahanku dengan Dara." Masih bersikeras.
"Bagaimana dengan Dara?" tanya Sari memastikan. Apa Dara memang masih belum bisa move on dari putranya ini?
Dara sepertinya juga harus dinasehati.
Roni menggeleng. "Dia sudah menikah, Buk. Ia baru saja menikah. Tapi tenang saja aku akan merebutnya, Buk." Ucap Roni dengan yakin.
"Astaga!!! Roni!!! Mau apa kamu sama istri orang, nak?"
"Aku mau merebutnya!"
"Jangan lakukan itu! Ibuk tidak suka jika kamu seperti itu!!!"
"Ibuk, aku tahu Dara tidak bahagia dengan pernikahannya-"
"Mau Dara bahagia atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu. Kamu tidak boleh mengganggu rumah tangga orang, nak!" seru Sari mengingatkan. Roni mau menjadi duri di rumah tangga Dara.
"Tidak, Ibuk. Aku akan tetap merebutnya! Bagaimana pun caranya aku akan membuat mereka bercerai!" tekad Roni akan rencananya.
"Tidak, tidak, tidak Roni!!! Jangan ganggu Dara lagi!!!" Sari menjewer telinga putranya. Ia tidak suka Roni mau menghancurkan rumah tangga orang lain. Apalagi menghancurkan rumah tangga Dara? Ia akan sangat sangat berdosa.
"Aduh Ibuk!" Roni mengusap telinganya yang sudah memerah.
"Aku sangat menyesal, Buk-"
"Jangan jadi bayangan Dara lagi ya, nak." Sari menggelengkan kepala. Ia masih menasehati Roni.
__ADS_1
"Ibuk..." Roni menatap sang Ibuk. Tak ada restu dari sang ibu. Padahal saat dulu memperkenalkan Dara, ibuknya sangat merestui mereka.
"Roni... biarkan Dara menjalani kehidupannya. Biarkan dia bahagia bersama suaminya." Sari melihat putranya yang menundukkan kepala. Ia tahu Roni menyesal dan tulus ingin kembali bersama Dara, tapi itu sudah tidak mungkin.
Kesalahan yang dilakukan Roni 7 tahun yang lalu terlalu fatal dan sulit untuk dimaafkan.
"Setelah kamu meninggalkan Dara di hari pernikahan kalian, apa kamu tahu apa yang terjadi pada Dara?" tanya Sari dengan nada bergetar. Bayangan Dara yang menangis histeris saat masih memakai kebaya putih,masih terekam jelas dalam ingatannya. Bayangan itu yang selalu menjadi mimpi buruk Sari selama ini.
Roni mengangkat kepalanya, ia melihat sang ibuk dengan wajah bingung. Apa yang ibuknya tahu tentang sakit hatinya Dara?
"Dara itu sangat hancur, Roni. Ia sangat frustasi ditinggalkan olehmu. Ia sering menangis histeris bahkan beberapa kali berniat melakukan bunuh diri." Sari mengusap air matanya. Para tetangga rumah sering menggosipkan keadaan Dara kala itu. Ia juga mengerti tetangganya marah dan kesal dengan sikap putranya, tapi setiap ada perkumpulan mereka selalu membahas hal tersebut. Seolah terus mengingatkannya atas kelakuan putranya. Itu membuat Sari merasa tertekan dan sangat bersalah. Rasa bersalah itu terus membayanginya.
Dan yang membuatnya makin bersalah. Ia sempat melihat sendiri dengan mata kepalanya, bagaimana Ayahnya Dara membujuk sang putri untuk tidak mengakhiri hidupnya. Ia melihat dengan jelas, Dara yang berdiri di atas tembok pembatas dengan tatapan kosong. Tak ada lagi gairah hidup gadis itu lagi. Putranya sudah menghancurkan kehidupan Dara.
Sari sangat takut dan gemetaran saat itu. Bagaimana jika Dara benar-benar melompat dari gedung berlantai tersebut?
Sari benar-benar tidak berguna. Ia tidak bisa mendidik putranya, hingga membuat anak orang lain menderita.
Sari akhirnya bisa menghela nafas lega, saat Ayahnya Dara bisa menahan putrinya.
Dara dipeluk Ayah dan Bundanya sambil menangis. Tangisan kesedihan mereka sampai saat ini masih tergiang-giang di telinganya.
Setelah hari itu, Sari memilih pindah rumah. Ia pindah ke daerah yang orang sekitar tidak tahu tentang kejadian itu.
Sari selalu berharap agar Dara baik-baik saja dan segera bangkit dari keterpurukannya. Mau datang untuk kembali meminta maaf, Sari sudah tidak memiliki muka lagi. Ia juga takut kedatangannya malah membuat Dara semakin down.
"Ibuk... Apa aku begitu kejam padanya?" Roni mengusap sudut matanya. Ia sama sekali tidak tahu tentang apa yang sudah Dara lalui. Dara sangat hancur karenanya.
Saat pernah mencari Dara ke rumahnya, Roni tidak terlalu percaya pada cerita mereka yang mengatakan Dara frustasi sampai mau bunuh diri.
Mungkin para tetangga di sana, hanya menambah-nambah ceritanya saja.
"Roni, tolong jangan kamu temui dia lagi ya nak. Biarkan Dara bahagia." Bujuk Mama. Ia tidak mau Roni menghancurkan hati Dara lagi. Pasti Dara begitu sulit untuk bangkit dari keterpurukannya.
Sari sudah lega, mendengar Dara sudah menikah dan pasti bahagia dengan suaminya. Ia tidak mau anak sebaik Dara menangis dan terpuruk lagi.
"Baiklah, Ma." Roni mengangguk pelan dan merasa bersalah atas apa yang sudah Dara alami karenanya.
Sari memeluk sang putra. Ia sedikit tenang putranya akhirnya mengerti juga. Untuk tidak mengganggu Dara lagi.
\=\=\=\=\=\=
"Sayang... sayang... sayang..." Yoan memanggili Dara sambil mengetok pintu kamar mandi.
Istrinya sudah terlalu lama di kamar mandi. Dara mengatakan akan mengecek. Ia sangat tidak sabaran menunggu hasilnya.
"Sayang... buka dong. Aku mau lihat!!!" Yoan sangat tidak sabaran sekali.
Menurut kata ibu Yumi, kemungkinan Dara hamil. Karena istrinya sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Kalau memang Dara hamil, ia akan menjadi seorang papa dong.
Yoan membenarkan posisinya berdiri lalu membenarkan rambutnya. Ia harus menjadi seorang papa yang tampan, cool dan berwibawa.
"Sayang..." Ucap Roni dengan suara tegas.
__ADS_1
Tak lama Dara keluar dengan menunduk. Ia memegang bajunya.
Melihat ekspresi Dara, Yoan sedikit kecewa. Tapi ia tidak boleh menunjukkannya. Istrinya bisa sedih.
"Bagaimana hasilnya, sayang?" tanya Yoan dengan nada lembut.
Belum sekarang waktunya ia dikarunia anak. Ia akan sabar menunggu. Mungkin saja mereka masih diberikan waktu berduaan dulu, saling mengerti satu sama lain.
"Tidak..." Ucap Dara takut-takut.
Yoan menghampiri dan memeluk Dara. Ia harus menenangkan wanitanya. Dara sedang membutuhkan dukungan dari suami tampannya ini.
"Sudah tidak apa. Nggak usah kamu pikirkan." Yoan mengusap-usap punggung istrinya.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku nggak berani lihat." Ucap Dara lirih. Ia sangat gugup dan takut.
Yoan melonggarkan pelukannya, ia menatap Dara. Ternyata istrinya belum melihat hasilnya, tapi mengapa memasang ekspresi seperti itu?
"Sayang, sini biar aku lihat saja!" Yoan mengadahkan telapak tangan. Ia meminta alat tes itu.
"I-Ini." Dara meletakkan testpack di tangan Yoan. Lalu ia mendudukkan diri di pinggiran tempat tidur.
Kakinya terasa gemetaran dan tak sanggup menompang berat tubuhnya.
"Mas, janji!!! Apapun hasilnya jangan pernah berubah ya." Ucap Dara menegaskan. Ia takut jika hasilnya tidak sesuai harapan, sikap Yoan padanya berubah.
"Iya, sayang!" Yoan mengangguk. Apapun hasilnya, Dara harus selalu di sisinya.
"Mas, bagaimana?" tanya Dara dengan wajah takut. Hatinya berdebar-debar tidak menentu.
Dara melihat suaminya yang berdiri di hadapannya. Yoan melihat fokus benda kecil tersebut.
Kaki Dara lemas, rasanya ia mau pingsan saja sekarang.
"Mas Yoan, bagaimana?" tanya Dara kembali.
"Sepertinya kamu belum hamil sayang." Ucap Yoan lalu melihat Dara yang langsung berwajah sendu.
Yoan merasa sedih melihat raut wajah Dara yang menunduk. Ada air mata yang jatuh mengenai tangan Dara.
"Tidak ada tulisan hamil di sini. Hanya ada garis-garis. Apa benda ini rusak?!" Yoan mencari tulisan hamil di benda itu. Tapi ia tidak menemukannya.
Mendengar itu Dara mengangkat kepala. Tulisan hamil? Seharusnya kan garis satu atau garis dua.
"Ini lihatnya bagaimana sih, sayang?" Yoan jadi bingung sendiri. Ia juga menggoyang-goyangkan benda tersebut. Mungkin tulisan itu akan muncul.
"Astaga, Mas!!!" Dara menggeleng. Ternyata suaminya tidak mengerti melihat alat itu.
Dara pun meraih dan melihatnya sendiri. Ia akan memastikan, suaminya itu tidak bisa diharapkan.
Tangan Dara gemetaran dan air matanya berjatuhan. Ia menatap suaminya mewek.
"Mas, ini garis dua loh..."
.
__ADS_1
.
.