
Ayah sudah pergi bekerja dan berpesan agar mereka tidak pergi ke mana-mana. Jadinya saat ini, Dara duduk di ruang tamu bersama Yoan.
"Kamu sudah sarapan."
"Sudah tadi."
"Kamu sibuk ini?"
"Tidak. Aku tidak sibuk."
"Kamu sudah mandi?"
"Belum."
"Pantas bau."
"Iya. Agak bau keringat."
Seketika hening...
Yoan bingung mau mengobrol apa lagi. Calon istrinya itu hanya menjawab apa yang ditanya saja. Setelah itu, mereka kebanyakan diamnya.
Dara melihat ke arah Yoan, saat pria itu melihat ke arahnya, ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu juga dengan Yoan. Mereka sama-sama mencuri-curi pandang.
Bunda yang mengintip dari balik tembok jadi geli sendiri. Dara dan Yoan sudah sama-sama dewasa. Tapi kecanggungan ternyata tidak melihat usia.
Bunda mengambil ponsel dan menelepon.
"Halo Ayah..." Bunda pun menelepon suaminya.
Tak lama,
"Ya sudah. Tapi bilang sama Yoan, perginya jangan jauh-jauh." Ucap Ayah dari seberang sana.
"Baik Ayah." Ucap Bunda sambil tersenyum. Lalu mengakhiri panggilan.
Bunda berjalan ke arah ruang tamu. Dan melihat pasangan itu saling diam-diaman.
"Kalau kalian mau pergi, sudah tak apa pergilah." Ucap Bunda.
"Nggak apa, Bun. Kami di rumah saja." Jawab Yoan.
"Pergi saja. Tapi jangan jauh-jauh. Tadi ayah sudah mengizinkan kok." Jelas Bunda kembali.
"Baik, Bun." Yoan seperti mendapat angin segar.
"Ya, sudah. Bunda tinggal dulu ya." Bunda pun berlalu pergi.
Yoan tersenyum pada Dara. "Kamu mau pergi ke mana?"
"Ke-ke mana?" malah Dara kembali bertanya.
"Mau shoping atau belanja?" Yoan memberi tawaran yang sama.
Dara melihat Yoan dengan ekspresi aneh. Pria itu bukan memberikan pilihan.
"Hmm... aku tidak punya sepatu untuk pernikahan kita. Kamu temani aku beli sepatu ya." Yoan memberi alasan.
"Loh bukannya semua sudah dipersiapkan WO-nya?" tanya Dara bingung. Yoan memakai jasa WO untuk pernikahan mereka. Mereka tinggal terima bersih. Masalah sepatu itu kan sudah disesuaikan dengan busana.
"Itu..." Yoan berpikir. Calon istrinya ini, tidak bisa langsung mengerti saja. Jika yang diucapkannya itu hanyalah alasan, agar mereka pergi bersama.
"Iya, memang sudah mereka persiapkan. Tapikan dari rumah ke aula hotel, apa aku kaki ayam?" Alasan Yoan kembali sambil tersenyum.
"Memang nggak punya sepatu lain lagi? Kan bisa sementara pakai sepatu yang biasa di pakai ke kantor."
Yoan menghembuskan nafasnya. Bukannya mengiyakan saja, lah Dara malah memberi saran.
"Aku mau pakai sepatu baru. Sudah mandi kamu sana. Nanti toko sepatunya keburu tutup." Paksa Yoan akhirnya. Jika diteruskan, mereka tidak akan jadi pergi.
__ADS_1
"I-ini masih jam 9 pagi!" Dara melihat jam dinding. Tutup dari mana, buka saja mungkin belum tokonya.
"Sudah kamu mandi, lalu dandan yang cantik." Ucap Yoan kembali.
"Memang aku nggak cantik?" tanya Dara.
"Biar tambah cantik." Yoan membenarkan perkataannya.
Di dalam kamar.
"Aku pakai baju apa ya?" gumam Dara menuju lemari. Ia melihat banyaknya pakaian.
Dara mulai mencocokkan beberapa pakaian di hager ke tubuhnya.
"Nggak cocok."
"Ini terlalu pendek."
"Terlalu berwarna."
"Bukan mau kondangan."
Dan akhirnya...
"Aku tidak punya baju!" Gumam Dara berwajah sedih. Ia tidak punya baju untuk pergi hari ini. Padahal di dalam lemarinya berisi banyak baju.
"Mandi dulu lah." Dara pun masuk ke kamar mandi.
Sementara di ruang tamu, Yoan melihat arlojinya. Sudah satu jam berlalu. Wanita itu belum ada keluar dari kamar.
Memilih baju, mendempul wajah, mengukir alis, itu pasti memerlukan banyak waktu. Yoan memaklumi saja.
Mata Yoan tertuju saat mendengar pintu kamar terbuka. Sesaat ia terpesona pada wanita yang keluar dari sana.
Satu kata Cantik. Tidak menurut Yoan, Dara sangat sangat cantik.
"Ja-jadi perginya?" tanya Dara kemudian.
Pria itu tidak menjawab, karena fokus pada pesona wanitanya.
"Mas..." Dara menepuk lengan Yoan.
"Hah?" Yoan mulai tersadar dengan dunia nyata.
"Jadi kita per-"
"Jadi dong! aku akan pamit sama Bunda." Ucap Yoan langsung bangkit dan mencari Bunda.
"Bun, kami pergi sebentar ya!" pamit Yoan menyalami calon mertuanya.
"Hati-hati di jalan. Ingat jangan pulang malam-malam!" Bunda kembali mengingatkan.
"Siap, Bunda." Jawab Yoan bersemangat.
Tak lama mereka sampai di sebuah toko sepatu yang super mewah dan berkelas di kota itu.
"Ayo turun." Ajak Yoan melihat Dara yang masih bengong.
Bagaimana tidak bengong. Dara tidak pernah masuk ke toko tersebut. Bahkan berniat saja tidak pernah. Toko tersebut menjual barang dari brand terkenal dunia. Dan harganya... ya ya ya mahal pastinya.
"Sayang..." Panggil Yoan mengelus kepala Dara. Calon istrinya malah melamun.
"Ki-kita cari toko lain saja!" ajak Dara. Baru melihat tokonya saja, ia sudah sesak. Bagaimana lagi jika masuk ke dalam.
"Aku biasanya beli di sini." Toko itu langganan Yoan dan keluarganya.
"Ta-tapi-" Dara masih merasa tidak nyaman.
Yoan menggandeng tangan Dara memasuki toko tersebut. Ia merasakan tangan Dara yang begitu dingin.
__ADS_1
Mereka disambut karyawan toko dengan ramah. Yoan mengatakan apa yang dicarinya.
"Silahkan, Pak. Ini koleksi model terbaru di toko ini." Ucap karyawan tersebut menunjukkan koleksi sepatu di sana.
"Sayang, menurut kamu mana yang bagus?" tanya Yoan meminta pendapat Dara.
Dara menggeleng. Ia tidak tahu. Menurutnya semua bagus, bahkan harganya juga sangat bagus. Yang bisa membuatnya mengelus dada.
Dara memilih duduk saja. Ia tidak mau melihat-lihat sepatu yang terpajang, membuat jiwanya meronta. Ia ingin segera keluar dari tempat ini.
"Sayang, bagaimana?" tanya Yoan saat mencoba sepatu hitam yang sangat kinclong.
"Ba-bagus." Jawab Dara cepat. Yoan sangat cocok pakai sepatu itu.
"Saya pilih yang ini." Ucap Yoan pada karyawan toko.
"Kamu mau beli yang mana?" tanya Yoan pada Dara.
"Ti-tidak usah!" tolak Dara.
"Kamu sudah menemaniku. Kita beli minimal 3-"
"Apa?" Dara bilang tidak, Yoan malah mau beli 3.
"Haha... harus 3 sayang. Sandal, sepatu dan high heels." Ucap Yoan. 3 itu satu paket.
"Ti-tidak." Dara tetap menolak.
Yoan bangkit dan menghampiri karyawan untuk ditunjukkan model terbaru.
"Sayang, sini!" panggil Yoan.
Dara menggeleng. Ia tidak akan bergerak dari tempat duduknya.
Karena Dara menolak memilih, Yoan berinisiatif memilihkan sendiri. Menurut seleranya saja.
Sebuah sandal, sepatu dan high heells. Yoan bawakan untuk Dara.
"A-Aku masih ada di rumah." Ucap Dara masih menolak.
Yoan tidak peduli. Ia berjongkok dan memakaikan sandal di kaki Dara. Lalu menarik Dara untuk berdiri.
'Apa begini rasanya memakai sandal mahal?!' batin Dara merasakan sandal yang berbahan lembut dan terasa nyaman dipakai.
"Cocok." Yoan melihat sejenak, lalu melepaskan sandal itu dan memakaikan sepatu pilihannya.
Dara berdiri terdiam, saat pria itu memakaikan sepatu dan mengikat talinya. Perasaannya jadi aneh.
"Sangat cocok." Ucap Yoan bangga. Pilihannya memang sangat pas di kaki Dara.
Lalu Yoan memakaikan high heels juga di Kaki Dara. Kini kaki Dara tampak lebih tinggi dan jenjang. High heels itu tingginya 7 cm.
"Mbak, saya ambil semuanya." Ucap Yoan. Pilihannya sangat cocok untuk Dara.
"Ja-jangan!" tolak Dara. 3 itu terlalu banyak. Mau berapa bayarnya?
"Sudah sayang tenang saja. Sandalnya itu untuk di rumah, sepatu untuk kita olahraga, high heelsnya untuk kita kondangan." Jelas Yoan pada pilihannya.
"High hellsnya terlalu tinggi. Nan-nanti a-aku bisa jatuh loh."
"Kalau kamu jatuh, aku akan segera menangkapmu!" Yoan pun menaikkan alisnya.
"Mas!!!"
.
.
.
__ADS_1