
"Dara... Kamu tenang saja. Aku tidak apa-apa!" ucap Roni saat melihat Dara datang ke ruang tamu. Ia mengatakan seperti itu, supaya Dara tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia pantas mendapat ini semua. Kemarahan dari Ayahnya Dara.
"Ayah, Bunda... biar Dara-" ucapan Dara terjeda saat dua pasang mata tajam menatapnya.
"Aku sudah katakan jangan menemuiku lagi. Kenapa terus menggangguku?" tanya Dara yang kini menatap Roni yang duduk di hadapannya.
Tadinya Dara ingin bicara empat mata dengan Roni. Tapi karena pandangan kedua orang tuanya. Dara jadi bicara dengan Roni, didampingi kedua orang tuanya yang juga berada di sana.
Kedua orang tua Dara tidak mau meninggalkan putrinya berdua dengan pria itu. Mereka juga ingin mendengar apa yang mau dibicarakan.
"Dara... Aku sadar aku salah. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku janji tidak akan menyakitimu. Aku ingin kembali padamu. Aku masih mencintaimu." Jelas Roni dengan sangat serius.
Ucapan Roni membuat Ayah akan menghajar pria itu kembali, tapi Bunda segera menahannya.
Ayah tidak suka mendengar ucapan pria itu. Aku masih mencintaimu? Kata-kata yang terdengar begitu memuakkan.
'Aku masih mencintaimu? Omong kosong apa itu?!' Batin Dara tidak habis pikir. Roni bicara cinta. Apa Roni mengingat cinta saat meninggalkannya di hari pernikahan itu?
"Roni... Aku katakan padamu. Bahwa aku tidak bisa kembali padamu." Ucap Dara dengan tegas.
"Dara... Aku berjanji. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku. Aku-"
"Tidak bisa!!!" Sela Dara dengan nada tinggi memotong ucapan Roni. "Aku tidak bisa kembali padamu!!!"
"Kenapa?" tanya Roni. Ia harus tahu alasannya.
"Karena aku tidak mencintaimu!"
Roni tersenyum tipis. Alasan Dara sangat klasik. Ia tidak akan percaya begitu saja.
"Dara, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku ingin menikah denganmu. Dan kita akan melanjutkan mimpi-mimpi yang pernah kita ucapkan dulu." Ucap Roni dengan lembut agar Dara luluh dan yakin padanya, bahwa dia benar-benar serius.
"Apa kamu tidak mengerti ucapanku?" Dara menatap tidak senang. Melanjutkan apa lagi? Semuanya sudah berakhir.
"Dara, aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu belum bisa melupakanmu. Sampai sekarang bahkan kamu belum menikah, karena kamu masih mencintaiku." Ucap Roni begitu yakin.
Ayah dan Bunda saling menatap. Mereka merasa takut, jika apa yang dikatakan Roni benar. Bahwa putrinya belum bisa melupakan pria itu. Dara belum move on dari masa lalunya.
"Kamu terlalu percaya diri. Mana mungkin aku masih mencintaimu. Aku akan menikah bulan depan." Ucap Dara dengan serius.
__ADS_1
"Me-menikah?" Roni kaget mendengar perkataan Dara. Mantannya mau menikah bulan depan.
Sama seperti Roni, kedua orang tua Dara juga kaget. Tapi mereka segera menyembunyikan wajah kagetnya. Putrinya pasti sedang membuat alasan. Setidaknya mereka bernafas lega, Dara tidak mau kembali pada mantannya itu.
"Aku akan menikah bulan depan. Tolong jangan temui aku lagi!!!" pinta Dara.
Roni menggeleng tidak percaya. Menurut informasi yang didapatnya, Dara itu belum menikah atau bertunangan dengan siapapun. Kenapa bisa mendadak menikah bulan depan?
"Dara, kamu berbohong. Tidak mungkin!!!"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti bulan depan aku akan menikah!!!" Jelas Dara yang sorot mata yang sangat serius.
"Tidak. Kamu masih mencintaiku-"
"Aku sangat mencintai calon suamiku. Ayolah Roni, waktu sudah lama berlalu. Apa yang masih kamu harapkan dariku? Perasaanku yang tidak berubah padamu, begitu?" Dara menggeleng tidak mengerti. Roni dengan yakinnya mengatakan bahwa dirinya masih mencintai pria itu. Asumsi yang sangat menyesatkan.
"Tidak, Dara. Aku tidak percaya!!!" Roni merasa Dara hanya mencari alasan. Menikah bulan depan? Bahkan tak ada cincin yang melingkar di jari-jari wanita itu.
"Mau kamu percaya atau tidak itu bukan urusanku. Aku akan mengundangmu saat pernikahanku. Jadi sekarang, tolong pergi dari rumahku." Dara menunjuk pintu rumahnya.
"Tidak mungkin!!!" Roni masih menggeleng tidak percaya.
Roni melihat Dara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah. Aku akan lihat seperti apa pria yang akan menikah denganmu."
Roni bangkit dan berjalan keluar rumah Dara. Ia pergi membawa kekecewaannya. Kecewa karena tidak bisa meyakinkan Dara akan perasaannya dan kecewa karena Dara yang akan menikah bulan depan.
Sementara setelah Roni pergi. Ayah dan Bunda melihat putrinya dengan wajah bertanya.
"Dara sengaja mengatakan seperti itu, agar Roni tidak menganggu Dara lagi." Ucap Dara saat mengerti ekspresi kedua orang tuanya.
"Kamu tidak apa-apakan, nak?" tanya Ayah menghampiri putrinya. Ia mengelus kepala Dara dengan sayang Sebagai Ayah, ia sangat khawatir perasaan Dara saat ini.
"Dara baik-baik saja." Dara pun memeluk kedua orang tuanya bergantian. Kedua orang tuanya kelihatan sangat khawatir.
"Yah, Bun... Dara ke kamar ya. Mau mandi."
Ayah dan Bunda mengangguk. Mereka menatap putrinya yang berjalan kembali ke kamarnya.
"Ayah... Bagaimana Dara?" tanya Bunda merasa cemas. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan putrinya saat ini. Bagaimana juga perasaan Dara? putrinya menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Sudahlah... Bunda tenang saja. Kita akan awasi Dara terus."
Sementara, begitu menutup pintu kamar. Tubuh Dara merosot ke lantai. Kakinya terasa tak mampu menopang tubuhnya.
'Aku harus bagaimana?!'
Dara meringkuk sambil menenggelamkan kepalanya di sana. Suara isak tangis kecil itu perlahan mulai terdengar.
Sejujurnya Dara kesal dan marah dengan ucapan Roni. Pria itu mengatakan ingin kembali. Di mana perasaannya?
Apa karena dirinya yang belum menikah, hingga Roni menganggap jika Dara masih mencintainya?
"Menikah bulan depan?" Gumam Dara sambil mengusap air matanya. Agar tidak terlihat menyedihkan di depan Roni, ia mengarang cerita seperti itu.
Dara menghela nafas pelan. Ia juga tidak tahu mau menikah dengan siapa?
Wanita itu yakin, Roni akan terus mengejarnya saat ia tidak bisa menunjukkan calon suaminya.
"Di mana aku sewa orang untuk berpura-pura menjadi calon suamiku?"
"Atau aku menikah kontrak saja?"
"Atau kami pindah rumah saja. Dan aku berhenti bekerja!"
"Roni... aku membencimu!!!"
Dara bergelut dengan pikirannya. Ia harus menghindar dari Roni. Pria itu tipe orang yang sangat keras kepala.
Sudah berulang kali, Dara mengatakan untuk tidak menemuinya lagi dan tidak datang ke rumahnya. Malah Roni datang ke rumahnya dan bertemu kedua orang tuanya. Pasti Roni akan terus datang ke rumahnya untuk mengiba dan memelas, agar Ayah dan Bunda memaafkan dan menerimanya kembali.
Dara tidak ingin kembali pada pria itu. Hatinya pernah sakit dan hancur karena Roni. Jadi ia tidak mau terulang kedua kalinya.
'Kenapa sih dia mencariku? Kemana Ratu, istrinya yang dipilihnya itu? Apa mereka sudah bercerai? Karena sudah bercerai makanya dia ingin kembali padaku? Apa dia kira aku cadangannya?!'
.
.
.
__ADS_1