
Baru satu jam kemudian Amel bisa kembali ke kekelasnya sendiri setelah mendapatkan petuah panjang dari Pak Bagus dan pak Ridwan, kepala sekolah. Sebagai siswa, dia memang lumayan pintar. Namun jejak kedatangannya yang sering terlambat membuat guru-guru geleng kepala.
Angga keparat. Kalau saja bukan gara-gara si plabyboy kampung itu ia pasti tidak akan mengalami kejadian
memalukan ini. Sebelnya, justru cowok biang keladi itu selamat dan tidak dipanggil kekantor.
Bayangkan, sekarang ia jadi terkenal sebagai cewek yang merebut kekasih Felisha. Itu bisa dianggap keren atau
menyedihkan sih?
Belum cukup dengan itu, saat masuk kelas Amel juga kena omelan bu Sisi, guru sastra indonesia yang menganggap Amel tidak disiplin, dan tidak menghormati dirinya sebagai guru.
“Kau baik-baik saja?” bisik Natasha begitu ia duduk dipangkuannya.
“Malu sekali,” Amel dengan lemas menelungkupkan kepalanya ke bangku.
“Oh, Amel, benarkah kau tidak pacaran dengan Angga?”
Amel menghela nafas panjang. Ia bahkan tidak tertarik dengan cowok itu. Kenapa ini harus terjadi padanya? “Hentikan. Aku serasa mau gila.”
“Pasti kau merasa seperti itu. Ciuman kalian terlihat sungguhan.”
Amel mengangkat kepalanya, “Kau… kau tahu?”
“Aku dan hampir semua anak kelas kita. Tadi Lusi, anak A lari-lari kesini dan berteriak katanya kau bertengkar
dengan Angga. Awalnya sih kami berniat untuk melerai kalian. Tapi saat tiba disana yang kami lihat kalian sedang… itu.”
“Itu … itu sama sekali tidak seperti yang kau pikir. Dia yang …” Amel menunduk dan memijit kepalanya, pusing
sekali.
Natasha menatap temannya dengan serba salah. Disatu sisi ia merasa kasihan pada sahabatnya itu, tapi disisi
lain ia juga cemburu setengah mati. “Aku tahu.” Mungkin pada awalnya memang begitu, batin Natasha sedih.
Amel benar-benar ingin menangis. Angga mengaku dirinya bukan yang membuat story itu. Saat itu wajahnya
benar-benar serius hingga ia nyaris mempercayainya. Tapi kemudian … oh, astaga, Amel menahan diri untuk tidak menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Itu ciuman pertamanya!
Ia tidak pernah begitu memikirkan tentang ciuman pertamanya. Karena ia belum pernah menyukai cowok hingga tahap ingin berkencan bahkan berciuman dengannya. Tapi ia selalu tahu ciuman pertama itu seharusnya dilakukan dengan orang yang dicintainya. Bukannya dengan seorang playboy brengsek seperti Angga.
Amel menyentuh dadanya dan terkejut.
Kenapa jantungnya berdebar begitu keras saat Angga menciumnya? Bahkan sekarang, saat ia hanya sedang mengingatnya kembali. Bukankah dari buku-buku yang pernah dibacanya hal itu hanya akan terjadi jika dua orang saling mencintai? Sementara dia dan Angga? Membayangkan ia berkencan dengan Angga saja sudah membuatnya mual.
Amel menggeleng, berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk dari benaknya. Ia tidak mau membuang waktunya lebih lama lagi dengan memikirkan hal yang tidak berguna. Akan lebih baik jika ia memusatkan pikirannya pada pelajaran yang tengah berlangsung. Dua minggu lagi ujian semester akan dilaksanakan. Ia benar-benar tidak punya waktu memikirkan hal lain kecuali belajar.
Kemudian kelas diketuk dari luar. Kepala sekolah masuk bersama dengan seseorang dibelakangnya.
Mata Amel melebar.
“Oh, my …” bisiknya, bengong. Ia mengusap matanya, untuk memastikan apa yang dilihatnya memang benar.
“Kau benar,” balas Natasha.
“Memang oh my god. Dia keren sekali.”
“Dia….” Amel menggeleng, masih tak mempercayai matanya.
“Aku pernah bertemu dengannya.”
Natasha menoleh padanya. “Jangan bilang dia yang bertemu denganmu di bus kemarin?”
“Iya. Memang dia.”
Amel terpaku menatap cowok itu. Tak tahu harus merasa bagaimana. Seharusnya ia bergembira karena bertemu dengan cowok yang untuk pertama kalinya membuat tertarik. Tapi disebuah sisi kecil pikirannya tak pernah bisa lepas dari kejadian yang membuatnya shock hari ini.
Kenapa? Kenapa ia tidak bisa mengenyahkan Angga dari pikirannya?
Perlahan Amel memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam. Berusaha memusatkan pikirannya. Tidak ada gunanya ia memikirkan Angga. Cowok itu hanya biang masalah untuknya dan ia berencana untuk tidak berurusan lagi dengannya, tekad Amel.
Kenyataan bahwa cowok baik ini ada dikelasnya pasti bisa membuatnya segera melupakan seluruh kejadian buruk hari ini. Dan mungkin, hari ini tidak sepenuhnya berjalan buruk untuknya, batinnya penuh harap.
“Anak-anak, ini teman pindahan kalian,” kata kepala sekolah memperkenalkan. “Mulai hari ini ia akan belajar di
kelas ini. Bima, perkenalkan secara singkat saja tentang dirimu.”
__ADS_1
Bima mengangguk. “Selamat siang semuanya. Nama saya Hanung Bima Andyaksa. Kalian bisa memanggilku Bima.”
“Tinggal dimana?” tanya Natasha.
Bima menatap Natasha, namun kemudian tatapannya terpaku pada Amel beberapa lama sebelum menyebutkan
alamatnya dengan tenang.
“Dia mengingatmu,” kata Natasha sedikit takjub dengan keberuntungan sahabatnya yang pendiam itu—atau tepatnya biasanya pendiam. Namun anak pendiam itu hari ini nyaris membanting Felisha. Amel tidak pernah berusaha menarik perhatian kaum cowok. Jangankan menarik perhatian. Penampilan saja juga seadanya. Tapi pagi ini Amel sudah dicium mesra oleh cowok paling keren di sekolah. Dan sekarang siswa baru yang tidak kalah
kerennya ini juga menaruh perhatian padanya. Selain anaknya yang memang pintar dan baik, kelebihan apa yang dimiliki Amel? Batin Natasha, sedikit kagum sekaligus iri.
Anak-anak lain, terutama yang berlabel perempuan menjadi bawel dan banyak mengajukan pertanyaan pada Bima sehingga kemudian kepala skeolah menenangkan mereka semua dan meminta proses perkenalan dilanjutkan saat istirahat saja.
Bu Sisi kemudian mempersilakan Bima untuk mengambil tempat duduk kosong disebelah bangku Amel. Satu bangku dengan Ringgo yang duduk sendiri.
Amel banyak memperhatikan Bima. Meski sepertinya mengenalinya, Bima sama sekali tidak menyapanya. Bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya.
Begitu jam pelajaran usai, semua anak-anak, terutama yang perempuan langsung mendatangi si murid baru. Begitu juga Amel yang berada dibangku sebelahnya. Ia ingin menyapa Bima lagi setelah pertemuan pertama mereka di bus kemarin dan yakin Bima juga akan senang mendapati dirinya dikelas ini. Siapapun pasti senang jika ada seseorang yang dikenalnya ditempat asing. Benar kan?
“Hei,” sapanya sambil berdiri disamping bangku Bima. “Kita ketemu lagi. Kau ingat aku?”
Amel terkejut ketika Bima menatapnya dingin selama beberapa lama. “Ketemu lagi?” pertanyaannya sama sekali tidak jauh berbeda dengan tatapan matanya. “Apa aku mengenalmu?”
Hening.
Amel terkesiap. Dan ia memandang Bima lagi bersamaan dengan dengungan bersamaan dari komentar teman-temannya.
“Wah, Amel. Mentang-mentang keren, kau langsung mau berlagak mengenalnya?”
“Lagian, baru juga ciuman sama Angga sudah ngelirik yang baru. Kasih kesempatan yang lain dong?”
Amel merasa wajahnya memanas. Ia menatap Bima dan terkejut ketika menangkap kilatan sinis dimata itu.
“Kita bertemu di bus kemarin," Amel berusaha menjelaskan. "Aku ketinggalan bus dan kau membantuku naik.”
Bima menghela nafas bosan. “Kau pasti salah orang.”
Amel merasa dirinya ditampar.
__ADS_1
Duh, malunya…