
Dara kembali berlari menuju rumahnya. Begitu sampai rumah, ia langsung menuju dapur. Mengambil minum dalam lemari es dan menenggaknya hingga habis.
Setelah itu Dara melangkah menuju kamarnya.
'Apaan sih dia?!' wanita itu kembali mengingat, bagaimana dekatnya wajah Yoan tadi. Yoan itu selalu mencari kesempatan saja.
Dara pun berjalan ke kamar mandi, ia akan membersihkan diri.
Sementara di tempat lain. Yoan berjalan dengan wajah bahagia memasuki rumahnya. Ia senang, kini Dara sudah berkurang juteknya.
"Ibu Yumi, aku pulang!" Yoan menyamperi Mamanya yang sedang menelepon.
"Siapa, Ma?" tanya Yoan ingin tahu.
"Tante Lydia!" jawab Mama memberitahu.
"Oh... Aku ke atas Ma."
Mama pun mengangguk dan kembali mengobrol dengan adik iparnya itu.
'Lagi apa dia ya?' Batin Yoan.
Di dalam kamar Yoan menatap ponselnya. Ia ingin menghubungi Dara. Tapi, mereka baru saja bertemu. Bisa-bisa Dara cepat bosan padanya.
Yoan berjalan ke kamar mandi, ia akan membersihkan diri terlebih dahulu.
Malamnya, Yoan sedang makan malam dengan kedua orang tuanya. Ia makan dengan lahap dan cepat. Karena setelah makan, ia ingin menghubungi Dara. Kali ini, obrolan mereka harus lebih lama.
"Pa, Lydia katanya bulan depan mau kemari!" ucap Mama memberitahu suaminya.
"Kapan?" tanya Papa. Sudah lama juga ia tidak bertemu adiknya itu.
"Katanya awal bulan depan." jawab Mama kembali.
"Lydia kemari sekalian mau menjodohkan Malik." Cerita Mama kembali.
"Malik mau dijodohkan dengan siapa, Ma?" tanya Yoan ikut nimbrung obrolan tersebut.
"Katanya kenalannya tante Lydia. Tante Lydia sangat suka dengan wanita itu, sampai-sampai ingin menjadikan menantunya." Jawab Mama menceritakan obrolannya tadi.
"Kenalannya Lydia itu tinggal di sini?" Papa juga ingin tahu.
"Katanya wanita itu sempat merantau kerja di sana. Wanita itu bekerja sebagai kasir minimarket, Pa. Karena sering ke minimarket itu, Lydia mengenalnya."
Deg
Yoan menghentikan makannya, perasaannya mulai tidak enak.
"Karena sudah habis kontrak, wanita itu kembali lagi kemari. Jadi rencananya Lydia mau ke tempat kita sekalian menemui wanita itu." cerita Mama kembali.
"Nanti Lydia setelah ketemu wanita itu, lydia akan bertemu kedua orang tuanya. Dan melamar wanita itu untuk Malik. Malik akan dinikahkan saja, yang penting sah saja dulu. Setelah itu baru resepsinya menyusul." Mama begitu semangat bercerita.
__ADS_1
"Oh jadi, Lydia kemari untuk menikahkan Malik dengan wanita itu."
"Iya, Pa. Jadi nanti mereka pulang ke sana, sudah bawa menantu!" Mama tertawa mengatakannya.
Yoan meremas sendoknya. Apa-apaan kabar yang didengarnya. Apa wanita yang dimaksud tante Lydia adalah Dara?
Bekerja di minimarket?
Yoan ingat Malik pernah bilang, Dara itu bekerja di minimarket. Dan cukup dekat dengan kedua orang tuanya.
"Tidak bisa!!!" ucap Yoan tidak terima. Bagaimana bisa, tante Lydia datang-datang menikung wanitanya untuk Malik.
"Kenapa tidak bisa?" Mama melihat Yoan dengan wajah aneh.
"Mak-maksudku, apa Malik mau menikah dengannya?" tanya Yoan. Ia tahu Malik tidak menyukai Dara. Bahkan mereka berdua sempat berdebat sengit kala itu.
"Malik itu anak baik. Dia mau dijodohkan Mamanya. Tidak seperti anak sana itu, yang tidak pernah nurut sama Mamanya." Sindir Mama membandingkan. Yoan yang tidak pernah patuh padanya.
"Malik itu bulan depan mau ikut kemari, ia setuju dijodohkan Mamanya dengan wanita itu. Kata tante Lydia, Malik mau menikah dengan wanita itu. Malik itu memang anak penurut ya, Pa." Mama masih membanggakan anak adik iparnya itu.
"Kamu begitu juga. Kalau Mama jodohkan itu nurut Yoan. Mama menjodohkanmu dengan wanita yang menurut Mama baik. Lihat tante Lydia sampai mengejar wanita itu kemari, berartikan wanita itu sangat baik untuk Malik."
Papa menggeleng melihat Mama yang terus menyindir putranya. Wajah Yoan juga sampai tegang seperti itu.
"Aku sudah selesai!" Yoan pun segera pergi dari ruang makan. Nafsu makannya hilang, mendengar kabar itu.
"Ngambek!!! Dasar Yoan!!!" Mama kesal. Yoan sekarang malah menghindar. Seharusnya Yoan mengikuti jejak Malik. Yang bersedia dijodohkan.
"Yoan keras kepala!!!"
"Sabar ya, Ma. Yoan keras kepala seperti itu, karena Mama juga!" ucap Papa mengingatkan akan keras kepala istrinya.
"Papa!!!"
\=\=\=\=\=\=
Yoan mondar-mandir di kamarnya. Ia kembali mengingat rencana tante Lydia.
Saat ini ia tidak punya status apapun dengan Dara. Bagaimana Dara tiba-tiba setuju menikah dengan Malik? Bagaimana jika Dara menerima lamaran itu? Lalu bagaimana nasibnya ditinggal wanita itu?
Yoan menahan gemuruh di hatinya. Ia memijat pelipisnya. Ia tidak bisa membayangkan jika Dara berpaling darinya.
'Aku harus tanya Malik!' Yoan mencari ponselnya.
"Halo... Mal!" ucap Yoan setelah panggilan tersambung.
"Yo, apa kabar?" jawab Malik dari sana.
"Baik. Kau masih hidup kan?" basa basi Yoan.
Terdengar suara tawa dari sana. "Kalau aku sudah mati, kau sekarang ngomong sama siapa?" ledek Malik.
__ADS_1
Yoan jadi tertawa juga.
"Yo, kau ingat Dara? wanita yang mau dijodohkan mamaku?" tanya Malik.
Yoan berpura-pura mencoba mengingat. Ia menelepon memang untuk menanyakan hal itu. "Oh, yang waktu itu kau ngajak aku buat ketemu dia."
"Hah iya. Parah... Parah sekarang Yo!" Malik menggelengkan kepala.
"Parah kenapa?" Yoan ingin tahu.
"Mamaku tetap memaksa menjodohkanku dengannya!" ucap Malik kecewa.
Yoan diam. Ternyata benar yang dikatakan Mamanya tadi. Tante Lydia sangat getol menjodohkan Malik.
"Mamaku tetap memaksaku untuk menikahinya. Aku terpaksa setuju saja, mama sama papa terus mengancamku. Bulan depan kami mau ke rumahmu, terus sekalian ke rumahnya, kebetulan dia tinggal daerah sana juga." Malik memberitahu rencanaya.
"Ja-jadi kau setuju? Kau akan menikahinya?" tanya Yoan hati-hati.
"Terpaksa. Kan hanya menikah saja, biar mereka senang dan tidak memaksaku terus. Nanti kalau tidak cocok bulan depan aku bisa bercerai!" Malik terpaksa menerima. Ia juga sudah merencanakan akan bercerai.
"Tidak bisa seperti itu!" ucap Yoan marah.
"Maksudku... Kau tidak boleh mempermainkan pernikahan!" Yoan kembali membenarkan perkataannya.
"Mau bagaimana lagi, Yo. Kedua orang tuaku tidak setuju pada pilihanku. Mereka maunya wanita itu yang menjadi istriku. Jadi ya sudahlah, aku setuju menikah dengannya, Lalu bulan depan bercerai."
Yoan meremas tangannya. Ia tidak mau Dara menikah dengan orang lain.
"Yoan, aku harus bagaimana ini? aku juga tidak mau menikahinya. Aku mau menikah dengan wanita yang kucintai." Malik merasa terbebani. Ia tidak ingin menikah dengan pilihan mamanya.
"Kau tolak. Yakinkan kedua orang tuamu!" saran Yoan.
"Capek Yo. Banyak dramanya. Aku sudah sering menolak, Mama terus menangis. Aku tahu, tangisan Mama hanya akting." Malik menghela nafasnya. Ia menceritakan bagaimana drama mamanya, hingga ia terpaksa jadi setuju menikah dengan Dara.
"Aku cuma berharap, wanita itu sudah menikah di sana. Jadi aku tidak perlu menikahinya." Hanya itu harapan Malik.
"Menikah?" tanya Yoan.
"Iya. Jika ia sudah menikah, Mama pasti tidak akan menjodohkanku dengannya lagi. Dan aku bisa bebas."
"Mal... nanti kita sambung lagi ngobrolnya. Aku ada urusan sebentar. Bye!!!" Yoan pun mengakhiri obrolan mereka.
Pria itu menghembuskan nafas berkali-kali.
'Aku harus berbuat sesuatu!!!'
.
.
.
__ADS_1