
'Astaga Yoan!!!' pria itu meruntuki dirinya yang malah mengatakan hal seperti itu. Tanpa basa-basi mengajak Dara untuk menikah.
"Dara... menikahlah denganku!!!" sambung Yoan kembali. Sudah terlanjur berucap, lanjutkan sajalah, toh niatnya memang ingin seperti itu.
"Hah?" dan lagi Dara merasa aneh mendengar apa yang tiba-tiba dikatakan pria itu. Nggak ada angin, nggak ada hujan, apalagi petir. Berucap seperti itu padanya.
Dara memastikan dengan melihat sekitarnya. Mungkin pria itu bukan berbicara dengannya. Mungkin ada orang di belakang atau di samping kanan kirinya. Tapi tiada siapapun selain dia.
'Apa jangan-jangan dia pria tidak waras?!'
Perlahan Dara mulai melangkah mundur saat pria itu akan mendekat.
"Dara... Aku Yoan, aku-"
'Kabur!!!' Dara pun mengambil langkah seribu. Berlari kencang meninggalkan pria aneh yang tiba-tiba mengajaknya menikah.
"Dara!!! Kenapa malah kabur? jangan takut padaku, aku bukan orang jahat!!!" Ucap Yoan dengan suara kencang.
Wanita itu malah terus berlari darinya. Tak mau mendengarkan perkataannya.
Yoan juga menepuk jidatnya melihat Dara yang sudah menaiki kenderaan umum.
'Apa aku menakutinya?'
Sementara di kendaraan umum, Dara bernafas lega. Ia telah terbebas dari pria itu.
Dara melihat ke arah belakang, memastikan apa pria itu masih mengikutinya.
'Mimpi apa sih aku semalam?!' Dara menutup wajah dengan kedua tangannya.
Tadi pagi, dia bertemu dengan mantan pengantin yang meninggalkannya di hari pernikahan. Lalu sorenya, ia malah bertemu dengan pria yang mendadak mengajak menikah.
Tak lama Dara telah sampai rumah. Ia pun menenggak air minum dalam botol hingga tidak tersisa.
"Bun, masak apa?"
Melihat Bunda sedang memasak, Dara merasa lapar.
"Bubur." Jawab Bunda. "Oh iya, apa kamu masih sakit?" Bunda memegang kening Dara.
"Dara baik-baik saja, Bun. Jangan khawatir."
"Mandi sana. Setelah itu kita makan buburnya."
Dara mengangguk cepat dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia akan membersihkan diri, lalu makan bubur panas buatan Bundanya yang pasti sangat enak.
Dara keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di kepala. Setelah mandi dan mencuci rambut. Terasa segar dan kepalanya terasa ringan. Mungkin terlalu banyak kotoran yang menempel di kepalanya.
Mata Dara melihat ponselnya yang bergetar di atas nakas. Ia pun meraih dan melihat siapa yang meneleponnya.
'Siapa ini?' Dara menajamkan pandangan melihat foto penelepon. Seorang pria yang tidak terdaftar di kontak teleponnya.
08xx: Hai Dara
08xx: aku Yoan. Salam kenal
08xx: kamu lagi apa?
__ADS_1
Alis Dara bertaut saat membaca pesan-pesan masuk tersebut. Seorang pria yang sok akrab mengiriminya pesan singkat.
'Tunggu... I-ini kan pria tidak waras tadi? dari mana dia tahu nomorku?'
Dara baru mengingat pria yang bertemu dengannya tadi sore. Pria yang tanpa basa basi maupun aba-aba mengajaknya menikah.
Dara meletakkan kembali ponselnya. Ia tak mau membalas pesan tersebut. Dan memilih menyisir rambut. Lalu ia keluar kamar, untuk makan bubur bersama Bundanya.
\=\=\=\=\=\=
'Kenapa tidak dibalas?!' Yoan kesal. Sudah susah payah ia mengumpulkan mental. Dara malah tidak membalas pesannya. Yang membuatnya kesal, wanita itu sudah membaca tapi tidak menjawabnya.
'Aku telepon lagi!' Yoan mencoba menelepon kembali sampai beberapa kali. Hingga akhirnya ia melempar ponsel ke tempat tidurnya.
Yoan sudah menelepon tapi tidak dijawab, lalu mengirim pesan juga tidak dibalas.
Seharusnya Dara membalasnya. Minimal say hai padanya.
'Oh... Dia mungkin masih belum mengenalku. Yoan... kenapa kau malah membuat anak orang takut?!'
Yoan menyesali dirinya yang serba terburu-buru. Seharusnya ia berkenalan, perlahan mendekat, lalu menjalin kasih dan menuju tahap serius yakni pernikahan. Alurnya seperti itu.
Bukan seperti ini. Seperti yang dilakukannya sekarang. Membuat Dara jadi ketakutan. Atau mungkin Dara bisa menganggapnya pria tidak waras.
'Ok. Mulai perlahan tapi pasti!'
Pagi menjelang, Yoan sudah di meja makan bersama kedua orang tuanya.
"Yoan, nanti sore temui Mawar ya. Dia seorang dokter. Jadi ia sudah dipastikan bisa menyembuhkan luka hatimu." Jelas Mama dengan wajah berbinar.
Ibu Yumi berekpresi seperti itu. Dan Yoan malah melihat sang Papa, untuk meminta tolong.
"Tidak bisa." Sela Mama cepat memotong perkataan suaminya. "Nanti sore jam 5 kamu temui dokter Mawar. Mama nggak mau tahu!!!"
"Mama..." Yoan pusing. Lagi-lagi ia mau dicomblangi lagi.
"Jam 5 temui dia!!!" paksa Mama kembali.
"Nggak bisa, Ma!" tolak Yoan. Ia tidak mau bertemu wanita-wanita pilihan Mamanya.
"Temui dia atau Mama yang membawa dia menemui kamu?!" Mama mengancam putranya.
Yoan menghembuskan nafas kasar. Mamanya memberikan pilihan yang tidak mengenakan.
"Ma, nanti sore-" Yoan menjeda ucapannya, menatap kedua sejoli tersebut.
"Nanti sore... aku mau menemui wanitaku!" ujar Yoan cepat. Ia memang berencana akan menemui wanitanya.
"Siapa?" kompak Papa dan Mama bertanya. Mereka penasaran siapa wanita itu.
"Nanti aku akan meminta Papa dan Mama untuk melamarnya. Tapi itu nanti." Yoan mengalihkan pandangannya. Ia merasa sedikit malu mengatakan hal seperti itu. Hal yang belum pasti.
"Yoan!!! kamu lagi pdkt ya?" tanya Mama dengan wajah tersenyum. Putranya sedang dekat dengan seorang wanita. Putranya sudah membuka hati kembali.
Yoan mengangguk.
"Siapa namanya? tinggal di mana?" Mama malah penasaran. "Ayo, sekarang kita datang ke rumahnya buat melamar!!!"
__ADS_1
"Mama..." Kompak kini Papa dan Yoan berucap. Mamanya ini mau bergerak cepat saja.
"Loh kenapa? niat baik itu tidak boleh diundur-undur. Langsung eksekusi saja." Mama merasa ucapannya sangat benar.
"Tapi, Ma. Yoan masih pdkt dengan wanita itu." Papa mengingatkan istrinya yang terlalu bersemangat.
"Benar, Ma." Yoan ikut menimpali.
"Pdkt pdkt, Yoan sadarlah. Kamu bukan anak kemarin sore lagi." Mama mengingatkan putranya yang sudah berwajah manyun tersebut.
"Kalau serius langsung eksekusi. Kita lamar sekarang juga. Biar wanita itu tahu, kalau kamu serius dengannya. Dan ingin menikahinya." Jelas Mama. Bagaimana pun wanita itu butuh kepastian bukan janji-janji.
"Kamu berniat menikah dengannya atau tidak?" Mama menatap Yoan serius.
Yoan mengangguk cepat.
"Ya, sudah. Apalagi, ayo kita meluncur ke rumahnya!"
"Tung-tunggu, Ma." Yoan menahan.
"Kenapa lagi?"
"Aku tidak tahu dia mau atau tidak menikah denganku." Ucap Yoan sambil menundukkan kepala.
Mama menatap putranya tersebut.
"Apa alasan dia menolak anakku?" Mama tidak terima. Putranya itu pria idaman wanita.
"Dia tidak mengenalku, Ma!" Ucap Yoan lirih.
"Apa?" Mama terbelalak tak percaya.
"Ma, sepertinya kita harus sabar. Biarkan Yoan pdkt terlebih dahulu. Nanti Yoan pasti akan meminta kita untuk melamar wanita itu. Mama sabar dong!" Papa mencoba mengerti posisi putranya saat ini. Mencintai dalam diam.
Ucapan Papa membuat Yoan mengangguk berkali-kali. Semalam saja ia tanpa basa basi mengajak menikah, Dara sudah ketakutan. Bagaimana lagi jika datang ke rumah Dara, ia membawa keluarga besarnya untuk melamarnya. Bisa-bisa wanita itu shock berat.
"Ya sudah. Cepatlah kamu pdkt sama dia!" Mama akan mencoba mengerti.
"Mama sabar dong! Ini aku mau ke tempat kerjanya." Niat Yoan begitu.
"Ya sudah pergi cepat!!!"
"Iya-iya." Yoan bangkit dari duduknya.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Mama.
Yoan menggeleng. Ia belum sarapan.
"Sarapan dulu. Mau berjuang harus ada energi."
Yoan mengangguk dan melahap sarapannya. "Ma, doakan aku ya."
"Pasti Mama doakan. Papa juga doakan Yoan." Mama menyikut lengan suaminya.
"Iya... iya loh."
.
__ADS_1
.
.