KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 50 - GOMBAL


__ADS_3

"Dara, kamu menginap di sini saja ya malam ini. Besok pagi baru pulang, ini sudah malam loh. Sangat rawan dan banyak begal." Bujuk Mama memeluk lengan Dara. Wanita paruh baya itu tidak mau Dara pulang. Ia masih ingin mengobrol dengan calon menantunya.


"Ma, Dara harus pulang. Orang tuanya sudah menunggu!" timpal Yoan. Ia sudah janji pada orang tua Dara, akan membawa Dara kembali sebelum jam 11 malam.


"Iya Tante, Dara pulang dulu. Nanti Dara akan kemari lagi!" ucap Dara berbasa basi.


"Tante lagi Tante lagi. Mama loh Dara!" Mama mentoel hidung Dara dengan gemas. Calon menantunya belum fasih memanggilnya seperti itu.


"Ma-maaf, Ma." Ucap Dara pelan.


"Kamu harus sering-sering kemari." ucap Mama.


Dara menganggukkan kepala.


"Hati-hati di jalan ya, nak." Mama memeluk calon menantunya itu dengan erat.


"I-iya, Ma." Dara tersenyum, Mamanya Yoan sangat welcome sekali padanya.


"Yoan, jangan ngebut-ngebut!"


"Baik Ibu Yumi." Hormat Yoan patuh pada perintahnya.


Setelah pamitan dengan kedua orang tua Yoan, Dara pun pulang diantar Yoan.


Dalam perjalanan, Dara melihat pria itu. Minggu ini, kedua keluarga akan bertemu untuk membicarakan soal hubungan mereka. Tapi...


'Aku tidak tahu apapun tentangnya?!' Batin Dara merasa aneh. Ia bersedia menerima Yoan, tapi sedikit pun ia tidak tahu tentang pria itu.


"Aku tahu aku tampan. Kamu pasti begitu terpesona melihatku, kan?!" ucap Yoan dengan percaya dirinya. Menurutnya tatapan Dara menyiratkan kekaguman padanya.


"Anda terlalu berperasaan!" Sanggah Dara tidak terima.


"Terus kenapa kamu melihatku seperti itu, kalau buka terpesona denganku?" tanya Yoan penasaran. Ia melirik wanita di sampingnya.


"Apa anda yakin akan menikah denganku?" tanya Dara dengan serius.


Hembusan nafas Yoan terdengar. "Sayang, apa kamu masih ragu denganku? aku sudah bertemu orang tuamu dan aku juga sudah mengajakmu bertemu orang tuaku!" bagaimana lagi Yoan menjelaskan pada Dara atas keseriusannya.


"Jujur saja kita tidak saling mengenal. Aku tidak tahu apapun tentang anda." Ucap Dara jujur.


Yoan mengangguk mengerti. Ia pun mengeluarkan dompet dan memberikan pada Dara.


"A-apa ini?" tanya Dara kaget, Yoan memberikan dompetnya yang sangat tebal.


"Kamu bilang tidak mengenalku. Kamu bisa lihat KTPku. Buka saja, sayang!" pinta Yoan. Ia menyuruh Dara mengambil KTP dalam dompetnya, karena ia masih menyetir. Ia ingin Dara mengenalnya dari KTP itu.


Dara melihat Yoan sejenak. Lalu membuka dompet itu.

__ADS_1


'Kalau dompetnya hilang, apa nggak meriah mengurusnya?' Dara melihat banyaknya kartu-kartu dalam dompet tersebut.


"Mana KTP anda?" Dara tidak melihat KTP di antara kartu-kartu itu.


"Oh itu ada SIM. Lihat SIM saja, samanya itu." Yoan menyimpan KTP diselip-selipan, wanita itu pasti tidak nyaman menggeledah dompetnya. Jadi apa yang tampak saja.


Dara melihat SIM Yoan dengan fokus.


"Aku ini kan pintar. Makanya waktu buat SIM, aku dapat A." Ucap Yoan memberitahu. Ia ingin membuat Dara tertawa.


Dara menoleh sambil mendengus. Candaan pria itu terlalu garing. Izin mengemudi mobil kan SIM A.


"Gemas!" Yoan mengacak rambut Dara. Wanita itu bukannya tertawa, malah menyemberutkan wajahnya.


"Umur anda 34?" Dara memastikan. Pria itu sudah berumur ternyata.


Yoan mengangguk.


"Berarti anda sudah pernah menikah?" tanya Dara. Kemungkinan Yoan itu adalah seorang duda.


"Hmm!" Yoan tampak berpikir sejenak. "Hampir. Aku hampir menikah!"


"Hampir menikah?" tanya Dara kembali.


"Aku sama seperti kamu. Aku hampir menikah. Sekitar 2 tahun yang lalu pernikahanku batal." Jelas Yoan.


"Kita sudah sampai!" ucap Yoan melihat Dara yang masih melihatinya. Wanita itu sepertinya masih menunggu penjelasannya.


"Calon pengantin wanita saat itu tidak datang di hari pernikahan kami." Jelas Yoan kembali. Dara harus tahu tentangnya.


'Dia ditinggalkan juga di hari pernikahan?' Dara melihat Yoan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Melihat Dara masih melihatinya, membuat Yoan bingung harus bagaimana.


"Pernikahanku pernah batal sekali. Aku harap pernikahan kita ini, berjalan lancar dan jangan batal lagi!" Jujur Yoan sedikit merasa takut, jika nanti pernikahannya batal lagi.


"Ke-ke mana calon pengantin wanitanya?" tanya Dara ingin tahu.


"Ia pergi keluar negeri. Tapi, sudahlah tidak usah kita bahas itu. Bahas saja masa depan kita. Nanti kamu mau bulan madu ke mana?" Yoan mengganti topik pembicaraan. Membahas masa lalu membuatnya sangat tidak nyaman.


"Apa... masa lalu anda telah berakhir?" tanya Dara kembali. Ia tidak mau masa lalu akan membayangi di kemudian hari.


Yoan mengangguk. "Semua telah berakhir, semua telah berakhir di hari itu." Yoan mengatakannya dengan tegas.


"Sekarang aku ingin memulai masa depan bersamamu!" Yoan meyakinkan Dara. Ia meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat.


"Aku ingin menikah dan hidup bahagia selamanya denganmu. Dengan anak-anak kita, dengan keluarga kecil kita nantinya!" Yoan menatap dengan tatapan mendalam. Ia menginginkan Dara selalu di sisinya selamanya.

__ADS_1


Dara menatap mata pria itu, yang begitu tulus. Ia pun mengangguk pelan. Ia akan mempercayai Yoan.


"Aku akan turun. Terima kasin telah mengantarku." Ucap Dara. Hari sudah sangat malam.


"Tunggu!" Yoan menahan tangan Dara. "Masih ada yang ingin aku tanyakan padamu!"


"Apa itu?" tanya Dara.


"Apa kamu juga sudah selesai dengan masa lalumu?"


"Untuk apa aku terus terpuruk dengan masa lalu!" Tegas Dara. Saat ia melihat kedua orang tuanya, terutama Ayahnya yang menangis karenanya. Saat itu juga, Dara sudah bertekad melupakan masa lalunya.


"Karena anda mengatakan, ingin memulai masa depan bersamaku. Jadi mari kita melangkah bersama!" Dara menggeratkan genggaman tangannya. Ia menghembuskan nafas pelan, wajahnya kini sudah terasa panas.


Yoan tersenyum, wajah Dara sudah seperti kepiting rebus.


"Terima kasih, Dara!" Yoan membawa Dara dalam pelukannya. Senyumnya mengembang saat tubuhnya merasakan tangan mungil itu juga memeluknya.


"Aku mau turun!" Dara mulai merasa sesak dalam dekapan itu. Yoan pun melepaskan pelukannya.


"Besok... besok kamu mau kencan denganku?" Yoan ingin berjalan berdua dengan Dara. Ingin menghabiskan waktu bersama.


"Iya. Aku mau!" Dara mengangguk.


"Baiklah. Besok aku pulang kantor, aku jemput kamu. Kita langsung meluncur!" ujar Yoan penuh semangat. Dara sudah tidak menolaknya lagi.


"Aku turun ya. Anda cepatlah pulang, ini sudah malam banyak begal dan hantu berkeliaran!" Dara melihat jam tangannya. Hari sudah sangat malam.


"Kan kamu itu hantunya!" ledek Yoan.


"Terus menghantuiku, gitu gombalnya?!" Dara menimpali. Ia sudah membaca gombalan pria itu.


"Bukan..." Yoan menggeleng. "Kamu itu seperti hantu karena terus menghantui pikiranku!"


'Sama saja!!!' Batin Dara kesal.


Bugh...


Dara pun memilih turun dari mobilnya Yoan dan berjalan kencang masuk rumahnya. Selalu saja pria itu menggombalinya dengan gombalan jadul.


Yoan tertawa melihat Dara yang pergi begitu saja.


'Pasti dia klepek-klepek kena gombalan Babang Tampan!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2