
Dara duduk di samping pria yang beberapa menit lalu sudah sah menjadi suaminya.
Dara mencium tangan Yoan cukup lama. Lalu tak lama ia merasakan keningnya dikecup suaminya itu.
"Aku mencintaimu, istriku." Ucap Yoan pelan dan menatap Dara lembut.
Air mata Dara jatuh menetes, mendengar kata istriku. Ia sudah menikah dengan pria di hadapannya. Ia benar-benar sudah menikah dan statusnya sekarang adalah seorang istri.
"Kenapa nangis? nanti makeupnya luntur." Tangan Yoan terulur menghapus air mata itu dan menatap bibir Dara.
Perlahan Yoan memajukan wajahnya. Ia ingin menjelajahi bibir manis itu. Tapi...
"Hmm." Ayah pun berdehem. Benar-benar menantunya itu lupa sekitar.
Suara deheman Ayah membuat Yoan tersadar. Ia meruntuki diri yang malah memikirkan hal seperti itu.
Sementara Dara, membuang wajahnya. Ia jadi malu, malah terpaku pada Yoan.
Yoan dan Dara pun sungkeman dengan kedua orang tua mereka. Meminta maaf, izin serta restu dari mereka. Dimulai dari kedua orang tua Yoan.
"Jadi pria yang bertanggung jawab dan cepat berikan kami cucu yang lucu." Bisik Mama saat memeluk sang putra.
"Siap, Ma. Nanti kami beri 12 cucu untuk Mama." Ucap Yoan yang membuat Mama jadi tersenyum.
Lalu Yoan bersungkeman dengan Papa. Papa mengelus kepala sang putra seraya menasehatinya. Yoan harus menjadi pria tampan yang setia dan bertanggung jawab.
"Selamat datang, putri Mama." Ucap Mama dengan wajah bahagia memeluk Dara. Akhirnya ia memiliki anak perempuan juga. Walaupun ketemu besar.
"Terima kasih, Ma." Air mata Dara terus berlinang.
Dara lalu sungkeman dengan papanya Yoan.
Setelah dengan kedua orang tua Yoan. Kini kedua orang tua Dara pula.
Bunda tampak menasehati Yoan. Lalu Ayah juga. Ayah memberi wejangan pada Yoan.
Yoan mengangguk. Ayahnya Dara bukan memberi wejangan, tapi lebih mirip seperti ancaman.
"Jangan sakiti Dara. Kalau kamu sakiti dia, Ayah sate kamu!" Ancam Ayah memelankan suaranya.
"Ba-baik Yah. I-itu tidak akan pernah terjadi. Aku janji!" ucap Yoan gugup. Ayahnya Dara memang sangat menyeramkan.
Bunda memeluk Dara erat dengan air mata berlinang. Putrinya akhirnya menikah juga. Meski tadi sempat dilanda ketakutan.
Begitu juga dengan Ayah yang memeluk putrinya dengan erat.
Setelah acara sungkeman kedua mempelai dan proses adat telah selesai. Yoan dan Dara berdiri di pelaminan.
Yoan menggenggam tangan Dara dengan senyuman merekah. Senang, bahagia, bersyukur, perasaannya campur aduk.
Begitu juga Dara. Ia menatap sendu suaminya itu. Pria yang ternyata serius pada perkataannya.
Para tamu bergantian menyalami kedua mempelai. Ucapan selamat serta doa segera mendapat momongan, menjadi ucapan yang laris manis terdengar.
'Momongan.' Batin Dara. Wajahnya mendadak memerah mendengar itu. Untuk mendapat momongan itu kan ada prosesnya. Dan proses awalnya harus...
__ADS_1
'Apa yang kupikirkan?!' Dara menggeleng cepat. Untuk memiliki momongan mereka harus menyatukan apa yang harus disatukan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yoan menatap Dara. Wajah istrinya memerah seperti kepiting rebus.
"Apa kamu sakit?" Yoan meletakkan tangannya di kening Dara.
"A-aku tidak demam." Dara menjauhkan tangan Yoan.
"Sayang, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat-sangat mencintaimu." Ungkap Yoan berkali-kali.
"Mas Yoan, stop!" Dara merasa wajahnya mulai panas.
"Dara, selamat ya." Ucap Lydia yang naik ke pelaminan.
"Tante Lydia. Terima kasih sudah datang." Ucap Dara melihat tante Lydia dan Om Leo datang. Mereka menyempatkan waktu menghadiri pernikahannya.
"Tante pasti datang dong!" ucap Lydia memeluk Dara sambil melirik Yoan.
"Masa Tante nggak datang ke pernikahan keponakan tante sendiri." Timpal Lydia kembali saat pelukan terlepas.
"Po-ponakan?" tanya Dara bingung.
"Yoan ini ponakan tante loh Dara. Tante nggak nyangka ternyata dia menikahnya sama kamu." Jelas Lydia kembali.
Dara melihat ke arah Yoan. Ternyata Yoan keponakannya tante Lydia. Ia baru tahu.
"Yoan, awas kalau kamu menyakiti Dara." Lydia memperingatkan keponakannya.
"Tidak akan, Tante." Jawab Yoan cepat.
"Dara, selamat ya."
"Terima kasih, Om." Ucap Dara menyalami Om Leo.
"Malik sini!" panggil Lydia menyuruh putranya mendekat.
Malik menggeleng, ia tidak mau naik ke pelaminan.
"Malik!!!" taring Lydia pun seakan keluar memanggil putranya.
Dengan terpaksa, Malik pun naik ke pelaminan. Ia melirik Dara yang melihatinya saja.
'Malik?' Dara seperti tidak asing dengan nama itu.
"Dara, kamu ingat Malik kan. Ini yang dulu mau tante jodohkan sama kamu. Tapi ternyata kamu malah berjodoh dengan Yoan." Jelas tante Lydia kembali.
Dara mulai mengingat. Malik, pria menyebalkan yang menuduhnya memakai pelet. Dan Dara melihat ke arah Yoan.
'Astaga!!! Apa Mas Yoan, teman yang dibawanya saat itu?' Dara jadi menebak-nebak. Malik membawa teman saat itu, apa Yoan, temannya itu. Ia mendadak malu.
"Selamat ya, Let." Ucap Malik sambil menyengir pada Dara.
"Malik!!!" Yoan memelototi Malik. Sepupunya ini memanggil istrinya let let let pasti pelet.
"Sorry, Yo. Ceplos aku." Malik malah tertawa.
__ADS_1
"Yo, hati-hati ya. Jangan sampai nanti malam dia berubah!" Tawa Malik menggeleng melihat Yoan dan Dara. Yoan pasti sudah kena pelet wanita itu.
"Diam kau!"
\=\=\=\=\=\=
Yoan melirik Dara. Istrinya itu tampak sangat lelah. Dari tadi mereka tak henti menyalami tamu-tamu yang datang.
Baik tamu yang diundang keluarga Yoan maupun keluarga Dara.
"Pak Yoan selamat ya. Semoga langgeng. Dara, maksud saya Ibu Dara selamat atas pernikahannya." Bu Upik datang memberikan selamat pada kedua mempelai.
Dara terpaksa tersenyum. Ibu Dara, panggilan itu terasa aneh.
Sementara tak jauh dari mereka, Roni berdiri sambil memperhatikan arah pelaminan.
Roni merasa kesal melihat Dara yang tersenyum bahagia. Tersenyum dengan suaminya itu.
"Pak Roni, datang sendirian?" tanya Bu Upik yang tiba-tiba sudah di sebelahnya saja.
Roni tidak menjawab dan memilih pergi menjauh dari wanita gempal menyebalkan itu.
"Kamu... Roni ya?" tantenya Dara memastikan saat berpapasan dengan Roni. Ia ingat dengan Roni. Karena dulu setiap ada acara keluarga, Dara selalu membawa pacarnya itu.
"Ngapain kamu di sini?" tanya tantenya Dara dengan nada sinis.
Roni tidak menjawab. Ia memilih menjauh.
"Ada apa?"
"Itu... mantannya Dara. Si Roni."
"Roni yang itu. Yang hampir menikah dengan Dara?"
"Benar. Si Roni, pria kurang ajar yang meninggalkan Dara di hari pernikahannya."
Bu Upik menutup mulutnya tak percaya mendengar itu. Dara hampir menikah dengan Roni. Dan Roni meninggalkan Dara di hari pernikahan.
'Kasihan sekali Dara!' Batin Bu Upik. Ia pernah berucap buruk pada Dara, tanpa tahu apa yang sudah dilalui Dara. Ditinggalkan di hari pernikahan? Bu Upik tidak bisa membayangkan berada di posisi itu. Dara pasti sangat hancur dan dia malah menghina wanita itu. Menambah pikiran Dara.
'Dara... tolong maafkan saya!' Bu Upik merasa menyesal dengan perkataannya dahulu.
\=\=\=\=\=\=
Dara tersenyum bahagia. Ia melirik suaminya yang ternyata sangat tampan. Sudah tampan, baik, perhatian lagi. Suaminya paket komplit.
"Aku mencintaimu." Bisik Yoan kembali.
"Mas, sudah dong!" Dara mencemberutkan wajahnya. Yoan terus-terusan mengungkapkan cinta. Membuat perasaannya akan meledak.
.
.
.
__ADS_1