
Dara kaget bukan main melihat pria itu. Bukannya pria itu tadi sudah pergi, kenapa bisa ada di tempat ini. Pasti dia penguntit.
"Dara..." sapa Yoan dengan senyum mengambang.
"Ke-kenapa anda bisa ada di sini?" Tanya Dara gugup melihat sekeliling. Ia takut pria itu memang berniat menculiknya.
"Untuk bertemu kamu." Jawabnya santai. "Oh iya, kamu sudah makan?"
"Sudah." Jawab Dara cepat. Ia melihat kenderaan umum yang tak kunjung datang.
"Dara, ayo kita jalan-jalan sore sebentar." Ajak Yoan menyentuh tangan Dara.
Tapi dengan cepat tangan Yoan segera ditepis Dara. Yoan berani menyentuhnya.
"Hah, maaf! Dara, kamu kenapa jutek baget sih? Aku hanya ingin berteman denganmu." Jelas Yoan membaca raut wajah Dara yang sudah tidak senang. Apa cara berkenalannya yang salah? Tapi, seperti inikan jika mau berkenalan dengan seorang wanita?!
"Maaf, aku tidak mau berteman dengan anda." Jawab Dara masih dengan mode juteknya. Ia memang tak mau berteman atau pun dekat dengan pria lagi.
Yoan menghembuskan nafas. Kalau ditolak terus seperti ini, kapan majunya hubungan mereka. Kapan mereka bisa menikah?
"Temani aku sebentar, yuk!" Yoan meraih tangan Dara dan menggandengnya ke mobil.
"Astaga!!! Apa yang anda lakukan? Lepaskan aku!!! Atau aku akan berteriak!!!" Luap Dara dengan tatapan tajamnya. Ia tidak boleh lemah dengan pria itu.
Yoan terpaksa melepaskan tangan Dara. Dari pada orang-orang sekitar malah datang dan menggebukinya, karena ia dianggap orang jahat.
Begitu pegangan tangan Yoan terlepas, Dara berniat kabur. Dara segera menyebrang, karena ketakutan ia tak melihat lagi kanan kirinya.
Yoan yang melihat Dara hampir tertabrak, segera meraih tangan Dara. Menarik wanita itu padanya. Dan...
Cup
Karena terlalu kuat menarik Dara, membuat tubuh Dara menubruk Yoan. Hingga kening Dara mendarat di bibir pria itu.
"Kan, jadi kena!" ledek Yoan yang sangat senang. Meski sedikit sakit tertubruk kening itu. Tapi, dia merasa beruntung juga.
"Dasar pria kurang ajar!!!" Dara mendorong tubuh Yoan menjauh padanya. Pria itu mengambil kesempatan.
"Kurang ajar? Dara, seharusnya kamu berterima kasih karena aku sudah menolongmu. Jika aku tidak bergerak cepat, mungkin kamu sudah terluka." Jelas Yoan tak merasa bersalah.
Wanita itu memelototi Yoan. Jika ia bukan ketakutan karena pria ini, ia juga tidak akan sembarangan menyebrang.
"Dara... Ayo, aku antar kamu pulang." Ucap Yoan akan mendekati wanita itu.
Melihat itu Dara segera mundur. "Maju selangkah lagi. Aku teriak nih!!!" Ancam Dara. Ia harus menjaga dirinya.
Yoan mengusap wajahnya kasar. Ia terpaksa berdiam di posisinya sekarang.
"Dara, maaf kalau cara berkenalan kita ini salah menurut kamu. Tapi, aku serius ingin dekat dan berteman denganmu." Jelas Yoan kembali.
Dara diam saja, matanya masih melihat kenderaan umum yang tak kunjung tiba.
"Kita bisa mulai dari berteman, lalu menjadi teman hidup. Aku serius ingin menikah denganmu. Dara... Aku menyukaimu. Aku menyukaimu." Ungkap Yoan dengan sepenuh hati. Ia mengungkapkan isi hatinya di pinggir jalan.
'Bicara apa sih dia?!' Dara menggeleng melihat pria itu. Mengajak untuk menjadi teman, lalu teman hidup, lalu mengajaknya menikah dan apalagi katanya, suka? Menyukainya?
__ADS_1
Pria itu mengira ia wanita yang mudah baperan. Dengan kata-kata seperti itu.
Dara melihat pria itu dari atas hingga atas lagi. Penampilan pria itu rapi, bersih dan juga wangi. Wajahnya juga di atas rata-rata.
Wanita itu merasa sedikit kasihan. Pria itu sepertinya agak-agak koslet. Mungkin urat sarafnya agak putus. Makanya bersikap seperti itu. Pria itu seperti stress karena baru putus cinta.
"Dara..." Panggil Yoan kembali.
"Tolong jangan temui aku lagi." Ucap Dara lalu menyetop kenderaan umum. Ia naik dan meninggalkan pria itu sendirian di pinggir jalan.
'Astaga!!! Kenapa sulit sekali?!'
Yoan merasa terlalu sulit mendekati Dara. Wanita itu tak memberikannya celah untuk masuk. Memaksa masuk dengan mendobrak, malah membuat wanita itu jadi ketakutan.
\=\=\=\=\=\=
Yoan berbaring di tempat tidur. Matanya terbuka sambil melirik ponsel yang berada di sampingnya. Tak ada masuk pesan apapun dari sana.
Pria itu sudah mengirimkan beberapa pesan pada Dara dan tetap saja. Hanya dibaca dan tidak dibalas.
'Aku harus berjuang!!!'
Yoan merubah posisi dari berbaring menjadi duduk. Ia menekan gagang telepon pada layar ponsel. Ia akan menelepon Dara saja.
Sekali...
Dua kali...
Tiga kali...
Dan...
Dan...
Dan..
Wanita itu sama sekali tidak ada mengangkat teleponnya. Sudah dua belas kali ia mencoba menghubungi ponselnya.
'Baiklah, coba lagi!' Yoan kembali menelepon Dara. Dan...
Kebanyakan angka tiga belas dianggap angka sial. Dan panggilan ketiga belas Yoan, sudah tidak tersambung lagi.
'Dara!!!'
Sementara di sebuah kamar. Dara bernafas lega setelah memblokir penelepon tersebut. Pria itu terus menerus mengganggunya. Membuatnya sangat tidak nyaman.
Kruk
Dara memegangi perutnya. Rasa lapar mendadak muncul. Ia pun berjalan menuju dapur.
Dara membuka lemari makan. Sudah tak ada lagi lauk. Sudah habis saat makan malam tadi.
"Kenapa, nak?" tanya Bunda melihat Dara berada di dapur.
"Dara lapar, Bun." jawabnya pelan. Ia sedikit malu, karena tadi sudah makan malam dan sekarang malah lapar lagi.
__ADS_1
"Itu ada telur di lemari es. Gorenglah." Ucap Bunda memberi saran.
Dara mengangguk lalu membuka penanak nasi. Wajahnya langsung manyun. Sudah tidak ada nasi lagi.
"Oh iya... Bunda lupa, nasinya sudah habis."
"Bun, mau makan apa? Dara mau ke simpang." Dara sangat lapar. Menunggu memasak nasi lagi, terlalu lama.
"Kamu saja. Bunda masih kenyang." Tolak Bunda.
"Ayah?" tanya Dara. Mungkin ayahnya ingin makan sesuatu.
"Ayah-"
"Bandrek saja. Ayah titip bandrek." sambung sang Ayah.
Dara mengangguk dan pamit pergi. Ia berjalan kaki saja keluar rumah.
Tak lama Dara sampai di simpang jalan. Sepanjang jalan banyak toko-toko penjual makanan. Ayam penyet, mie aceh, sate, bakso dan berbagai macam makanan lain dijual di sana.
Mata Dara tertuju pada sebuah warung bakso. Terlihat sangat ramai pengunjungnya.
"Mas, kita ke sana yuk." Ajak Dara menunjuk sebuah warung bakso yang sangat ramai pengunjung.
"Ramai, sayang." Roni malas mengantri di sana.
Tapi, Dara yang merengek membuatnya terpaksa masuk ke warung bakso tersebut.
Roni melihat tempat yang kosong. Tapi tak ada yang kosong, semuanya penuh dengan pengunjung.
"Kita pulang saja ya!" ajak Roni.
Dara menggandeng Roni menuju meja yang baru kosong. Dan mereka pun duduk di sana.
Tak lama bakso pesanan mereka tiba. Bakso super besar yang memenuhi mangkuk itu.
"Sepertinya enak!" Dara mencucuk dengan garpu dan menggigitnya.
"Dara... Dipotong-potong dulu!" Roni menggeleng melihat Dara yang langsung menggigitnya.
"Capek dipotong-potong." Ucap Dara dengan mulut penuh bakso.
Roni hanya bisa menghembuskan nafas. Kekasihnya itu tak ada jaim-jaimnya sama sekali.
"Pelan-pelan makannya. Nggak ada yang minta loh!" ledek Roni membersihkan mulut Dara dengan tisu.
Dara tersenyum bahagia dengan perhatian kecil Roni yang selalu mendebarkan hatinya.
"Dara!" Panggil seseorang.
Dara menoleh pada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Ka-kamu..."
.
__ADS_1
.
.