
Yoan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia berkali-kali menghembuskan nafasnya yang terasa bergemuruh.
Yoan datang ke rumah Maudy untuk memperingatkan wanita itu. Malah Maudy mengatakan tentang omong kosong. Mengatakan jika anaknya Maudy adalah darah dagingnya.
"... Yoan, bagaimana ini? aku hamil!"
Kata-kata Maudy beberapa tahun yang lalu, kembali tergiang di telinganya. Ia meremas tangannya menahan kekesalannya.
'Maudy... Maudy...' Yoan kembali menghembuskan nafas dengan kasar.
Yoan telah mengubur masa lalunya dengan Maudy. Dulu ia sudah tulus menerima Maudy, tapi wanita itu saja yang tidak bisa menerimanya dan pergi ke luar negeri.
Dan kini Maudy ingin dia menerimanya lagi?
Yoan kembali menghidupkan mesin mobil dan tak lama mobil kembali melaju. Ia harus segera pulang, ada Dara yang sudah menunggunya.
Kan, benar saja. Yoan melihat Dara duduk menunggu di teras rumah mereka ditemani Mama.
"Ma, Mas Yoan sudah pulang." Ucap Dara dengan wajah bahagia. Ia lega melihat suaminya.
Mama tersenyum. Menantunya bisa kembali tersenyum saat melihat putranya.
"Selamat siang menjelang sore, wanita-wanita kesayanganku. Lagi ngapain nih? Pasti lagi menceritakan aku yang tampan ini, kan!" Ucap Yoan dengan pedenya.
"Idih perasaan!" Mama mendengus. Yoan terlalu membanggakan diri.
"Sayang, aku tampan kan? Makanya kamu jatuh cinta sama aku." Ucap Yoan tersenyum pada Dara.
Dara tidak menjawab dan malah tertawa. Ia lucu melihat suaminya. Memang pedenya terlalu luar biasa. Tapi hatinya memang sudah jatuh cinta dengan pria ini.
"Mama masuk dulu. Mau mandi!" karena yang ditunggu sudah datang, Mama berniat pergi. Membiarkan kedua sejoli itu bersama.
"Mau mandi sama papa ya, Ma?!" Ledek Yoan yang membuat Mama membalikkan badan.
"Mau tahu saja kamu!" balas Mama dengan mencemberutkan wajahnya.
Yoan tertawa-tawa melihat Mamanya kembali melangkah masuk ke dalam
"Sayang, kamu kenapa menunggu di sini?" tanya Yoan menatap istrinya. Pasti selama pergi Dara sangat tidak tenang.
"Aku menunggu Mas Yoan. Katanya kan pergi sebentar." Jawab Dara dengan wajah sedih.
"Sayang, aku kan sudah pulang. ayo kita masuk." Ajak Yoan.
Dara mengangguk dan bangkit. Tapi begitu ia bangkit,Yoan langsung menggendongnya.
"Sayang, aku sangat rindu desa-hanmu!" bisik Yoan pelan sambil menggigit kecil telinga istrinya. Rasanya sudah lama tidak menyentuh istrinya.
"Mas Yoan, turunkan aku!" pinta Dara dengan wajah merah padam. Ia malu pasti jadi bahan gosipan di rumah ini.
"Nanti aku turunkan. Kalau kita sudah sampai kamar!"
Yoan sambil bersenandung, menggendong Dara menuju kamarnya. Ia tidak peduli dengan sekitar.
Saat jatuh cinta, dunia hanya milik berdua...
"Mas Yoan, ih..." Dara memukuli tubuh Yoan begitu masuk kamar. Pria itu telah menurunkannya di tempat tidur.
"Sayang, jangan pukul aku. Nanti tenaga kamu habis loh." Yoan memperingatkan, senyuman me-sum ia tunjukkan pada sang istri.
__ADS_1
"Mas Yoan, ini di rumah Mama." Dara menekan dada Yoan.
"Tenang saja, kamar ini kedap suara loh. Kamu bisa berteriak-"
Dara menarik leher Yoan, ia menkecupi pipi suaminya.
"Sayang, kamu yang mulai ya!" Yoan mengkedipkan sebelah matanya.
Beberapa saat kemudian, Dara sudah tertidur pulas. Yoan senyum-senyum memandangi wajah istrinya yang kelelahan karena pernyatuan mereka.
"Aku sangat mencintaimu, Dara. Jangan pernah meninggalkanku!" Yoan lalu memberikan kecupan cukup lama di kening sang istri.
Yoan bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Ia akan membersihkan diri dan menemui kedua orang tuanya. Membahas masalahnya dengan Maudy.
\=\=\=\=\=\=
"Maudy, katakan sejujurnya!"
Kini Maudy sedang disidang kedua orang tuanya. Mereka ingin memastikan Jeri itu anaknya siapa.
"Sudah aku bilang Yoan!" Maudy masih berucap demikian.
"Maudy, apa saat itu kamu berselingkuh dari Yoan?" tanya Papa masih dengan sorot mata tajamnya. Yoan saja tidak mengakui anak itu.
"I-itu-" Maudy jadi bingung menjelaskannya.
"Katakan, nak. Papa sama Mama tidak akan marah." Bujuk Mama agar sang anak mau jujur.
"Jeri anak Yoan!" Maudy tetap pada perkataannya.
Kedua orang tuanya saling melihat dan menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, kita ke rumah Yoan sekarang! Untuk memastikan Jeri anak siapa?! Kita paksa Yoan melakukan tes DNA." ucap Papa memberi saran. Jika Jeri bukan anak Yoan, Maudy pasti akan berkelit.
Yoan dulu sangat mencintai putrinya. Bisa saja dulu mereka khilaf dan melakukan hal seperti itu sebelum adanya ikatan menikah.
"A-aku akan bicarakan dengan Yoan, Pa, Ma." Maudy masih berkelit. Ia tidak mau Yoan tes DNA.
"Untuk apa? Kita paksa dia melakukan tes DNA. Jadi Yoan tidak bisa berkilah lagi!" jelas Papa. Semua butuh bukti, jika bicara-bicara saja tidak akan ada habisnya.
"Sudah, kamu bersiap. Kita akan ke rumah Yoan."
"Tidak. Ini masalahku, biar aku selesaikan sendiri."
"Tidak bisa. Ini sudah menjadi masalah kami juga. Jika Jeri memang anak Yoan, kamu tidak perlu takut. Kami akan mencari keadilan untukmu!" Papa meyakinkan, matanya terus menatap wajah putrinya.
Papanya sengaja mengatakan seperti itu, agar Maudy membuka mulut. Melihat sikap Maudy yang tidak mau dilakukan tes DNa. Membuatnya membenarkan perkataan Yoan.
"Papa... Mama... Tolong jangan ikut campur. Biar aku bicarakan dengan Yoan. Dia sengaja bicara seperti itu, karena sekarang ia sudah menikah. Yoan pasti takut jika Jeri akan menjadi penyebab keretakan hubungan pernikahan mereka. Itu yang Yoan takutkan." Jelas Maudy memberi alasan.
Melakukan tes DNA akan percuma saja. Saat ini ia hanya perlu merebut perhatian Yoan kembali. Jika terlalu sulit, mungkin bisa menjebaknya.
Papa dan Mama menatap Maudy dengan pandangan yang sulit diartikan.
\=\=\=\=\=\=
"Silahkan masuk Pak Agus." Ucap Pak Dana mempersilahkan kedua orang tua Maudy masuk ke rumahnya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu. Yumi merasa bingung melihat mantan calon besannya datang ke rumah mereka.
__ADS_1
Ada gerangan apa?
Apa perihal masa lalu Yoan?
"Pak Dana, Ibu Yumi apa kabarnya?" tanya Agus berbasa basi sejenak.
"Kabar kami baik. Pak Agus dan istri bagaimana kabarnya?" Dana juga berbasa basi bersikap sopan.
"Kabar kami juga baik." Jawab Agus seraya menganggukkan kepala.
Lalu suasana terasa hening beberapa saat.
"Jadi begini, kedatangan kami kemari untuk meminta Yoan agar bersedia melakukan tes DNA." Ucap Agus dengan jelas tentang maksud kedatangannya.
"Tes DNA?" tanya Yumi.
"Jadi begini, kak. Maudy sudah kembali." Novia mulai menjelaskan.
"Terus? Kalau dia kembali kenapa?" Yumi tampak tidak senang, mendengar nama Maudy.
"Maudy pulang membawa anak berumur sekitar 1 tahun lebih. Kami beranggapan mungkin Jeri anaknya Yoan." Novia menerangkan.
"Anak Yoan? Bagaimana bisa?" Yumi meminta penjelasan.
"Mengingat saat itu, Yoan dan Maudy sangat dekat. Kemungkinan Jeri itu anaknya Yoan." Novia mengatakan sejujurnya apa yang ada dipikirkannya.
"A-anak Yoan? tidak mungkin!" Yumi menggeleng. Yoan tidak mungkin membuat Maudy hamil sebelum menikah.
"Apa Maudy yang mengatakannya?" tanya Dana memastikan terlebih dahulu.
"Benar, Maudy mengatakan jika Jeri adalah anak Yoan. Tapi Yoan malah berkilah, jika Jeri bukan anaknya. Jadi pembuktiannya hanya dengan melakukan tes DNA." Agus kembali memperjelas. Ia juga butuh bukti jelas. Maudy sangat mempersulitnya.
"Sepertinya Jeri itu tidak mungkin anaknya Yoan! Mungkin anak dari pria lain!" Yumi tidak percaya begitu saja.
"Benar. Itu tidak mungkin!" Dana juga tidak percaya begitu saja. Mereka mengajarkan pada putranya untuk menjaga batasan dan menghargai wanita. Tidak ada se-k sebelum pernikahan.
"Jika Yoan menghamili Maudy, pasti putra kami akan bertanggung jawab saat itu juga." Dana juga menegaskan. Ia juga mengajarkan pada putranya untuk bertanggung jawab pada apa yang dibuat.
"Maka dari itu, Pak. Kita lakukan tes DNA. Jika ternyata memang benar Jeri anak Yoan. Yoan harus bertanggung jawab pada anaknya Maudy..." tegas Agus. Ia harus mencari keadilan atas cucunya, meski sedikit ragu. Apa Yoan benar-benar darah daging Yoan?
"Benar. Jika Yoan tidak melakukannya, ia pasti tidak perlu takut untuk membuktikannya." Novia mempertegas perkataannya Yoan harus memberikan bukti nyata.
Dana dan Yumi saling menatap. Mereka percaya pada putranya itu, pasti memegang prinsip yang diajarkannya.
"Baiklah. Tapi Yoan akan lakukan tes di 10 rumah sakit." Jelas Dana. Ia tidak mau ada manipulasi nantinya. Itu bisa merusak rumah tangga putranya yang baru seumur jagung itu.
"Jika memang benar anak Yoan, kami akan bertanggung jawab penuh pada Jeri. Tapi jika ternyata bukan anaknya Yoan. Jangan pernah Maudy mencoba menemui atau menganggu rumah tangga putra saya lagi!" jelas Pak Dana akan maksudnya.
Agus dan Novia saling menatap. Pak Dana tampak menyeramkan.
"Jika itu terjadi, saya pastikan anda tidak akan selamat!!!" ancam Dana dengan sorot mata tajam.
Glek
Ancaman pak Dana membuat bulu kuduk Agus merinding.
'Maudy!!! Dasar anak tidak berguna!!!'
.
__ADS_1
.
.