KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 115 - BAHAGIA


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Usia kehamilan Dara kini sudah memasuki bulan kelahiran.


Akhir-akhir ini Dara selalu minta dibangunkan pagi dan mereka jalan-jalan pagi mengintari komplek perumahan.


Dara selalu merengek pada Yoan. Dan suaminya dengan terpaksa membangunkan Dara. Biasanya Yoan tidak pernah tega, jika istrinya sudah terlelap. Akan ditinggalnya saja ke kantor.


"Sayang, sudah ayo kita pulang." Ajak Yoan memegangi istrinya. Mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah.


"Ke sana, Mas." Ajak Dara. "Mas, katanya sebelum lahiran bagus banyak-banyak gerak."


"Kamukan sudah cukup geraknya." Sahut Yoan kembali. "Pulang kita ya, sayang."


Yoan sedikit khawatir dengan sang istri. Dengan perut sebesar itu, Dara sudah kesusahan berjalan. Jika mereka terus berjalan jauh, Yoan takut tiba-tiba istrinya brojol saja di tengah jalan.


Perut Dara itu sudah besar. Melihat istrinya jalan saja, Yoan yang merasa sudah letih. Pasti istrinya kesusahan mengandung buah cinta mereka.


Tapi, selama ini Yoan tidak pernah mendengar Dara mengeluh dengan perut yang makin hari makin membesar. Dara sangat menikmati masa-masa kehamilannya.


"Ya sudah, Mas." Dara mencubit gemas pipi suaminya. Yoan memang terlalu mengkhawatirkan. Padahal ia tidak ada masalah. Ia masih kuat berjalan lebih jauh lagi.


Yoan dan Dara saling bergandengan tangan. Mereka berjalan kembali ke rumah.


"Mas Yoan, aku sangat mencintaimu." Ungkap Dara sangat bahagia.


Dara sangat bersyukur menikah dengan Yoan. Pria baik dan bertanggung jawab. Juga pria penyayang dan penuh cinta kasih.


Meski Dara pernah hancur beberapa tahun yang lalu. Tapi kini meski mengingat masa lalu, Dara merasa biasa saja. Ia tidak merasa sakit hati lagi.


Perasaan bahagia yang dicurahkan Yoan padanya, mengobati sakit hatinya.


Dara sangat bersyukur menikah di waktu yang tepat dan dengan pria yang tepat.


"Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintai putri kita. Aku mencintai kalian berdua." Yoan merangkul Dara seraya menkecupi keningnya.


"Papa Yoan!" Dara mencemberutkan wajahnya. Ia terharu mendengar perkataan suaminya.


"Iya, Mama Dara." Yoan tersenyum geli. Panggilan mereka terdengar lucu tapi menggemaskan sekali.


\=\=\=\=\=\=


Yoan dan Dara sedang berada di kamar. Dara dengan bersenandung membantu memakaikan pakaian suaminya. Merapikan kemeja dan memakaikan dasi.


Padahal Yoan sudah menolak dan bisa melakukannya sendiri. Ia tidak mau istrinya jadi letih.


Tapi Dara memaksa. Wanita itu memakai jurus air mata kesedihan. Memasang wajah mewek dengan mata berkaca-kaca.


Demi kedamaian, Yoan pun menuruti. Yang penting Dara senang, hati Yoan pun senang.


"Tampan banget ini! Suami siapa ini ya?" tanya Dara dengan gemas. Ia juga mencubiti pipi Yoan.


"Sayang..." Yoan jadi geli sendiri. Dara bertanya suami siapa, jelas-jelas ia ini adalah suami Dara.


"Sayang... Ayo kita sarapan." Ajak Yoan. Putri mereka pasti sudah mulai lapar.


Dara memajukan bibirnya. "Cium dulu!"


"Sekarang kamu sangat manja. Tapi nggak apa, aku suka." Ucap Yoan. Ia sangat senang, Dara yang dulu pertama kali dikenalnya itu wanita berwajah datar dan serius. Dan lebih parahnya wanita itu juteknya minta ampun. Kini, wanita itu bisa menunjukkan sisi menggemaskan.


Yoan pun mendaratkan bibirnya. Memberi sentuhan basah di bibir seksi milik istrinya.


"Mas... lagi!" rengek Dara. Hanya sekali rasanya kurang. Ia ingin menikmati rasa candu itu lagi dan lagi.


Dengan wajah bahagia Yoan menurutinya. Ia sangat senang melakukannya.


Hingga...

__ADS_1


Kruk...


Dara melepas ciumannya mendengar nyanyian perut.


"Papa lapar, nak." Dara memberitahu putri dalam kandungannya.


\=\=\=\=\=\=


Yoan dan Dara makan dengan lahap. Sebagai suami yang pengertian, ia sering menyuapi Dara. Mengelap sudut mulut istrinya yang makan berselemak.


Pria itu melakukannya dengan rasa bahagia. Istrinya begitu sangat menggemaskan saat manja.


"Aduh, Mas!!!" Dara memegangi perutnya. Rasanya mendadak perutnya sakit.


"Sayang, kamu kenapa?" Yoan dengan panik melihat istrinya.


"Mas, sepertinya anak kita akan lahir." Firasat Dara seperti itu.


"Tapi prediksi dokter sekitar minggu depan." Yoan mengingat saat mereka periksa kandungan.


"Itukan prediksi, Mas. Aduh, Mas. Sakit sekali!!! Dara masih merasakan sakit di perutnya itu.


"Aduh, gimana nih?" Yoan kebingungan sendiri. "Mama..."


Pria itu memanggil Mamanya. Ia bingung dan tidak tahu harus bagaimana.


"Ada apa- Yoan... istrimu mau melahirkan. Ayo, cepat kita bawa Dara rumah sakit!!!"


Beberapa saat kemudian. Dara sudah berada di ruang persalinan. Ia berbaring dengan dokter dan perawat di sekitarnya.


Dara menoleh ke samping. Ada suami tercintanya dengan wajah begitu pucat dan khawatir.


"Sayang, kamu akan jadi ibu. Kamu wanita yang kuat!" Yoan menyemangati istrinya itu. Ia mengelap keringat Dara yang membasahi wajahnya. Ia tidak bisa membedakan lagi, itu keringat atau air mata.


"Mas, aku takut..." lirih Dara berucap. Ini pertama kalinya ia melahirkan. Perasaannya tidak menentu.


Dokter pun meminta Dara untuk mengikuti intruksinya.


Dara mulai mengikuti intruksi dokter. Ia mengeratkan tangan Yoan.


"Sayang, ayo sedikit lagi! Mama Dara, putri kita akan segera lahir!" Yoan menyemangati istrinya.


Perasaan Yoan tidak tenang. Istrinya sedang berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan buah cinta mereka. Keringat membasahi wajah Dara, Yoan merasakan kesakitan yang luar biasa yang dialami istrinya.


Dara merasakan rasa sakit yang luar biasa. Terasa seperti tulang-tulangnya berpatahan.


Tarik nafas buang, tarik nafas buang... dan,


Oek...


Oek...


Suara tangisan bayi akhirnya menggema di ruangan itu.


"Sayang, putri kita sudah lahir. Kamu luar biasa, sayang. Kamu hebat!" Yoan menkecupi wajah Dara. Ia bernafas lega, anak mereka sudah lahir. Dan istrinya baik-baik saja.


"Mas Yoan!!! Kita akan jadi orang tua!" Dara memeluk Yoan. Rasa sakit yang seperti mau mati, mendadak sirna karena suara tangisan bayi.


"Sayang, terima kasih... terima kasih!"


Tak lama Dara sudah dipindahkan ke ruang pasien. Ia menatap sendu bayi mungil yang masih memerah dalam gendongannya.


"Selamat datang sayangnya Mama." Ucap Dara pelan. Lalu menciumi sang putri yang begitu anteng dalam gendongannya.


"Halo anak papa, sayang." Yoan juga menyapa putrinya. Ia menkecup sang bayi.

__ADS_1


"Mas, mau gendong?" tanya Dara.


"Aku takut, tulangnya masih rawan." Yoan takut jika ia salah menggendong, akan menyakiti putrinya.


"Pelan-pelan saja, Mas." Dara perlahan memberikan putri mereka ke tangan Yoan.


"Sayangnya papa." Yoan sangat senang menggendong putri mereka. Sang bayi anteng dalam gendongannya.


Para orang tua berdatangan. Mereka senang cucu mereka lahir ke dunia. Dan Dara baik-baik saja.


"Dara, selamat ya nak." Ayah memeluk Dara, putri kesayangannya itu.


"Terima kasih, Kek." Dara menyengir.


"Ayah sudah jadi kakek sekarang!" Ayah jadi tertawa. Ia sangat senang, putrinya sangat bahagia.


"Kamu harus terus bahagia!" pesan Ayah. Ia tidak mau ada kesedihan lagi pada Dara.


"Baik, Yah." Dara akan selalu bahagia. Ada Yoan di sisinya.


Para orang tua bergantian menggendong sang cucu. Sambil membahas nama yang cocok.


Sementara Yoan dan Dara. Yoan menyuapi Dara makan. Istrinya itu tenaganya sudah terkuras habis, jadi harus diisi ulang.


"Mas..."


"Apa, sayang?" tanya Yoan sambil menyuapi.


"Aku mencintaimu." Ungkap Dara.


"Aku juga mencintaimu, sayang." Balas Yoan kembali.


"Terima kasih ya, Mas Yoan. Karena telah memilih menerimaku. Aku sangat bahagia menjadi istrimu." Dara menatap pria yang sangat dia cintainya. Pria satu-satunya pemilik hatinya.


"Sayang, aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu mau menerimaku, mencintaiku, menikah denganku. Bahkan kamu mau melahirkan anakku. Aku sangat beruntung memilikimu." Ungkap Yoan sesuai apa yang dia rasakan.


"Mas Yoan ihh... aku kan jadi baper!!!" Dara jadi malu. Ucapan Yoan sangat manis sekali.


Yoan mengelus kepala Dara dengan sayang. Ia juga melihat para orang tua yang berwajah bahagia dengan kehadiran cucu mereka.


Yoan juga menggeleng, ia tadi melihat bagaimana persalinan Dara yang berjuang sekuat tenaga menahan kesakitan. Kini istrinya itu tersenyum bahagia, seolah lupa rasa sakitnya yang telah dilewatinya.


"Kamu memang seorang ibu yang kuat!" Yoan salut akan istrinya.


"Mama Yoan dan Papa Dara!" ucap Yoan kembali sambil menahan tawanya.


"Ihh, Mas Yoan terbalik loh." Dara mengekrutkan dahinya. Lalu tertawa.


Melihat Dara tertawa Yoan juga ikut tertawa.


"Papa Yoan dan Mama Dara?" tanya Yoan memastikan.


Dara pun mengangguk. "Papa Yoan."


"Iya, Mama Dara."


Keduanya merasa geli sendiri dengan panggilan baru mereka. Mereka kini sudah menjadi orang tua untuk sang putri tercinta.


Dara berharap keluarga kecil mereka akan bahagia selalu. Saling menyayangi dan mencintai selamanya.


***TAMAT***


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2