KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 43 - MENGGEMASKAN


__ADS_3

'Ok. Mari meluncur!' Yoan melihat arlojinya. Sudah pukul 3 sore. Waktu ternyata cepat sekali berlalu.


Yoan bangkit dan akan berjalan keluar ruangan.


"Pak, ada beberapa berkas yang harus anda periksa." Ucap El membawa banyak berkas.


"Letakkan saja di meja. Besok akan saya selesaikan!" ucap Yoan. "Ini sudah waktunya saya pulang!"


Yoan menepuk pundak El pelan, lalu ia kembali melangkah pergi. Ia akan ke swalayan untuk menjemput Dara pulang.


'Kumat lagi?!' El menatap arlojinya yang masih menunjukkan pukul 3 sore.


'Tapi, baguslah. Aku tidak perlu lembur!' El bersorak gembira dalam hati, ia merasa sudah merdeka. El pun masuk ke ruangan Yoan untuk meletakkan berkas tersebut.


Yoan berjalan dengan wajah penuh senyuman. Para karyawan yang berpapasan dengannya, menunduk memberi hormat.


Termasuk Roni yang menundukkan kepala saat mereka berpapasan.


Yoan menyadari karyawan yang baru berpapasan dengannya. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Pak Roni!" Panggil Yoan membuat Roni membalikkan tubuhnya.


"Kerja yang bagus!" ucap Yoan dengan sorot mata yang tajam.


Roni mengangguk pelan. Setelah Yoan berlalu, ia meremas tangannya. Yoan sepertinya sedang mengancam lewat tatapannya.


"Pak Roni ngapain melamun di sini?" tanya Bu Upik melihat Roni berdiri menatap ke depan. Tah siapa yang dilihatnya.


Roni tidak menggubris, ia pun berlalu pergi meninggalkan bu Upik.


"Pak Roni... mau saya buatkan teh atau kopi..." Wanita bertubuh gempal itu mengejar Roni.


Yoan kini sudah naik ke mobilnya. Ia sedikit kesal dengan karyawan yang bernama Roni tersebut. Rasanya ingin memecatnya segera. Tapi, mengingat Roni termasuk karyawan lama di perusahaan itu.


'Akan kubiarkan, selama dia tidak menemui Dara lagi!'


Yoan tidak akan mencampurkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadinya. Jika terpaksa ia baru akan bertindak. Jadi Yoan akan melihat bagaimana ke depannya saja.


'9 tahun? 9 tahun?'


Pria itu memijat pelipisnya. Dara menjalin kasih dengan Roni selama 9 tahunan. Dimulai saat Dara masih duduk di kelas 1 SMA.


Bisa dikatakan Roni itu adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang mendebarkan hati Dara. Yang pertama membuat wanita itu berbunga-bunga. Yang pertama ada di hati Dara. Pertama, pertama dan pertamalah.


'Tidak peduli mau yang pertama. Yang penting aku akan menjadi pelabuhan hatinya yang terakhir!' Yoan menganggukkan kepala, meyakinkan hatinya. Tak penting menjadi yang pertama, yang penting jadi yang terakhir untuk selamanya.


'Apa yang kupikirkan?!' Yoan melihat arlojinya yang sudah pukul 15.30. Ia harus segera meluncur ke swalayan. Dara sebentar lagi akan pulang.


Tak lama Yoan memberhentikan mobilnya di depan swalayan. Ia melihat Dara yang tampak masih sibuk. Ia memilih menunggu di dalam mobil saja.


"Ciye... yang sudah dijemput bebepnya!" ledek Eli melihat mobil hitam sudah terparkir.


Dara pun jadi melihat ke arah depan. Dan benar saja, mobil pria itu sudah di sana. Yoan benar-benar menjemputnya lagi.


"Kak Dara sudah jadian ya?" tanya anak shift siang.

__ADS_1


"Sudah. Semalam saja, kak Dara ditemani seharian kerja!" gosip Eli.


"Eli!!!" Dara menunjukkan taringnya. Temannya ini malah menggosipinya di depannya.


"Wah... Selamat ya kak Dara. Kami tunggu traktirannya!"


"Apaan sih?!" Dara jadi malu. "Nggak usah kalian dengarin si Eli ini. Tukang gosip!"


"Bukan gosip tapi fakta. Lihat itu, kak Dara memang dijemput pria tampan itu!" Eli membela diri.


"Kak Dara nanti kalau sudah jadi orang kaya, jangan lupakan aku ya."


Dara melihat rekan kerjanya itu dengan wajah aneh. Tah apa yang mereka katakan.


"Sudahlah. Aku mau pulang!" Dara sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia pun berjalan menuju pintu belakang.


"Yang nggak sabaran ketemu ayang beb...!"


"Kak Dara langsung pulang ya. Jangan belok-belok lagi!"


"Nggak apa sih, kalau beloknya ke KUA!"


Dara berhenti dan menoleh ke belakang, mereka puas sekali meledeknya. Dara menunjukkan wajah sinisnya. Lalu berjalan kembali. Ia akan mengambil tasnya.


Tak lama Dara keluar dari pintu khusus karyawan dan kaget melihat Yoan berdiri di depan meja kasir. Pria itu terlihat akrab mengobrol dengan rekan kerjanya.


Yoan tersenyum melihat Dara yang berjalan menghampirinya.


"Ini untukmu!" Yoan memberikan bungkusan berisi semangkuk es krim.


"Ayo, kita pulang!" ajak Yoan. Dara mengangguk pelan.


"Aku duluan!" pamit Dara pada mereka.


"Kami duluan ya." Yoan juga pamitan.


"Iya hati-hati di jalan ya."


"Terima kasih buat es krimnya." Mereka juga ditraktir es krim oleh Yoan. Meskipun tidak sebesar yang diberikan pada Dara.


"Bang Yoan sukses ya!"


"Kami doakan kalian berjodoh!"


Dara melihat mereka dengan wajah kesal. Tapi mereka malah tertawa-tawa. Sepertinya puas sekali menggoda dirinya.


Sementara Yoan tersenyum-senyum sambil mengaminkan. Ia juga sangat berharap berjodoh dengan Dara.


Di perjalanan, Dara melahap es krimnya.


"Anda mau?" tanya Dara pada Yoan yang sedang menyetir.


Yoan menggeleng. "Tidak, kamu habiskan saja."


Dara kembali melahap es krimnya. Rasa dingin dan manis terasa di lidahnya.

__ADS_1


"Kamu mau es krim lagi?" tanya Yoan melirik mangkuk es krim yang telah bersih.


"Ti-tidak usah. Nanti aku bisa gemuk!"


"Ya nggak apa gemuk. Jadi nanti aku enak meluknya!" Yoan melirik Dara yang sudah memasang wajah kesal karena perkataannya.


"Tolong anda jangan gatal!" ucap Dara.


"Kalau gatal itu ya digaruk!" ledek Yoan kembali.


Dara mendengus lalu membuang wajahnya. Ia kesal pria itu selalu meledeknya.


"Aku pasrah kok, kalau kamu yang garuk!" Yoan masih menggoda wanita itu.


"Ja-jangan macam-macam!" Dara melihat pria itu dengan wajah serius.


"Dara... Dara... lucu banget sih kamu!!!" Yoan mencubit pipi Dara. Wanita itu memang sangat menggemaskan di matanya.


"Sakit tahu!!!" Dara memegangi pipinya yang sudah memerah karena dicubit Yoan.


"Sayang, kapan aku boleh ke rumah kamu?" tanya Yoan setelah memberhentikan mobilnya di tempat biasa.


"Sayang-sayang-sayang, siapa yang anda panggil sayang?!" Dara kesal. Pria itu sangat fasih dan tanpa canggung memanggilnya begitu.


"Kamulah. Siapa lagi memangnya kesayanganku!!!" Yoan kembali mencubit pipi Dara. Kali ini dengan kedua tangannya mencubit pipi kanan dan kiri Dara.


"Aduh, lepas!"


"Lucu banget sih kamu!" Kini Yoan merapatkan telapak tangannya, membuat wajah Dara jadi mengkerucut.


"Tolong lepas!" Dara mencoba menjauhkan tangan Yoan darinya. Dan malah pria itu menyatukan tangan mereka.


Dara terpaku sejenak, saat tangannya dicium pria itu.


"Aku mencintaimu!" ungkap Yoan menatap mata Dara. Menatap dengan tatapan yang mendalam.


Perlakuan Yoan saat ini, membuat hati Dara sedikit berdesir.


Perlahan Yoan mendekatkan wajahnya. Perlahan mendekat dan semakin mendekat. Makin mendekat hingga merasakan hembusan nafas Dara di wajahnya. Dan...


'Ada apa ini?!' Dara tersadar. Wajah pria itu kini terlalu dekat dengannya.


"Jangan cari kesempatan!!!" Dara menjauhkan wajah Yoan dengan tangannya. Ia menyesali diri, yang terpaku sesaat dalam pesona pria itu.


"A-aku pulang!" Dara membuka pintu dan segera turun dari mobil. Ia terus berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi.


Yoan menghela nafasnya dengan kasar. Hampir saja ia dapat merasakan bibir kemerahan itu.


'Dara... Dara!!!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2