KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 36 - KESEMPATAN


__ADS_3

Setelah malam itu, Yoan tidak pernah mendatangi Dara lagi. Wanita itu terus menerus menolak dan menghindarinya.


Yoan mulai menyibukkan dirinya dengan banyaknya pekerjaan kantor. Ia sangat rajin dan giat, hingga tiap hari pulang dari kantor selalu gelap.


"El... Ayo, kita pulang!" Ajak Yoan. Pria itu bersiap untuk pulang.


"Ba-baik, Pak." Jawab El dengan mata sayupnya. Setiap hari ia harus lembur dengan atasannya itu. Yoan tidak pernah pulang pukul 3 sore lagi, tapi di atas pukul 7 malam. Dan bagi El, itu sungguh melelahkan.


Yoan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam.


Deringan ponsel membuat Yoan yang sedang menyetir melirik sejenak. Ternyata sang Mama yang menelepon.


Saat tiba di rumah, Yoan segera turun dari mobil. Ia akan membersihkan diri, makan lalu tidur. Besok pagi ia harus ke kantor kembali. Begitulah rutinitasnya selama ini.


"Yoan, kenapa kamu nggak angkat telepon Mama?" tanya Mama begitu Yoan masuk.


"Maaf, Ma. Tadi aku lagi di jalan." Jawab Yoan. "Ma, aku ke kamar ya."


Keesokan harinya, Yoan turun untuk sarapan. Pria itu sudah rapi berpakaian kantor.


Papa dan Mama memasang wajah kaget melihat sang putra.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mama bingung.


"Mau ke kantor." Jawabnya sambil mendudukkan diri.


"Kantor? Bukannya ini hari minggu?" tanya Papa sama bingungnya dengan Mama. Apa selama Yoan yang menjabat, tiada lagi hari libur di sana?!


Yoan diam mencerna perkataan itu. "Apa ini hari minggu?" tanyanya bingung sambil meraih ponsel.


Mama mengangguk.


"Haha... Sepertinya aku terlalu bersemangat!!!" Yoan jadi nyengir sendiri. Terlalu bersemangat membuatnya jadi melupakan hari.


Papa dan Mama malah menatap putranya dengan wajah aneh.


"Yoan, karena hari ini hari minggu. Nanti sore kamu ketemuan sama Leony ya. Kalian bisa nonton, makan atau kamu ajak dia kemari." Bujuk Mama kembali mencomblangi Yoan.


"Aku sibuk, Ma." Tolak Yoan sambil melahap sarapannya.


"Sebentar saja. Leony itu cantik, baik hati dan tidak sombong. Dia-"


"Ma!!! Aku tidak mau!!!" Yoan tetap menolak.


"Harus mau!"


"Tidak."


"Mau."


"Tidak."


"Mau."


Papa yang berada di tengah-tengah perdebatan itu, jadi menggelengkan kepala. Kedua orang itu sangat keras kepala.


"Sudahlah sudah!!!" Papa terpaksa menengahi keduanya. Jika tidak, akan berlanjut ke part 2-nya.


"Yoan, sekali-kali nurut sama Ma." pinta Mama kembali.

__ADS_1


"Tapi, Ibu Yumi-"


"Nurut Yoan!!!" taring Mama seakan mau keluar.


Yoan tetap menggeleng.


"Nggak ada tapi-tapi. Besok kamu temui Leony. Kalau tidak Mama akan..." Ibu Yumi tampak berpikir sejenak, ia akan apa.


"Akan... akan Mama makan Papa kamu!!!"


Yoan jadi terkekeh geli. Mamanya ada-ada saja, masa mengancamnya seperti itu.


Sementara Papa mengelus dadanya. "Astaga, Ibu Yumi terlalu!!!"


\=\=\=\=\=\=


Yoan sampai di sebuah kafe tempat janjiannya dengan wanita yang akan dikenalkan dengannya. Pria itu terpaksa, karena jika tidak dituruti, ibu Yumi akan marah dan ngambek padanya.


Rencananya Yoan akan menemui wanita itu sebentar. Lalu segera pulang. Ibarat hanya mengabsen muka saja.


Setelah masuk, Yoan mengedarkan pandangannya mencari wanita itu. Ia pun merogoh ponselnya.


"Aku sudah sampai. Kamu di mana?" tanya Yoan saat ponsel menempel di telinganya.


"Sebentar ya. Aku masih di jalan. 10 menit lagi sampai. Kamu tunggu sebentar ya." Jawab wanita itu dari sana.


Yoan mengangguk dan mengakhiri panggilannya. Matanya mencari tempat kosong. Ia akan duduk dulu sambil menunggu.


Yoan sudah duduk. Tatapan matanya jadi fokus pada satu tempat.


'Dara!!!' Batin Yoan melihat Dara ada di sana.


Pria itu tersenyum tipis, tapi tak lama senyumannya pudar saat melihat ada pria di hadapan wanita itu.


'Dia sedang kencan!' Yoan mengangguk paham. Ia pun meraih ponsel sambil menunggu Leony datang.


Mata Yoan tidak bisa fokus pada ponsel, ia malah kembali melihat ke arah Dara. Di matanya, Dara selalu bersinar.


'Dia makin cantik!!! Kalau aku diberi kesempatan memilikinya, aku tidak akan melepaskannya!!!'


Yoan berharap seperti itu. Tapi itu hanya harapannya. Kenyataannya Dara telah bersama pria lain.


'Apa aku harus menyapanya? Anggap saja perpisahan!' Yoan merasa harus seperti itu. Agar ia bisa merelakan Dara.


Pria itu bangkit dan berjalan ke arah meja Dara.


Yoan sedikit bingung, Dara juga bangkit. Wanita itu akan pergi, tapi tangannya ditahan pria itu. Sepertinya mereka sedang bertengkar.


"Dara..." Panggil Yoan saat ia sudah dekat.


Saat itu Dara tampat terkejut melihatnya. Lalu wanita itu kelihatan bingung. Dara melihatnya dan pria itu bergantian.


Lalu wanita itu menghampirinya.


"Sayang."


'Sayang!!!' Yoan bingung sekaligus senang, Dara memanggilnya sayang. Bahkan tangan mungil itu memeluk lengannya.


"Ini... calon suamiku!" ucap Dara kembali.

__ADS_1


Yoan melihat Dara dengan tersenyum. Wanita itu mengklaim dirinya calon suami, di depan pria itu.


'Calon suami?!' Yoan mulai mengerti, Dara sepertinya sedang memanfaatkannya untuk lepas dari pria itu. Pacar, teman, atau apalah hubungan Dara dengan pria itu? Sebagai pahlawan tampan, ia akan menyelamatkan Dara. Ya, Yoan akan mengikuti Drama wanita itu.


"Sayang, maaf ya aku telat." Yoan meraih tangan Dara dan menggenggamnya dengan erat.


Yoan memanfaatkan situasi. Ia sangat bahagia menggenggam tangan Dara. Jika Dara tidak terpaksa seperti ini. Jangankan menggenggam tangannya, hanya menyapa saja wanita itu sudah marah.


Ekpresi Dara cukup kaget. Tapi dengan cepat berusaha terlihat biasa. Ia tidak ingin Roni curiga. Setelah melihat calon suami pura-puranya ini, Roni pasti tidak akan mengganggunya lagi.


"Nggak apa kok, sayang." Ucap Dara sambil tersenyum manis.


Deg


Deg


Deg


Hati Yoan berdebar kencang melihat senyuman itu. Wanita itu tersenyum padanya.


"Aku merindukanmu!" ungkap Yoan memandang Dara, lalu ia mendaratkan satu kecupan di pipi kanan Dara.


Dara terpaku sejenak atas perlakuan Yoan. Lalu ia segera sadar, jika pria ini sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Sayang aku lapar!" Alasan Dara. Ia ingin mengakhiri sandiwara ini. Tapi tidak mungkin di tempat ini.


"Baiklah. Kamu mau makan apa?" tanya Yoan seraya menepikan rambut Dara ke telinga.


"Martabak." jawab Dara. "Maaf, aku harus pergi." Ucap Dara pada Roni yang masih diam menatap mereka. Dara segera menggandeng Yoan keluar dari kafe tersebut.


'Pak Yoan?' Roni tersenyum tak percaya calon suami Dara adalah atasannya di kantor.


Roni menggeleng masih tidak yakin. Dara akan menikah dengan Yoan. Orang nomor satu di perusahaannya.


Sementara setelah sampai di luar kafe.


"Kenapa langsung pergi? Aku belum menyapa temanmu!" ucap Yoan setelah Dara membawanya begitu saja.


"Ma-maaf. Aku tadi terpaksa. Maaf aku melibatkanmu." Dara akan melepaskan genggaman tangan mereka. Dan Yoan malah menahannya untuk tidak lepas.


"Dia masih melihat kita!" Yoan mengingatkan. Sepasang mata sedang melihat mereka.


"Ayo!!! kita makan martabak!" Yoan kembali menarik Dara.


"Tu-tunggu." Dara menahan.


"Kenapa?"


"Itu..."


"Itu apa?"


"Lemon tea... belum bayar!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2