
Bukan hanya Amel yang terkejut. Bahkan Angga dan Bima juga tampak kaget dengan apa yang mereka lakukan. Keduanya hanya saling pandang dengan sorot mata aneh sebelum mengibaskan tangan Amel secara bersamaan.
“Kau sudah ada disini,” kata Angga pelan. “Jadi makan saja dulu. Baru kemudian pulang. Bima teman sekelasmu
kan?”
“Lakukan saja apa yang mau kalian lakukan,” sahut Amel dingin. “Tidak usah perdulikan aku.”
“Siapa yang perduli padamu?” tukas Angga tidak kalah dinginnya. “Teman-temanmu akan menyalahkan aku kalau kau pulang sekarang tanpa makan.”
Amel menatap Angga kesal. Sementara beberapa teman mereka melambaikan tangan memanggilnya.
“Tadi pagi aku tidak mengingatmu,” kini giliran Bima yang bicara. “Aku mengerti jika kau malu dan tersinggung atas sikapku.”
Pelan, sebuah senyum ramah muncul dibibir cowok itu. “Ayo, duduk.”
Semua hal yang ada disana malam itu, membuat Amel tidak nyaman. Bahkan Bima yang mencoba untuk bersikap baik padanya. Tapi apa dia menganggapnya sebodoh itu?
“Tidak masalah jika kau tidak mengingatku,” sahut Amel dingin.
“Ternyata kau pendendam,” guman Bima dan mendapat lirikan tajam dari Amel.
Bima tersenyum, “Aku kan sudah minta maaf. Ayolah ikut makan bareng-bareng.”
“Apa-apaan sih ini?” gerutu Felisha tidak senang. “Kenapa kita harus bersama-sama dengannya? Angga. Bukannya kau bilang yang terjadi tadi pagi adalah kecelakaan?”
Angga tidak mendengarkan omelan Felisha. Ia lebih sibuk mengawasi Amel dan Bima bergantian dengan tatapan aneh. Ia sudah meyakinkan dirinya tidak tertarik pada Amel. Tapi kenapa ia merasa sesuatu dalam dirinya tersikut melihat senyuman hangat Bima pada Amel?
“Dia benar. Itu memang kecelakaan,” kata Amel membenarkan dengan dingin.
Jadi benar karena ciuman itu, batin Angga. Ia tidak bisa menyanggahnya, ia juga nyaris membenci dirinya
sendiri karena tindakan impulsifnya.
“Iya, Fel,” sambung Natasha ikut nimbrung. “Amel tidak mungkin suka sama Angga. Itu sama dengan menunggu hujan I-phone dari langit. Jadi berhentilah mengganggunya. Kalian berdua juga. Jaga jarak kalian.” Sambil mengacungkan jari tengahnya kearah Angga dan Bima, Natasha menggamit lengan Amel. Menariknya kearah teman-teman sekelas mereka.
Felisha masih tidak puas dengan jawaban itu. Meski Angga dan semua orang mengatakan ciuman tadi pagi hanyalah sebuah kecelakaan, ia tetap tidak suka melihat sorot mata Angga saat menatap Amel. Keberanian
gadis itu saat melawan Angga benar-benar tidak terduga dan Felisha khawatir itu justru menaikkan nilai gadis itu dimata Angga.
Angga tidak terbiasa ditolak dan sepertinya Amel adalah gadis pertama yang terang-terangan tidak tertarik padanya.
Sementara itu Amel merasa sedikit lega karena ada banyak teman-teman sekelasnya yang ada disana. Dia memang bukan cewek populer namun anak-anak di kelasnya cukup solid dan baik. Kecuali Bima tentu saja. Ia masih tidak percaya Bima tidak mengenalinya saat bertemu dengannya. Dia hanya tidak mengerti alasannya kenapa Bima seperti itu.
Kalau saja tidak ada Angga dan Felisha yang duduk tepat diseberangnya mungkin malam itu akan berjalan dengan lebih baik. Meski sedikit berisik karena alunan musik yang sangat keras diruangan atas, makanannya sangat lezat.
Felisha tidak berpura-pura senang dengan keberadaannya disana. Sementara Angga… cowok itu pasti sangat
membencinya mungkin sama tidak senangnya.
“Jadi… Bima. Kenapa kau pindah ke sekolah kami?” tanya Natasha suatu saat. “Waktunya nanggung banget. Udah di kelas akhir.”
Amel mengangkat wajahnya, ikut penasaran. Tanpa sengaja ia kembali bersitatap dengan Angga yang tengah
menatapnya dengan wajah merenung. Beberapa saat keduanya terperangkap dalam pandangan.
Angga mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.
Dengan kesal Amel juga mengalihkan tatapannya kearah Bima. Ia kembali tertegun saat menemukan Bima juga tengah memandanginya. Lagi-lagi—entah hanya perasaannya atau bukan—ia seperti melihat sorot mata yang begitu dingin dikedalaman mata yang tajam itu.
Tapi kemudian Bima tersenyum cerah saat menjawab pertanyaan Natasha. ‘Karena seseorang.”
“Seseorang?” Amel menggumankan kata itu pelan.
“Yang jelas orang itu bukan kau,” Felisha rupanya mendengarkan ucapan lirihnya.
“Hei, kenapa sih kau jahat banget Fel?” Natasha tidak rela Felisha terus menerus menyerang sahabatnya. “Karena dia berciuman dengan pacarmu tadi pagi? Aku lihat sendiri kok bukan Amel yang memulai. Kalau mau marah, marah saja padanya.”
“Ber…. ciuman?!” Bima terdengar kaget.
Amel merasakan wajahnya membara saking malunya. “Natasha, apaan sih?”
__ADS_1
“Habis, si bangsat ini tidak bisa menjaga mulutnya,” gerutu Natasha lirih.
“Hei! Aku dengar apa yang kau katakan,” jengkel Felisha.
Angga menghela nafas panjang. “Sudahlah. Kalian akan berantem terus? Felisha, diamlah.”
“Ya ampun. Ini memalukan,” bisik Amel. “Aku… aku akan ke toilet sebentar.” Amel buru-buru berdiri dan
meninggalkan meja.
Dengan menghela nafas, Angga melepaskan tangan Felisha yang sejak tadi mencengkeram lengannya. Kenapa ia harus bertemu dengan Amel disini? Memangnya siapa cewek itu hingga membuat dirinya kesal begini?
Ditambah lagi ia tidak suka melihat tatapan Bima diam-diam selalu mengikuti Amel. Entah apa isi kepala anak
itu. Tidak mungkin Bima menyukai Amel karena dia malah menyuruhnya mengencaninya. Tapi kenapa?
Sementara itu Amel yang telah menenangkan dirinya kembali masuk. Ia memutuskan untuk pergi. Ia mencari
Natasha untuk berpamitan. Amel mengedarkan tatapannya, mencari-cari diantara remaja yang sedang duduk-duduk di tempat makan. Ia tidak menemukan Natasha. Ia beranjak naik ke lantai dua dimana, di antara orang-orang yang sedang melantai, mengayunkan badannya mengikuti alunan musik. Namun ia tidak menemukan
sahabatnya itu dimanapun.
Ia kembali turun dan berpapasan dengan Angga. Mereka bertemu pandang sekilas, namun Amel buru-buru mengalihkan pandangannya dan melewati Angga begitu saja.
Angga menghela nafas panjang dan meraih tangan Amel. “Ayo kita bicara.”
Amel mengibaskan tangan Angga dan terus beranjak turun. “Aku tidak mau bicara denganmu.”
“Kau mencari Natasha?” tanya Angga.
Amel berhenti dan setengah berbalik menatap Angga. “Ya.”
“Dia barusan dapat telpon dari rumah. Ibunya sakit.”
Amel meraih kedalam tas kecilnya dan mengambil hapenya. Ada pesan dari Natasha. “Aku pulang dulu Mel, mama sakit.”
Tanpa bicara lagi Amel kembali turun diikuti tatapan Angga.
Amel terus berjalan lurus menuju pintu keluar. Namun tepat sebelum ia keluar seseorang kembali menarik tangannya. Ia berfikir itu Angga, “Sudah kubilang aku tidak mau bicara denganmu!”
Bukan Angga tapi Bima.
“Oh, maaf. Kupikir…” Amel menghentikan dirinya sebelum menyebut nama Angga. “Ada apa?”
“Mau kemana?”
“Pulang. Natasha sudah pergi jadi aku…”
“Ya, mamanya sakit. Mau ngobrol sebentar denganku?”
Amel menatap cowok itu ragu.
“Sebentar saja. Anak-anak semuanya sudah akrab. Aku duduk sendirian seperti orang bodoh.
“Kupikir kau akrab dengan Angga.”
“Dia bersama Felisha.”
Amel ragu-ragu.
“Dan … aku berhutang maaf atas kejadian tadi pagi.”
“Baiklah.”
Bima tampak senang. Kemudian ia menggiring Amel ke sebuah meja khusus untuk dua orang.
“Ada masalah apa antara kau dan Angga?” tanya Bima begitu mereka duduk.
“Jangan tanyakan.”
Bima tersenyum. “Saat ketemu di bus kau bilang tidak menyukainya. Tapi kenapa ada masalah ciuman itu?”
__ADS_1
Amel merasa wajahnya kembali merona. “Itu… bedebah itu. Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya. Bisakah kita bicara hal lain?”
“Baiklah. Tunggu sebentar,” Bima menatap ke arah counter minuman. “Aku akan pesan minum. Kau mau minum apa?”
Amel mengipasi wajahnya yang panas.
“Apa saja asal dingin. Terima kasih.”
Bima berlalu, meninggalkan Amel sendirian. Ia tidak suka tempat ini, putusnya dalam hati. Menurutnya tempat
seperti ini hanya cocok untuk orang-orang yang lebih dewasa dan bukannya remaja-remaja usia sekolah seperti mereka.
“Ya ampun, kau masih disini?”
Amel terksiap. Angga sudah berdiri di sebelahnya.
“Sudah, jangan hiraukan aku. Lewat saja kalau mau lewat dan berpura-puralah tidak melihatku. Aku toh tidak
menghalangi jalanmu,” katanya ketus.
“Apa kau bermasalah dengan perhatian orang lain?”
“Tidak. Apa kau sedang perhatian padaku sekarang?”
Ucapan itu membuat Angga tertegun beberapa, “Tempat ini tidak cocok untukmu. Lebih baik kau cepat pulang.”
Amel hendak menyahut, namun pada saat yang sama Bima dan Felisha sama-sama muncul dari arah yang berbeda.
“Ada apa?” tanya Bima. “Angga. Kau mau bergabung?”
Angga menatap Bima tajam. “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Memangnya kau pikir apa? Kami teman sekelas sekarang. Aku hanya berusaha mencari teman.”
Felisha, yang beberapa saat hanya diam mendekat. Dengan posesif ia menggandeng lengan cowoknya itu. “Ayo, Ngga. Kita pulang sekarang. Kita harus belajar untuk besok kan?”
Angga tampak ragu sebentar namun kemudian membiarkan Felisha menariknya.
“Tidak usah difikirkan. Angga sudah tidak menyukai Felisha lagi. Hanya saja Felishanya yang susah untuk
menerima kenyataan dirinya dicampakkan.”
“Apa?” Amel menatap Bima tak percaya. “Aku tidak perduli dengan mereka.”
Bima menaruh segelas air putih dan sekaleng softdrink didepan Amel. Merasa panas, Amel langsung menyambar gelas dan meminumnya hingga habis. Didepannya Bima hanya tertegun menatapnya dan tersenyum tipis. “Kau benar-benar marah padanya.”
“Kau tinggal dimana?” tanya Amel, tidak ingin menjawab pertanyaan Bima.
“Didekat sini,” sahut Bima singkat. “Kau anak tunggal?”
Amel menatap Bima dan merasa kepalanya sedikit pusing. “Benar. Bagaimana kau tahu?”
“Hm.”
Amel mendesah dan memijit keningnya.
“Kalau saja aku punya saudara…” kata Amel menggantung.
“Kenapa?”
Amel menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir rasa pusing yang menderanya.
“Hah? Tidak.”
“Bukannya enak menjadi anak tunggal?”
Tatapan Amel menerawang, mengingat bagaimana sepinya rumah saat papanya terlalu sibuk dengan kerjanya di
rumah sakit dan juga mengurusi klinik yang didirikannya bersama beberapa dokter-dokter spesialis rekannya hingga jarang sekali pulang kerumah. Begitu juga dengan ibunya yang selalu ‘sibuk’ dengan kegiatannya sendiri hingga Amel lebih sering sendirian daripada berkumpul bersama kedua orang tuanya.
“Enak apanya? Aku ingin punya… saudara yang banyak.” Amel kembali menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bintang-bintang yang berbutar cepat dikepalanya. “Banyak sekali…. Aduh. Pusing sekali. Minuman apa yang kau berikan padaku?”
__ADS_1
Bukannya menjawab, Bima hanya duduk diam sambil tetap memperhatikannya ketika sedetik kemudian perlahan tubuh Amel menjadi layu dan dengan perlahan kepalanya terkulai dan terhempas diatas meja.
Dengan tenang Bima mengambil softdrinknya dan meminumnya.