KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 51 - MAS


__ADS_3

Hari ini Yoan sangat bahagia, Dara mau berkencan dengannya. Ia akan menghabiskan waktu berdua dengan wanita itu.


Kini tepat pukul 3 sore, pria itu beranjak meninggalkan ruangannya. Ia harus segera menemui bidadari pencuri hatinya.


Pria itu berjalan dengan wajah full senyum, menuju mobilnya yang terparkir.


Setelah masuk ke dalam mobil. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah dibawanya dari rumah. Ia tak mau menukar pakaiannya saat masih di dalam kantor, bisa jadi perhatian para karyawan.


Dan jika ia pun pulang ke rumah, sudah pasti memakan banyak waktu. Daranya pasti akan lama menunggunya. Ia tidak boleh membuat wanita cantik itu menunggu.


Pria itu juga menyisir rambut dan memakai gel rambut. Lalu ia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.


'Ok!!! aku memang tampan!' puji Yoan pada diri sendiri, melihat dirinya di kaca spion. Walau belum mandi, penampilannya tetap mempesona.


'Memang bibitnya pak Dana sangat unggul!' Yoan memaklumi saja, ketampanan dirinya warisan dari papanya. Ketampanan yang sangat hakiki.


'Ayo kita kencan!' Yoan pun perlahan mulai melajukan mobilnya.


Tak lama pria itu telah sampai di depan swalayan. Ia melihat Dara yang tampak sangat sibuk di dalam.


Sambil menunggu waktu, ia melihat ponselnya.


'Cantiknya kamu!' puji Yoan menzoom foto profi Dara. Memandangi wajah cantik dalam layar kaca ponsel.


'Tidak besar tidak kecil juga. Sangat pas dalam genggaman!' Pria itu mulai menzoom ke arah bawah. Fokus melihat area menonjol tersebut.


"Maaf, membuat anda menunggu!" ucap Dara saat masuk ke mobil.


"Astaga!!!" Yoan sangat terkejut, hal tersebut membuat ponselnya terlepas dari tangan. Dara tiba-tiba saja sudah ada di dalam mobilnya.


"Ke-kenapa anda sekaget itu?" Dara bingung melihat Yoan yang kaget.


"Ti-tidak apa!" Yoan menggoyangkan tangan, ia pun segera mengambil ponselnya yang jatuh.


"Pecah layarnya?" tanya Dara.


"Tidak. Tidak apa! Paling lecet saja." Yoan segera menyimpan ponsel dalam saku.


"Ki-kita mau ke mana ini?" tanya Dara sedikit gugup.


"Mau nonton?" tanya Yoan.


"Boleh." Dara mengangguk.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang!"


Yoan mulai melajukan mobil menuju ke bioskop. Sepanjang perjalanan, ia terus menerus melirik Dara.


'Yoan!!! Jaga matamu!!!' Ia sangat keseringan melirik ke area pegunungan tersebut.


"Ke-kenapa? apa anda sakit?" tanya Dara melihat Yoan yang tampak sangat gelisah.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak apa-apa!" Yoan memfokuskan mata kembali pada jalanan, matanya tidak boleh jelalatan terus.


Yoan memarkirkan mobilnya saat sampai di bioskop.


"Ayo!" ajak Yoan sambil meraih tangan Dara. "Kamu mau nonton film apa, sayang?"


"Hmm... apa ya?" Dara juga bingung. "Nanti di sana kita lihat film apa saja!"


Yoan tersenyum. Kita, kita, kita... kata itu seolah memastikan mereka telah bersatu. Ia pun menggandeng tangan Dara memasuki gedung bioskop.


"Sayang, kita nonton film horor saja!"


"Boleh." Jawab Dara.


Yoan mengangguk. "Tunggu sebentar ya, aku beli tiket dulu!"


Tak lama, mereka sudah duduk di dalam bioskop. Film sebentar lagi akan segera diputar.


"Ra..." Panggil Yoan menatap Dara. "Aku panggil kamu, Ra saja ya?" tanya Yoan.


"Terserah anda saja!" Dara tak masalah mau dipanggil apapun.


"Tapi... aku panggil sayang sajalah. Soalnya, aku sayang sama kamu." Yoan menaikkan alisnya. Dan membuat Dara melihatnya dengan wajah malas.


"Kitakan mau nonton horor, kalau nanti adek takut. Adek bisa peluk Babang tampan ini." Cengir Yoan sambil membayangkan Dara yang pasti akan ketakutan. Wanita kan takut nonton film horor.


"Aku tidak takut!" Dara membenarkan posisi duduknya. Ia sama sekali tidak takut dengan film horor.


"Filmnya akan dimulai!" Dara mengingatkan, lalu fokus pada layar. Lampu ruangan perlahan mulai padam.


Walau dalam gelap, Yoan masih bisa melihat wajah Dara. Wanita itu sangat cantik. Walau wajahnya kadang dingin dan jutek.


Dara yang sedang menonton, merasakan genggaman tangan pria itu. Tangan kekar dengan genggaman cukup erat tapi terasa begitu hangat.


'Yoan!' Dara tersenyum tipis, saat mengingat kembali pria tidak waras yang mengajaknya menikah di pinggir jalan. Dan kini ia malah percaya pada pria itu.


'Apa dia tidak takut?' Yoan menggeleng melihat Dara.


Wanita itu santai saja menonton film horor yang begitu menyeramkan tersebut. Padahal teriakan histeris penonton yang lain saling bersahutan.


"Kamu nggak takut?" tanya Yoan setengah berbisik.


Dara menggeleng. "Aku sudah katakan aku tidak takut."


Sampai film berakhir, tak ada sedikitpun ketakutan di wajah Dara, apalagi teriakan.


"Film sudah selesai." Ucap Dara sambil bangkit.


Dengan malas Yoan pun bangkit. Ia sudah kecewa. Tadinya ia sengaja mengajak Dara menonton horor, agar mereka semakin dekat. Tapi ternyata zonk. Wanita itu bukan penakut.


"Ayo jalan!" Dara meraih tangan Yoan.

__ADS_1


Melihat tangan Dara memegang tangannya, pria itu pun kembali bersemangat. Ia pun mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Ra, kita makan dulu ya. Baru pulang." Ajak Yoan.


"I-iya." Jawab Dara memalingkan wajahnya. Ia mulai mendadak malu, karena mereka kembali berjalan sambil bergandengan tangan.


"Kita mau makan di mana?" tanya Yoan.


"Ada kafe baru buka-"


"Ok. Kita meluncur ke sana." Sela Yoan dengan cepat.


Yoan bersemangat membawa Dara ke kafe baru itu.


Sampainya di kafe tersebut, wajah Dara ditekuk. Kafenya ternyata sudah tutup, padahal masih pukul 8 malam.


"Mas, kenapa sudah tutup ya?" tanya Yoan yang sengaja turun. Ia bertanya pada pelayan yang sedang beres-beres.


"Maaf, Mas. Stok bahannya sudah habis, Mas." Jawab pelayan tersebut.


"Oh iya. Ya sudah tidak apa!" Yoan mengangguk mengerti. Karena kafe baru buka, pasti banyak pengunjung. Mengingat banyak promonya.


"Sayang, kita cari tempat makan lain saja ya." Ucap Yoan saat masuk ke mobilnya.


Dara mengangguk pelan. "Kita ke arah sana saja. Ada warung bakso enak di sana."


Yoan setuju dan melajukan mobilnya ke arah yang dikatakan Dara.


"Ra, inikan jalan pulang ke rumah kamu?!" tanya Yoan mengikuti arah yang ditunjuk wanitanya.


"Dekat rumahku ada warung bakso. Hah itu dia warungnya. Berhenti di sana saja." Tunjuk Dara pada warung bakso di pinggir jalan.


"Ayo, Mas!" Ajak Dara sambil turun dari mobilnya.


Begitu turun, Dara berkali-kali menghembuskan nafasnya pelan. Bisanya ia malah memanggil Yoan dengan sebutan Mas.


"Ayo sayang, Mas-mu ini sudah lapar!" ajak Yoan begitu turun dari mobil. Ia senang Dara memanggilnya Mas. Panggilan Dara yang terdengar sangat istimewa.


"I-itu tadi salah ucap!" Dara membenarkan perkataannya.


"Iya, salah ucap. Aku mengerti kok, pasti tadi kamu mau bilang ayo Mas Yoan tampan..." Ledek Yoan dengan tersenyum lebar.


Dara mendengus dan berjalan masuk ke warung bakso. Pria itu tingkat kepedeannya sangat di atas rata-rata.


"Sayang, tunggu Mas Yoan tampan-mu..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2