
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa tahun yang lalu...
"Yoan!!! Ayo bangun!!!" pinta Mama menggoyangkan tubuh sang putra.
"Ibu Yumi. Aku masih ngantuk!!!" Yoan kembali menutupi diri dengan selimut.
"Bangun Yoan!!! Ayo, temani Mama arisan!"
"No, Ma."
"Ayo, Yoan!"
"Tidak, Mama!"
"Yoan!!!"
Yoan Perdana Putra, pria penggila kerja. Setiap hari ia hanya fokus bekerja. Ia tidak tahu tentang dunia, yang dia tahu hanya pekerjaan dan setelah itu tidur. Bahkan untuk bertemu dengan teman-temannya, hanya sesekali. Itu pun jika ia sempat dan mau.
Yoan sudah berumur 27 tahun. Ibu Yumi tidak pernah melihat Yoan memperkenalkan atau membawa wanita ke rumah.
'Apa putraku membelok?!' batin Yumi bertanya-tanya.
Ibu Yumi tidak mau Yoan seperti itu. Mungkin Yoan tidak paham cara mendekati wanita, biar saja ia sebagai ibu yang akan menjadi perantara. Alias mak comblang.
"Ma, untuk apa aku ikut arisan?" tanya Yoan dengan wajah kesal. Arisan, Mama pasti membawanya ke arisan ibu-ibu sosialitanya.
"Tampannya putraku!" puji Yumi tersenyum melihat putranya. Yoan sudah berpakaian rapi dan aura ketampanannya membuat silau. Pasti tidak ada wanita yang bisa menolak pesona putranya.
"Mama nggak punya teman ke sana."
"Ajak Papa saja."
"Papa banyak urusan. Sudah ayo!"
Yoan dengan terpaksa menuruti keinginan Ibu Yumi. Ia diperkenalkan dengan ibu-ibu se-genk Mamanya itu.
Bukan hanya ibu-ibunya, bahkan dengan anak perempuan mereka.
"Ada wanita yang kamu suka? biar Mama urus!" bisik Mama pada putranya.
Yoan melihat Ibu Yumi. Ia mengerti ternyata ini alasan Mamanya membawa ke tempat ini. Ternyata oh ternyata...
Yoan memilih duduk menjauh, ia tidak mau dekat Mamanya. Saat ia duduk ada saja wanita yang menyamperinya dan selalu Yoan acuhkan. Sehingga mereka pergi dengan sendirinya.
'Aku pulang sajalah!' Yoan merasa tempat keramaian ini sangat tidak cocok dengannya.
Saat ia bangkit, matanya tertuju pada sosok yang berjalan menuruni tangga.
'Cantik!' batin Yoan terpesona. Mata Yoan tidak lepas melihat wanita itu. Sangat cantik dan begitu anggun.
Wanita itu berkumpul dengan ibu-ibu. Lalu tak lama, ia datang bersama Mama dan temannya Mama.
Dag dig dug...
Yoan merasa hatinya berdebar-debar. Kenapa wanita itu berjalan ke arahnya? Apa mau menemuinya? Atau menemui orang yang di sekitarnya?
"Maudy, kenali ini Yoan. Anak tante." Yumi memperkenalkan.
"Maudy." Ia pun mengulurkan tangan.
Yoan terdiam. Ternyata wanita itu menghampirinya. Hatinya jadi berdebar tak menentu. Ini pertama kalinya hatinya berdebar karena seorang wanita.
Maudy merasa aneh melihat Yoan yang menatapnya tanpa kedip. Ia melirik tante Yumi dan Mamanya, karena uluran tangannya tidak dibalas Yoan.
"Yoan." Mama menyenggol lengan putranya dan membuat Yoan sadar.
"Yoan." Ia pun membalas uluran tangan itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Silahkan dinikmati hidangannya." Ucap Maudy sopan. Ia ingin menemui teman-temannya.
"Tu-tunggu." Ucap Yoan menahan langkah Maudy.
"Boleh minta nomormu?" Yoan pun menyodorkan ponselnya.
Yumi dan Novia saling tersenyum.
"Sepertinya kita akan besanan." Bisik Yumi pada Novia.
"Halo, kak besan..."
\=\=\=\=\=\=
Untuk pertama kalinya Yoan jatuh cinta...
Yoan mulai mendekati Maudy. Memberikan perhatian pada wanita itu.
Maudy saat itu sedang berkuliah. Yoan pasti akan menyempatkan mengantar dan menjemput Maudy di kampus. Meski di tengah kesibukannya dengan urusan pekerjaan. Yoan selalu bisa mengatur waktunya.
Yoan juga begitu sangat royal. Pria itu memberikannya sebuah kartu atm, yang bisa membayar barang brand apapun yang dia mau.
__ADS_1
Maudy mau menjalin hubungan kasih dengan Yoan, ia butuh pria itu untuk menjadi atm berjalannya.
Keluarga Maudy termasuk orang berada juga. Tapi Papanya sangat pelit dan perhitungan. Ia akan diceramahi panjang kali lebar, jika meminta membeli barang-barang brand terkenal.
Dan bagi Yoan, menjalin hubungan dengan Maudy membuatnya sangat bahagia. Hari-hari Yoan penuh dengan warna. Kini ada kegiatan barunya selain ke kantor dan tidur.
Yoan yang kini sudah menginjak usia matang, melamar Maudy setelah wanita itu lulus kuliah.
Tapi, Maudy menolaknya dengan alasan ia mau bekerja terlebih dahulu.
Yoan pun menuruti. Ia meminta papanya untuk menempatkan Maudy menjadi sekretarisnya di kantor cabang. Ya, agar bisa selalu dekat dengan wanitanya.
Setahun setelah itu, Yoan melamar Maudy kembali. Tapi tetap ditolak lagi. Alasannya, ia masih ingin fokus bekerja.
"Sayang, setelah kita menikah. Kalau kamu mau bekerja itu terserah kamu saja. Tapi, lebih baik kamu di rumah saja."
"Tidak, Yoan. Aku masih mau bekerja. Jadi jangan membahas tentang pernikahan."
Maudy mulai mencoba hal baru. Ia tidak mau menjadi sekretaris Yoan lagi. Ia ingin menjadi staff saja.
Dan lagi, Yoan menuruti wanita tercintanya.
Suatu hari, saat mereka sedang berjalan-jalan di Mall. Pundak Yoan ditepuk dari belakang.
Saat menoleh ternyata...
"Denis!" ucap Yoan kaget melihat teman masa kuliahnya dulu.
"Apa kabarmu, Yo?" tanya Denis. Ternyata ia tidak salah mengenali orang.
"Baik, kau apa kabar?"
"Baik, dong. Siapa nih? Istrimu?" tanya Denis melirik wanita di samping Yoan.
"Ini Maudy, calon istriku."
"Kukira tadi istrimu, ternyata masih calon." Ledek Denis, membuat Yoan jadi tersenyum malu.
"Sayang, ini Denis teman kuliahku." Yoan mengenalkan mereka.
Maudy dan Denis saling mengulurkan tangan sesaat.
"Yo, aku harus pergi."
"Mau ke mana?"
"Biasa anak muda. Aku duluan ya. Sampai jumpa lagi." Denis pun pergi meninggalkan mereka.
"Ayo..." Yoan kembali menggandeng Maudy.
\=\=\=\=\=\=
Yoan harus dinas keluar negeri selama 3 hari. Selama itu, dia tidak bisa menjemput dan mengantar Maudy.
Maudy tidak masalah. Ia meyakinkan Yoan, bahwa ia bisa pulang naik taksi atau ojek.
Yoan menolak, ia mau Maudy naik taksi saja.
"Baiklah. Aku akan naik taksi." Ucap Maudy saat Yoan menelepon. "Ya, sudah. Aku mau pulang. Dah."
Maudy sedang berada di depan kantor. Ia memesan ojek. Tak mau naik taksi, jalanan di jam pulang kerja seperti ini cukup macet.
"Atas nama Maudy?" tanya tukang ojek menghampirinya.
"Benar, Bang." Jawab Maudy sambil menerima helm dan memakainya.
"Kamu..." abang ojek tampak berpikir.
Maudy melihat pria itu, seperti kenal. Tapi di mana?
"Kamu... pacarnya Yoan ya?" tanya Denis memastikan.
Maudy mengangguk. "Kamu Denis yang waktu itu ketemu di Mall?"
'Ketemu lagi!' batin Maudy merasa senang.
Tak lama, Denis melajukan sepeda motornya. Ia mengantarkan Maudy sampai titik lokasi pengantaran.
"Terima kasih." Maudy turun dan mau membayar ongkos sesuai yang tertera di aplikasi.
"Tidak usah." Denis menolak.
"Tapi-"
"Santai saja. Aku kalau lagi bosan baru narik ojek. Jadi ini hanya sampingan saja." Jawab Denis sambil tertawa.
"Tidak bisa begitu. Kamu kan-"
"Aku bilang tidak apa. Tapi, kalau kamu memaksa. Bayar dengan cara lain... traktir aku besok malam." Denis menatap wajah cantik itu.
'Apa dia naksir aku?' batin Maudy menahan senyumannya.
Keesokkan harinya. Maudy berjalan menuju tempat janjiannya. Saat akan masuk, ponselnya berdering. Panggilan dari Yoan.
__ADS_1
Maudy pun menekan benda pipih tersebut. Ia lalu mensenyapkan volume ponsel, agar tak menjadi gangguan.
"Jadi, kamu sudah berapa lama pacaran sama Yoan?" tanya Denis saat ia telah makan malam bersama Maudy.
"Sekitar 4 tahunan lebih." Jawab Maudy.
"Apa Yoan romantis?" tanya Denis kembali. "Selama kuliah, Yoan itu pria paling kaku dan dingin. Ia seperti kulkas, salah... lebih tepatnya frezer. Ngomong sama dia bisa beku." Ucap Denis sambil tertawa.
Maudy jadi tertawa geli. Ia merasa ngobrol dengan Denis nyambung.
Ya, Maudy mulai nyaman dengan pria itu.
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, aku antar saja." Ucap Yoan. Maudy menolak diantar pulang, karena mau ke rumah temannya.
"Tidak usah. Aku pergi sendiri saja." Tolak Maudy.
"Aku antar sampai depan rumah teman kamu. Aku tidak masuk, aku langsung pulang."
"Aku bilang tidak ya tidak, Yoan!!!" Maudy meninggikan suaranya. Yoan terlalu mengekangnya.
"Ya, sudah." Yoan pun mengalah. Ia tidak mau bertengkar karena masalah kecil seperti itu.
Hari berikutnya saat Yoan mengantar pulang. Maudy menyuruh Yoan langsung pulang. Alasannya ia capek dan ingin segera istirahat.
Yoan mengerti. Ia pun menuruti kembali.
Maudy tidak istirahat. Ia segera membersihkan diri, ia akan menemui Denis.
Maudy dan Denis sering bertemu diam-diam di luar. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa diketahui Yoan.
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, aku merindukanmu!" ucap Denis begitu Maudy masuk ke apartemennya.
"Aku juga sangat merindukanmu." Balas Maudy dengan senyum bahagia.
Maudy mulai merasakan perasannya berdebar-debar pada Denis. Bukan hanya sekali, tapi setiap bertemu.
Denis mencium bibir Maudy. Memberikan ciuman lembut.
"A-aku membawakanmu masakan buatanku." Ucap Maudy menunjukkan bawaannya.
"Terima kasih." Ucap Denis meletakkan di meja. "Sayang, uangku habis mana belum gajian."
Maudy mengangguk. Ia meraih tas dan mengeluarkan amplop coklat. Ia berikan pada Denis.
"Terima kasih. Kamu memang wanita paling pengertian." Denis tersenyum menerima amplop.
Denis berciuman dengan Maudy. Tangannya merayap-rayap ke mana pun dia mau.
"Denis..." Ucap Maudy manja saat pria itu menyentuh pusaka kembarnya.
"Aku akan memuaskanmu!" Denis tersenyum, ia pun menggendong Maudy dan membawa wanita itu ke kamarnya.
Denis menyukai tubuh Maudy. Sangat berbeda dari banyaknya wanita-wanita yang pernah dijamahnya. Dan ia mendapatnya secara gratis, bahkan seperti dibayar.
Jika ia bermain dengan wanita di luaran sana. Ia yang harus membayar mereka.
Maudy itu kini seperti sugar Mommynya.
Maudy merancau tak jelas saat merasakan setiap hentakan-hentakan kenikmatan yang dilakukan Denis. Ia melayang terbang dengan perasaan yang berdebar-debar.
Selama menjalin kasih dengan Yoan selama 4 tahun lebih. Pria itu hanya berani mencium bibirnya saja. Dan jika dihitung mereka hanya berciuman 2 kali.
Sedang ia dan Denis, tak terkira lagi ciuman yang mereka lakukan. Bahkan Maudy juga sudah beberapa kali menyerahkan dirinya pada pria yang mulai ada di hatinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Denis saat melahap masakan yamg dibawa Maudy.
"Aku mau pulang. Ini sudah jam 11 malam." Maudy terlihat terburu-buru memakai pakaiannya.
"Menginap di sini saja." Saran Denis.
"Tidak. Aku harus pulang."
"Aku antar saja."
"Tidak usah. Aku naik taksi saja." Tolak Maudy. Jika ia diantar Denis, malah bahaya.
"Maudy, menginaplah semalam di sini. Aku masih merindukanmu!" ucap Denis seraya memeluk Maudy dari belakang.
Hembusan nafas Denis membuat tengkuknya meremang.
Denis membalikkan tubuh Maudy, seraya tangannya kembali melucuti pakaian wanita itu.
"Ya?" Denis berwajah memohon.
"Ta-tapi..." Maudy ingin menginap, tapi ia takut papanya.
"Katakan jika kamu menginap di rumah temanmu."
.
__ADS_1
.
.