KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 25 - AYO KITA MENIKAH


__ADS_3

Yoan setengah berlari menuju mobilnya yang berada di parkiran kantor. Ia naik ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan Dara.


"Apa ini swalayannya?" Gumam Yoan memelankan laju mobilnya melihat Swalayan Indah. Swalayan tempat Dara bekerja.


Yoan memutar setir mobil dan membelok ke halaman swalayan. Ia memberhentikan mobilnya tepat di depan swalayan tersebut. Dari dalam mobil Yoan melihat ke dalam swalayan yang berdindingkan kaca tersebut. Memantau terlebih dahulu, apa Dara ada di sana atau tidak.


'Aduh... Kenapa aku jadi berdebar-debar seperti ini?' Pria itu memegangi degupan dadanya yang mulai berpacu kencang. Nafasnya pun terasa memburu. Yoan merasakan perasaannya yang mendadak gugup.


"Tenang Yoan!!! Tenangkan dirimu!!!" Yoan bergumam menenangkan dirinya. Ia harus bisa menguasai diri.


"Tarik nafas buang, tarik nafas buang." Yoan menarik nafas lalu membuangnya pelan. Menarik nafas lagi dan membuangnya. Lalu...


Tut...


Nafas dari bawah ternyata ikut juga keluar.


'Astaga!!! Kenapa aku segugup ini?!' Yoan meronta dalam hati. Bisanya ia bersikap heboh tak menentu begini. Biasanya ia selalu cool, keren dan berwibawa.


Yoan mengkibaskan tangan di dekat hidungnya, saat mencium aroma yang telah dikeluarkannya dari bawah. Pria itu segera membuka kaca mobil untuk menghirup udara segar, sekaligus mengeluarkan gas beracun tersebut.


Setelah dirasa aroma itu sudah hilang, pria itu kembali menutup kaca mobil. Pandangannya lalu kembali pada area dalam swalayan.


Yoan mulai tampak bingung sendiri. Apa dia langsung masuk ke swalayan tersebut untuk mencari Dara? Atau dia harus memata-matai Dara, lalu menemuinya?


Pria itu pun merogoh ponsel dalam saku. Ia mungkin akan meminta saran saja pada El. Saat akan menelepon El, Yoan segera menahan diri. Mengingat jika El itu masih anak kemarin sore. Tidak mungkin meminta saran dari anak yang masih bau kencur tersebut.


Lagian Yoan juga merasa malu. Ia sudah tahu nomor ponsel, alamat rumah bahkan tempat Dara bekerja. Jika bertanya pada El, ia harus bagaimana seterusnya? anak bau kencur itu bisa menertawakannya. Itu tidak boleh terjadi. Ia harus berusaha sendiri.


'Aku telepon saja Dara?!' Pikir Yoan kembali.


Yoan membuka kontak nama Dara di ponselnya. Dan melihat wajah Dara dalam aplikasi pesan onlinenya. Ia yakin, jika ini benar-benar nomor wanita itu.


"Cantik banget sih kamu sayang..." Gumam Yoan menzoom foto profil tersebut. Ia memandangi wajah wanita itu. Memandang dari mata, turun ke hidung lalu... Yoan menelan saliva melihat ke bibirnya.


Dug dug dug... Dug dug dug


Baru memikirkannya saja, perasaannya kembali berdebar kencang. Mengkhayal ia sedang menjelajah bibir seksi itu, lalu turun ke leher jenjang nan putih. Perlahan tapi pasti, mulai mendaki gunung... turun gunung lalu mendaki lagi. Ia seperti seorang penjelajah. Menaklukkan bukit tertinggi.


'Astaga Yoan!!! otakmu itu sangat kotor!!!' Yoan meronta kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa berpikiran jernih. Bisanya di saat seperti ini, ia malah mengkhayal untuk menjadi seorang penjelajah. Hanya melihat foto Dara saja, pikirannya sudah bercabang-cabang bahkan juga bertunas.

__ADS_1


Mata Yoan teralih pada seorang wanita yang keluar dari swalayan. Wanita yang membawa sapu dan serok.


'Dara!' Wajah Yoan begitu bahagia dan memuja melihat wanita itu. Tanpa sadar ia menyanggahkan wajah di setir mobilnya.


Tin...


'Astaga Yoan!!!' Ia tidak sengaja menekan klakson. Dengan segera Yoan mencabut kunci mobilnya. Ia menjedut-jedutkan pelan kepalanya ke setir. Atas kelakuannya yang sangat heboh tersebut.


Dara yang sedang menyapu teras depan swalayan, jadi kaget mendengar bunyi klakson tersebut. Ia melihat sejenak pada mobil berkaca hitam gelap tersebut. Lalu kembali pada pekerjaannya.


Karena sebentar lagi akan pergantian shift. Dara pun mempercepat menyapu dan mengangkat sampah ke serok, lalu memasukkan ke dalam tong sampah.


'Sayang... kamu pasti lelah ya?! Sini menyandar sama Abang, Dek!' Yoan menggerakkan tangannya seolah sedang mengelus kepala Dara dengan sayang. Rasanya ia ingin meraih Dara dan membawanya dalam dekapannya.


Wajah Yoan langsung berubah sedih, tatkala melihat Dara beranjak masuk kembali ke dalam swalayan.


Tak lama, Dara dan Eli sudah bersiap-siap untuk pulang. Shift pagi mereka sudah berakhir. Waktu sudah menujukkan pukul 4 sore.


"Kenapa?" Tanya Dara melihat kasir shift siang menatap layar tv yang tergantung di depan area kasir.


"Lihat apa sih?" Eli juga penasaran. Sepertinya sangat serius.


Dara melihat ke arah depan. Mobil berkaca hitam itu masih terparkir di depan.


"Mungkin numpang parkir." Timpal Dara. "Kami duluan ya."


Dara dan Eli pun keluar dari swalayan tersebut.


"Kak Dara, aku duluan ya. Aku sudah dijemput." Ucap Eli pamitan pada Dara.


"Hati-hati ya, Li." Dara melambaikan tangan. Lalu ia lanjut berjalan menuju simpang tiga. Kenderaan umumnya lewat dari sana.


'Da-Dara... dia sepertinya sudah pulang.' Yoan melihat Dara berjalan kaki sendirian.


Pria itu segera memakai sabuk pengaman lalu menghidupkan mesin mobilnya. Melaju lambat di belakang Dara.


Tin


Tin

__ADS_1


Tin


Dara menoleh ke belakang. Ada mobil yang mengklakson-klakson. Wanita itu pun kembali melangkahkan kaki ke depan. Sepertinya mobil itu bukan mengklakson dirinya.


Tin


Tin


Tin


Dan lagi mobil tersebut kembali mengklakson. Dara pun mempercepat langkah kakinya. Mungkin ia menghalangi laju mobil tersebut. Tapi, ia saja berjalan sudah sesuai aturan. Di pingir jalan, tapi kenapa masih diklakson juga sih?


Tin...


Bunyi klakson panjang tersebut, membuat Dara kaget. Ia pun berhenti dan melihat ke belakang kembali. Sepertinya mobil hitam itu memang sedang mengklakson dirinya.


Seorang pria turun dari mobil tersebut. Dan berjalan ke arahnya.


Dara memegang tengkuknya. Mendadak bulu kuduknya merinding. Siapa pria itu? Apa mau bertanya soal alamat? Atau... jangan-jangan pria ini mau menculiknya? tapi untuk apa menculiknya?


Tapi, pakaian pria itu terlihat seperti orang kantoran. Lengkap memakai dasi dan juga jas.


Wanita itu lalu melihat sekitarnya. Jalanan saat ini ramai kenderaan yang sedang melintas. Jika pria itu punya maksud yang tidak baik padanya, ia bisa berteriak saja. Dan orang-orang pasti akan datang untuk menolongnya. Hari juga masih sore, jadi tidak perlu ada yang ditakutkan.


"Dara..." Ucap Yoan berdiri di depan wanita tersebut. Senyumnya begitu lebar bertemu kembali dengan wanita itu.


Dara merasa aneh. Pria itu mengenal dirinya. Tapi... ia tidak pernah merasa mengenal pria itu.


"Si-siapa ya?" tanya Dara gugup memastikan. Mungkin pernah mengenal pria itu di mana, tapi dia yang lupa.


"Dara... Ayo kita menikah!!!" Ucap Yoan cepat dengan ekpresi wajah tegas dan sangat serius.


"Hah???"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2