KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 103 - MASA LALU 2


__ADS_3

'Apa Maudy lagi butuh uang?' batin Yoan melihat rincian transaksi kartu atmnya.


Di sana tertera transaksi transfer ke rekening atas nama Maudy. Biasanya Yoan hanya melihat transaksi pembayaran barang-barang yang dibeli Maudy.


Yoan ingin bertanya langsung, tapi ia tidak mau Maudy jadi tidak nyaman. Bisa saja kekasihnya berpikir kalau ia pria yang perhitungan.


'Biarkan sajalah! Lagian aku juga sudah memberikannya. Terserahlah mau dipakai buat apa, pasti dipergunakan dengan benar!' Yoan berpikiran positif pada kekasihnya itu.


Hari itu, Yoan mengajak Maudy makan di sebuah restauran mewah.


Maudy makan sambil melihat ponselnya. Ia sedang membalas pesan dari selingkuhannya.


"Maudy..." panggil Yoan. Setiap bersamanya, wanita itu selalu fokus pada ponsel.


"Maudy." Panggil Yoan kembali sambil menyentuh tangan wanita di hadapannya.


"Ayo, kita menikah." Ucap Yoan. Ia merasa hubungan mereka sudah terlalu lama terjalin. Harus ada keseriusan untuk ke depannya.


'Aku menikah dengannya? Mau di ke manakan Denisku?' batin Maudy yang menatap Yoan.


"A-aku berjanji akan membuatmu bahagia." Janji Yoan pada Maudy dan pada dirinya sendiri.


"Yoan, nanti saja kita bahas ya. Aku belum siap menikah." Ucap Maudy sambil memegang tangan Yoan. Ia sama sekali tidak memiliki perasaan pada Yoan, hanya ingin memanfaatkannya.


"Ya sudahlah." Walau kecewa, Yoan akan mengalah. "Nanti kalau kamu sudah siap, beritahu aku. Aku akan sabar menunggumu, sampai hari itu tiba."


Yoan mengeratkan genggaman tangannya.


Maudy mengangguk dan bangkit. Ia duduk di samping Yoan dan menkecup pipi pria itu.


"Terima kasih, sudah mau mengerti aku."


Yoan mengangguk. Ia perlahan mendekatkan wajahnya. Dan mencium Maudy.


Tak lama mereka keluar restauran dengan saling bergandengan tangan.


"Yoan, aku mau ke rumah teman. Aku naik taksi saja dari sini." Ucap Maudy.


"Ya sudah, hati-hati di jalan. Jangan pulang malam-malam." Yoan mengelus kepala Maudy.


"Aku pergi ya. Dah..." Maudy melambaikan tangan lalu masuk ke dalam taksi.


Yoan melihat taksi yang dinaiki Maudy menjauh pergi.


'Aku tidak boleh terlalu mengekangnya?!' Yoan menyadari ia sering bersama Maudy, hingga tak ada waktu kekasihnya untuk diri sendiri.


\=\=\=\=\=\=


"Denis, ahh... Denis..." Maudy menggila. Denis membuatnya melayang dalam kenikmatan.


"De-Denis... ka-kapan ki-ahh kita akan me-menikah?" tanya Maudy menggeliat. Denis sedang berada di area intinya. Bermain-main di sana.


"Menikah?" tanya Denis merayap naik. Ia menatap Maudy.


"Benar. Kapan kita akan menikah?" tanya Maudy kembali. Ia tidak mau hubungan mereka hanya begini-begini saja.


"Maudy, kalau kita menikah aku tidak bisa mencukupimu." Ucap Denis seraya menjauh dari tubuh Maudy. Ia mendudukkan dirinya.


"Aku punya uang, aku juga akan bekerja." Jawab Maudy ikut bangun dan duduk di samping Denis. Ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"Kamu saja mendapat uang dari Yoan. Jika kita menikah, Yoan pasti marah dan akan menyetop memberikanmu uang lagi." Ucap Denis beralasan.


"Tapi, kita mau sampai kapan begini? Kamu tahu aku mencintaimu." Ucap Maudy menatap sendu pria yang dicintainya.


Denis berpikir sejenak. "Begini... kamu menikah saja dengan Yoan."

__ADS_1


"Ta-tapi..." Maudy merasa aneh. Ia ingin menikah dengan Denis, dengan pria yang dicintainya.


"Selama setahun saja kamu menikah dengannya. Lalu kamu ambil beberapa aset miliknya. Lalu setelah itu kamu kembali padaku, kita akan kawin lari." Denis memberi saran. Ia tidak ingin menikahi Maudy, hanya butuh uangnya untuk bersenang-senang dengan wanita lain.


"Tapi-"


"Maudy, aku juga mencintaimu sayang..." bujuk Denis mengelus wajah Maudy dengan lembut.


"Kita bisa gunakan aset yang kamu ambil dari Yoan, untuk modal hidup kita nantinya." Denis membujuk Maudy. Jika Maudy menikah dengan Yoan, wanita itu pasti akan memberikan uang yang berlebih padanya.


"Baiklah." Maudy pun mengangguk membuat Denis tersenyum.


"Sayang, uang aku kebetulan habis."


Maudy mengangguk dan mengambil tasnya. Ia memberikan amplop coklat pada Denis.


Denis tersenyum senang melihat isi amplop tersebut. Sangat tebal sekali.


"Terima kasih, sayang." Denis meletakkan amplop di meja dan mulai menjelajah tubuh Maudy.


Denis melakukan pergulatan dengan semangat. Bagaimana tidak semangat, ia mendapatkan semua. Kenikmatan dari tubuh mulus yang membuatnya candu dan juga... uang pastinya.


"Sayang..." ucap Denis memeluk Maudy setelah pergulatan panas mereka berakhir.


"Iya." Jawab Maudy.


"Apa kamu dan Yoan pernah melakukan hal seperti ini?" tanya Denis. Maudy masih perawan saat melakukan dengannya. Lalu mereka mulai sering melakukannya, bahkan Maudy sering minta dipuaskan olehnya.


"Tidak!!!" jawab Maudy cepat. "Aku cuma melakukannya denganmu." Maudy tidak mau Denis berpikiran lain.


"Cobalah sekali dengannya." Saran Denis.


"Apa?"


"Maksudku begini, lakukan juga seperti yang kita lakukan pada Yoan. Ia pasti akan memberikan semuanya padamu, jadi kita tidak perlu menunggu sampai setahun lamanya." Saran Denis. Jika Yoan telah menyentuh Maudy, Yoan pasti akan bertanggung jawab. Dengan begitu Denis akan bebas dan tidak meninggalkan jejak, bahwa dia telah menjadi selingkuhannya Maudy. Ia akan pergi setelah mendapatkan aset-aset itu.


"Bisa, tutup matamu dan bayangkan aku. Bayangkan saat kamu melakukannya denganku..."


\=\=\=\=\=\=


Setelah jam kantor berakhir, Maudy berjalan menuju ruangan Yoan.


Tok


Tok


Tok


Ketuknya pada pintu.


"Masuk." Suara bariton terdengar dari dalam.


"Maudy." Ucap Yoan yang gembira melihat wanitanya ternyata yang datang.


Yoan menghampiri Maudy yang duduk di sofa.


"Aku ingin bicara serius denganmu." Ucap Maudy menatap Yoan. Ia harus segera melakukan rencananya.


"Ada apa, sayang?" tanya Yoan sambil tangannya menepikan rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Itu... aku mau menikah denganmu." Ucap Maudy langsung saja.


Senyum Yoan merekah, Maudy mau menikah dengannya. Penantiannya selama ini, dijawab juga.


"Terima kasih, sayang. Aku akan meminta restu om Agus dan tante Novia." Ucap Yoan menarik Maudy dalam pelukannya.

__ADS_1


Maudy tersenyum lalu ia bangkit dan duduk di pangkuan Yoan.


"Maudy..." Yoan merasa risih dengan posisi mereka sekarang. Sungguh meresahkan. Wanita itu bergerak-gerak di pangkuannya, membuat sesuatu yang tidur mulai terbangun.


Maudy tersenyum merasakan adanya respon di bawah bokongnya.


'Tahan Yoan!!! Tahan!!!' Yoan berperang dalam hati.


Yoan, pria normal. Ia saat ini ingin saja menerkam Maudy dan menuntaskan hasrat yang mulai menjalar. Tapi... Yoan mengingat ajaan kedua orang tuanya.


Untuk tidak melakukan se-k sebelum pernikahan.


"Ma-Maudy, ayo kita pulang." Ucap Yoan memindahkan Maudy ke sampingnya. Ia pun bangkit dan berjalan ke kamar mandi.


Maudy mendengus kesal, Yoan masih menjual mahal. Tapi, ia tersenyum. Wajah Yoan tampak menginginkannya, hanya saja masih berusaha menahan diri.


\=\=\=\=\=\=


Yoan bergerak cepat. Ia membawa keluarganya melamar Maudy. Dan keluarga Maudy menerima lamaran Yoan tersebut.


Kedua keluarga juga sepakat akan melaksanakan pernikahan dalam 3 bulan lagi.


Yoan mempersiapkan semuanya. Ia merencanakan resepsi pernikahan yang wah, untuk wanita tercintanya.


Yoan juga mempersiapkan sebuah apartemen mewah, untuk mereka tinggali nanti.


"Bagaimana, sayang? apa kamu suka?" tanya Yoan saat menunjukkan apartemennya.


Maudy berdecak kagum. Apartemen ini sangat besar dan perabotannya super mewah semua.


"Aku suka! Terima kasih, sayang." Maudy memeluk Yoan dan mencium pipinya.


'Apa aku harus melakukannya?' Maudy bingung. Denis memaksanya untuk tetap menggoda Yoan. Padahal Maudy tetap akan menikah juga, demi mengkeduk harta Yoan.


Maudy mendorong tubuh Yoan ke sofa, hal itu membuat Yoan bingung.


"Jangan!" Yoan menahan tangan Maudy yang akan membuka kancing pakaiannya.


Maudy kesal, lagi dan lagi ia ditolak. Ia pun membuka pakaiannya sendiri.


'Apa kau tidak tergoda?' Maudy tersenyum menggoda. Ia sudah polos tanpa pakaian.


"Maudy, apa yang kamu lakukan?" Yoan membuang pandangannya. Maudy benar-benar cobaan baginya.


Maudy kembali duduk di pangkuan Yoan. Pria itu terus membuang pandangan dan tidak mau melihatnya.


"Aku milikmu!" bisik Maudy dengan suara serak. Ia meniup telinga Yoan.


Yoan merasakan gairahnya yang menggebu dengan perasaan yang berdebar-debar. Sentuhan tangan Maudy membangunkan sisi liarnya dan membuat perutnya terasa mules.


'Tahan Yoan!!! Tahan Yoan!!! Tahan semuanya!!!'


Dan...


Tut


Suara itu keluar begitu saja.


"Yoan, bau tahu!" Maudy menutup hidungnya. Pria itu malah mengeluarkan gas alam.


"Maudy, pakai pakaianmu! Jangan menggodaku lagi! Kita tidak boleh berbuat seperti itu sebelum menikah." Ucap Yoan lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Ia akan menuntaskan semuanya di sana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2