KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 37 - KEKASIH SEBULAN


__ADS_3

"Maaf, sepertinya anda harus melepaskan tanganku." Ucap Dara ketika mereka telah sampai di depan sebuah mobil.


"Tidak bisa!" jawab Yoan sambil membukakan pintu mobilnya. Ia mempersilahkan Dara untuk naik.


"A-aku mohon maaf tadi-"


"Masuk saja dulu! Di jalan saja kita bicarakan! Temanmu itu masih melihat kita." Ucap Yoan memberitahu.


Dara melihat Roni yang berada di depan pintu kafe. Pria itu masih melihat mereka. Membuat Dara tidak bisa mengakhiri sandiwara itu sekarang. Dengan terpaksa ia pun naik ke mobil pria itu.


Sepanjang perjalanan, Dara melihat spion lalu menoleh ke belakang. Ia memastikan apa Roni masih mengikuti mereka.


'Sepertinya sudah aman!' Dara bernafas lega.


"Tolong, berhenti di depan!" pinta Dara melihat ke arah Yoan.


"Di depan? Tidak ada penjual martabak di sana!" Yoan menajamkan pandangannya ke arah depan. Hanya ada bangunan tinggi di sana.


"Berhenti saja!" paksa Dara.


Yoan pun menepikan mobil. Ia melihat sekitarnya.


"Dara, ini hotel loh!" ucap Yoan menaikkan alisnya. Mereka berhenti tepat di depan sebuah hotel.


"Aku akan turun di sini!"


"Kamu mau kita ke dalam?" tanya Yoan sambil menyengir.


"Bukan!!! Maksudku aku turun di sini saja. Aku akan naik ojek dari sini." Jelas Dara kembali menjawab kesalahan pahaman pria itu.


"Aku antar saja sampai rumah!" Yoan tidak mau menurunkan Dara di pinggir jalan.


"Tidak usah." Tolak Dara. "Maaf, tadi aku sudah melibatkanmu-"


"Terlibat selamanya juga tidak masalah!" sela Yoan dengan wajah bahagia. Baginya tidak ada yang perlu dipermasalahkan.


"Tadi aku ingin menghindari pria itu, dan malah memanfaatkan anda." Jelas Dara agar Yoan tidak salah paham.


"Kamu manfaatkan sebagai suami kamu juga tidak masalah. Jangan calon suami saja." Timpal Yoan kembali.


Dara melihat pria itu dengan tatapan aneh. Pria itu memang agak koslet. Mending segera turun dari mobilnya, dari pada pria itu nanti melakukan sesuatu.


"Untuk kedepannya, aku tidak akan melibatkan anda lagi. Aku permisi!" Dara akan membuka pintu mobil, tapi ternyata masih terkunci.


"Kamu mau pergi begitu saja setelah memanfaatkanku?" tanya Yoan dengan nada dingin. Wanita itu sudah memanfaatkannya, malah mau pergi begitu saja. Ini tidak boleh dibiarkan.


"Bukankah anda juga mengambil kesempatan tadi?" tanya Dara dengan wajah kesal. Pria itu tadi berani mencium pipinya di depan umum.


"Aku? kesempatan apa yang aku ambil darimu?" tanya Yoan ingin tahu. Ia merasa tidak mengambil kesempatan apapun.


"Anda... Anda mencium pipi saya. Bukankah anda mengambil kesempatan!"


Yoan jadi terkekeh geli. Ternyata masalah itu.


"Itu biar lebih meyakinkan. Kalau kamu marah, kamu bisa melakukan hal yang sama. Jadi biar kita impas. Kamu boleh menciumku di pipi, mau di bibir silahkan!" Yoan mengedipkan sebelah matanya. Senangnya menggoda wanita yang wajahnya sudah memerah.


"Tolong buka pintunya. Aku mau turun!" Dara malas meladeni pria itu. Sangat genit dan gatal, membuat bulu kuduknya sedikit merinding.


"Tidak bisa!!! Kamu sudah memanfaatkanku. Jadi kamu harus melakukan sesuatu untukku!"


Dara menjauhkan tubuhnya, pria itu membuatnya takut.

__ADS_1


Melihat Dara bersikap seperti itu, membuat Yoan sadar. Mungkin Dara menganggapnya pria me-sum.


"Mak-maksudku... Karena kamu sudah memanfaatkanku. Kamu harus berterima kasih. Tah traktir aku makan, nonton atau ke mana gitu." Yoan membenarkan perkataannya.


"Aku tidak bisa. Aku sangat sibuk!"


"Bukan sekarang. Besok."


"Besok aku kerja."


"Besoknya lagi."


"Aku juga kerja."


"Pulang kamu kerja."


"Aku capek."


"Sebelum kamu kerja."


"Aku belum bangun."


Yoan menghembuskan nafasnya kesal. Wanita itu tetap menolaknya dengan berbagai alasan.


"Jadi kapan kamu ada waktunya?" tanya Yoan mulai kesal.


"Aku tidak punya banyak waktu!" Dara tetap menolak.


"Baiklah. Aku akan melaporkanmu ke polisi, atas tindakan penipuan." Ancam Yoan kembali.


"Po-polisi!" Dara melihat Yoan dengan serius. Pria itu mau melaporkannya ke polisi.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi. Karena kamu telah melakukan penipuan dengan mengklaim diriku ini sebagai calon suamimu!" jelas Yoan dengan alasannya tersebut.


"Apa hal seperti itu dianggap kejahatan?!" cibir Dara menatap Yoan kesal.


"Jelas!"


"Tidak mungkin!!!"


"Ya sudah... kalau kamu tidak percaya. Saat kamu sampai rumah, polisi sudah menunggu untuk membawamu." Ancam Yoan sambil meraih ponsel.


"Aku akan menelepon polisi untuk melayangkan tuntutan padamu!" ucap Yoan berusaha menahan senyum, melihat wajah ketakutan Dara.


"Sebenarnya apa yang anda inginkan?!" Dara meraih ponsel Yoan. Pria di hadapannya selalu menyulitkannya.


"Aku mau... kamu jadi kekasihku selama sebulan!" ucap Yoan merubah rencananya. Dara itu keras kepala dan tak mau memberikannya kesempatan. Jika cuma makan bersama saja, masih sulit mendekatinya.


"Apa?" Dara membelalakkan matanya.


"Sebulan jadi kekasihku!" Jelas Yoan kembali.


"Tidak bisa. Tadi anda bilang aku harus berterima kasih pada anda, dengan cara menonton atau mentarktir makan!" Dara mengingatkan pria itu


"Itukan tadi. Semua dapat berubah sewaktu-waktu!" Yoan tersenyum puas. Ia tidak akan melepaskan Dara lagi. Wanita itu yang menariknya terlebih dahulu, di saat ia sudah berusaha merelakan.


"Tidak bisa. Anda jangan berbuat sesuka hati anda!" Dara geram dengan pria yang menyebalkan itu.


"Sesuka hati? Bukannya itu kamu ya? Aku tadi hanya menyapamu, tapi kamu malah mengatakan aku calon suamimu. Kamu mengatakan seperti itu sesuka hatimu, tanpa meminta izin dariku terlebih dahulu!" Yoan memutar-mutar kata. Ia akan membuat wanita cantik itu kalah telak.


Dara diam, tadi ia sangat terdesak. Ia mana sempat meminta izin.

__ADS_1


"Jadi kekasihku atau mendekam di balik jeruji besi yang dingin?" Yoan menakuti Dara. "Terserah kamu saja sih."


Tatapan setajam silet Dara berikan pada Yoan. Pria itu sedang memanfaatkan situasi.


"Sehari!" ucap Dara akhirnya. Ia akan menuruti pria itu. Dari pada nanti menyusahkan kedua orang tuanya.


"No tawar!" Yoan menggerakkan telunjuknya.


"Aku tidak mau. Anda mau memanfaatkanku untuk melakukan hal yang tidak-"


"Aku akan mengantarkanmu ke kantor polisi sekarang, jadi mereka tidak perlu menjemputmu lagi!" potong Yoan sambil melajukan mobilnya.


"Berhenti!"


"Tidak mau!"


"Berhenti!"


"Tidak, Dara. Aku akan melaporkanmu!"


Dara diam. Ia bingung harus bagaimana. Ia melihat pria itu yang fokus menyetir.


Tak lama. Yoan memberhentikan mobilnya di depan kantor polisi.


"Kamu siap masuk sel?" tanya Yoan dengan wajah yang menurut Dara sangat menyebalkan.


Dara meremas tangannya. "Baiklah!"


'Yes!' Yoan tersenyum senang. Dara akhirnya setuju.


"Sayang, kita makan dulu ya. Kamu mau makan apa?" tanya Yoan dengan senyum masih mengambang. Entah mimpi apa ia tadi malam, hari ini ia sangat beruntung.


'Sa-sayang?!' Dara meronta tidak terima dengan panggilan itu.


"Tapi aku punya syarat!" Dara tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, jadi dia harus waspada.


"Hanya 2 minggu."


"Tidak bi-" Yoan melihat wajah cemberut yang menggemaskan.


"Baiklah. 2 minggu!" pria itu jadi mengalah. 2 minggu waktu yang cukup lama. Ia pasti bisa menaklukkan hati wanita itu dalam 2 minggu.


"Dan satu lagi."


"Ada lagi?" tanya Yoan kembali. Dara sedang bernegosiasi dengannya.


"Selama 2 minggu nanti, anda tidak boleh menyentuhku atau mencari-cari kesempatan."


Yoan ingin tertawa saja. Dara terlalu waspada.


"Jika anda melakukannya, maka semuanya berakhir!!!"


"Apa? mana bisa begitu?" Yoan tidak terima. Ia tidak bisa memodusi Dara.


"Ya sudah, kalau begitu tidak usah dilanjutkan."


"Dara!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2