
'Mampus!' ronta Yoan dalam hati. Padahal ia sangat berharap rahasianya ini, akan diketahui tepat di hari pernikahan. Tapi ternyata, malah sekarang.
"Ke-kenapa?" tanya Dara bingung.
Yoan menyadari kegelisahannya yang membuat calon istrinya jadi bertanya-tanya. Ia menormalkan kembali wajahnya.
Perihal tante Lydia tahu bahwa Dara yang akan dinikahinya, itu urusan nantilah saat ia kembali ke rumah.
"Ti-tidak apa sayang." Ucap Yoan kembali. "Selesai makan, kita mau ke mana?"
"Pulang saja ya." Jawab Dara. Ia merasa sedikit letih.
Yoan mengangguk. "Baiklah, habiskan makananmu."
Setelah selesai makan, Yoan menggandeng Dara keluar dari restauran tersebut. Menuju tempat mobilnya terparkir.
"Silahkan, cintaku..." Yoan membuka pintu mobil. Mempersilahkan wanitanya masuk.
"A-apaan sih?!" Dara jadi gugup dengan perkataan Yoan. Mungkin ada pabrik gula di dalam mulutnya.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Yoan mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan memberikan kepada Dara.
"Apa ini?" tanya Dara bingung. Yoan memberikan sebuah kartu atm.
"Untukmu."
"Untukku? Kenapa?" tanya Dara kembali.
"Ka-kalau kamu mau beli sesuatu, pakai itu saja." Ucap Yoan.
"Kenapa?" Dara masih bertanya dengan dengan ekspresi wajah serius. Ia merasa tidak nyaman dengan jawaban Yoan.
"I-itu..." Yoan pun jadi gugup. "Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, jadi kamu pakai saja itu untuk membeli apa yang kamu mau." Jelasnya perlahan.
"Maaf.... aku tidak bisa menerimanya." Dara mengembalikan kartu ATM tersebut.
"Ke-kenapa?" tanya Yoan. Dara menolak pemberiannya.
"Aku bukan istrimu." Jawab Dara tegas.
"Belum sayang, kamu hanya belum resmi jadi istriku." Yoan yang gemas menarik hidung Dara.
Dara memegangi hidungnya yang kemerahan.
"Sebentar lagi kita akan menikah. Sudah kamu pegang saja." Yoan menyodorkannya lagi.
"Tidak."
"Ya."
"Tidak."
"Ambil saja."
"TIDAK!" Dara menegaskan perkataannya, membuat Yoan tak menyodorkan kartu tersebut.
"Sayang." Panggil Yoan yang melihat Dara sudah membuang wajahnya.
__ADS_1
"Dara-" Yoan memegang tangan Dara, tapi wanita itu malah menjauhkan tangannya.
Dara tak mau Yoan memegang tangannya. Ia marah dengan pria itu. Mereka belum ada ikatan apapun, malah diberikan seperti itu. Lain kalau sudah menikah.
"Aku minta maaf." Yoan meminta maaf dan memasukkan kembali ATM tersebut ke dalam dompet.
Yoan memaklumi, karena mereka belum resmi menikah. Dara tidak mau menerima hal seperti itu. Lain jika sudah menjadi istrinya. Dara akan menjadi tanggung jawab Yoan sepenuhnya.
"Dara."
"Sayang."
"Sayangku Dara."
Yoan menghembuskan nafas kasar. Wanita itu masih dengan posisinya. Diam saja dan tak menjawab panggilannya. Calon istrinya itu mendadak budek.
"Dara, maaf." Yoan menarik Dara dalam pelukannya. "Maafkan aku ya. Aku salah."
Dara diam merasakan kembali pelukan hangat. Rasanya sangat nyaman berada dalam dekapan calon suaminya.
'Tiap hari di peluknya, aku bisa meleleh!' Batin Dara.
Yoan melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah Dara yang mulai merona. Mata indah Dara menatapnya dalam.
Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya lalu menyatukan bibir mereka.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Dara mulai merasa benda kenyal dan basah itu menyentuh bibirnya. Memberikan gigitan kecil.
'Manis!' batin Yoan melu-mat bibir atas dan bawah Dara. Merasakan rasa yang mulai membuatnya candu.
Yoan makin memperdalam ciumannya. Menekan kepala Dara makin mendekat padanya.
'Apa yang kulakukan?!' Dara meronta dalam hatinya. Ia malah membalas ciuman pria itu.
"A-ku tidak bisa bernafas!" Ucap Dara mendorong pelan tubuh pria itu. Ia melihat Yoan sejenak lalu segera mengalihkan pandangan ke sisi jendela.
'Astaga!!!' Dara sangat malu. Ia terbuai dengan pria itu. Ia merasa memang baperan, gampangan, murahan dan lain sebagainya.
'Kalau dia pergi saat hari pernikahan bagaimana?' Dara meruntuki dirinya. Selama ini ia sudah mencoba terlihat biasa saja, tapi ia malah menunjukkan perasaannya.
Melihat Dara membuang muka, Yoan menggaruk tengkuknya. Ia jadi sedikit gugup dan bingung. Suasana jadi terasa sangat canggung.
Yoan meruntuki dirinya yang tidak bisa menahan diri. Tapi, ia sedikit bernafas lega. Ia merasa Dara sudah memiliki perasaan padanya. Wanita itu menyukai dirinya.
"Pakai sabukmu. Kita pulang!" pinta Yoan.
Dara tidak menjawab dan segera menarik sabuknya. Lalu kembali melihat ke arah jendela. Ia tidak mau melihat Yoan. Rasanya sangat malu. Wajahnya kini pasti sudah memerah.
Yoan melajukan mobil sambil terus menerus melirik Dara. Ia tersenyum mengingat ciuman mereka beberapa saat yang lalu. Perbuatannya tadi membuat bibir wanita itu sedikit agak membengkak.
'Sekali lagi boleh nggak yah?!' tanya Yoan dalam hati. Ingin melakukannya sekali lagi, lagi dan lagi.
__ADS_1
"Sudah sam-" ucap Yoan setelah memberhentikan mobil di depan rumah Dara.
"Hati-hati." Sela Dara cepat. Ia melepas sabuk dan segera keluar dari mobil Yoan. Dara terus berjalan masuk ke rumah. Seperti biasa tanpa melihat belakang lagi.
Berkali-kali Dara menarik nafas sambil memegang debaran hatinya, yang bertalu-talu.
Sementara Yoan jadi menggelengkan kepala, melihat Dara selalu seperti itu. Selalu meninggalkannya begitu saja.
'Pasti dia malu!' batin Yoan yakin.
Pria itu akan membuka pintu mobil, ia akan turun dan berpamitan pada kedua orang tua Dara. Saat akan keluar ia melihat ke kursi belakang dan masih ada ole-ole dari tante Lydia. Dara melupakannya.
Tok
Tok
Tok
'Si-siapa itu? Apa dia?' Dara jadi bertanya-tanya. Ia dengan cepat menenggak minumnya dan melangkah ke kamar mandi. Dara menghindari bertemu dengan pria itu.
Bunda melihat kelakuan putrinya. Ada yang mengetuk pintu, bukan membukanya. Malah kabur ke kamar mandi.
Pintu yang terus diketuk membuat Bunda pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
Senyum Bunda merekah, melihat calon menantunya ternyata yang datang.
"Selamat malam, Bun." Sapa Yoan sambil menyalaminya.
"Malam, nak Yoan." Jawab Bunda. "Ayo masuk."
"Ti-tidak usah, Bun. Saya mau mengembalikan ini. Dara meninggalkannya di mobil." Yoan menyerahkan bungkusan yang dipegangnya.
"Oh... Dara!" panggil Bunda.
"Sudah nggak usah dipanggil, Bun. Saya mau langsung pulang saja, soalnya sudah malam." Ucap Yoan kembali.
"Nggak duduk dulu?" basa basi Bunda.
"Lain kali saja, Bun. Saya permisi." Yoan pun berpamitan.
'Apa mereka bertengkar?!'
\=\=\=\=\=\=
Yoan melajukan mobil dengan wajah bahagia sambil bersiul, mengingat rasa manis itu. Rasa yang membuatnya candu.
'Dara... Kamu akan jadi milikku seutuhnya.' Yoan jadi tak sabar untuk menikahi Dara. Hari pernikahan mereka, terasa begitu lama.
Tak lama mobil Yoan sampai dan memasuki garasi rumah. Setelah memarkirkan mobil, ia pun turun.
Yoan menarik nafas, saat seorang wanita paruh baya turun dari mobilnya sambil memberikan tatapan kesalnya. Lalu diikuti sang suami yang turun dari mobil dan tersenyum padanya.
"Om Leo, tante Lydia... baru pulang. Kencan ke mana nih?" goda Yoan melirik tantenya.
"Yoan!!!"
.
__ADS_1
.
.