
"Buk, sudah selesai?" tanya Roni menghampiri ibuknya. Ia menemaninya sang ibuk untuk cek kesehatan.
"Sudah!" jawab Sari.
"Ayo, kita pulang!" ajak Roni sambil menuntun sang ibuk yang mulai semakin tua.
Dalam perjalanan menuju rumah, Roni melirik ibuknya.
"Buk, tadi aku melihat Dara di rumah sakit." Roni memberitahu.
"Oh ya?" Sari melihat sang putra. Ada rasa ingin bertemu Dara, tapi rasa takutnya masih ada. Ia takut ekspresi Dara saat melihatnya.
"Dara sepertinya sedang hamil. Tadi aku lihat ia ditemani suaminya cek kandungan." Ucap Roni kembali memberitahu.
'Syukurlah.' Sari merasa lega. Ia bersyukur Dara sudah hidup bahagia.
"Dara sudah bahagia. Kamu juga harus bahagia, Ron. Cari istri terus menikahlah!" Saran Sari. Putranya juga harus bahagia. Agar tiada lagi mengenang masa lalu.
Roni jadi tertawa. "Nanti-nanti sajalah, Buk." Ia belum mau membuka hati kembali.
Pria itu berniat akan menata hidupnya dengan lebih baik lagi. Tak mau memikirkan pernikahan dulu. Biar saja, dia menduda dulu. Sampai bertemu wanita yang cocok.
"Oh iya, Buk. Ibuk pindah saja kemari ya. Sudah tinggal sama aku saja di sini." Saran Roni. Ibuknya sendirian di kota itu, bapaknya sudah meninggal 5 tahun yang lalu.
"Sudah, nggak apa. Ibuk bisa jaga diri." Sari tidak mau merepotkan anaknya.
Roni menggeleng cepat. Ia tidak mau ibuknya sendirian di sana. Mending tinggal bersama dia saja. Ibuknya itu sudah makin tua, kalau tiba-tiba sakit ia orang yang tahu belakangan.
Roni tetap membujuk agar ibuknya mau tinggal bersamanya. Hingga akhirnya paruh baya tersebut setuju.
"Terima kasih, ibuk." Roni sangat senang. Dengan ada ibuk, ia tidak akan kesepian. Ia juga bisa meminta saran pada ibuknya.
'Tinggal pekerjaan!'
\=\=\=\=\=\=
Pagi itu, Yoan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia sudah berpakaian rapi.
Dara akan mengambilkan Yoan sarapan. Tapi Yoan meminta Dara untuk duduk saja.
Yoan yang akan melayani istrinya. Dara tidak boleh kecapekan.
"Sayang, ayo dimakan!" Yoan menyodorkan piring penuh makanan.
Dara terbengong sesaat porsinya yang diberikan terlalu banyak. Mana mungkin ia bisa menghabiskan semua.
"Mas, ini kebanyakan."
"Sayang, porsinya sudah pas. Anak kita harus makan juga. Kalau kamu makan seperti porsi biasa, anak kita puasa dong. Kasihan dia masih kecil." Jelas Yoan beralasan.
"Mas..."
"Sudah, makan!" Yoan memberikan Dara sendok.
Dara pun makan dengan terpaksa. Ia tidak sanggup menghabiskan porsinya. Kalau nanti tidak dimakannya, akan mubajir.
"Yoan, bertahap dong nambahi porsi makan Dara. Jadi bayimu tidak terkejut." Saran Mama. Ia kasihan melihat Dara.
Yoan mengangguk. Jika langsung diberikan seperti itu, bayinya bisa sakit karena tidak bisa beradaptasi. Begitulah pikiran Yoan.
Dara bernafas lega. Yoan mengurangi porsinya dengan memindahkan makanan itu ke piringnya.
Dara senang, untung ada Mamanya yang pengertian.
Setelah sarapan, Yoan pun berpamitan. Pria itu berjongkok menyamakan dengan perut istrinya. Ia akan pamit pada buah hatinya.
"Anak papa sayang, papa pergi dulu ya mau cari uang yang banyak. Kamu jangan bandal ya. Jangan buat Mama kecapekan." Yoan menasehati bayi dalam perut Dara.
Dara tersenyum geli, Yoan menkecupi perutnya.
"Mas..." Dara mulai malu. Drama pagi ini terlalu panjang. Mertuanya sampai senyum-senyum melihat mereka.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku pergi." Yoan akan berangkat.
Dara menyalami suaminya dan Yoan menkecup keningnya.
"Hati-hati ya Papa. Jaga hatinya untuk Mama." Ucap Dara meledek Yoan.
Yoan jadi tersenyum. Dari bayangan drama keluarga versi 2, pasti yang mengajari putri mereka menggombal itu adalah Dara.
Setelah beberapa saat, Yoan mendapat kabar jika Roni menolak dipindahkan keluar kota.
"Kenapa dia menolak?" tanya Yoan kesal. Sepertinya Roni tetap ingin berada di kota ini.
"Ini surat pengunduran dirinya, pak." El menyerahkan surat pengunduran diri Roni.
Yoan tampak bingung, Roni mengundurkan diri. Apa rencana pria itu?
"Suruh dia kemari segera!" pinta Yoan.
Sementara di ruangannya, Roni membereskan semua barang-barangnya.
Pria itu sudah memikirkannya dengan matang soal pengunduran dirinya. Walau ia sudah mengabdi terlalu lama, tapi harus punya harga diri.
Ini perusahaan suami dari wanita yang telah disakitinya. Jika ia tetap berada di sini, akan terasa aneh.
Roni berencana akan mencari pekerjaan di tempat lain, yang bukan termasuk perusahaan Yoan.
Pasti banyak perusahaan di luaran sana, ia bisa bekerja di sana.
"Pak Roni!!!" Bu Upik membuka pintu dengan kuat, hingga terasa menggema.
Roni memegangi dadanya. Ia sangat terkejut. Wanita itu tidak punya etika sama sekali.
"Pak Roni kenapa anda resign?" tanya Bu Upik dengan wajah sedih.
"Saya akan menikah, Bu. Dan pindah ke luar kota." Alasan Roni menjelaskan.
Jika ia bilang akan melamar ke perusahaan lain, Roni takut Bu Upik akan mencarinya.
Jadi mending mengarang bebas saja.
"Pak Roni tidak usah menikah dengannya, menikah dengan saya saja." Bu Upik tidak rela Roni pergi.
"Maaf, Bu." Tolak Roni tetap sopan.
"Ada apa?" Roni melihat ke arah pintu.
"Pak, anda diminta ke ruangan pak Yoan sekarang." Ucap seseorang memberitahu.
"Baiklah. Saya akan ke sana. Terima kasih." Roni mengganggukkan kepala.
Roni sudah membereskan barangnya. Ia melihat sekitar, memastikan apa masih ada yang tertinggal.
"Pak Roni..." Bu Upik menangis sedih.
"Saya permisi, Bu." Roni mengangguk sejenak dan mengangkat kardus yang akan dibawanya.
Sebelum ke ruangan Yoan, Roni berpamitan pada anggota timnya. Mereka tampak bersedih dan banyak yang kaget juga. Karena Roni resignnya mendadak.
Di ruangan Yoan...
'Ke mana dia?' Yoan sangat tidak sabaran.
Yoan merapikan penampilan dan menyuruh tamunya masuk.
"Ada apa anda mencari saya?" tanya Roni sopan berdiri di depan meja Yoan.
"Kenapa anda resign?" tanya Yoan langsung ke intinya saja.
"Saya sudah terlalu lama bekerja di perusahaan ini. Saya merasa bosan!" Jelas Roni menatap Yoan.
Yoan tersenyum sinis, alasan seperti apa itu?
__ADS_1
"Selamat atas kehamilan istri anda." Ucap Roni kembali. Ia harus memberikan selamat
"Dari mana anda tahu?" tanya Yoan. Roni seperti penguntit. Tahu saja apa yang terjadi.
"Sampaikan salam saya pada Dara. Saya minta maaf pada anda dan Dara. Terima kasih juga telah menerima saya selama ini. " Roni akan mulai berdamai dengan masa lalu.
"Anda mau bekerja di mana?" tanya Yoan masih menelisik.
"Hmm... Saya tidak akan bekerja. Saya akan menghabiskan pesangon saya." Ucap Roni sambil tersenyum tipis. Ia sudah lama bekerja di perusahaan ini, otomatis pesangonnya pasti lumayan.
Yoan menatap aneh. Tapi terserah pria itulah. Sepertinya Roni tidak akan menganggu Dara lagi. Meski tidak tahu apa alasannya sebenarnya.
"Saya harap, anda akan selalu membahagiakan Dara selamanya!" pesan Roni mengingatkan. Ia akan mengalah pada egonya.
Dara berhak bahagia. Wanita itu sudah terluka karenanya.
Yoan mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi." Roni pun undur diri. Lalu keluar dari ruangan Yoan.
'Apa aku ceritakan pada Dara?' batin Yoan setelah Roni pergi.
Roni sudah mengundurkan diri dengan sendirinya. Padahal ia perlahan-lahan mau memecat pria itu.
Yoan jadi akan berpositif thinking. Anggap saja Roni sudah sadar akan kesalahannya. Roni sudah menyesal.
"Aku telepon saja Dara. Apa kabarnya anak Papa?" Yoan merindukan istri dan anaknya. Ia meraih ponsel dan menelepon Dara.
Yoan bervideo call-an. Ia mengobrol dengan Dara panjang kali lebar.
Bertanya Dara sudah makan apa saja?
Vitaminnya sudah diminum?
Susu ibu hamil?
Dara tersenyum, Yoan terus saja mengingatkannya.
"Mas Yoan, pulang jam berapa?" Dara menatap wajah Yoan dalam layar ponsel. Ia sangat merindukan suaminya. Biasanya Dara tidak begini, apa ini pengaruh kehamilannya. Ingin selalu dekat Yoan.
"Seperti biasa sayang. Sabar ya."
Dara mengangguk.
Setelah puas mengobrol Yoan mengakhiri panggilan. Ia harus menyelesaikan tanggung jawabnya. Ia tidak mau lembur, ada istrinya yang menunggu di rumah.
Tepat pukul 4, Yoan keluar. Dan ia bergegas pulang ke rumah.
"Ma, Dara mana?" tanya Yoan begitu sampai rumah.
"Sepertinya masih di kamar. Tadi katanya mau mandi."
Yoan mengangguk dan berlari menuju kamarnya.
"Sayang..."
"Mas Yoan!!!" Dara mendudukkan diri di tempat tidur. "Aku ngantuk, tapi tidak bisa tidur!"
Dara dari tadi hanya berbaring-baring saja di tempat tidur. Matanya tidak bisa terpejam.
"Mau gendong?" tanya Yoan dengan senyum merekah.
Dara pun merentangkan tangannya. Ia senyum-senyum, Yoan menggendongnya.
Lagi dan Lagi. Saat Yoan baru sebentar menggendong Dara, terdengar suara dengkuran halus.
Ya, Dara sudah terlelap saja. Sepertinya istrinya itu tidak bisa tidur tanpa memeluknya.
'Memang putri tidur!'
.
__ADS_1
.
.