KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 22 - CARA BERKENALAN


__ADS_3

"Dara... Dara..." Yoan menyusap wajahnya. Taksi sudah membawa Dara pergi. Wanita itu sudah pergi meninggalkannya.


"Halo..." Ucap Yoan menjawab panggilan di ponselnya.


"Maaf, Pak. Anda di mana? apa saya harus menjemput anda?" Tanya El masih berada di parkiran kafe.


"Hah... Oh ya sudah. Jemput saya sekarang." Jawab Yoan segera.


"Di mana anda sekarang?"


"Di-" Yoan melihat sekitar. Ia tidak tahu berada di mana.


"Di sini ada pohon besar. Saya di bawah pohon besar yang ada di pinggir jalan." Jawab Yoan mengatakan apa yang dilihatnya.


El menautkan alisnya. Ia tidak tahu pohon besar yang dimaksud atasannya itu ada di mana?


"Masih dekat dari kafe yang kita datangi tadi, El." Timpal Yoan kembali.


"Bisa anda share lokasinya? Saya akan segera menjemput anda sekarang." Ucap El dari pada dia bingung. Pohon di dekat kafe itu banyak. Lagian ngapain juga Yoan ada di bawah pohon.


"Hah... baiklah." Yoan mengakhiri panggilannya dan menshare lokasinya saat ini.


Lama Yoan menunggu sambil menatap pohon itu. Mengingat posisi Dara yang tadi meringkuk sambil menangis.


'Dara... Kamu tidak apa-apakan?! Kamu baik-baik sajakan?!' Pria itu mengkhawatirkannya.


Tin


Suara klakson mobil mengagetkan lamunan Yoan. Ia pun segera menuju mobil dan naik.


"Kenapa lama?" Tanya Yoan sambil memasang sabuk pengamannya.


"Maaf, Pak. Saya mencari jalan putar." Jelas El karena jalan yang mereka lewati, jalan satu arah.


Yoan mengangguk mengerti.


El melajukan mobil sambil melirik Yoan yang diam dan tampak berpikir. Pasti atasannya itu mengejar wanita di kafe tadi. Wanita yang bertemu di pesawat saat itu. Wanita incaran Yoan.


"El." Panggil Yoan.


"Iya, Pak." Jawab El segera.


"Tolong... cari informasi tentang seseorang." Pinta Yoan. Ia akan mencari tahu tentang Dara. Pria itu mengingat mereka selalu bertemu tanpa sengaja.


"Siapa, Pak?" El memastikan terlebih dahulu. Wanita yang sedang dicari Yoan, apakah wanita yang ada di pesawat itu?


"Dara-" Yoan memijat pelipisnya. Ia tidak tahu nama panjang wanita tersebut. Bisa-bisa El mencari wanita bernama Dara, tapi bukan Dara yang dia maksud.


"Dara... yang satu pesawat dengan kita. Yang duduk di samping saya menggantikan kamu." Jelas Yoan agar El mengingatnya.


'Menggantikan? Dipaksa iya!' Dumel El dengan perkataan Yoan. Seolah ia yang tidak mau duduk di kelas bisnis, padahal dia disuruh pindah oleh pria itu.


"Saya punya nomor ponselnya, Pak." Ucap El memberitahu. Ia sempat memintanya sebelum Dara pindah ke kelas bisnis.


Tatapan Yoan mengarah tajam ke arah El. Asistennya itu punya nomor ponsel Dara. Kenapa bisa?


"Saya sempat memintanya saat itu, Pak. Tapi saya tidak pernah menghubunginya." Jelas El cepat. Atasannya itu tampak tidak senang. Menganggap dirinya seolah adalah rivalnya. Padahal saat itu ia meminta nomor wanita itu, untuk berjaga-jaga saja.


"Akan saya kirimkan pada anda." El merogoh saku mengambil ponselnya.


"Berikan ponselmu! Saya tidak mau kita kecelakaan, karena kamu sibuk dengan ponsel saat mengemudi. Itu tidak baik!!!" Yoan mengingatkan.

__ADS_1


El mengangguk dan memberikan ponselnya pada Yoan.


"Siapa namanya kamu simpan?" Tanya Yoan dengan semangat membuka kontak telepon El.


"Kekasih Pak Bos."


Yoan melirik El sejenak lalu mengulum senyum. Mendengar nama kontak seperti itu, membuat hatinya jadi senang.


Dengan cepat Yoan menyalin nomor Dara dari ponsel El.


"Kenapa nomornya tidak terhubung ke aplikasi pesan online?" Tanya Yoan. Nomor Dara tidak ada di kontak telepon di aplikasi pesan onlinenya.


"Katanya dia tidak memiliki aplikasi pesan online. Itu nomor sim card-nya." El mengatakan apa yang Dara katakan saat itu.


Yoan mengangguk mengerti. "El..." Ia mengembalikan ponselnya dan segera diraih asistennya.


"Terima kasih, El. Saya akan menambahkan bonus kamu bulan ini." Yoan senang dengan kinerja asistennya itu. Yang sangat cepat tanggap.


Mendengar bonus tambahan membuat wajah El tersenyum senang. "Terima kasih, Pak."


"Tapi, El..."


El melirik Yoan sejenak.


"Saya harus bagaimana dengan nomor ini?"


Cit...


El mengerem mendadak. Lalu melihat Yoan dengan wajah aneh.


"Anda bisa mengirim pesan atau meneleponnya, Pak." Ucap El memberitahu. Begitu saja Yoan bertanya padanya.


"Saya tahu. Saya bisa mengirim pesan atau meneleponnya. Tapi..." Pria itu masih memasang wajah bingung.


"Apa yang mau saya katakan padanya?" Tanya Yoan dengan nada sedikit pelan. Ia tak tahu mau berbasa basi apa.


Mendengar perkataan Yoan, El menjedutkan pelan keningnya beberapa kali ke setir. Untuk hal seperti itu, Yoan masih bertanya padanya.


Sungguh terlalu...


\=\=\=\=\=\=


Yoan: Hai


Yoan: apa kabar?


Yoan: aku Yoan


Yoan: hai salam kenal


Yoan: lagi apa?


Mengetik hapus, mengetik hapus, mengetik lagi hapus lagi. Begitulah yang dilakukan Yoan. Ia ingin mengirim pesan. Tapi tak tahu, harus mulai dari mana.


Sudah 2 tahun lebih, ia tidak pernah berkomunikasi dengan wanita. Kecuali Mamanya. Makanya Yoan mendadak lupa, bagaimana cara berkenalan dengan wanita.


'Telepon langsung saja!' Batinnya.


Mengirim pesan rumit, mungkin menelepon akan lebih mudah. Yoan menatap gagang telepon ponselnya.


Mendadak ia menjauhkan ponselnya kembali. Bagaimana ia berbasa basi memulai obrolan.

__ADS_1


"Halo..."


"Siapa?"


"Ini aku."


"Aku siapa?"


"Aku. Sepupunya Malik."


Bip


Yoan segera menggelengkan kepala. Saat membayangkan obrolan itu berlangsung dan Dara langsung memutus panggilannya, mendengar nama Malik.


"Halo."


"Siapa?"


"Boleh kenalan?"


"Nggak."


Yoan terdiam. Sepertinya bayangan obrolan bukan seperti itu. Itu terlalu kejam.


"Halo."


"Siapa ini?"


"Aku Yoan."


"Yoan siapa?"


"Pangeran berkuda kamu."


Lah kalau seperti itu. Dara bukan hanya menutup teleponnya. Mungkin saja wanita itu memblokir nomor ponselnya.


Yoan melempar ponselnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Mau menelepon saja, ia bingung harus mulai dari mana.


'Kenapa begitu sulit?!!!' Yoan meronta panjang.


Yoan menutup matanya. Ia akan tidur saja malam ini. Besok ia akan menelepon Dara, karena pikiran di pagi hari pasti sudah fresh.


Selang 5 menit berlalu, Yoan membuka mata kembali. Ia sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya begitu menggelitik ingin memulai obrolan dengan Dara. Mendengar suara wanita itu.


Wanita itu sama sekali tidak mengenalnya sedikitpun. Mengingat bagaimana tadi Dara, malah menganggapnya pria berhidung belang.


"...Pak, anda telepon dan berkenalan. Jika ia merespon, anda bisa lanjut mengobrol ringan bertanya tentang kesehariannya. Perlahan tapi pasti, ketika dia mulai nyaman dengan anda. Lalu ajak bertemu atau anda bisa mendatangi rumahnya, jika dia mengizinkan..."


Saran El tergiang-giang di kepalanya. Yoan pun bangkit dan meraih ponselnya. Menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan.


Yoan meyakinkan diri, dia harus memulainya dari sekarang. Dara harus mengenalnya.


Dengan tangan yang sedikit gemetaran, Yoan mendekatkan jarinya ke layar ponsel. Jarinya pun menekan gagang telepon tersebut. Dan...


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...


"El!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2