KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 45 - MEMINTA RESTU


__ADS_3

"Dara mau ke simpang beli makanan. Ayah sama Bunda mau titip apa?" tanya Dara. Ia ingin jajan karena masih merasa lapar, padahal tadi sudah makan malam.


"Terserah kamu saja!" jawab Bunda.


Dara mengangguk mengerti. "Dara pergi sebentar, Yah, Bun..."


"Mau Ayah temani saja?" tanya Ayah menawarkan diri. Hari sudah malam, ia takut ada yang mengganggu putrinya.


"Tidak usah, Yah. Dara sebentar saja kok. Dara pergi!" ucap Dara kembali.


Dara pun berjalan kaki menuju simpang gangnya. Ia berjalan sambil melihat ponselnya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Si Aneh.


'Apa yang kupikirkan?!' Dara segera menyimpan ponselnya dalam saku. Ia menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak ada menunggu pria itu untuk menghubunginya.


Saat Dara menyeberang jalan, mobil Yoan melaju memasuki gang tersebut.


Yoan menepikan mobilnya tepat di depan rumah Dara.


'Apa ini rumahnya Dara?!' Yoan memastikan. Titiknya sekarang sudah sesuai dengan alamat tempat tinggal Dara.


Pria itu melihat penampilannya terlebih dahulu. Ia sudah memakai pakaian rapi. Memakai celana jeans panjang dan kemeja bertangan pendek. Dari kaca spion, Yoan juga membenarkan rambutnya, memastikan wajahnya tidak ada menempel sesuatu dan juga memastikan tidak ada yang menyelip di giginya.


'Ayo berjuang!' Ia menyemangati diri sendiri.


Yoan menarik nafasnya panjang lalu membuangnya pelan. Ia pun turun dari mobilnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Yoan mengetuk pintu rumah. Ia sudah menenteng bungkusan, karena tidak mungkin datang hanya membawa diri.


Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dan menatap pria di hadapannya.


"Se-selamat siang Tante." Ucap Yoan dengan gugup. Mendadak bibirnya sulit digerakkan.


"Siang?" Bunda melihat ke arah luar. Dunia sudah gelap.


"Hah maaf. Mak-maksud saya, selamat malam Tante." Yoan membenarkan ucapannya.


"Malam. Cari siapa ya?" tanya Bunda kembali.


"A-apa benar ini rumahnya Dara?" Yoan memastikan terlebih dahulu.


Bunda mengangguk. "Benar, ini rumah Dara. Kamu siapa ya?"

__ADS_1


"Sa-saya-" Yoan bingung, mau menyebut ia siapanya Dara. "Sa-saya Yoan, Tante. Saya temannya Dara." ucap Yoan kembali, lalu menyalami Bunda, sebagai tanda kesopanan.


'Teman? Dara punya teman pria? Sudah tampan plus sopan juga!' Bunda mengulum senyum saat Yoan menyalaminya. Sepertinya Bunda merasa pria itu bukan teman biasa. Pasti ada hubungan spesial dengan putrinya.


"Oh... Daranya tadi lagi keluar sebentar, beli makanan. Kamu masuklah, tunggu di dalam saja!" Ajak Bunda sambil tersenyum hangat. Setelah bertahun-tahun, baru kali ini ia melihat teman pria putrinya.


"Te-terima kasih, Tante. I-ini untuk Tante, tadi saya beli di jalan." Yoan menyerahkan bungkusan tersebut, masih dengan kegugupannya.


"Aduh, kok jadi repot-repot sih. Tapi terima kasih banyak ya." Ucap Bunda menerima buah tangan bawaan dari pria tampan itu.


"Siapa Bun?" tanya Ayah saat melihat ada seorang pria muda di ruang tamu.


"Ini Yah. Temannya Dara. Yoan namanya." Ucap Bunda memperkenalkan.


Ayah menatap Yoan dari atas hingga atas lagi.


Glek...


Mendadak bulu kuduk Yoan rasanya merinding.


"Se-selamat malam, Om. Saya Yoan, saya temannya Dara." Pria itu memperkenalkan diri. Ia juga tidak lupa menyalami Ayahnya Dara.


"Dara... Belum pulang, Bun?" tanya Ayah pada istrinya.


"Belum, Yah. Paling sebentar lagi."


"Ma-maaf sebelumnya. Kedatangan saya kemari, untuk bertemu dengan Om dan Tante." Ucap Yoan berusaha untuk tenang. Meskipun ia sangat gugup, karena kedua paruh baya itu masih memperhatikannya.


Tak lama, Yoan duduk di ruang tamu dengan Ayah dan Bunda di hadapannya.


"Diminum dulu tehnya." Ucap Bunda mempersilahkan. Ia melihat pria itu yang berkali-kali menghembuskan nafas.


Yoan segera mengangguk pelan. "Te-terima kasih Tante." Kegugupan masih menguasai.


"Ada apa?" tanya Ayah kemudian dengan sorot mata tajam. Ia ingin tahu apa yang mau dikatakan Yoan.


"Sa-saya... kedatangan saya kemari ingin meminta izin Om dan Tante untuk melamar Dara saya mencintai Dara dan ingin menikahinya." Ucap Yoan cepat dengan tarikan satu nafas.


Bunda berusaha untuk tidak tertawa. Pria muda ini kelihatan sekali gugupnya. Suaminya juga sudah memasang wajah menyeramkan, siapa juga yang tidak gugup?!


"Kamu mau menikahi Dara?" tanya Ayah dengan serius.


"Iya, Om. Saya ingin menikahi Dara. Saya ingin menjadikan Dara istri saya. Saya akan mencintai Dara selama-lamanya." Tegas Yoan kembali. Meskipun kini jantungnya berdetak sangat kencang, ia harus mengatakan maksud hatinya dengan tegas. Agar calon mertuanya itu, yakin dan percaya padanya.


Ayah diam, menelisik Yoan dengan tatapannya.


'Pria ini sangat serius dan tulus!' Ayah dapat merasakan keseriusan pria itu. Tatapan mata Yoan tegas tapi menyiratkan ketulusan.

__ADS_1


"Apa kamu sudah berbicara dengan Dara?" tanya Ayah mengurangi sedikit tatapan tajamnya. Yoan berniat baik, ia tidak boleh terlalu galak.


Yoan diam dan menundukkan kepala. Tah sudah berapa kali ia mengajak Dara menikah, tapi selalu penolakan yang diterima.


"Be-belum Om!" Bohong Yoan sambil mengangkat kepalanya. "Saya-saya ingin meminta restu dan izin dari kedua orang tua Dara terlebih dahulu. Setelah kalian merestui, saya akan mengatakan niat saya pada Dara." Timpal Yoan beralasan.


\=\=\=\=\=\=


Dara membawa bungkusan berisi bakso. Ia akan menyeberang jalan. Saat melihat kanan kiri, ia melihat penjual burger.


'Sepertinya enak!' Dara tidak jadi menyeberang. Ia mendatangi stand penjual burger. Dan memesan burger paket komplit.


Sambil menunggu pesanan burgernya, Dara meraih ponsel. Matanya tertuju pada satu obrolan.


'Apa dia sudah tidur?!'


Dari tadi sore tak ada pesan dari pria itu. Dara mengangguk yakin, pasti Yoan sedang bersama wanita lain. Pria-pria sekarang kan setia. Setiap tikungan ada. Yoan sekarang pasti sedang di tikungan dengan wanita lain.


Dara menghela nafas. Memang tidak ada pria yang bisa dipercaya. Bahkan ia yang mengenal lama dan percaya pada Roni saja, bisa memiliki wanita lain. Apalagi pria itu, pria yang sama sekali tidak dikenalnya.


Tinggal di mana?


Bekerja di mana?


Dara sama sekali tidak tahu tentang pria itu.


Tak lama pesanan burgernya telah siap. Dara pun beranjak pulang. Ia akan memakan bersama dengan Ayah dan Bunda.


Dara berbelok memasuki gang. Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


Wanita itu sengaja menajamkan pandangannya. Memastikan apa mobil itu tepat berhenti di depan rumahnya.


'Ke-kenapa dia ke rumahku?'


Kini Dara pun berlari kencang menuju rumahnya. Mobil Yoan memang terparkir di depan rumahnya.


Wanita itu melihat ke jendela mobil, melihat mungkin saja Yoan masih di dalam mobil. Tapi percuma, kaca mobilnya terlalu gelap. Dan sepertinya tidak ada orang di dalam mobil. Yang berarti...


Tatapan Dara menuju rumahnya. Yoan pasti sudah datang ke rumahnya. Pintu depan rumahnya terbuka yang berarti ada tamu.


"Dara pulang!" Dara masuk ke dalam rumah, ia melihat Ayah dan Bundanya duduk di ruang tamu. Lalu Dara melihat ke arah lain.


"An-anda..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2