KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 63 - YOAN PERDANA PUTRA


__ADS_3

Pagi ini Yoan sarapan dengan kedua orang tuanya, Malik dan orang tua Malik.


Rencananya keluarga Malik, akan tinggal di rumah mereka sampai pernikahan Yoan selesai.


"Memang masakan tante Yumi luar biasa!" ucap Malik membuat Ibu Yumi tersenyum dipuji seperti itu.


"Kamu kenapa?" tanya Lydia melihat putranya yang sangat bahagia. Wajah Malik selalu ditekuk saat diajak kemari.


"Tidak apa, Ma." Jawab Malik senang. Kini ia bisa bernafas lega. Wanita yang akan dijodohkan dengannya akan segera menikah.


Yoan telah menceritakan semuanya tadi malam. Intinya papa dan mamanya pasti tidak akan menjodohkannya lagi si Dara-Dara itu. Malik merasa sangat bebas sekarang.


"Nanti siang papa dan mama mau ketemu sama Dara." Jelas Lydia akan rencananya. "Lalu kami akan melamarnya. Kamu tidak boleh menolak lagi!"


"Iya, Ma." Malik melirik sepupunya yang sudah menatapnya tajam. Ia pun tersenyum.


"Jadi kapan Papa dan Mama menemuinya? Cepatlah kalian temui dia. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikah dengannya!" Malik sengaja mengatakan seperti itu, untuk meledek Yoan. Sepupunya itu memintanya merahasiakan kenyataan itu.


Lydia dan Leo memasang wajah aneh. Kok tumben Malik berbicara seperti itu.


"Nanti Malik duluan yang nikah daripada Yoan." Timpal Yumi dengan wajah bahagia. Ponakannya akan menikah juga.


"Besok saja kamu menikah dengan Dara!" timpal Lydia dengan senyum merekah.


Malik menggangguk sambil melirik Yoan. Ekspresi sepupunya itu menyeramkan, seolah sudah mengeluarkan taring dan tanduknya.


"Siap, Ma!" Malik menjawab dengan semangat.


Yang berada di ruang makan itu jadi tertawa melihat Malik yang begitu semangat dengan perjodohan. Tapi, tidak dengan Yoan. Pria itu hanya diam saja.


"Jadi nanti aku datang ke pernikahanmu Yo. Bawa istriku!" ledek Malik sambil memainkan alisnya. Ia sengaja memanas-manasi pria itu.


\=\=\=\=\=\=


Yoan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggang. Ia mengambil baju di lemari dan memakainya.


Suara deringan ponsel, membuat Yoan mempercepat memakai bajunya dan mengambil ponsel di atas tempat tidur.


'Sayang.' Yoan tidak menyangka, yang meneleponnya ternyata Dara. Ini pertama kalinya Dara meneleponnya.


"Halo sayang." Jawab Yoan dengan nada bahagia.


"Ha-halo Mas." Ucap Dara gugup.


'Astaga!' Dara kaget saat panggilan beralih ke video call.


Dara menghembuskan nafas pelan dan menekan kamera.

__ADS_1


Deg


Hati Dara berdebar, saat wajah tampan penuh senyuman itu memenuhi layar ponselnya.


"Kamu sudah makan?" tanya Yoan menatap lekat calon istrinya. Dara sangat cantik.


"Su-sudah. Mas Yoan sudah makan?" tanya Dara sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mendadak malu.


"Sudah dong sayang." Rasanya bahagia mendengar Dara memanggilnya begitu.


"Oh iya, Mas. U-undangannya sudah dikirim. Ini dia!" Dara menunjukkan surat undangan berwarna biru muda. Ada foto mereka di depan undangan.


"Wah bagus! kamu cantik sayang." Puji Yoan kembali.


"Oh iya, kita mau ke mana hari ini?" tanya Yoan. Hari ini ia libur.


"Ke mana ya?" Dara juga bingung.


"Mau ke pantai?" tanya Yoan kembali.


"Pantai? tidak bisa. Nanti siang aku mau ketemu orang. Sore saja kita ketemunya, sekalian mau memberikan undangan itu."


"Kamu mau ketemu siapa?" tanya Yoan kembali. Apa Dara akan menemui orang tuanya Malik.


"Bagaimana ya bilangnya." Dara bingung mau menjelaskannya. "Dulu saat aku bekerja di luar kota, aku cukup dekat dengan pelanggan di minimarket."


"Terus?" Yoan mendengarkan. Dara sepertinya mau bercerita padanya.


"Oh!" Yoan mengangguk mengerti. Pria itu berusaha menahan tawanya. Jika tante Lydia tahu Dara yang akan dijodohkan ini, adalah calon istrinya. Pasti hebohlah tante Lydia nanti.


"Aku akan menemui mereka sebentar. Lalu akan bertemu denganmu untuk memberikan undangan."


"Ya sudah. Nanti hati-hati di jalan ya." Yoan ingin mengantar, tapi ia tak mau tante Lydia tahu sekarang.


Dara mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau begitu sampai nanti ya."


Tangan Dara pun menyentuh ponsel dan panggilan mereka pun berakhir. Ia menghembuskan nafas berkali-kali. Berbicara dengan pria itu membuat wajahnya panas.


Tak lama Dara sampai di sebuah kafe, tempat janjiannya dengan tante Lydia dan Om Leo. Dara duduk menunggu mereka.


"Dara!!!" panggil Tante Lydia dengan wajah bahagia. Akhirnya bertemu dengan wanita itu.


"Tante apa kabar?" tanya Dara, tapi Tante Lydia langsung memeluknya.


"Tante sehat. Kamu makin cantik ya." Puji Lydia setelah pelukannya terlepas. Calon istrinya Malik sangat cantik.


"Tante bisa saja. Tante juga tambah cantik dan makin kinclong." Ucap Dara sambil menyalami Lydia dan Leo bergantian.

__ADS_1


Mereka pun duduk. Tante Lydia memberikan Dara banyak ole-ole yang memang sengaja dibawakan.


"Aduh, Tan! Kenapa jadi repot begini?!" Dara merasa tidak enak hati. Ole-olenya terlalu banyak.


"Nggak apa. Memang Tante mau memberikan pada kamu." Lydia mengelus kepala Dara dengan sayang.


"Dara, kamu sudah tunangan?" tanya Leo saat melihat cincin yang melingkar di jari manis Dara.


"Tu-tunangan?" tanya Lydia. Ia memastikan melihat ke arah jari Dara. Benar ada sebuah cincin.


"Da-Dara akan menikah." Ucap Dara gugup.


"Apa?" Lydia sangat kaget. Menikah? Calon menantunya akan menikah?


"Iya Tante. Awal bulan depan, Dara akan menikah." Ucap Dara kembali.


"Selamat ya, Dara. Om ikut senang." Walau sedikit kecewa. Leo berbesar hati menerima.


"Dara..." mata Tante Lydia jadi berkaca-kaca. Ia merasa sedih dan kecewa. Dara akan menikah. Kenapa bisa seperti itu.


"Om dan Tante sampai kapan di sini? Kalau sempat datanglah ke pernikahannya Dara. Dara akan senang sekali jima Om dan Tante datang." Ucap Dara dengan wajah bahagia. Ia berusaha menunjukkan rasa bahagia, meski ketakutan itu masih ada.


"Sampai bulan depan. Soalnya ponakan Tante itu akan menikah di awal bulan." Ucap Lydia dengan wajah sedih. Pupus sudah harapannya menjadikan Dara menantunya. Padahal Malik sudah setuju, tapi malah Daranya sudah dengan pria lain.


'Membatalkan pernikahan orang lain. Dosa nggak ya?!' Lydia membatin. Ia masih tidak terima dengan kabar Dara akan menikah.


"Oh iya, ini undangannya." Dara memberikan selembar undangan. "Om sama Tante harus datang ya."


Mereka akan berada di kota ini sambil awal bulan. Pasti mau menyempatkan menghadiri pernikahannya.


Lydia melirik surat undangan itu dengan sinis.


Leo mengambil undangan dan menatap serius pada foto sang pengantin di surat undangan.


'Yoan?!' Leo menajamkan pandangannya. Melihat foto calon pengantin pria adalah Yoan, lalu nama pengantinnya.


"Yoan Perdana Putra? Kamu akan menikah dengannya?" tanya Leo memastikan. Dan Dara mengangguk pelan.


"Yoan?" Lydia meraih undangan tersebut. Matanya terbelalak melihat ponakannya tersebut.


"Dara... kamu mau menikah dengan pria ini?" tanya Tante Lydia masih dengan keterkejutannya.


"Iya, Tante." Dara mengangguk pelan.


'Yoan!!!'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2